|
Survivor
adalah orang yang terluput dari bencana, orang yang selamat. Dalam tulisan ini,
digunakan istilah survivor untuk menekankan pada mereka yang selamat –baik
diselamatkan atau menyelamatkan diri- dari bencana. Survivor memiliki
pengertian yang lebih positif, karena seseorang berposisi sebagai subjek.
Survivor anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lansia merasakan
penderitaan fisik dan psikologis yang besar ketika berhadapan dengan bencana.
Depresi, takut yang
berlebihan, susah tidur, tidak percaya diri, bahkan
post-traumatic syndrome
disorder (PTSD) dapat kita jumpai pada korban bencana. Beberapa hari setelah
terjadi tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam, saya mencoba mengecek kesaksian
dari alumni Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII (Jufniar Jaffar, S.Psi)
yang tinggal bersama survivor lain yang ada di Lhokseumawe. “Pak, umumnya
survivor tsunami alami hal-hal ini: jantung berdebar-debar, mimpi dikejar air
tengah malam, perasaan tenggelam, susah tidur, lemas. Pada orang dewasa,
menyalahkan diri sendiri karena dia selamat tapi gak bisa nolong anak istri.”
Sekalipun demikian, banyak survivor yang merespon secara positif atas
bencana yang sudah berlangsung. Mereka menunjukkan kelapangdadaan atau
penerimaan secara ikhlas atas bencana yang terjadi. Seorang survivor Aceh dalam
penelitian (lihat:
Kelapangdadaan Survivor Bencana Tsunami dan Gempa Aceh) yang saya lakukan
berkata: “Alloh masih memberikan kesempatan hidup kepada saya untuk perbanyak
amal” (AD). Seorang survivor bencana gempa Bantul-Yogyakarta yang menjadi
subjek penelitian saya berujar: ”Ya ... jadinya dengan tetangga-tetangga itu
kita lebih merasakan sependeritaan, sama-sama ngerasain, saling gotong royong.
Jadi waktu itu kuta pernah tinggal dua hari di base camp... Sama tetangga lebih
akrab. Lebih bisa merasakan kebersamaan gitu lho ... Ternyata kalo tetangga itu
saudara yang paling deket” (ENP).
Tulisan ini mencoba untuk menganalisis hal yang dapat mengantarkan seorang
survivor menjadi good survivor.
Pertama: Persiapan psikologis
Indonesia adalah negara rawan bencana alam. Menurut catatan The Global
Seismic Hazard Assesment Program, Indonesia merupakan wilayah yang dilintasi
secara sinambung jaring kerja geothermal, sehingga tidak aneh jika
Indonesia rentan terjadi letusan gunung berapi, gempa bumi, retakan lapisan
tanah, dan semburan gas bumi. Indonesia juga termasuk kawasan kemungkinan gempa
berskala tinggi karena dikurung oleh lempeng tektonik dengan potensi gempa besar.
Selain itu, dikarenakan pemanasan bumi, es di kutub meleleh. Akibatnya, air
menjadi pasang, sehingga bumi Indonesia yang sebagian besar berbatasan dengan
laut rawan dengan banjir.
Prediksi di atas penting untuk menjadi pengetahuan bersama kita. Salah satu
hipotesis psikologis mengungkapkan bahwa bila suatu peristiwa dapat diprediksi
kehadirannya oleh manusia, maka hal itu dapat menurunkan keparahan stres yang
bakal dialaminya. Manusia lebih menyukai peristiwa yang tidak menyenangkan
tapi dapat diprediksi dari pada peristiwa yang tidak menyenangkan tetapi tidak
dapat diprediksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bila kehadiran gempa
itu dapat diprediksi oleh penduduk Indonesia yang berada di daerah rawan gempa,
tsunami, gunung berapi, banjir, maka mereka memiliki kesiapan psikologis untuk
menghadapinya.
Dalam kenyataanya, gempa, tsunami, letusan gunung, bahkan banjir tidak dapat
atau sulit diprediksi hari, jam, menit, dan detik kejadiannya. Namun, satu hal
sudah diprediksi bahwa daerah-daerah tertentu adalah daerah yang rawan bencana.
Karenanya bila masyarakat tahu bahwa mereka tinggal di tempat yang beresiko,
maka pengetahuan itu akan dapat dijadikan titik tolak bagi adanya kesiapan
psikologis. Karena itu, yang penting dilakukan oleh pemerintah, ahli bencana,
dan siapa saja yang peduli bencana adalah memberikan pengetahuan objektif
tentang daerah bencana kepada masyarakatnya, sehingga manyarakat memiliki
pengetahuan dan selanjutnya persiapan psikologis.
