|
Sekelompok
anak kecil sedang meneriaki, bahkan melempar batu-batu kecil kepada orang gila
yang kebetulan lewat di depan mereka bermain. Beberapa anak kecil berusia 5-12
tahun ikut mengejar orang gila tersebut sambil berteriak-teriak untuk menakuti
orang gila tersebut. Laki-laki tua yang terlihat lusuh tersebut lari menjauhi
kerumunan anak-anak. Ia sangat ketakutan sampai terjatuh saat melarikan diri.
Anak-anak itu malah menertawakan menyaksikan orang gila tersebut terjerembab di
tanah dengan tanpa rasa kasihan.
Sementara itu seorang anak bernama Dwaina Brook, seorang anak kecil yang masih
bersekolah pada kelas empat SD di kota Dallas, Amerika Serikat, menyediakan 100
porsi makanan untuk tunawisma disekitar rumahnya, hasil usahanya itu menggerakan
masyarakat sekitarnya untuk ikut berpartisipasi menyediakan ribuan porsi makanan
untuk tunawisma. Dwaina menggambarkan makna empati, ia mampu menmpatkan dirinya
dalam posisi orang lain. Lebih dari itu, ia telah melakukan sesuatu untuk
meringankan penderitaan orang lain.
Dwaina telah memberikan gambaran penting mengenai empati, ia mampu menempatkan
dirinya dalam posisi orang lain, ia bersikap empati dengan merasakan penderitaan
tunawisma di lingkungannya yang menggerakannya untuk berbuat sesuatu meringankan
penderitaan tunawisma.
Apakah empati itu?
Empati adalah merasakan sesuatu bentuk atau perasaan tertentu seperti apa yang
dirasakan atau dideritakan oleh orang lain. Beda halnya dengan simpati yang
hanya menimbulkan ketertarikan semata tetapi tidak adanya suatu tindakan ataupun
ketertarikan secara emosional.
Mengajarkan empati pada anak akan memberikan suatu kemampuan emosi yang luar
biasa, anak tidak bersikap agresif dan melibatkan dirinya dalam perbuatan
prososial, seperti membantu orang lain. Anak dengan empati yang dimilikinya akan
lebih disukai oleh teman-temannya dan orang dewasa. Mereka juga memiliki
kemampuan besar dalam menjalinkan hubungan interaksi dengan orang lain di
sekolah dan tempat kerja.
Empati sebenarnya telah ada sejak usia dini, berkisar pada usia 6 tahun yang
terus berkembang dengan seiring perkembangan kognitif. Pada mulanya, bayi akan
ikut menangis bila mendengar teman seusianya menangis, Martin Hoffman, seorang
psikolog, menjelaskan peristiwa ini sebagai empati global, dimana anak belum
dapat membedakan antara dirinya dengan orang lain.
Pada usia satu dan dua tahun, anak mulai dapat membedakan antara dirinya dengan
orang lain, ia mulai dapat membedakan kesusahan yang dirasakan oleh dirinya dan
bukan dari orang lain atau sebaliknya. Seiring dengan pertumbuhan kognitif, anak
mulai mengenali kesedihan pada orang lain dan mampu menyesuaikan kepeduliannya
dengan perilaku yang tepat. Perilaku empati anak perempuan dan laki-laki
mempunyai status sosial yang sama, hanya saja bentuk empati anatara perempuan
dan laki-laki berbeda. Perilaku empati pada anak perempuan terlihat pada anak
yang membantu adiknya meredam kesedihan, sedangkan pada anak laki-laki seperti
membantu temannya mengendarai sepeda.
| |
|
| |
Empati dalam bentuk keramahan dan
kepdulian dengan orang-orang sekitar dan lingkungannya akan berangsur
hilang, jika sifat bawaan ini tidak terus dipelihara.... |
| |
|
Melihat perkembangan empati pada anak.
Pada anak usia 6 tahun ia mulai mengenal ekspresi emosi seseorang, apakah
seseorang itu dalam keadaan sedih, bahagia, senang atau susah. Bila pancaran
emosi tersebut berasal dari orang-orang sekitarnya ia akan menempatkan
perilaku-perilakunya yang sesuai. Misalnya ia melihat ibunya yang senang maka ia
akan senang juga dengan memberi dukungan berupa ekspresi atau tindakan yang
mendukung ibunya tersebut. Sebaliknya, tanpa berbicara pun seorang anak dapat
mengenal wajah ibunya dalam keadaan sedih atau susah, sehingga ia tidak ingin
mengganggu ibunya dengan memberi waktu untuk ibunya untuk sendiri. Kepekaan ini
akan terus berkembang terhadap dunia sekitarnya, baik dengan orang yang dikenal
atau tidak. Kepekaan tersebut akan hilang secara perlahan-lahan bila keluarga
tidak terus mengembangkan empatinya. Anak tersebut menjadi apatis, tidak peduli
dengan kesusahan yang diderita kelaurga atau orang lain, agresif atau bahkan
tidak mau peduli dan egoistik.
Pentingnya menanamkan empati sejak dini tidak hanya melatih anak mempunyai
kepedulian terhadap lingkungannya, anak dapat menjadi lebih pengertian terhadap
situasi tertentu. Anak akan menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan lebih realistis
atau mempertahankan kebutuhannya untuk sementara bila keinginannya tidak dapat
dipenuhi oleh orangtuanya. Misalnya, anak yang menuntut pada orangtua untuk
dibelikan sepeda baru, bila anak tersebut mengetahui orangtua dalam kesulitan
ekonomi maka ia tidak akan menuntut untuk dibelikan sepeda baru, lain halnya
pada anak-anak yang tidak terlatih, dia akan terus menuntut dengan berbagai cara
agar dibelikan sepeda baru tanpa mempedulikan orangtua dalam kesusahan atau
tidak.
