|
Memberi
hukuman pada anak berupa pemukulan secara fisik merupakan langkah yang tidak
tepat dalam masa perkembangan kepribadian anak, disaat pembentukan karakter
justru anak tidak mendapatkan pengenalan akan perlunya disiplin pada anak. Hal
yang perlu dipahami oleh orang tua adalah bagaimana memberikan hukuman tersebut
dapat diterima oleh anak dengan kerangka berpikir sang anak, dengan demikian
anak dapat mengerti kesalahan yang diperbuatnya dan tidak mengulangi kembali.
Permasalahannya adalah kebanyakan orang tua sangat sulit memahami bentuk-bentuk
kesalahan yang diperbuat oleh sang anak, memahami apa yang dipikir oleh sang
anak yang tentunya berbeda dengan pola pikir orang tua yang berpikir lebih jauh
akan dampak-dampak yang diperbuat oleh sang anak. Misalnya saja kasus dibawah
ini;
Pak Herman pernah melarang Andi yang berusia 5 tahun untuk mencoret-coret
dinding, hari itu Pak Herman baru saja menyelesaikan mengecat dinding ruang tamu
setelah beberapa hari mengerjakannya. Sepulang dari kantor keesokan harinya ia
menemukan dinding sudah penuh dengan coretan kembali. Marahnya meledak, sia-sia
sudah pekerjaan mengecatnya. Ia marah, menatap Andi dengan geram... 1
Marah merupakan ekspresi yang memungkinkan untuk dilakukan ketika anak melakukan
kesalahan-kesalahan sehingga kita sering menemukan anak yang mengalami
penyiksaan secara fisik lebih nakal dari kebiasaan sebelumnya, bahkan kenakalan
dan kerusakan mental dimulai dari penyiksaan yang dilakukan oleh orangtuanya
sendiri. Anak lebih mudah merekam kejadian saat dipukul atau dimarahi
dibandingkan mengerti tentang kesalahan yang dilakukannya. Kebanyakan orang tua
berpikir dengan marah sambil mengomel anak akan takut dan mengerti kesalahannya,
justru saat dimarahilah anak merekam bahwa ayah atau ibunya jahat terhadap
dirinya. Kenapa itu tidak boleh dan kenapa ini juga tidak boleh? Akibatnya akan
muncul sikap membangkang.
Tidak semua hukuman yang diberikan akan efektif mengurangi kenakalan anak,
kesalahan yang dilakukan anak merupakan sebuah proses belajar anak dalam bentuk
try and error. Orang tua haruslah dapat membimbing anak dengan cara-cara
sendiri berdasarkan kebiasaan keluarga yang sesuai dalam rumah tangga sehingga
tidak terjadi suatu kesan pemaksaan hukuman. Dengan demikian anak akan menemukan
bentuk kepribadian yang sehat, terpenting ―anak akan belajar pada tahap
modeling dengan mencontoh perilaku-perilaku awal pada orang tuanya.
Kita tidak bisa menghukum anak yang menyembunyikan sampah dibawah tempat
tidurnya bila kita sendiri kadang suka melempar bungkus makanan disembarang
tempat, atau kita menghukum anak tidak sholat sementara kita sendiri tidak
pernah terlihat sholat oleh anak atau mengajaknya untuk sholat bersama.
Jenis Hukuman
|
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
Dunia Anak
Tugas orang tua adalah bagaimana menjelaskan sesuatu boleh atau tidak
berdasarkan konsep berpikir sang anak |
|
|
|
|
Jenis hukuman yang dapat diberikan dapat bervariasi berdasarkan jenis kesalahan
yang dilakukan sang anak. Hukuman dapat dilakukan berdasarkan kebiasaan perilaku
seharian dalam rumah. Beberapa hal terpenting yang perlu dipikirkan oleh orang
tua adalah bagaimana hukuman tersebut dapat dimengerti oleh anak sehingga anak
pun tidak akan mengulanginya kembali.
Misalkan anak yang bermain bola di dalam rumah sehingga memecahkan vas keramik,
hukuman dapat diberikan dengan memotong uang jajan, tujuannya adalah agar anak
menyadari barang-barang berharga di rumah dan tidak ada yang dapat diperoleh
secara gratis, hukuman tersebut juga memberikan efek rugi pada anak bila ia
memecahkan perabotan-perabotan di rumah. Anak juga belajar untuk merawat dan
menghargai sebuah barang-barang tersebut tidaklah dapat diperoleh dengan mudah.
Hukuman di atas dapat diperkuat menjadi habituasi dengan mengajak anak
berbelanja membeli perabot, berikan penjelasan harga dengan nilai nominal yang
sudah dimengerti anak. Anak tidak mengerti nilai nominal uang dalam jumlah besar
tapi dapat dijelaskan dengan memberikan gambaran bahwa perabot tersebut sama
dengan jumlah uang jajan selama beberapa waktu. Dengan demikian anak akan
mengerti bahwa harga barang tersebut akan menghabiskan uang jajannya bila ia
memecahkan kembali.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam memberi
punishment (hukuman) pada anak;
1. Berikan penjelasan secara rinci kesalahan yang dibuat anak, tidak perlu
panjang lebar melainkan langsung pada pokok permasalahan
2. Berikan hubungan sebab akibat dari kesalahan yang dibuat anak
a. Anak-anak tidak tahu kenapa yang diperbuatnya bisa salah di mata orang tua
3. Jangan mencela
4. Jangan memukul lalu memberikannya hukuman tambahan
5. Tentukan hukuman yang tepat dan bermanfaat
6. Bila terjadi perbedaan mengenai hukuman hendaknya kedua orang tua mengalah
salah satunya
7. Bila terjadi ketidaksetujuan jangan membicarakan masalah ini di depan anak
8. Berikan batasan waktu hukuman secara jelas
9. Jenis hukuman harus tetap berlaku (tidak hanya sekali)
10. Kunjungi anak ketika hukuman sudah berakhir, berikan pelukan kepadanya.
11. Jangan mengungkit kembali pembicaraan permasalahan sebelumnya bila anak
telah menjalani hukuman.
12. Memberi hukuman harus dibarengi dengan penghargaan di lain waktu.
Perlukah Marah itu?
Perlukah menunjukkan ekspresi marah pada anak? Perlu, ekspresi marah yang wajar
dan dapat diterima oleh anak sangatlah sulit dilakukan, jangan membentak,
mencela atau melakukan pemukulan, akan tetapi tunjukkanlah rasa marah itu untuk
memberikan kesan yang dapat ditangkap oleh anak bahwa Anda bersungguh-sungguh
terhadap kesalahan yang dilakukannya tersebut.
Kekerasan pada anak berupa pemukulan dan penyiksaan justru mengekang
pengembangan kepribadian, dampak-dampak maladaptif dikemudian hari diperkirakan
akan terbentuk dengan di awali dengan kekerasaan sejak dini. Kontrol emosi orang
tua sangat dibutuhkan agar rasa marah tidak meletup menjadi buah kekerasaan. [PD/ayed]
___________________
|