|
Indonesia
yang terletak di jalur gempa (ring of fire) semestinya pendidikan mengenai
antisipasi dan menghadapi bencana sudah menjadi bagian kurikulum bagi siswa,
namun beberapa pelajaran mengenai alam ini, seperti ilmu pengetahuan alam,
geografi dan sebagainya hanya menjadi bagian ilmu yang sekedar untuk diketahui
saja..
| |
SPONSORSHIP |
| |
 |
| |
ANDA MEMPUNYAI TEMA ARTIKEL
YANG SAMA?
Jadilah sponsorship website
pikirdong. Berubah untuk menjadi yang terbaik? Kenapa tidak!?
INFOLINK
Iklan text untuk halaman ini
hanya Rp. 300.000,- berlaku tanpa batasan waktu! |
| |
|
| |
|
| |
 |
| |
Gempa Kobe di Jepang (1995)
photo unknown |
| |
|
| |
 |
| |
Gempa Sichuan di China (2008)
photo: http://rs.resalliance.org |
| |
|
Konon, Jepang saja yang selalu dilanda gempa pun tidak sertamerta siap dalam
menghadapi bencana. Gempa Kobe (1995) yang menghancurkan setengah kota tersebut,
diikuti dengan kebocoran gas dan kebakaran yang melanda di setiap sudut kota.
Melihat kerusakan kota mungkin puluhan ribu orang dapat tewas dalam bencana itu,
namun korban tewas dapat diminimalisir dengan latihan rutin yang diberlakukan
pada setiap warganya, Kobe hanya kehilangan 5.000 lebih warganya.
Kebanyakan korban bencana gempa minim mengetahui cara-cara penyelamatan ketika
bencana terjadi, hal ini dapat diketahui dimana korban tewas ditemukan, misalnya
saja terjadi penumpukan mayat di tangga-tangga, di pintu atau lift.
Hal lain yang dapat terjadi adalah munculnya rasa panik ketika gempa terjadi
sehingga pikiran sulit berpikir jernih, misalnya saja ketika individu berada di
gedung tinggi, melihat orang lain berlarian maka individu tersebut mengikuti
rombongan tersebut.
Ketika gempa terjadi di Padang beberapa waktu lalu, banyak sekolah, televisi,
instansi mengambil inisiatif untuk memberikan tips-tips dalam menghadapi bencana
gempa. Langkah ini cukup cerdas daripada menunggu sikap dan langkah-langkah ke
depan yang diambil oleh pemerintah.
Dibawah ini ada beberapa tips yang dapat dilakukan ketika gempa terjadi;
1) Ketika Anda berada di lantai atau gedung bertingkat
a. Jangan menggunakan tangga meskipun itu tangga darurat! Hampir kebanyakan
orang menggunakan atau lari melalui tangga ketika gempa terjadi. Bagi negara
dengan gedung-gedung pencakar langit tidak memberikan rekomendasi untuk langkah
penyelamatan menggunakan tangga. Gempa terjadi dalam hitungan detik, mampukah
Anda keluar menggunakan tangga dalam beberapa detik saja? Secara struktur
kekuatan bangunan pun tangga bukanlah bangunan kuat untuk menopang getaran gempa,
beberapa peneliti menemukan sebelum gedung runtuh digoncang gempa dimulai
runtuhnya tangga-tangga terlebih dahulu. Bayangkan bila Anda berada dilantai 10
masih mau coba turun lewat tangga?
b. Lift merupakan tempat berbahaya ketika gempa terjadi, jangan menggunakan lift
sebagai cara untuk keluar dari gedung kecuali memang Anda berada di dalam lift
ketika gempa sedang terjadi. Ketika gempa, tali gantungan lift dapat terputus,
atau gempa dapat membuat lift macet dan membuat Anda terkurung di dalamnya.
c. Lalu apa yang Anda lakukan bila berada di gedung tinggi?
Carilah ruang dengan pondasi yang lebih pendek, misalnya kamar kecil, gudang,
kamar mandi
Jauhi perabot yang mudah jatuh dan menimpa Anda seperti rak, atau lemari
Tidurlah disamping perabot kuat yang bisa melindungi dari jatuhan pilar,
usahakan perabot yang panjangnya sama dengan tinggi tubuh Anda. Cara ini
bertujuan untuk menahan beton yang jatuh, perabot tersebut akan membentuk ruang
segitiga yang dapat melindungi Anda dari timpaan lantai atas dan memberikan
ruang untuk Anda bernafas.