Sebagai orangtua Anda dapat melihat perkembangan emosi terutama empati pada
anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan;
1. Apakah ia tahu ketika Anda dalam keadaan sedih walau tanpa Anda berbicara
kepadanya?
2. Apakah ia melakukan sesuatu hal ketika mengetahui Anda dalam keadaan sedih,
misalnya berusaha menghibur, atau memberikan sesuatu yang dapat Anda lakukan
untuk lebih rileks.
3. Ia berusaha menghibur adiknya yang sedang menangis, atau membantu dalam
berbagai cara bila melihat adiknya mengalami kesulitan.
4. Merasa iba melihat kesulitan atau kesedihan orang lain.
5. Tergugah emosinya, ikut merasa sedih ketika menonton adegan-adegan film atau
kenyataan menyangkut kesedihan.
6. Membantu teman atau adiknya yang sedang mengalami kesulitan mengerjakan PR.
7. Melindungi, seperti mengantar adiknya ke suatu tempat
Menumbuhkan empati pada anak.
1. Memperketat tanggung jawab dan rasa peduli
Beberapa ajaran moral yang diterima anak berupa hafalan tidak begitu
berpengaruhi pada anak, mereka begitu sulit menghubungkan hafalan-hafalan
tersebut dengan perilaku yang nyata. Keluarga tidak hanya harus menerapkan
ajaran moral secara nyata, melainkan juga menerapkan kedisplinan yang mesti
diterapkan oleh setiap anggota keluarga.
Kebanyakan orangtua merasa takut menerapkan aturan-aturan tertentu yang mesti
dipenuhi atau dilakukan oleh oleh anak, hal ini disebabkan ketakutan dari
orangtua dianggap konservatif, bodoh, norak dan sebagainya. Padahal, jika Anda
menginginkan anak mempunyai empati, lebih penyayang dan lebih bertanggungjawab
maka Anda harus membua aturan-aturan keluarga yang jelas dan konsisten dan tidak
mudah memberikan keringanan kepada mereka. Anda harus menuntut tanggungjawab
dari setiap tingkah lakunya yang menyalahi aturan keluarga yang telah Anda buat.
Beberapa aturan yang perlu diterapkan:
(a) Anak harus ikut bertanggung jawab terhadap keuangan keluarga, misalnya
dengan menetapkan uang jajan dan tabungan secara terpisah. Melatih tanggung
jawab anak terhadap uang jajannya sendiri sehingga ia tidak mencuri uang di laci
bila kekuarangan uang untuk jajan.
(b) Pulang pada waktunya. Berikan batasan-batasan tertentu pada anak untuk
menepati waktu pulang dari sekolah, jam bermain, jam belajar atau bahkan batas
waktu pulang di malam hari. Aturlah kesepakatan tersebut beserta dengan sanksi
bila nantinya anak tidak menepati janjinya.
(c) Berikan pekerjaan-pekerjaan rumahtangga untuk diselesaikan oleh anak.
Misalnya pada anak berumur 5 tahun untuk meletakan sendok dan garpu di meja
makan, pada anak umur 10 tahun untuk dapat merapikan dan membersihkan tempat
tidur
| |
|
| |
Untuk membentuk anak yang lebih bertanggungjawab, orangtua haruslah menahan
godaan untuk memanjakan anaknya. Memanjakan akan justru merusak anak |
| |
|
2. Mengajari anak dengan pebuatan baik kepada orang lain.
Mengajarkan anak empati tidaklah dengan berbicara kepada anak mengenai perbuatan
baik sebagai bentuk kepdulian kepada orang lain. Anda membutuhkan suatu kerja
yang nyata. Andalah yang harus menunjukkan kepada anak perbuatan-perbuatan baik
yang melibatkan empati.
Misalnya, Anda memberikan tempat duduk kepada ibu tua di dalam bis yang penuh
sesak, biarkan anak Anda melihat perbuatan Anda yang peduli dengan orang lain,
anak Anda akan memperoleh pendidikan yang paling berharga daripada Anda hanya
mengobrol tindakan-tindakan tersebut di meja makan. Beberapa tindakan lain yang
dapat Anda lakukan di depan anak Anda adalah, membantu orangtua menyebrangi
jalan, mengunjungi sahabat Anda di rumah sakit, membantu membawa barang belanja
seorang ibu yang keberatan membawanya kedalam mobil dan sebagainya.
Perbuatan baik yang Anda lakukan akan membuka pintu bagi anak Anda, apabila
kebaikan sudah menjadi kebiasaan, Anda akan melihat anak Anda ketagihan dan
mencari jalan lain dengan caranya sendiri untuk berbuat baik kepada orang lain.
Sebuah kebiasaan adiktif yang akan membentuknya kelak.
3. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial
Kegiatan sosial untuk membantu orang lain dan sebagainya tidak hanya membentuk
empati pada anak, melainkan juga mengjarkan ketrampilan sosial seperti membentuk
kerjasama, berinteraksi dengan orang lain, ketekunan, dan kesetiaan. Sebuah
pelajaran penting sangat bermanfaat yang menyumbangkan bentuk ketrampilan EQ
lainnya.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah;
1. Bekerja di dapur umum
2. Bergabung dalam organisasi tertentu yang bergerak pada kemanusian atau
lingkungan
3. Ikut gotong royong yang dilakukan sekitar lingkungan rumah.
4. Menghibur orang jompo di panti wreda
5. Membuat boneka atau kerajinan untuk anak-anak sakit dengan tujuan menghibur
mereka. [PD/ayed]
___________________
|