Kedua: Meminimalisasi Dampak Bencana
Hipotesis psikologis mengungkapkan bahwa sesuatu dapat menimbulkan stres
bergantung pada dapat atau tidaknya suatu peristiwa dikendalikan dan dapat
tidaknya seseorang bertindak mengendaliakan diri untuk meminimalkan resiko dan
cara membebaskan diri dari resiko dari adanya gempa. Peristiwa gempa,
tsunami, gunung berapi dan banjir sendiri tidak dapat dikendalikan, namun orang
dapat bertindak meminimalkan resiko dari adanya bencana.
Dampak gempa dapat diminimalisasi antara lain dengan rumah yang kokoh. Sebagian
gempa tergolong ringan sampai sedang. Kalau gempa demikian terjadi, rumah-rumah
yang tahan gempa akan kokoh, sementara rumah-rumah yang tidak dirancang tahan
gempa akan bertumbangan. Oleh karena itu salah satu hal yang perlu digalakkan
adalah pembangunan rumah yang tahan gempa. Dari Yogyakarta, Prof. Dr. Ir.
Sarwidi, MSCE pernah menawarkan Barrataga (Bangunan Rakyat Tahan Gempa). Melalui
lembaganya yang bernama CEVEDS-International, Prof. Sarwidi banyak melatih
mandor dan teknisi bangunan bagaimana membangun rumah yang tahan gempa. Dalam
pelatihan tersebut, saya sendiri hampir selalu diminta menjadi pemateri aspek
psikologis dalam menghadapi gempa
Dampak letusan gunung berapi dapat diminimalisasi dengan rumah lindung darurat.
Seorang ahli gempa yang lahir di Lereng Gunung Merapi, Prof. Dr. Ir. Sarwidi,
MSCE pernah menawarkan rulinda (rumah lindung darurat) untuk mereka yang ingin
selamat bila tiba-tiba gunung berapi meletus. Saat terjadi letusan Gunung Merapi
pada 2006 kemarin, rulinda terbukti tahan terhadap lelehan Gunung Merapi.
Dampak banjir dapat diminimalisasi dengan membangun rumah yang bertingkat.
Dengan rumah bertingkat, seseorang dapat segera menyelamatkan diri bila
tiba-tiba air laut atau sungai yang meluap sampai menggenangi rumah mereka.
Di samping persiapan rasional dengan membangun rumah yang kokoh, upaya yang
dapat dilakukan adalah upaya spiritual. Pendekatan spiritual berupa memohon
kepada perlindungan Allah SWT saat tidur dapat membantu seseorang terbebas dari
terkena resiko buruk gempa, tsunami, letusan gunung, banjir (meninggal mendadak).
Ketiga: Tahu Cara Bertindak yang Tepat
Masih berkaitan dengan kemampuan seseorang bertindak mengendaliakan diri untuk
meminimalkan resiko dan membebaskan diri dari resiko dari adanya bencana, yang
juga patut disosialisasikan adalah tindakan tepat pertama yang semestinya dapat
dilakukan saat seseorang mengetahui adanya gempa. Di Jepang, karena yakin akan
kekokohan bangunan rumah atau gedung yang mereka tinggali, maka orang-orang yang
berada di perkantoran atau rumah tinggal duduk sambil memegang meja atau benda
berat yang lain saat terjadi gempa. Di Indonesia, cara yang bertindak yang benar,
dengan asumsi sebagian besar rumah belum tahan gempa, adalah sesegera mungkin
keluar dari bangunan rumah atau gedung dan mencari tanah lapang (Sarwidi dkk,
2004). Tentu sambil mengajak anggota keluarga dan anggota masyarakat lain untuk
keluar. Warga Aceh yang mengetahui tempat tinggalnya terkena gempa segera keluar
dari dalam rumah atau gedung-gedung dan menunggu di jalan atau tanah lapang.
Sayangnya, tsunami menggempur dan menerjang mereka. Agar cara bertindak benar
diketahui dan orang-orang yang berada di daerah rawan gempa terhindar dari
resiko gempa, maka perlu diberi sosialisasi dan simulasi cara menghadapi gempa.
Keempat: Keyakinan Mampu Tanggung Beban
Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban berarti yakin kesulitan yang
ditanggung tak akan melebihi kesanggupan dirinya untuk menerima beban itu.
Apapun ujian yang bakal atau dijalani seseorang, pasti telah tersedia kemampuan
psiko-spiritual dan atau kemampuan fisik dalam diri seseorang untuk mampu
menerima dan menjalankan beban itu. Orang-orang yang mengadapi bencana meyakini
bahwa hatinya akan sanggup sekalipun kehilangan orang yang sangat disayangi atau
kehilangan sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Seorang survivor
mempercayai bahwa sekalipun suatu saat ditinggalkan oleh orangtua yang sangat
disayanginya ia tetap yakin mampu menanggung beban ditinggalkan orang terkasih.
Allah berfirman: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya (QS al-Baqarah, 2:286).
Demikian. Bagaimana menurut Anda? [Nashori]
___________________
|