|
Marah adalah perkara mudah, siapapun dapat
melakukannya,
akan tetapi marah dengan tujuan yang baik,
disampaikan dengan tepat adalah hal yang paling sulit
(Aristotle)
Mengendalikan
amarah bukanlah hal yang mudah dilakukan setiap orang, akan tetapi mengendalikan
amarah memberikan hal positif untuk kesehatan; menghindari
stres yang dapat
berkembang menjadi lebih buruk dan serangan jantung. Mengendalikan temperamen
marah juga menghindari terjadinya letupan emosi (panik, kalap, gelap mata) dan
meningkatkan mutu hubungan interpersonal dengan orang lain.
| |
|
|
|
| |
Self Identification: Marah
02/2009 | Pikirdong
Marah adalah hal yang manusiawi yang dapat terjadi ada siapa pun, namun
marah yang tidak terkendali merupakan ekspresi emosi yang tidak sehat,
secara kesehatan amarah mempunyai hubungan erat dengan munculnya pelbagai
penyakit seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung dan pelbagai
penyakit lainnya dari yang berkembang di kemudian harinya |
| |
|
| |
|
Pengendalian emosi (amarah) juga merupakan sebagai bagian
dari bentuk kecerdasan emosional (EQ) seperti yang disebut oleh Goleman (1998,
1999). Amarah telah memberikan kontribusi pelbagai bentuk gangguan karakter
dalam bersikap dan bertindak, —sebagai salah satu biang terjadinya ledakan emosi,
menghambat dan memicu amigdala sebagai pencetus tindakan-tindakan gegabah
sebelum otak memberikan informasi secara jelas; kalap. Penelitian Goleman telah
membuka wawasan baru terhadap pengendalian emosi yang lebih mendalam bagaimana
pentingnya kecerdasan tersebut di dalam kehidupan sekarang ini yang sarat dengan
pelbagai bentuk pemicu timbulnya stress (stressor).
Permasalahan utama bukanlah pada bagaimana amarah itu terbentuk, penyebab, dan
bagaimana ekspresi amarah. Bagi sebagian orang marah mungkin adalah hal yang
lumrah dan dapat dibenarkan dalam situasi tertentu. Amarah adalah proses alami
sebagai bentuk dari ekspresi emosi (Cole, 1963). Ini adalah hal yang normal,
akan tetapi masalahnya adalah bagaimana mengendalikan amarah itu agar tidak
menyakiti diri sendiri dan tidak merusak hubungan baik dengan orang lain.
Beberapa penelitian ternyata menunjukkan bahwa individu memiliki pengalaman
subjektif terhadap emosi, artinya indivitu tidak menyadari bahwa ia mengalami
suatu emosi tertentu akan tetapi reaksi konsisten terhadap emosi tersebut,
misalnya saja ia mengatakan bahwa ia tidak marah namun bereaksi dalam
berperilaku bermusuhan. Kondisi ini digambarkan Freud sebagai akibat individu
dalam merepresikan gagasan menyakitkan yang masuk kedalam alam kesadaran.
Penelitian modern saat ini membuktikan bahwa situasi-siatuasi tertentu yang
dapat membangkitkan emosional sangat tergantung pada pengalaman seseorang dalam
menghadapi situasi yang sama yang terjadi sebelumnya. Kemungkinannya adalah
hubungan masa lalu dan emosi yang terjadi sekarang terletak pada bagaimana
kemampuan individu dalam menilai yang mempengaruhi keyakinan terhadap situasi
saat ini.
Mengenal Amarah
Amarah pada dasarnya memberikan kewaspadaan terhadap tubuh untuk menghadapi
bahaya yang mengancam, penelitian Le Doux (1989) menunjukkan peran amigdala
dalam mengambil keputusan fight or flight. Penelitian tersebut telah
membuka wawasan baru terhadap fungsi kognitif dalam
emosi berdasarkan
dikotomi pada penilaian kognitif yang mendahului kognisi. (Atkinson, 2004).
Amarah sangat tergantung pada kemampuan individu dalam memecahkan masalah, hal
ini juga dipengaruhi oleh kultur sosial tempat individu berada. Situasi sebagai
pemicu frustrasi, ketidaksabaran, rasa benci, dendam, kesal, dapat meningkatkan
emosi amarah semakin besar. Bagi sebagaian orang, mereka mampu mengontrol
situasi-situasi tersebut dan memilih untuk diam tanpa terjadi ledakan emosi;
marah.
