Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 

Keluarga

Artikel psikologi mengenai hubungan keluarga.

 
     
 

10 Ciri Menuju Tahap Perceraian


Artikel Keluarga | 07/2005 | Pikirdong | Keluarga

 


Perceraian merupakan mimpi buruk bagi seseorang, tidak hanya menjadi pengalaman yang traumatis, perceraian juga menjadi mimpi buruk anak-anak yang ditinggal cerai. Dampak dari perceraian sebenarnya lebih berpengaruh buruk pada anak. Perceraian disinyalir sebagai dampak timbulnya kenakalan remaja yang kurang kasih sayang dari orangtuanya.

 

 


 

Hampir setengah perkawinan di Amerika berakhir dengan peceraian, pada tahun 1997 dilaporkan 33 juta anak di Amerika hidup tanpa pasangan orangtua yang lengkap, dan 7 juta anak lainnya dikabarkan menghabiskan waktunya sendiri yang disebabkan oleh kesibukan orangtua mereka dengan pekerjaannya.

Banyak sekali penyebab intern dalam keluarga yang pada akhirnya mengarah pada perceraian sebagai solusi terakahir. Di mulai dengan hal-hal sepele yang lamban laun menjadi sebuah masalah besar yang tidak dapat dikontrol. Seperti bisul yang terus membesar lalu meledak pada suatu hari seperti perang dunia.

Pada dasarnya, perceraian bukanlah pilihan yang tepat untuk dilakukan. Masalah-masalah kecil yang sebenarnya dapat diatasi, akan tetapi karena karakter seseorang yang memang sulit untuk memperbaiki dirinya, pada akhirnya pilihan cerai adalah solusi dari pertengkaran-pertengkaran yang muncul sebelumnya. Barbara De Angelis, seorang pakar dalam hubungan dan komunikasi, mengatakan bahwa karakter seseorang yang buruklah yang menjadi faktor utama terbentuknya keretakan hubungan dalam rumah tangga. Keengganan untuk melakukan introspeksi secara dini menyebabkan menumpuknya permasalahan yang lambat laun membentuk bom waktu yang dapat meledak setiap saat.

Ada beberapa cara mengukur tahap perkawinan diambang kehancuran, tolak ukur ini merupakan ciri awal memasuki episode-episode menuju ke titik nol, dimana semakin dekatnya kesibukan masing-masing pasangan untuk mengurus masalah ini ke pengadilan. Dimana mimpi buruk itu mulai menjadi nyata.

Ciri-ciri menuju ke titik nol:

1. Setiap pasangan mulai disibukan dengan aktivitas masing-masing.
Setiap pasangan mulai mempunyai kesibukan masing-masing, berupa pekerjaan yang seakan-akan tidak ada habisnya. Hampir keseluruhan energi dihabiskan ditempat kerja. Hampir separuh waktu dihabiskan diluar jam keluarga dan kelelahan setiba dirumah juga digunakan untuk beristirahat sehingga perhatian terhadap keluarga menjadi berkurang.

2. Dimulainya kurang pertemuan di meja makan.
Setiap pasangan mempunyai acara sendiri yang menghabiskan banyak waktu di luar rumah, akibatnya pertemuan-pertemuan dengan sesama anggota keluarga menjadi minim. Hal ini terus berlanjut hingga hilangnya kebiasaan-kebiasaan keluarga seperti makan bersama dengan anggota keluarga yang kurang lengkap.
 

 

 

 

Karakteristik seseorang sangat berpengaruh terhadap sikap pengambilan keputusan untuk bercerai. Buruknya karakter tersebut memperburuk kondisi perkawinan diambang kehancuran...

 

 


3. Adanya alasan-alasan tertentu yang dipakai menyangkut pekerjaan, kesibukan lainnya yang digunakan untuk mengelak dari pertemuan.
Ketika konflik rumah tangga terjadi, setiap orang berusaha menciptakan alasan tertentu untuk menghindar pertemuan atau kebiasaan keluarga, pasangan ini biasanya menganggap konflik tersebut dapat menjadi baik dengan sendirinya. Sikap yang acuh tersebut mengambarkan bentuk yang kurang peduli akan hubungan itu sendiri. Ego dan ingin menang sendiri membuat pasangan enggan untuk memulai membicarakan masalah tersebut.

