|
Bilamana
Anda merasa bahagia? Apakah ketika Anda meraih kesuksesan, kekayaan, atau
kesenangan? Tentu saja Anda tidak mau terjebak oleh kebahagiaan semu: ibarat
musafir di padang sahara yang melihat fatamorgana dari kejauhan. Ini sebuah
kisah yang menceritakan seorang pedagang kaya yang mempunyai empat orang istri.
Ia sangat mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan
kesenangan yang banyak. Sebab, dialah yang tercantik di antara semua istrinya.
Pria itu selalu memberikan yang terbaik buat istri keempatnya ini. Pedagang itu
juga mencintai istrinya yang ketiga. Ia sangat bangga dengan istrinya ini, dan
selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada semua temannya. Namun, ia
selalu khawatir kalau istrinya ini lari dengan pria lain.
Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat
menyukainya. Dia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapan pun pedagang ini
mendapat masalah, ia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat
bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa
yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia.
Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat
dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami. Akan tetapi, pedagang itu tak
begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang kepadanya,
namun sang suami tak begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari bahwa ajalnya akan
tiba. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati: “Saat ini
aku punya empat orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa
menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”
Lalu ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri
keempatnya, “Kaulah yang paling kucintai. Kuberikan kau gaun dan perhiasan yang
indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kau mendampingiku dan menemaniku?” Ia
terdiam. “Tentu saja tidak,” jawab istri keempat, lalu pergi begitu saja tanpa
berkata-kata lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan-akan ada pisau
yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga, “Aku pun mencintaimu
sepenuh hati. Saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan
menemani akhir hayatku?” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah di sini. Aku
akan menikah lagi jika kau mati.” Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan
ini. Badannya mulai merasa demam.
Lalu ia bertanya pada istri keduanya, “Aku selalu berpaling padamu setiap kali
mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali
pertolonganmu. Kalau kumati, maukah kau ikut dan mendampingiku?” Sang istri
menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya, “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku
hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja. Nanti akan kubuatkan makam
yang indah buatmu.” Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang pun
merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke
mana pun kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan setia bersamamu.” Sang
pedagang lalu menoleh ke sumber suara. Ia mendapati istri pertamanya di sana.
Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa
menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik
saat kumampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”
Hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah ini? Sesungguhnya dalam hidup ini,
kita punya empat istri. Istri yang keempat adalah tubuh kita. Seberapa pun
banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah
dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak
ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap Sang Khaliq.
Istri yang ketiga adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal,
semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita
yang pernah memilikinya. Sedangkan istri yang kedua adalah kerabat dan
teman-teman. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan
bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
Dan sesungguhnya, istri pertama adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering
mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun
sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan
mendampingi ke mana pun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di
akhirat kelak. Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak.
Tiada berguna menyesal belakangan.
Bahagia Itu Pilihan
Kita semua tentu mendambakan kebahagiaan. Bukan hanya di akhirat kelak,
melainkan juga di dunia yang sekarang nyata. Hasrat inilah yang mendasari
berbagai aktivitas kita agar kehidupan ini dirasakan berarti dan berharga.
Abraham Maslow, tokoh psikologi humanistik, mempopulerkan piramida kebutuhan (hierarchy
needs) manusia. Semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula
kebutuhannya. Pada tingkat yang paling bawah, manusia hanya memenuhi kebutuhan
makan dan minum (physiological needs). Ia hanya memuaskan kebutuhan
biologisnya. Bila kebutuhan biologis itu sudah terpenuhi, kebutuhannya akan naik
pada tingkat selanjutnya. Kebutuhan di atasnya adalah kebutuhan akan kasih
sayang (belonging and love needs) serta ketenteraman dan rasa aman (safety
needs). Lebih atas lagi adalah kebutuhan akan perhatian dan pengakuan (need
for esteem). Lebih tinggi daripada itu adalah kebutuhan akan aktualisasi
diri (need for self actualization).
Konon, sebelum ajal menjemput, Maslow sempat menyesal karena teori piramida
kebutuhan manusia yang dibuatnya ternyata terbalik. Dia sadar, piramidanya
membuat orang menjadi tamak, egois, dan materialistis. Sehingga orang tidak
punya kepedulian sosial karena hanya mengejar kebutuhan dasar. Padahal, jika
aktualisasi diri dipenuhi lebih dahulu, kebutuhan dasar dengan sendirinya akan
terpenuhi. Belakangan Maslow menempatkan kebutuhan ruhaniah (transcendental
needs) sebagai puncak kebutuhan manusia.
Mungkin banyak di antara kita yang meyakini bahwa bahagia itu apabila kita
sukses, kaya, atau dapat menikmati beragam kesenangan. Keyakinan itu demikian
kuat sehingga kita terpesona melihat orang yang memiliki salah satu atau
ketiga-tiganya. Nyatanya, kekayaan dan kesuksesan tidak dapat membeli
kebahagiaan. Semuanya hanyalah alat untuk mencapai kebahagiaan. Hasil kajian
Paul Wachtel, ahli psikologi sosial, pada masyarakat Amerika menunjukkan bahwa
kebahagiaan dan kepuasan hidup selalu berbanding terbalik dengan akumulasi
kekayaan. Makin meningkat jumlah kekayaan materi yang dimiliki, makin meningkat
pula jumlah permasalahan kehidupan, makin tinggi tingkat stres kehidupan, dan
makin tidak bahagia kehidupan manusia.
Bagi seorang muslim, hakikat kebahagiaan terletak pada keridhaan Allah dalam
setiap aktivitasnya. Ketika kita mampu mengendalikan semua kebutuhan dan
keinginan kita agar bersesuaian dengan kehendak Allah, maka sikap tersebut akan
mengantarkan kita kepada kebahagiaan. Ibnu Mas’ud ra berkata, “Sesungguhnya
Allah dengan keadilan dan pengetahuan-Nya, menjadikan kebahagiaan dan suka cita
di dalam sikap yang yakin dan ridha, dan menjadikan duka dan nestapa di dalam
sikap ragu-ragu dan benci terhadap ketentuan-Nya.”
Baiknya kita coba renungkan ungkapan William Shakespeare berikut ini: “Jalan
menuju kebahagiaan itu tidak ditaburi bunga mawar yang harum, melainkan penuh
duri dan pahit.” Ya, meraih kebahagiaan memang bukan perkara mudah. Namun, kita
hampir selalu bisa meraih cita-cita dan keinginan, baik karena kita adalah
pribadi yang lebih sabar, lebih hati-hati, dan tak kenal lelah untuk berusaha
meraih cita-cita dan keinginan baik itu. Dengan semua itu, apa yang dapat
menghalangi kita untuk mengejar kebahagiaan? Mahabenar Allah dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu
memperoleh kebahagiaan.” (QS. Al-Maaidah [5]: 35) [AA]
___________________
|