|
Baru-baru ini ada wanita tewas, tapi tewasnya bikin heboh seantero Indonesia,
sampe pedagang bakso keliling juga tau, penyebabnya adalah karena,... toketnya
terlalu kecil, demikian kata tukang bakso. Berbicara tentang ukuran semua orang
pengen yang besar, adalah hal lumrah, apalagi bakso ukuran besar pasti enak
rasanya. Kalo dipikir memang benar kata tukang bakso tadi, tukang-tukang cari
berita sibuk mencari tau tentang kematian si cewek itu, polisi utak-atik cari
penyebabnya, psikolog juga sibuk buka buku-buku cari teori mutakhir biar
dianggap keren kalo ditanya ulasannya. Sebuah anekdot yang tragis...
Wanita sekarang sibuk mengejar sebuah target semu, yang diklaim oleh produk
massa sebagai bentuk ideal. Tubuh ideal, cantik, seksi dsb, kriterianya adalah
ditentukan oleh produk tersebut. Pikiran kita udah dicuci, media massa
menyebarnya sebagai busa pencuci otak cukup sekali colek tapi bisa mencuci
banyak. Kecuali tukang bakso yang jarang nonton teve, karena kesibukannya
berdiplomasi keliling kelurahan, selebihnya kita sangat susah melepas televisi
sebagai teman penghilang rasa penat. Akibatnya kita sangat tergantung dengan
televisi. Iklan-iklan membajiri seluruh pelosok kota syaraf, tidak hanya Jakarta
saja yang selalu banjir kalau hujan. Perlahan-lahan pesan iklan tertanam di otak
kita. Kalau diperhatikan tetapi juga dipikirkan; ada juga iklan yange aneh,
sebuah produk yang mencuci otak wanita untuk tampil dengan kulit putih, kalo
putih tidak akan ditinggalkan cowok, ada juga si shinta dan shanti, pilih mana
si hitam apa si putih? Wah, kenapa mesti pilih-pilih? Keduanya saja! Hehehe
Nah, ada juga iklan sebaris seperti ini; "Payudara besar meningkatkan rasa
percaya diri Anda!" Untunglah pria tidak perlu repot membesarkan payudara
ternyata iklan tersebut diperuntukan untuk wanita. Anehnya kalo kita denger ada
gauman hentikan tindak kekerasan terhadap wanita, wanita menuntut karir yang
sama dengan pria, hentikan eksploitasi seksual kaum wanita, lucunya juga ada
ratusan orang penggemar Inul Daratista berdemo dibawah terik matahari menuntut
pencekalannya di teve. Anehnya juga tidak pernah ada orang berdemo karena produk
kosmetik telah mencuci otak orang untuk tampil lebih seksi, lebih putih, lebih
cantik yang telah mengeluarkan ratusan duid receh setiap bulannya untuk
mempercantik diri untuk mengejar "ideal" dan agar tidak disebut ketinggalan
jaman.
Dunia aneh, tergantung kita melihat, tetapi tidak ada yang aneh untuk pikiran
yang terbuka, bukan pakaian terbuka. Kalau bicara buka-bukaan pria paling seneng,
si wanita mesem-mesem saja karena biasanya pakaian yang dibuka adalah pakaian
wanita bukan si pria. Mana ada laku tabloid yang menampilkan cowok berpakain
bikini atau memakai baju tipis berpose genit menggoda
Kalau sudah berbicara sampe sini, wanita bisa ngambek, lalu menyalahkan pria
karena mengeksploitasi seks, akhirnya perbedaan gender semakin terlihat,
buku-buku mulai berperang lagi dengan perbedaan gender, akhirnya satu fenomena
itu terus berputar seperti siklus, pakar dan ahlinya pakar pun mulai angkat
bicara, enaknya tukang bakso tidak sibuk memikirkan hal ini, ia hanya angkat
gerobaknya semakin jauh berjalan untuk menghidupi diri dan keluarganya. Saya
jadi ingat katanya Erasmus, semua orang berlomba-lomba menjadi lebih baik,
tetapi pendidikan masyarakatnya tidak pernah menjadi baik.
Nah, ini dia, pendidikan. Waktu saya masih kecil, rasanya senang sekali sehabis
pulang sekolah bila mendapat nilai 10 lalu menunjukkan nilai tersebut pada orang
tua. Pujian terus mengalir. Tapi giliran dapat nilai 4 saya kelabakan mencari
tempat untuk membuang hasil ujian saya, ketahuan bisa saja kena damprat dan
diomelin sebulan, barangkali juga Anda mengalaminya. Nah, lhoo... Apa yang salah
dengan pendidikan? Kalo dipikirkan dan selesai dalam sehari bisa bikin rambut
cepat ubanan sebelum waktu, akhirnya saya harus membeli cat penghitam rambut
agar orang tidak menilai saya si tua bangka.
Ketika kuliah dulu saya jadi ingat orang mengatakan bahwa IP haruslah minimal 3
dan semua dosen memperhitungkan angka ini sebagai angka kualitas kelulusan.
Perusahaan selalu menanyakan angka 3 terpampang di jidat atau tidak, sebagai
angka kualitas tersebut.
Ketika Fortune, perusahaan komputer raksasa di Amerika bangkrut, Rata-rata gaji
mereka adalah 20 rebu sampai 30 rebu dollar, orang-orang bekualitas ini memilih
bunuh diri, depresi dan kehilangan semangat untuk hidup. Atau kejadian seorang
anak di wilayah kita, saya lupa tempatnya, baru-baru ini terjadi menyiram
anaknya dengan air panas karena tidak naik kelas.
