|

Negara ini
sedang menggeliat, bukan karena baru saja terbangun dari mimpi buruk ketika
hujan badai ditengah malam seperti dalam film-film horor yang kita tonton di
bioskop 21, melainkan karena scabies yang menyerang hampir keseluruhan tubuh
negara ini. Gatal yang menyerang hampir keseluruhan permukaan tubuh sepertinya
tidak sanggup lagi dibendung oleh dua tangan yang memang sudah cacat sebelumnya
yang disebabkan mengangkat drum-drum BBM. Harga barang yang membumbung tinggi
sudah tidak sanggup lagi untuk dibeli, harga beras yang terus naik, pengangguran
yang terus bertambah. Kapasitas otak yang terbatas, rumah sakit jiwa adalah
tujuan akhirnya.
Memeluk guling dan menutup mata erat-erat, seperti fobia dengan komplikasi
schizoprenia, fakta yang tidak bisa dibantah, pemerintah sepertinya ketakutan
secara emosional untuk mengetahui kenyataan sebagian dari masyarakat kita dalam
keadaan "sakit". Moralitas bukan lagi berdasarkan pada norma-norma yang terdapat
pada masyarakt melainkan lebih pada budaya hedonisme (baca: nafsu syahwat).
Krisis moral seperti arus bawah, bergerak tajam seiring krisis ekonomi yang
terus-menerus menerpa sepanjang tahun negeri ini. Alasan popular yang sering
dipakai untuk memenuhi kebutuhan mendesak hedonisme tersebut pada akhirnya
adalah himpitan ekonomi. Krisis ini kurang mencuat ke permukaan karena krisis
ekonomi yang lebih nyata lebih terekspos. Akhirnya penjahat-penjahat kelamin (pemilik
modal dibidang esek-esek) dapat bergerak secara leluasa memanfaatkan situasi.
|
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
Majalah Playboy
Menunggu momen sikap permisif masyarakat Indonesia terhadap pornografi
|
|
|
|
|
Playboy merupakan perusahaan penerbitan pemotretan pornografi bukan berdasarkan
estetika yang disebut-sebut oleh artis-artis kita. Lucunya, setiap artis yang
diwawancarai oleh televisi membenarkan secara sepihak bahwa pemotretan tersebut
adalah hal-hal yang sah saja untuk dilakukan. Televisi pun meliput wawancara
tersebut seakan-akan pemotretan sensual adalah dapat diterima masyarakat kita.
Bila saja, kerajaan Playboy dapat berdiri dan membuka cabangnya di Indonesia,
maka bersiaplah-siaplah generasi kedepan bangsa ini harus menghapus dalam
buku-buku sejarah, budaya, nilai-nilai norma bangsa ini sebagai negara yang
menjunjung nilai (moral) dan martabat leluhur. Itu khan dulu...
Artis-artis kita yang minim pengetahuannya tentang majalah PLAYBOY pun mulai
berbicara dengan berbagai spekulasi moralitas, seakan-akan kebenaran moralitas
bukanlah sebagai aturan yang telah dtetapkan Tuhan dalam kitab-kitab agama,
melainkan opini publik semata terhadap benar-salah, boleh atau tidak. Ironisnya,
bangsa ini sedang melawan terhadap praktek-praktek ekploitasi terhadap perempuan
sepertinya impoten menghadapi isu krusial terhadap kerusakan moral generasi
bangsa.
Sebuah email yang ditujukan kepada kami kutip; "moralitas bangsa ini tidak perlu
diperdebatkan lagi, toh perempuan-perempuan Indonesia sudah tidak tabu lagi
untuk tampil vulgar di majalah, televisi atau media lainnya. Tidak perlu munafik
untuk menolak, nikmati saja..." Sementara di suatu tempat; sebuah website porno
yang menikmati "situasi" masyarakat yang terbentuk oleh kebebasan seksual ini
menulis secara persuasif dalam tampilan websitenya; "Hanya dengan 37 dollar
pertahun Anda dapat menikmati tubuh mulus gadis-gadis remaja [beberapa negara
dikawasan asia tenggara disebutkan]" Situs ini diperkirakan pemiliknya adalah
turis asing yang sengaja berkunjung ke negara-negara asia dengan tujuan
mengabadikan adegan intim dan beberapa photo wanita-wanita muda Asia yang begitu
mudah untuk dijadikan model.