Setelah Anda berkeliling mencari tempat parkir di mall yang penuh, Anda
menemukan sebuah tempat kosong untuk memarkirkan kendaraan Anda, akan tetapi
ruang tersebut terlalu sempit karena mobil disebelahnya parkir tidak tepat dan
melewati batas parkir mobil lain. Frustrasi, kecewa, otot mulai menegang, darah
Anda mendidih sampai ke ubun-ubun, detak jantung semakin cepat, memaki, memukul
stir dan mengomel sepanjang waktu.
Marah diluar kontrol dapat merusak diri sendiri, mengganggu
hubungan dengan rekan kerja, dan bahkan merusak perasaan-perasaan dalam
kehidupan pribadi. Di beberapa tempat di luar negeri, meluapkan emosi atau
menunjukkan ekspresi amarah (dengan wajah yang tidak menyenangkan, bermusuhan)
kepada orang lain di depan umum dapat ditangkap sebagai bentuk perilaku yang
tidak menyenangkan. Tidak heran, bila beberapa orang yang mempunyai permasalahan
kontrol terhadap amarah menghabiskan ribuan dollar untuk mengikuti program
manajemen kontrol amarah ini.
Ekspresi amarah sangat erat kaitan dengan agresivitas, banyak
individu yang memiliki ketidakmampuan dalam mengontrol amarah, akan melakukan
tindakan agresi terhadap orang lain ataupun sesuatu sebagai ungkapan amarahnya
itu, ―baik melalui perkataan (verbal aggression) atau kekerasan fisik
(physically aggression) bila dirinya merasa terancam. Bentuk lainnya kadang
individu yang marah bersikap seolah-olah diam terhadap permasalahan yang terjadi
akan tetapi sebenarnya ia melakukan tindakan bentuk lain dari agresif karena
kesulitan berekspresi melalui kata-kata atau tindakan, ia melakukan tindakan
bermusuhan, melawan secara tidak langsung, seperti tidak datang tepat waktu,
bersikap acuh, kurang peduli dan sebagainya (passive-aggressive behavior).
Mengendalikan amarah secara tepat.
1. Ketika Anda mulai merasakan denyut nadi bertambah, detak
jantung bertambah cepat, nafas mulai tidak teratur, darah mengalir cepat
dikepala, cobalah untuk diam berapa saat (time out) cobalah berhitung sampai 10,
biarkan otak dapat berpikir jernih atau agar tidak terprovokasi dalam mengambil
keputusan.
2. Lakukan relaksasi singkat, berikan sugesti pada diri Anda sendiri seperti;
tenanglah, tidak ada gunanya aku marah, itu adalah hal yang mudah dan sebagainya
3. Segera keluar dari lingkungan tersebut, tenangkan pikiran, lakukan sesuatu
yang Anda disukai seperti mendengarkan musik, berjalan kaki, bermain basket,
berenang, dsb.
4. Cobalah untuk diam terlebih dahulu, bicarakanlah masalah tersebut pada
pasangan Anda, anggota keluarga, teman, konselor atau orang lain yang bisa
dipercaya
5. Berhati-hatilah apa yang Anda ucapkan ketika marah, setelah tindakan pertama
(no 1) dilakukan, cobalah untuk menulis apa-apa yang Anda pikirkan, hal ini
dapat mengurangi amarah dan melihat permasalahan yang muncul secara lebih
objektif sehingga Anda tidak melebarkan masalah ke arah yang lebih jauh dari
permasalahan utama
6. Selesaikan masalah dengan segera, ajaklah orang yang membuat Anda itu marah
untuk menemukan solusi dari situasi yang terjadi
7. Jangan merasa diri selalu benar dan
belajarlah untuk memaafkan kesalahan
orang lain
8. Gunakan humor untuk mencairkan masalah
9. Latihan relaksasi akan menolong Anda dalam menghadapi situasi dan bereaksi
stres secara lebih tenang
10. Jangan marah terlalu lama atau bersikap kasar kepada orang lain, cobalah
untuk berpikir bila Anda berada dalam posisi yang sama, orang lain juga dapat
berperilaku yang sama terhadap Anda juga [PD/Ayed]
___________________
|