Masyarakat kita telah terprogram dengan istilah kualitas, mereka berlomba-lomba
berusaha memasukan anaknya di sekolah-sekolah yang bermutu dan terkenal, juga
universitas dan institusi pendidikan lainnya. Perusahaan-perusahaan pun juga
tidak mau ketinggalan untuk merekrut orang-orang lulusan dari produk bermutu ini.
Padahal, pendidikan-pendidikan tersebut tidak pernah mengajarkan anak apa yang
mesti dilakukan bila dirinya gagal, sekolah tidak pernah mengajarkan tentang
konsep diri, menghargai diri dan menjadi dirinya sendirinya, sekolah tidak
pernah mengajarkan bagaimana mesti bersikap dengan orang lain dan mengharga
eksistensi manusia sebagai manusia yang sederajat di mata Tuhan. Bahkan
universitas psikologi pun tidak pernah mengajarkan itu.
Ribut-ribut udah menjadi kebiasaan kalau sesuatu terjadi di luar kendali,
fenomena menjadi hangat bagai kacang rebus yang laris di musim penghujan,
setelah usai musim hujan, lari lagi ke tukang bakso. Ada juga orang skeptis,
mungkin saja sudah bosan dengan kelakuan orang lain, ngurus diri sendiri belum
becus ngapain mikirin orang lain, demikian pikirnya.
Nah, kalo udah ada yang skeptis ada juga yang estimasi, bisa dibilang ngefans
banget, kalo udah ngefans susah bersikap objektif, karena sikap over estimate
akan membuat orang buta, misalnya saja sudah jelas program-program pemerintahan
gagal dijalankan oleh presiden, tapi masih juga ada yang milih, kalau sudah
ngefans ama kopi, di campur susu pun tetap dibilang kopi, bukan kopi susu. Kalau
ada yang ngeyel bilang kopi susu apalagi susu, caranya hanya satu cara agar kopi
susu tersebut harus dibilang oleh semua orang tetap kopi; kekerasan. Boleh-boleh
saja koq minum kopi susu tapi bilang kopi, toh dia sendiri yang ngerasain, bukan
saya apalagi Anda yang mesti protes. Tapi kalo kopi susu dibilang susu berarti
ada yang tidak beres, orang bikin kopi tapi menambah susu kedalam kopi lalu
dibilang kopi, korupsi! Lucunya udah begitu tanpa malu ngaku bayar segelas kopi,
susu ga dihitung lalu bilang sama penjual; "saya cuman minum kopi koq", tanpa
rasa malu. Kalau ditunjuin bukti malah nangis, bikin orang iba saja.
Ngomong-ngomong tentang kopi susu jadi ingat kembali tentang kulit hitam dan
putih, saat ini wanita barangkali, dugaan saya, berlomba-lomba pengen kulitnya
putih, kalau bisa ada kosmetik bikin putih dalam sekejap pasti bakal dibeli.
Nah, kalau ada otak telah terprogram seperti ini bisa gawat, bisa-bisa muncul
lagi akhlak jaman purba, diskriminasi, tapi ini khusus warna kulit bukan ras.
Akhirnya muncul kata-kata seperti ini, "Iiihh, pake hitam sapa takut? kulit
itaaam? Taaaakuuuuttt!!!"
Dolo, saya pernah dihina begini, kebetulan teman saya itu putih banget; "Yed,
kulit loe itam banget yaa?" Sambil meletakan tangan saya di tangannya, kontras!
Kalau saja ada mesin yang bisa bikin orang pintar hingga mengerti tentang
hakikat manusia dan Tuhan, pengen banget rasa gue beliin buat tuh orang daripada
beli pemutih kulit!
Nah, sesuai dengan topik awal tentang bakso yang dijual orang, makin besar
rasanya makin enak, itu bakso! Bukan payudara! Buat apa payudara mesti dipermak?
Apa ada tulisan seperti ini di ATM-ATM seluruh penjuru dunia: DILARANG MASUK
BAGI MEREKA BERPAYUDARA KECIL (?), kalau ada yang mempermasalahkan tentang
ukuran ini, saran saya silhakan tanya saja kepada yang bersangkutan, kirim email
buat Tuhan, tanyakan pada Tuhan kenapa payudaraku kecil. Tidak ada yang salah
dengan warna dan bentuk tubuhmu, kalau ada yang mempermasalahkan, berarti
otaknya masih memakai konsep lama, struktur otak manusia purba!
Iklan seperti itu adalah propaganda palsu! Pernahkah Anda berpikir daun pohon
kenapa ada yang berwarna hijau, kuning merah dan warna lainnya? Apa yang membuat
warna tertentu tersebut? Jawabnya adalah klorofil, kalau pada manusia adalah
pigmen. Pigmenlah yang membuat warna kita berbeda dengan yang lain. Kenapa
supermodel seperti Iman, Naomi Campbell tidak mempermasalahkan warna kulitnya?
Bagaimana dengan orang keturunan Afrika yang kulitnya berwarna gelap?
Jangan bersikap bodoh karena iklan yang tolol, saya pernah berpikir, kenapa
produk iklan seperti itu tidak dijual di Afrika ya? Ada yang bisa mengganti
warna daun pohon dengan warna lain? Lihat bule yang berjemur bertahun-tahun, apa
warna dia berubah menjadi hitam? Memang warna kulitnya berubah, tapi sifatnya
sementara atau pigmennya mati. Kalau tidak salah kita pelajarin semua ini di
sekolah menengah, pelajaran biologi bukan pelajaran "trend" [PD]
___________________
|
apa itu penting!!!!????
semuanya hanyalah rasa kepercaya dirian kitalah yang kurang.........