|

Sebuah
koran lokal baru-baru ini menulis sebuah wawancara dengan salah seorang peninjau
pembangunan dan rehabilitasi Aceh setelah musibah tsunami, entah siapa nama
wanita itu, seorang dari lembaga PBB yang meninjau ke Aceh, ia memang cantik
untuk golongan kulit putih walau rambutnya tidak begitu pirang, barangkali
wartawan lokal itu kepincut melihat kecantikannya sehingga perlu melakukan
wawancara penting. Hasilnya, wawancara tersebut terpampang dihalaman depan surat
kabar di daerah itu keesokan harinya.
Surat kabar itu dibaca hampir di pelosok kota bahkan sampai kedesa-desa, tidak
ada yang aneh dengan tulisan tersebut, semuanya tertulis dengan rapi sesuai
dengan tatanan layout harian tersebut, bahkan wajah manis wanita itu pun ikut
terpampang dengan senyuman. Seperti biasanya, tulisan itu ditulis dengan ukuran
yang bisa terbaca dengan mata normal, hanya saja judulnya yang agak besar dari
hasil wawancara tersebut.
Beberapa orang terlihat duduk di warung kopi sedang membaca koran yang memang
disediakan oleh pemilik kedai, beberapa orang yang membacanya ikut mengernyit
kening dan tampak serius, bahkan beberapa orang tua yang terlihat tidak begitu
lancar membaca pun berusaha membaca sampai tuntas, perhatian terfokus pada
kolom-kolom yang terdapat pada harian tersebut. Sesekali kepalanya
terangguk-angguk. Baris kalimat dibaca tanpa ada kata yang terlewatkan. Serentak
beberapa orang itu berseru "wah, cantiknya!!"
Di suatu gedung besar penuh dengan ruang yang ber-AC dengan kursi empuk,
beberapa orang terlihat juga membaca harian tersebut, hanya saja kernyitan
keningnya tidak pernah hilang sejak memulai membaca kolom wawancara tersebut.
Serentak beberapa orang itu berseru "wah, pelecehan!!"
Entah bagaimana caranya, wartawan tersebut juga pada akhirnya ikut mewawancarai
orang-orang tersebut. Seperti kebakaran jenggot beberapa orang yang merasakan
terlecehkan dengan pernyataan harian pada edisi sebelumnya perlu melakukan
pembelaan. Beberapa orang lainnya pun ikut memberikan tanggapan yang menolak
tuduhan seperti yang dilontarkan oleh pejabat PBB tersebut. Usut punya usut
ternyata dalam kolom wawancara sebelumnya tertulis; ...semua tahu reputasi
korupsi di negara ini....". Pantas saja beberapa orang merasa terbakar
jenggotnya. Ternyata kata-kata tersebut sangat sensitif untuk disebutkan.
Beberapa waktu yang akan datang lembaga penelitian bahasa rasanya perlu
memasukan kata tersebut sebagai kata yang tabu untuk diucapkan di negeri ini.
Berbicara hal tabu emang sangat sensitif di negeri ini, orang terkekang
mengucapkan kata-kata tersebut di depan publik, seperti sudah dipatenkan atas
kepemilikan. Orang dapat dituntut dengan alasan pelecehan, pencemaran nama baik,
atau bahkan tindakan makar sekalipun. Ibu-ibu pun tak mau ketinggalan
memperingati anaknya yang keceplosan ngomong dengan alasan pamali alias tabu
untuk dibicarakan. Anak pun jadi diam tak mengerti kenapa hal itu dilarang untuk
di omongkan. Apa yang salah? Pikirnya.
Di negeri ini beberapa orang yang membongkar masalah korupsi pun tidak luput
dari hukum. Beberapa orang malah dipenjara ketika membuka aib tersebut, akan
tetapi di pengadilan malah tindakan kasus korupsi yang diadukan malah tidak
terbukti. Entah hasil rekayasa atau unsur fitnah, kita tidak pernah tahu karena
memang dilarang untuk membicarakannya dengan alasan tabu. Hasilnya, yang
tertuduh malah balik menuduh sebagai pencemaran nama baik. Semua orang akhirnya
juga tahu bahwa si A melakukan fitnah hanya saja kalimat itu diperhalus menjadi
pencemaran nama baik.
Di China yang dulunya sebagai nomor satu di dunia sebagai pelaku tindakan
korupsi telah menggantung ratusan orang yang dituduh melakukan korupsi. Kalau
kita bercermin di negeri ini, hati-hati dengan melontarkan kalimat tersebut,
kita malah diseret ke pengadilan. Dengan alasan bahwa negeri ini adalah negara
hukum yang menganut praduga tak bersalah, sampai orang itu dinyatakan bersalah
di pengadilan atau sampai pelaku melarikan diri keluar negeri. Hanya saja di
China begitu isu korupsi terdengar badan pemberantasan korupsi langsung
bertindak dan mengaudit semua keuangan sampai perusahaan atau individu tersebut
benar-benar terbebas dari isu tersebut.
