|
Perceraian
merupakan mimpi buruk bagi seseorang, tidak hanya menjadi pengalaman yang
traumatis, perceraian juga menjadi mimpi buruk anak-anak yang ditinggal cerai.
Dampak dari perceraian sebenarnya lebih berpengaruh buruk pada anak. Perceraian
disinyalir sebagai dampak timbulnya kenakalan remaja yang kurang kasih sayang
dari orangtuanya.
Hampir setengah perkawinan di Amerika berakhir dengan peceraian, pada tahun 1997
dilaporkan 33 juta anak di Amerika hidup tanpa pasangan orangtua yang lengkap,
dan 7 juta anak lainnya dikabarkan menghabiskan waktunya sendiri yang disebabkan
oleh kesibukan orangtua mereka dengan pekerjaannya.
Banyak sekali penyebab intern dalam keluarga yang pada akhirnya mengarah pada
perceraian sebagai solusi terakahir. Di mulai dengan hal-hal sepele yang lamban
laun menjadi sebuah masalah besar yang tidak dapat dikontrol. Seperti bisul yang
terus membesar lalu meledak pada suatu hari seperti perang dunia.
Pada dasarnya, perceraian bukanlah pilihan yang tepat untuk dilakukan.
Masalah-masalah kecil yang sebenarnya dapat diatasi, akan tetapi karena karakter
seseorang yang memang sulit untuk memperbaiki dirinya, pada akhirnya pilihan
cerai adalah solusi dari pertengkaran-pertengkaran yang muncul sebelumnya.
Barbara De Angelis, seorang pakar dalam hubungan dan komunikasi, mengatakan
bahwa karakter seseorang yang buruklah yang menjadi faktor utama terbentuknya
keretakan hubungan dalam rumah tangga. Keengganan untuk melakukan introspeksi
secara dini menyebabkan menumpuknya permasalahan yang lambat laun membentuk bom
waktu yang dapat meledak setiap saat.
Ada beberapa cara mengukur tahap perkawinan diambang kehancuran, tolak ukur ini
merupakan ciri awal memasuki episode-episode menuju ke titik nol, dimana semakin
dekatnya kesibukan masing-masing pasangan untuk mengurus masalah ini ke
pengadilan. Dimana mimpi buruk itu mulai menjadi nyata.
Ciri-ciri menuju ke titik nol:
1. Setiap pasangan mulai disibukan dengan aktivitas masing-masing.
Setiap pasangan mulai mempunyai kesibukan masing-masing, berupa pekerjaan yang
seakan-akan tidak ada habisnya. Hampir keseluruhan energi dihabiskan ditempat
kerja. Hampir separuh waktu dihabiskan diluar jam keluarga dan kelelahan setiba
dirumah juga digunakan untuk beristirahat sehingga perhatian terhadap keluarga
menjadi berkurang.
2. Dimulainya kurang pertemuan di meja makan.
Setiap pasangan mempunyai acara sendiri yang menghabiskan banyak waktu di luar
rumah, akibatnya pertemuan-pertemuan dengan sesama anggota keluarga menjadi
minim. Hal ini terus berlanjut hingga hilangnya kebiasaan-kebiasaan keluarga
seperti makan bersama dengan anggota keluarga yang kurang lengkap.
|
|
|
|
|
Karakteristik
seseorang sangat berpengaruh terhadap sikap pengambilan keputusan untuk
bercerai. Buruknya karakter tersebut memperburuk kondisi perkawinan
diambang kehancuran... |
|
|
|
3. Adanya alasan-alasan tertentu yang dipakai menyangkut pekerjaan, kesibukan
lainnya yang digunakan untuk mengelak dari pertemuan.
Ketika konflik rumah tangga terjadi, setiap orang berusaha menciptakan alasan
tertentu untuk menghindar pertemuan atau kebiasaan keluarga, pasangan ini
biasanya menganggap konflik tersebut dapat menjadi baik dengan sendirinya. Sikap
yang acuh tersebut mengambarkan bentuk yang kurang peduli akan hubungan itu
sendiri. Ego dan ingin menang sendiri membuat pasangan enggan untuk memulai
membicarakan masalah tersebut.
