|
Anak-anak
adalah bagian dari masyarakat yang paling rentan terhadap bencana (tsunami,
gempa, banjir, longsor, penculikan, dsb). Sebagian mereka tidak paham dengan
berbagai bencana yang mungkin mengganggu kehidupan mereka. Sebagian yang lain,
sekalipun paham, namun kemampuannya dalam menyelamatkan diri masih rendah. Salah
satu contoh yang segar dalam ingatan kita adalah tiga bersaudara yang sedang
berkunjung ke rumah neneknya pada idul fitri kemarin bermain-main di sungai.
Ternyata sungai inilah yang menjadi ’kuburan’ bagi mereka. Entah apa yang
terjadi, tiga bersaudara yang semuanya laki-laki itu tewas di sungai ini.
| |
 |
| |
Seorang anak sedang membersihkan puing-puing
rumahnya yang ambruk setelah gempa mengguncang Jogja pada tahun 2006 lalu
photo: http://carlylive.com.au/photos/earthquake |
| |
|
| |
ARTIKEL |
| |
 |
| |
Tips Menghadapi Gempa Bumi
Kebanyakan korban bencana gempa minim mengetahui cara-cara penyelamatan ketika
bencana terjadi, hal ini dapat diketahui dimana korban tewas ditemukan, misalnya
saja terjadi penumpukan mayat di tangga-tangga, di pintu atau lift.
Hal lain yang dapat terjadi adalah munculnya rasa panik ketika gempa terjadi
sehingga pikiran sulit berpikir jernih, misalnya saja ketika individu berada di
gedung tinggi, melihat orang lain berlarian maka individu tersebut mengikuti
rombongan tersebut.
|
| |
|
| |
|
| |
 |
| |
|
Dalam bencana gempa di Yogyakarta (2006) dan Sumatra Barat
(2009), banyak anak yang menjadi survivor bencana. Sejumlah anak terluka
parah berada di bawah reruntuhan rumahnya dan mereka meninggal di bawah
reruntuhan itu. Kita bertanya: apa yang tak dilakukan keluarganya sehingga tiga
bersaudara ini tewas di sungai yang tidak sedang deras itu?
Menjadikan Anak Paham dengan Ancaman Bencana
Anak-anak Indonesia perlu memperoleh support informasi bahwa mereka tinggal di
negara yang rawan bencana. Indonesia berada dalam pertemuan-pertemuan lempengan
bumi. Bila lempengan-lempengan itu bergeser atau bergerak, maka muncullah gempa.
Gempa itu mungkin akan diikuti oleh tsunami, longsor, hingga kebakaran. Semua
bencana tersebut mengancam keselamatan mereka.
Anak-anak Indonesia juga perlu juga disadarkan bahwa mereka berada di dalam
lingkungan sosial yang rawan, seperti adanya human trafficking (penjualan
manusia), kekerasan dalam pendidikan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan
oleh penjahat (penodong, perampok, dsb).
Bahaya-bahaya yang berasal dari alam juga perlu disampaikan kepada anak-anak,
seperti binatang buas, binatang tidak buas tapi bisa menularkan penyakit (kucing,
anjing, kecoak, dan sebagainya). Bahaya dari alam ghaib juga tidak kalah
bahayanya, salah satu yang kongkrit adalah gangguan jin dalam bentuk kesurupan.
Bahaya-bahaya itu perlu dijelaskan kepada anak dalam konteks ada sesuatu yang
dapat menghambat mereka dalam menggapai cita-cita atau masa depan yang gemilang.
Dalam rangkan menggapai cita-cita ada yang menjadi pendorong/pelancar, tapi ada
yang menghambat. Konteks dari penyebutan bahaya-bahaya adalah sesuatu yang dapat
menggagalkan cita-cita. Setiap bahaya harus diatasi agar tidak mengganggu
pencapaian cita-cita kita.
Menjadikan Anak Mampu Menghindar Bahaya
Anak-anak perlu disiapkan agar merela mampu terhindar dan keluar dari bencana.
Anak-anak berusia di bawa lima tahun perlu disiapkan untuk mampu menyebut siapa
bapak dan ibunya serta tempat tinggalnya, sehingga ketika terpisah dari keluarga
(misalnya di super market, di lapangan saat menonton pertunjukan, di tempat
wisata, dsb) ia dapat kembali ke pangkuan keluarga.
Anak-anak perlu mampu berenang sehingga ketika ada banjir atau terjerembab ke
sungai atau pantai ia dapat meloloskan diri dari tenggelam.
Anak-anak perlu memiliki kemampuan teknis ketika gempa datang. Mereka harus tahu
bahwa harus segera bergerak keluar dari ruangan dengan meletakkan alat-alat
tertentu (seperti tas) di atas kepalanya atau ia tetap memilih dalam rumah
sambil berlindung di bawah meja yang kokoh dan sebagainya.
Anak-anak harus bisa menolak ketika orang-orang yang mereka kenal atau tidak
mereka kenal bermaksud jahat kepada mereka, menjebak mereka, dan
memperjualbelikan mereka.
Anak-anak (terutama perempuan) perlu mengetahui tempat-tempat yang berbahaya
untuk ruhani mereka, tempat yang dapat mengganggu keseimbangan jiwa mereka
karena di situ tempat-tempat makhluk halus bertahta dan beraksi yang menyebabkan
anak-anak kesurupan.
Ketrampilan yang utama adalah anak mampu menmbantu diri sendiri dalam menggapai
keselamatan. Sejauh memungkinkan, mereka diharapkan membantu orang lain untuk
selamat. Ketika mereka melihat rumah mereka yang bergoyang terkena gempa, mereka
juga mampu berteriak: Ada gempa! Bapak, Ibu, Kakak, Adik segera Keluar!!!
Pertanyaan yang dapat diajukan, siapakah yang harus melakukan semua itu? Harapan
terbesar adalah keluarga. Bapak dan Ibulah yang paling diharapkan mempersiapkan
anak-anak dapat menyelamatkan diri dari bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan
mereka. Pihak Sekolah juga diharapkan peran sertanya. Masyarakat, melalui LSM
atau komunitas-komunitas tertentu, diharapkan juga dapat membantu orangtua
mempersiapkan anak menghadapi bencana.
Sebuah Lembaga yang Peduli terhadap Keselamatan Keluarga
Di tengah masyarakat sebaiknya ada sebuah lembaga yang peduli terhadap upaya
penyelamatan keluarga. Lembaga ini melatih ayah dan ibu, juga bapak dan ibu
guru, untuk memiliki kepedulian terhadap keselamatan anak-anak mereka. Aktivitas
lembaga ini adalah melakukan riset, seminar, dan pelatihan-pelatihan yang
semuanya berfokus pada upaya penyelamatan keluarga dari bencana yang mungkin
datang. Dengan pekerjaan yang dilakukannya, lembaga ini akan menghasilkan
pasangan suami istri sebagai pasangan yang benar-benar peduli terhadap
keselamatan keluarga.
Beberapa isu yang dapat diangkat lembaga ini adalah anak adalah amanat yang
harus dijaga orangtua secara optimum, menjadikan anak-anak sadar terhadap
bencana yang ada di sekitar mereka, menjadikan anak mampu menolong diri sendiri
dan orang lain saat dan pasca bencana, dan sebagainya.
Demikian. Bagaimana menurut Anda? [FN]
___________________
|