Model-model Asia dianggap paling murah tarif pemotretannya dibadingkan model
atau artis Hollywood, bahkan tidak jarang dari model tersebut tidak pernah
dibayar royaltinya. Samantha, bintang film dan majalah porno di Amerika
mendapatkan royalti sebesar 500 juta dollar dalam setahun dari hasil penjualan
majalah, kalender, website dan berbagai pernak pernik seks lainnya. Sebuah angka
fantastis untuk sebuah nilai estetika. Terus terang saya bingung, inikah yang
disebutkan sebagai hasil karya seni yang disebut-sebut oleh "budayawan-budayawan"
Indonesia mengandung nilai artistik dan estetika? Apakah "benda seni" itu dapat
dipampang di rumah-rumah? Isunya, budaya itu berasal dari kata budi dan akal,
entahlah, nilai-nilai ini semakin jauh saja dari seniman karbitan yang dibentuk
nafsu syahwat.
Televisi pun ikut bertanggungjawab terhadap pembentukan moral syahwat generasi
muda Indonesia, hampir setiap hari tontonan vulgar yang mengumbar perilaku tak
senonoh pun dikupas secara gamblang, pendidikan moralitas didapatkan hampir
seluruh anak Indonesia dari televisi. Dimulai dari sinetron, liputan, sampai
pada berita-berita aktual lainnya. Semuanya dibungkus atas nama realitas
masyarakat yang perlu disampaikan kepada pemirsa. Sebuah pendidikan murah tanpa
perlu membayar SPP.
Banyak artis memberi tanggapan positif atas rencana penerbitan Playboy di
Indonesia, sayang sekali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh wartawan pun
terpola pada pembenaran pembentukan ideologi syahwat di Indonesia yang
penduduknya mayoritas beragama Islam ini. Mereka tidak jujur terhadap diri
mereka sendiri, walaupun sang artis ok-ok saja majalah porno dapat beredar di
Indonesia, akan tetapi apakah ia akan tetap mengatakan setuju bila anaknya kelak
tampil bugil di majalah tersebut? Menariknya, bila sang pewancara dapat
menanyakan pada sang artis, "bagaimana bila istri Anda kami photo bugil?" Marah?
Aneh khan bila ia setuju mengatakan boleh saja majalah porno dapat beredar bebas
di negara ini. Jangan heran bila anak-anak kita kelak berteriak bersama
teman-temannya, "Eh, ibu gue tampil di Playboy!!" Atau bahkan anak kita
bermasturbasi di depan gambar bugil orangtuanya!!! Mengerikan! Sebuah dampak
realita yang akan sangat sulit diungkapkan oleh media kita akan pelbagai dampak
negatif kerusakan moral bangsa kedepan.
Playboy merupakan majalah porno yang paling terkenal, pengelola majalah ini
memiliki istana sendiri yang disebut dengan mansion, tempat pemotretan,
setting yang dimilikinya pun begitu luas, sehingga pesta-pesta selalu dilakukan
ditempat mansion. Persertanya adalah playmate (model utama dalam setiap
edisi bulanan), dan tokoh-tokoh penting lainnya yang mempunyai pengaruh terhadap
majalah tersebut. Pestanya sudah dapat ditebak, seks liar! Pemilik mansion
menyediakan tempat-tempat berkencan dengan model atau bunnygirls (gadis-gadis
yang memakai baju kelinci sesuai dengan lambang dari majalah tersebut yang
bertugas melayani dan menyediakan makanan tamu-tamu yang hadir). Inikah yang
disebut sebagai budaya itu? Apakah kita sadar bila mengijinkan Playboy dapat
mengibarkan mansion di negara ini?
Bila Anda mengunjungi website Playboy, maka Anda tidak akan pernah menemukan
seni photografi disana, beberapa model memamerkan porselennya, berupa
kendi-kendi purba dengan ukuran besar, lucunya di negara kita malah mengatakan
bahwa ini sebuah kebebasan berekspresi. Inilah stigma yang terus menerus
dimunculkan oleh para seniman dan artis kita, diluar sana, para TKI mendapat
julukan "barang 50 dinar" atau dikenal dengan sebutan "abu sarmud" dan banyak
dari mereka mengalami pelecehan seksual ataupun percobaan perkosaan karena citra
ini dibentuk oleh bangsa kita sendiri, anehnya lagi banyak Abu Syahwat dinegeri
berteriak anti UU pornografi dan pornoaksi sebagai perjuangan demokrasi dan
hak-hak kaum wanita. Buka matalah, bersihkan telinga!
Bisa dibayangkan bila Playboy beredar Indonesia, dalam setiap edisi bulanannya
terdapat 4 model yang berpose bugil, dan ini tidak masuk hitungan beberapa model
amatir yang mencoba mengirim photo bugilnya ke majalah Playboy agar dapat
menjadi model playmates, maka bila dikalikan dengan 12 kali edisi
penerbitan ada 48 model Indonesia yang akan ditelanjangi oleh Playboy, coba Anda
kalikan bila beberapa majalah porno lain nantinya yang akan berkibar di negara
kita nantinya... [PD]
___________________
|