Di negeri impian, kekayaan negara merupakan milik masyarakat yang mesti
dipertanggungjawabkan kepada publik, sangat tabu menggunakan uang tersebut untuk
memperkaya diri. Bahkan uang sepeserpun tidak dapat digunakan tanpa
sepengetahuan publik. Sayangnya itu hanya sebuah negeri impian yang entah kapan
kita dapat belajar dari mereka. Namanya juga negeri impian mana ada orang
bersusah payah memikirkannya. Tahyul katanya. Ironisnya, hampir semua televisi
berlomba-lomba menayangkan acara yang bersangkutan dengan tahyul, dimulai dengan
pencarian setan, wawancara dengan dukun atau bahkan setan pun kalau bisa bermain
sinetron. Seakan-akan inilah klenik bangsa kita yang memang akrab dengan tahyul.
Pamor para dukun juga meningkat, akal pun tidak perlu digunakan lagi. Tinggal
nunggu semburan sang dukun, peninggalan sejarah bangsa pun perlu dibongkar, ada
harta karun bisik sang dukun.
Negara Thailand juga terkenal dengan korupsinya, korupsi dilakukan ditempat umum
adalah hal yang biasa. Tak heran bila kita sering melihat orang berbaju
pemerintah tidak segan mengeluarkan amplop di depan khalayak ramai. Orang pun
tidak selalu menganggap hal itu sebagai uang sogokan. Amplop tersebut dapat
berupa tips sebagai pelayanan makan di restoran. Hanya saja kita harus jeli
melihat siapa orang menerima amplop tersebut. Lucunya, entah siapa yang menambah
anekdot tersebut menjadi cerita yang sedikit mengerikan, kalau di Indonesia,
menurut catatan tambahan tersebut, jangan ada rasa malu menyogok dengan tujuan
tertentu, meja di restorant tersebut pun sampai hilang!
Bedanya adalah Indonesia adalah negara dengan mayoritas orang yang mempunyai
agama, 99% barangkali penduduknya tertera dalam KTP mengisi untuk keterangan
beragama. Lain halnya kalau pelaku korupsinya adalah orang yang tidak mempunyai
pegangan agama, toh tidak ada larangan dan ajaran moral yang diterima atau
menjadi hal yang bersifat prinsipil baginya. Koruptor selalu beranggapan bahwa
Tuhan akan selalu mengampunkan dosa umatnya. Jadi, melakukan korupsi sekali atau
berkali-kali pun Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang akan mengampunkan
dosanya. Jadi biarlah korupsi menjadi bagian perilaku yang lumrah dalam
kehidupan ini.
Di negara ini, orang menjadi kaya secara mendadak merupakan kebanggaan sebagai
tanda seseorang telah sukses dalam hidupnya, sementara di penjuru lain di negeri
ini bayi-bayi menangis karena kekurangan gizi. Harga tak terjangkau untuk
membeli susu. Kalau anak semakin keras menangis akan membuat sang bapak menjadi
kalap, mencuri ayam milik tetangga menjadi salah satu cara yang terlihat untuk
membeli sepertiga dari isi kaleng susu. Cara itu tidak disukai oleh tetangganya
yang merasa terus kehilangan ayam-ayamnya. Polisi pun ikut menangani kasus
tersebut sebagai "kasus pencurian ayam" yang tertulis dalam berita acara
pemeriksaan. Hakim pun tidak segan-segan memukul palu dan menghukum pencuri ayam
dengan seberat-beratnya sekeras dengan ketukan palu.
Nasionalisme yang katanya cukup mengakar pada masyarakat kita merupakan hasil
perjuangan bangsa kita sendiri untuk memperkukuh rasa persatuan yang di cetuskan
oleh Soekarno dan beberapa tokoh nasional. Tujuannya adalah mempersatukan
wilayah Indonesia menjadi suatu bagian yang integral. Hanya saja wacana wawasan
nasionalisme itu menjadi dangkal, kita akan ribut bila melihat negara lain
membakar bendera negara kita, kita juga akan mencaci bila wilayah kita dimasuki
oleh orang lain dengan alasan menginjak martabat bangsa, kita bahkan
beramai-ramai akan mengutuk ketika negara lain melecehkan bangsa kita, tetapi
kita hanya bisa berguman ketika harta bangsa ini terus dikorupsi.
Seorang anak yang masih bersekolah menengah bertanya kepada ayahnya ketika
melihat sebuah gambar tikus di koran yang sedang dibaca ayahnya, tikus itu
sedang menggorogoti uang. Dirinya merasa heran melihat perilaku yang digambarkan
di harian tersebut. "Yah, kenapa tikus suka makan uang?" tanya anak itu.
"...hmm, karena tikus itu suka menggorogoti apa saja, itu menggambarkan pelaku
korupsi" jawab ayahnya dengan rasa ragu. "Tapi Yah,.. bukankah lebih tepat
dengan gambar babi bukannya tikus!? Bukankah babi suka makan apa saja yang
ditemukannya?" tanya anak itu kembali. Ayahnya menjadi bingung, "karena babi itu
haram!" Jawab ayahnya ketus sambil membayangkan kalau gambar tikus seandainya
adalah seekor babi mungkin lebih cocok seperti kata anaknya.
Si anak barangkali beramsusi babi adalah rakus setalah melihat ladang ayahnya
kemarin hari hancur berantakan setalah sekawanan babi hutan merusak berbagai
tanaman yang ditanam di ladang tersebut tanpa tersisa..... [PD]
___________________
|