|
Marah adalah awal segala keburukan
(The prophet Muhammad SAW)
Kenapa
mesti marah? Pertanyaan seperti ini bila diajukan pada pada orang yang sedang
marah kadang akan membuat orang tersebut mulai berpikir ulang situasi-situasi
yang menjadikannya marah. Bila diajukan dengan tepat akan meredakan kemarahan
seseorang, cara ini merupakan salah satu cara untuk mengajak orang untuk
berdiskusi dan mencari solusi permasalahan yang muncul, berbicara juga
mengurangi muatan-muatan emosi negatif lainnya yang sulit untuk diungkapkan.
| |
|
|
|
| |
Mengendalikan Amarah
02/2009 | Pikirdong
Beberapa penelitian ternyata menunjukkan bahwa individu memiliki
pengalaman subjektif terhadap emosi, artinya indivitu tidak menyadari
bahwa ia mengalami suatu emosi tertentu akan tetapi reaksi konsisten
terhadap emosi tersebut, misalnya saja ia mengatakan bahwa ia tidak marah
namun bereaksi dalam berperilaku bermusuhan |
| |
|
| |
|
Marah adalah hal yang manusiawi yang dapat terjadi ada siapa pun, namun marah
yang tidak terkendali merupakan ekspresi emosi yang tidak sehat, secara
kesehatan amarah mempunyai hubungan erat dengan munculnya pelbagai penyakit
seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung dan pelbagai penyakit lainnya
dari yang berkembang di kemudian harinya.
Secara psikologis letupan amarah yang tidak terkendali akan merugikan orang
tersebut terjerumus dalam tindakan-tindakan yang membahayakan dirinya dan orang
lain. Kalap merupakan gambaran jelas akibat ledakan emosi yang tidak terkendali.
Ketika hormon-hormon negatif membanjiri syaraf otak, akan sulit mengontrol
individu untuk berpikir jernih, tak jarang dalam menyelesaikan masalah akan
mengambil tindakan-tindakan yang penuh resiko.
Secara spiritual kemampuan untuk mengendalikan amarah juga menandakan
orang-orang yang beriman (taqwa), semakin tinggi ketaqwaan seseorang maka akan
semakin baik pula ia dalam mengontrol emosinya. Dalam perspektif Islam, banyak
sekali hadist-hadist yang meriwayatkan tentang perilaku amarah ini. ''Sesungguhnya,
marah itu dari setan. Setan diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan
dengan air. Maka, jika salah seorang dari kamu marah, hendaklah ia berwudhu.''
(HR Abu Daud).
Apakah saya seorang pemarah?
Mengendalikan amarah merupakan hal
yang paling penting untuk meningkatkan aktualisasi diri seseorang, pengendalian
amarah merupakan suatu bentuk kecerdasan emosional yang mendukung sisi
kecerdasan lainnya; hubungan intra dan interpersonal.
Bila setiap kalinya menghadapi situasi-situasi konflik dengan
respon kemarahan maka akan menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan;
temperamen pemarah. Beberapa pertanyaan dibawah ini untuk mengetahui temperamen
pemarah;
Saya
selalu marah dengan meluap-luap
Saya
sering marah dengan orang-orang yang saya kenal
Marah itu
perlu
Saya marah
dengan mengeluarkan kata-kata atau gerakan tertentu
Bila marah,
saya sering menendang, memukul benda-benda
Saya butuh
lama untuk meredakan amarah saya
Ketika
marah saya dapat mendengar detak jantung saya, telinga berdengung, gemetar
Teman
lebih suka menjauhi saya ketika saya sedang marah
Saya
menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk menenangkan amarah saya
Bila jawaban yang muncul adalah YA lebih banyak dibandingkan
TIDAK maka Anda membutuhkan pengelolaan dan pengedalian amarah dengan baik, Anda
harus mendatangi ahli terapis untuk penyembuhan.
Mengontrol amarah
Ada dua cara terbaik untuk mengekspresikan amarah;
Pertama, mengekspresikan amarah langsung. caranya adalah mengajak orang
tersebut untuk berkomunikasi secara rasional atau berdiskusi dengannya. Cara ini
akan mengurangi luapan atau ledakan emosi yang dapat mengarah pada tindakan
kekerasaan
Kedua, supresi, yakni menggantikan amarah dengan sikap-sikap asertif
terhadap orang tersebut. Tindakan berjiwa besar ini akan melatih kedewasaan
dalam menghadapi suatu permasalahan secara objektif. Mungkin saja Anda marah
dengan sikap orang itu akan tetapi bukan dengan membenci orang tersebut secara
keseluruhan. Belajarlah
memaafkan orang
lain. Tindakan supresi berbeda dengan represi, yakni diam saja atau melupakan
kemarahan Anda itu, tindakan represi dapat memunculkan passive approach,
seperti memusuhinya.
Beberapa kerugian amarah bila menjadi suatu kebiasaan;
- Gangguan kesehatan seperti sakit kepala, tekanan darah tinggi, serangan
jantung dsb
- Stres dan
depresi
- Kesulitan dalam mengambil keputusan
- Mudah panik, kalap, gelap mata ketika menghadapi masalah
- Mudah terprovokasi pada tindakan kekerasaan
- Kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain
- Sedikit mempunyai teman
- Gangguan karakteristik lainnya seperti egoistik
- Pelanggaran norma, beberapa negara, ekspresi amarah secara
berlebihan dapat ditangkap dan dipenjara sebagai perbuatan yang tidak
menyenangkan
- Menipisnya kecerdasan emosional, seperti empati, asertif
dan kepedulian terhadap orang lain.
- Dapat terjadi penyalahgunaan obat-obatan dan
alkohol sebagai cara
untuk meredakan amarahnya.
Ketika kemarahan mulai memuncak
Cepat
kendalikan pikiran, berpikirlah secepatnya bahwa tidak dibutuhkan tindakan
militer untuk menyelesaikan masalah kecil seperti ini dengannya.
Lakukan self-talk bahwa Anda dapat mengendalikan situasi ini, tenangkan
diri
Menjauhlah darinya untuk beberapa saat, seperti berjalan berkeliling, sampai
amarah mereda baik keduanya
Ingatlah baik-baik, perlakukan orang lain sebaiknya seperti Anda ingin
diperlakukan orang pula
Bila
terjadi kesalahan pahaman dan tidak dapat diselesaikan, setujulah dengan
pendapatnya lalu tinggalkannya untukm menghindari terjadi tindakan agresif [PD/Ayed]
___________________
|