Bila gempa dirasakan cukup kuat, alternatif yang dapat dilakukan dengan masuk
ke dalam bak mandi, atau bath up. Dalam beberapa kasus, tim regu penyelamat
sering menemukan korban hidup dari reruntuhan bangunan yang berada dalam bak
mandi
Kita tidak dapat meramal kapan datangnya gempa, akan tetapi kita mampu
meminimalisir korban gempa bila masyarakat tahu cara-cara untuk penyelamatan
diri dari bencana, dan terpenting dari itu bahwa kesigapan tim penyelamat juga
menentukan jumlah korban. Bayangkan bila perlengkapan dan infrastruktur untuk
menyelamat korban gempa minim, justru korban bertambah disebabkan oleh
keterlambatan bantuan, kehabisan darah, atau penanganan yang tidak professional.
Dalam penanganan reruntuhan bangunan tidak dibutuhkan sukarelawan, akan tetapi
haruslah ditangani tim atau regu penyelamat yang professional yang terlatih
dengan pendidikan khusus dibidangnya. Mereka dilatih untuk mendeteksi keberadaan
korban hidup, memindahkan puing-puing dan mengerti cara-cara penyelamatan korban
yang terhimpit bangunan. Kesalahan dalam pengambilan keputusan justru akan
membunuh korban-korban yang sebenarnya berpeluang dapat diselamatkan.
2) Ketika berada di luar ruangan atau gedung
a) Bila Anda sedang berkendaraan mobil segera hentikan kendaraan, keluar dari
mobil, dan tiaraplah disamping mobil
b) Menjauhilah gedung-gedung pencakar langit, tujuannya adalah untuk menghindari
pecahan kaca atau pecahan dinding gedung yang terlepas
c) Hindari papan reklame, tiang listrik atau saluran gas
d) Larilah ke halaman terbuka
e) Bila alarm berbunyi pertanda gempa berpotensi tsunami, segera cari tempat
yang lebih tinggi
Bila kita berada di pesisir pantai, surutnya air laut secara tiba-tiba
menandakan adanya tsunami, tsunami awarening system akan berbunyi bila pesisir
itu ada dibangun sistem peringatan dini tsunami. Gempa yang menimbulkan tsunami
biasanya berada dalam kisaran 6,3 skala Richter keatas, tergantung pada tingkat
kedalaman gempa dan lokasi terjadinya gempa.
Tsunami Aceh di akhir penghujung tahun 2004 melanda hampir keseluruhan pantai di
Aceh, kota Calang (Meulaboh) tsunami terjadi 15-30 menit setelah gempa terjadi,
sementara kota Banda Aceh 60-90 menit kemudian. Kekuatan tsunami di Banda Aceh
diperkirakan dua kali lebih kuat karena pusat gempa dan tsunami yang terjadi
berada lebih jauh dari pusat kota. (berada di kepulauan Nicobar)
Jarak tempuh yang jauh telah menghimpun kekuatan ombak yang kuat dengan kekuatan
650 km/jam, jarak tempuh ini lebih singkat dibandingkan yang terjadi di kota
Calang dan sekitarnya, namun demikian kehancuran luar biasa terjadi hampir
merata dengan korban ratusan ribu orang. (beberapa data menyebutkan untuk korban
di Aceh mencapai 230.000 orang dengan total kematian seluruh dunia mencapai
350.000 termasuk hilang)
Tsunami Aceh telah mengilhami beberapa negara di dunia akan pentingnya
keselamatan jiwa dan harta penduduk, oleh karenanya beberapa bulan kemudian
diadakan pertemuan beberapa negara di Jepang (Kyoto), hasil pertemuan itu
menghasilkan sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Kyoto yang isinya
dimana pemerintah setiap negara berkewajiban melindungi atau meminimalisir
korban dan kerugian harta benda penduduk yang diakibatkan oleh bencana alam. [PD]
__________________
|