Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 

Keluarga

Artikel psikologi mengenai hubungan keluarga.

 
     
 

Memberi Hukuman pada Anak


Artikel Keluarga | 11/2007 | Pikirdong | Keluarga

 


Memberi hukuman pada anak berupa pemukulan secara fisik merupakan langkah yang tidak tepat dalam masa perkembangan kepribadian anak, disaat pembentukan karakter justru anak tidak mendapatkan pengenalan akan perlunya disiplin pada anak. Hal yang perlu dipahami oleh orang tua adalah bagaimana memberikan hukuman tersebut dapat diterima oleh anak dengan kerangka berpikir sang anak, dengan demikian anak dapat mengerti kesalahan yang diperbuatnya dan tidak mengulangi kembali.

 

 


 

Permasalahannya adalah kebanyakan orang tua sangat sulit memahami bentuk-bentuk kesalahan yang diperbuat oleh sang anak, memahami apa yang dipikir oleh sang anak yang tentunya berbeda dengan pola pikir orang tua yang berpikir lebih jauh akan dampak-dampak yang diperbuat oleh sang anak. Misalnya saja kasus dibawah ini;


Pak Herman pernah melarang Andi yang berusia 5 tahun untuk mencoret-coret dinding, hari itu Pak Herman baru saja menyelesaikan mengecat dinding ruang tamu setelah beberapa hari mengerjakannya. Sepulang dari kantor keesokan harinya ia menemukan dinding sudah penuh dengan coretan kembali. Marahnya meledak, sia-sia sudah pekerjaan mengecatnya. Ia marah, menatap Andi dengan geram... 1


Marah merupakan ekspresi yang memungkinkan untuk dilakukan ketika anak melakukan kesalahan-kesalahan sehingga kita sering menemukan anak yang mengalami penyiksaan secara fisik lebih nakal dari kebiasaan sebelumnya, bahkan kenakalan dan kerusakan mental dimulai dari penyiksaan yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri. Anak lebih mudah merekam kejadian saat dipukul atau dimarahi dibandingkan mengerti tentang kesalahan yang dilakukannya. Kebanyakan orang tua berpikir dengan marah sambil mengomel anak akan takut dan mengerti kesalahannya, justru saat dimarahilah anak merekam bahwa ayah atau ibunya jahat terhadap dirinya. Kenapa itu tidak boleh dan kenapa ini juga tidak boleh? Akibatnya akan muncul sikap membangkang.

Tidak semua hukuman yang diberikan akan efektif mengurangi kenakalan anak, kesalahan yang dilakukan anak merupakan sebuah proses belajar anak dalam bentuk try and error. Orang tua haruslah dapat membimbing anak dengan cara-cara sendiri berdasarkan kebiasaan keluarga yang sesuai dalam rumah tangga sehingga tidak terjadi suatu kesan pemaksaan hukuman. Dengan demikian anak akan menemukan bentuk kepribadian yang sehat, terpenting ―anak akan belajar pada tahap modeling dengan mencontoh perilaku-perilaku awal pada orang tuanya.

Kita tidak bisa menghukum anak yang menyembunyikan sampah dibawah tempat tidurnya bila kita sendiri kadang suka melempar bungkus makanan disembarang tempat, atau kita menghukum anak tidak sholat sementara kita sendiri tidak pernah terlihat sholat oleh anak atau mengajaknya untuk sholat bersama.


Jenis Hukuman

 

 

 

 

 

 

Dunia Anak
Tugas orang tua adalah bagaimana menjelaskan sesuatu boleh atau tidak berdasarkan konsep berpikir sang anak

 

 

 

Jenis hukuman yang dapat diberikan dapat bervariasi berdasarkan jenis kesalahan yang dilakukan sang anak. Hukuman dapat dilakukan berdasarkan kebiasaan perilaku seharian dalam rumah. Beberapa hal terpenting yang perlu dipikirkan oleh orang tua adalah bagaimana hukuman tersebut dapat dimengerti oleh anak sehingga anak pun tidak akan mengulanginya kembali.

Misalkan anak yang bermain bola di dalam rumah sehingga memecahkan vas keramik, hukuman dapat diberikan dengan memotong uang jajan, tujuannya adalah agar anak menyadari barang-barang berharga di rumah dan tidak ada yang dapat diperoleh secara gratis, hukuman tersebut juga memberikan efek rugi pada anak bila ia memecahkan perabotan-perabotan di rumah. Anak juga belajar untuk merawat dan menghargai sebuah barang-barang tersebut tidaklah dapat diperoleh dengan mudah.

Hukuman di atas dapat diperkuat menjadi habituasi dengan mengajak anak berbelanja membeli perabot, berikan penjelasan harga dengan nilai nominal yang sudah dimengerti anak. Anak tidak mengerti nilai nominal uang dalam jumlah besar tapi dapat dijelaskan dengan memberikan gambaran bahwa perabot tersebut sama dengan jumlah uang jajan selama beberapa waktu. Dengan demikian anak akan mengerti bahwa harga barang tersebut akan menghabiskan uang jajannya bila ia memecahkan kembali.



Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam memberi punishment (hukuman) pada anak;


1. Berikan penjelasan secara rinci kesalahan yang dibuat anak, tidak perlu panjang lebar melainkan langsung pada pokok permasalahan
2. Berikan hubungan sebab akibat dari kesalahan yang dibuat anak
a. Anak-anak tidak tahu kenapa yang diperbuatnya bisa salah di mata orang tua
3. Jangan mencela
4. Jangan memukul lalu memberikannya hukuman tambahan
5. Tentukan hukuman yang tepat dan bermanfaat
6. Bila terjadi perbedaan mengenai hukuman hendaknya kedua orang tua mengalah salah satunya
7. Bila terjadi ketidaksetujuan jangan membicarakan masalah ini di depan anak
8. Berikan batasan waktu hukuman secara jelas
9. Jenis hukuman harus tetap berlaku (tidak hanya sekali)
10. Kunjungi anak ketika hukuman sudah berakhir, berikan pelukan kepadanya.
11. Jangan mengungkit kembali pembicaraan permasalahan sebelumnya bila anak telah menjalani hukuman.
12. Memberi hukuman harus dibarengi dengan penghargaan di lain waktu.


Perlukah Marah itu?

Perlukah menunjukkan ekspresi marah pada anak? Perlu, ekspresi marah yang wajar dan dapat diterima oleh anak sangatlah sulit dilakukan, jangan membentak, mencela atau melakukan pemukulan, akan tetapi tunjukkanlah rasa marah itu untuk memberikan kesan yang dapat ditangkap oleh anak bahwa Anda bersungguh-sungguh terhadap kesalahan yang dilakukannya tersebut.

Kekerasan pada anak berupa pemukulan dan penyiksaan justru mengekang pengembangan kepribadian, dampak-dampak maladaptif dikemudian hari diperkirakan akan terbentuk dengan di awali dengan kekerasaan sejak dini. Kontrol emosi orang tua sangat dibutuhkan agar rasa marah tidak meletup menjadi buah kekerasaan. [PD/ayed]

 

 

___________________


 

 

Comment Script

Comments

Name
E-mail (Will not appear online)
Homepage
Title
Comment
;-) :-) :-D :-( :-o >-( B-) :oops: :-[] :-P
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184