|
Menerapkan
disiplin pada anak merupakan keinginan dari semua orangtua, namun beberapa
aturan keluarga dan punishment yang diterapkan dengan tujuan membiasakan anak
belajar untuk disiplin dapat membuat anak frustrasi, marah atau bahkan sampai
pada tahap melawan orangtuanya. Hal ini disebabkan karena strategi yang tidak
tepat dan dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan dari orangtua itu sendiri.
Menumbuhkan disiplin pada anak
|
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
Menerapkan disiplin pada anak;
- Ingatkan selalu hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh
sang anak.
- Beri hukuman yang tepat sesuai dengan umur dan kemampuan anak dalam
menjalani dan memahami maksud dari hukuman tersebut
- Hukuman yang diberikan haruslah tetap berlaku setiap kalinya anak
melakukan kesalahan
- Beri hukuman yang sama bila anak mengulang kesalahan yang sama dengan
jenis hukuman sebelumnya.
- Anak akan belajar dari sikap dan perilaku orangtuanya [pd] |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Beberapa cara yang dapat ditempuh orangtua untuk menumbuhkan
disiplin secara dini pada anak;
1) Selalu ingatkan hal-hal atau aturan larangan bagi anak.
Ingatkan segala sesuatunya mana yang tidak boleh dilakukan oleh anak dengan
demikian anak akan terbiasa mendengarkan larangan tersebut. Tegaskan larangan
tersebut dengan intonasi agak tinggi namun dalam taraf kewajaran (bukan marah).
Tujuannya adalah menekankan pada anak bahwa Anda bersunguh-sungguh dengan
larangan tersebut.
Pada anak berusia 2-3 tahun tidak cukup dengan melarangnya saja karena pada usia
tersebut anak belum dapat mengontrol dorongan impulsnya, oleh karenanya
orangtualah harus mengambil tindakan yang tepat. Misalnya dengan menjauhkan
barang pecah belah, pisau, atau benda-benda berbahaya lainnya dari jangkauan
anak-anak.
2) Tentukan hukuman secara tepat pada anak.
Kekerasan dalam mendidik anak tidak menumbuhkan disiplin pada anak, justru
pelbagai dampak gangguan
kepribadian yang lebih buruk dikemudian hari akan muncul. Hukuman seperti
mengurung anak dalam kamar mandi tidak akan menjadi efektif bila waktu hukuman
terlalu lama, anak akan melupakan alasan-alasan kesalahannya. Gunakan waktu tak
lebih dari 5 menit, lalu tegaskan kembali larangan tersebut agar anak tidak
mengulang untuk kedua kalinya.
3) Konsisten terhadap hukuman dan aturan yang berlaku.
Aturan atau hukuman mestilah terus berlaku, jangan sesekali Anda menggantikan
hukuman atau membiarkan sekali saja kesempatan hukuman atau aturan tersebut
tidak berlaku bila anak melakukan kesalahan. Hal ini akan dianggap sebagai suatu
bentuk kelonggaran yang dapat diulang kembali oleh sang anak. Bila aturan dan
hukuman diubah karena anak semakin besar maka bicarakanlah perubahan-perubahan
tersebut.
4) Jangan mengubah bentuk hukuman setiap kalinya
Jangan mengubah bentuk hukuman sebelumnya bila anak melakukan kesalahan yang
sama dengan jenis hukuman berbeda seperti yang pernah dijalani anak sebelumnya.
Hal ini akan membuat anak semakin bingung dan tidak akan pernah belajar dari
kesalahan yang ia perbuat.
5) Anak akan belajar sepenuhnya dari perilaku orangtuanya.
Hal yang paling penting bahwa anak belajar dari sikap dan perilaku orangtuanya
dalam keseharian. Orangtua merupakan model perilaku yang akan ditiru oleh anak (modelling),
jadi orangtua sebijaknya dapat mengontrol perilaku-perilaku negatif yang dapat
mempengaruhi cara berpikir dan perilaku secara langsung pada anak.
Bila terjadi perselisihan antara kedua orangtua usahakanlah tidak di depan anak,
bila terjadinya kekerasan maka anak menangkap momen tersebut bahwa penyelesaian
masalah terbaik adalah dengan kekerasan!
Bila Anak marah?
Ada kalanya anak merasakan frustrasi, sebaiknya anak dibiarkan untuk melepaskan
kemarahannya, akan tetapi orangtua haruslah menjaga agar anak tidak mengarah
pada perilaku agresif.
Beberapa cara menghadapi anak dalam keadaan marah;
1) Ketika anak mulai terlihat lelah dan bosan alihkan perhatiannya pada
aktivitas baru.
2) Ketika ia mulai marah dan Anda tidak mampu untuk mendiamkannya, abaikan untuk
beberapa saat, jangan memberikan reaksi atau perhatian berlebihan apalagi
memberikan pujian terhadap perilaku buruk.
3) Tekankan hukuman yang bakal ia dapat bila anak tidak berhenti amarahnya
4) Jika berada di tempat umum, biarkan anak dulu tenang lebih dahulu sebelum
Anda melakukan aktivitas lainnya.
5) Bila marahnya menjadi-jadi seperti menggigit, memukul atau membantingkan
barang, jangan abaikan perilaku ini, bawa anak mejauh dari tempat dimana ia
marah, biarkan anak tenang dalam beberapa menit, tekankan pada anak bahwa
perilaku ini tidak bisa ditolerir.
6) Jangan memberikan penjelasan yang panjang lebar, anak tidak akan mengerti
maksud yang Anda sampaikan, cepat berikan hukuman yang pernah Anda sepakati
bersama (bila Anda pernah berbicara perihal hukuman ini). Bila selang waktu
antara kesalahan dan hukuman terlalu lama anak tidak akan mengerti kesalahan
yang dibuatnya. [PD/ayed]
___________________
|