4. Semakin kurangnya komunikasi diantara keduabelah pihak.
Berkurangnya waktu yang dimiliki oleh keluarga otomatis akan membuat
berkurangnya komunikasi. Pada tahap buruk, timbulnya keengganan untuk saling
memulai berbicara, permasalahan yang muncul kerap menjadi tabu untuk dibahas
oleh keduabelah. Akibatnya setiap pasangan saling berdiam dan menjaga jarak.
5. Keengganan untuk menyelesaikan masalah.
Menumpuknya permasalahan keluarga yang diperlukan pembahasan lebih lanjut. Hal-hal
sepele pun menjadi pertengkaran yang hebat, hal ini kemungkinan disebabkan
adanya masalah sebelumnya yang belum terselesaikan. Setiap pasangan saling
menyalahkan dan keengganan untuk memaafkan kesalahan pasangannya.
6. Pudarnya romantisme dalam keluarga.
Romantisme merupakan hal yang penting dalam hubungan cinta-kasih setiap pasangan
yang menikah. Buruknya tahap ini dimulai keengganan pasangan untuk berbicara
ketika hubungan intim selesai dilakukan, setiap pasangan langsung membalikan
badan membelakangi pasangannya lalu tertidur. Komunikasi yang dilakukan oleh
pasangan bercinta selesai berhubungan intim akan meningkatkan romantis dan
kualitas dari hubungan tersebut. Hilangnya romantisme juga ditandai dengan
berkurangnya aktivitas keluarga yang biasanya sering dilakukan secara
bersama-sama.
7. Intensitas hubungan seks yang turun secara drastis.
Menurunnya frekuensi bercinta pada pasangan menikah secara drastis, tidak hanya
intensitas, juga menurunya kualitas dari hubungan tersebut. Berkurangnya
aktivitas-aktivitas menyangkut pemuasan kebutuhan seksual setiap pasangan.
8. Setiap pasangan mulai menghibur diri mereka dengan cara masing-masing.
Setiap pasangan mempunyai cara masing-masing untuk menghibur diri mereka sendiri,
acara keluarga yang seharusnya dihadiri oleh anggota keluarga lengkap akan
tetapi dengan berbagai alasan yang digunakan masing-masing pasangan untuk
menghindar dari hubungan itu memaksa pasangan melakukannya kegiatan tersebut
dengan cara mereka sendiri. Kesibukan tersebut juga digunakan sebagai alasan
untuk menghindar dari keributan yang terus terjadi dirumah, sehingga pasangan
merasa perlunya melakukan aktivitas lain diluar rumah.
9. Hilangnya perhatian yang diberikan oleh setiap anggota keluarga.
Beberapa tradisi keluarga yang berangsur hilang, misalnya merayakan ulang tahun
salah satu anggota keluarga. Juga ditandai dengan hilangnya perhatian keluarga
yang diberikan kepada anak. Banyak waktu yang dihabiskan anak tanpa perhatian
orangtua, beberapa aktivitas anak juga dilakukan tanpa melibatkan kedua
orangtuanya.
10. Pertengkaran yang terus meningkat, kadang disertai dengan penganiayaan
secara fisik.
Meningkatnya pertengkaran-pertengkaran yang terus terjadi dalam rumah tangga.
Seakan tidak pernah habis, setiap pasangan mulai mencari kelemahan pasangannya
untuk digunakan sebagai penyerangan karakter. Pasangan mulai berbicara dengan
intonasi tinggi dan ingin didengarkan oleh pasangannya. Pada tahap selanjutnya
ditandai dengan kekerasan secara fisik atau bahkan menghancurkan perabot-perabot
dalam rumah [PD/ayed]
___________________
|