4. Semakin kurangnya komunikasi diantara keduabelah pihak.
Berkurangnya waktu yang dimiliki oleh keluarga otomatis akan membuat berkurangnya komunikasi. Pada tahap buruk, timbulnya keengganan untuk saling memulai berbicara, permasalahan yang muncul kerap menjadi tabu untuk dibahas oleh keduabelah. Akibatnya setiap pasangan saling berdiam dan menjaga jarak.
 
5. Keengganan untuk menyelesaikan masalah.
Menumpuknya permasalahan keluarga yang diperlukan pembahasan lebih lanjut. Hal-hal sepele pun menjadi pertengkaran yang hebat, hal ini kemungkinan disebabkan adanya masalah sebelumnya yang belum terselesaikan. Setiap pasangan saling menyalahkan dan keengganan untuk memaafkan kesalahan pasangannya.

6. Pudarnya romantisme dalam keluarga.
Romantisme merupakan hal yang penting dalam hubungan cinta-kasih setiap pasangan yang menikah. Buruknya tahap ini dimulai keengganan pasangan untuk berbicara ketika hubungan intim selesai dilakukan, setiap pasangan langsung membalikan badan membelakangi pasangannya lalu tertidur. Komunikasi yang dilakukan oleh pasangan bercinta selesai berhubungan intim akan meningkatkan romantis dan kualitas dari hubungan tersebut. Hilangnya romantisme juga ditandai dengan berkurangnya aktivitas keluarga yang biasanya sering dilakukan secara bersama-sama.

7. Intensitas hubungan seks yang turun secara drastis.
Menurunnya frekuensi bercinta pada pasangan menikah secara drastis, tidak hanya intensitas, juga menurunya kualitas dari hubungan tersebut. Berkurangnya aktivitas-aktivitas menyangkut pemuasan kebutuhan seksual setiap pasangan.

8. Setiap pasangan mulai menghibur diri mereka dengan cara masing-masing.
Setiap pasangan mempunyai cara masing-masing untuk menghibur diri mereka sendiri, acara keluarga yang seharusnya dihadiri oleh anggota keluarga lengkap akan tetapi dengan berbagai alasan yang digunakan masing-masing pasangan untuk menghindar dari hubungan itu memaksa pasangan melakukannya kegiatan tersebut dengan cara mereka sendiri. Kesibukan tersebut juga digunakan sebagai alasan untuk menghindar dari keributan yang terus terjadi dirumah, sehingga pasangan merasa perlunya melakukan aktivitas lain diluar rumah.

9. Hilangnya perhatian yang diberikan oleh setiap anggota keluarga.
Beberapa tradisi keluarga yang berangsur hilang, misalnya merayakan ulang tahun salah satu anggota keluarga. Juga ditandai dengan hilangnya perhatian keluarga yang diberikan kepada anak. Banyak waktu yang dihabiskan anak tanpa perhatian orangtua, beberapa aktivitas anak juga dilakukan tanpa melibatkan kedua orangtuanya.

10. Pertengkaran yang terus meningkat, kadang disertai dengan penganiayaan secara fisik.
Meningkatnya pertengkaran-pertengkaran yang terus terjadi dalam rumah tangga. Seakan tidak pernah habis, setiap pasangan mulai mencari kelemahan pasangannya untuk digunakan sebagai penyerangan karakter. Pasangan mulai berbicara dengan intonasi tinggi dan ingin didengarkan oleh pasangannya. Pada tahap selanjutnya ditandai dengan kekerasan secara fisik atau bahkan menghancurkan perabot-perabot dalam rumah  [PD/ayed]

 

 

___________________


 

 

Comment Script

Comments

Saya sedang mengalami 10hal diatas,istri yg saya nikahkan 5th lalu menggugat cerai,padahal tidak dgn alasan yg prinsip.mmg sdh lama kami tidak ada kecocokan,tp krn pertimbangan putri kami yg msh balita,niat itu larut tapi dilema yg kami alami msh ada dan belum tuntas..akhir2 ini smakin menjadi bahkan sudah sering menghina saya dgn kata2 yg tidak pantas terucap,krn pertimbangan anak,sy tak akan ceraikan istriku..walau saya perlu menderita krn tanpa cinta dan baktinya..perlu diketahui diantara kami tdk ada PIL/WIL. Ego kami tak ada yg mau ngalah. Tolong sesama kawan,bagaimana lagi..sabar?
#1 - udre - 12/15/2009 - 13:37
Name
E-mail (Will not appear online)
Homepage
Title
Comment
;-) :-) :-D :-( :-o >-( B-) :oops: :-[] :-P
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184