|
Saya
mahasiswi tingkat akhir, selama ini saya belum pernah punya pacar. Sebenarnya
banyak yang mendekati tapi saya selalu ragu dan takut untuk lebih dekat dengan
seseorang. Sulit buat saya mempercayai pria. Orangtua saya sudah lama berpisah (sejak
saya berusia 5 tahun), tetapi mereka tidak bercerai. Saya mempunyai pandangan
bahwa pria tidak bertanggung jawab seperti ayah saya yang tidak bertanggung
jawab terhadap keluarga. Selain itu semasa di bangku SMU saya pernah dilecehkan
oleh saudara dekat saya. Apa yang ibu saya dan wanita-wanita di lingkungan saya
(tante yang dikhianati suami dsb) alami membuat saya sulit mempercayai pria.
Padahal di satu sisi saya ingin memiliki seorang kekasih. 4 tahun yang lalu saya
dekat dengan teman kampus saya, dia pernah menyatakan cintanya namun saya tolak
karena rasa ketidakpercayaan tadi, namun kami masih dekat, dan perasaan sayang
saya semakin lama semakin besar. Tapi lama-kelamaan kami menjadi jauh, dan
ternyata dia sudah punya pacar. Hancur rasanya, disaat saya mulai belajar
mempercayai ternyata dia berpaling. Dua tahun berlalu setelah dia berpisah
dengan pacarnya, dia kembali mendekati saya, katanya tindakannya meninggalkan
saya adalah suatu kesalahan dan dia ingin kembali dengan saya. Saya jadi bingung,
disatu sisi saya masih menyayanginya (dia bisa membuat saya merasa nyaman) namun
disisi lain saya sudah terlanjur tidak percaya. Saya ingin keluar dari pandangan
ini, tapi sulit
buat saya. Apalagi jika terkenang pengalaman dimasa lalu
T - Palembang
Saya merasa kagum dengan Anda yang menyadari bahwa prinsip-prinsip Anda selama
ini adalah tidak benar sehingga menjadi dilematis bagi Anda. Pada suatu ketika
Anda ingin mempunyai pacar sedangkan di sisi lain Anda sulit mempercayai pria
yang mendekati Anda. Lalu Anda memberanikan diri untuk konsultasi.
Banyak orang membentuk suatu image yang tidak sehat terhadap cara berpikirnya
ketika mengalami masa-masa trauma putus cinta sehingga menganggap bahwa setiap
pria adalah sama, sulit untuk dipercayai. Masalahnya sebenarnya adalah pada diri
Anda sendiri, tanpa bermaksud menghakimi, saya mempertegas bahwa Anda tidak
perlu laki-laki untuk belajar mempercayai kesetiaan, cinta kasih dan sebagainya,
melainkan bahwa diri Anda sendirilah yang mempelajarinya.
Faktor utama yang sering menjadi masalah adalah faktor karakteristik yang buruk
sehingga sangat sulit melakukan perbaikan-perbaikan diri ke arah yang lebih
positif untuk memperbaiki kondisi hubungan antar pasangan tersebut, maka Anda
jangan memberi kesempatan sekali pun pada pria untuk merendahkan diri Anda,
Anda membuat sendiri kesan traumatis yang sebenarnya dialami oleh kedua orangtua
Anda, seakan-akan menjadi pengalaman pribadi Anda dengan menilai perilaku kedua
orangtua Anda. Cinta tidak didasarkan oleh ketertarikan semata, melainkan pada
kebutuhan. Saling ketergantungan kebutuhan inilah yang mempererat hubungan itu.
Pasangan cinta haruslah menemukan kebutuhan-kebutuhan tersebut dan saling
terikat untuk memenuhi setiap kebutuhan yang terdapat pada pasangannya, misalnya
perhatian, kasih sayang, tanggungjawab, dukungan, komitmen, komunikasi dan
sebagainya. Bila kebutuhan tersebut terpenuhi maka kepercayaan akan tumbuh
dengan sendirinya.
Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengenal kebutuhan-kebutuhan Anda
sendiri terlebih dahulu, jadi bukan dengan menimbulkan kepercayaan pada pria
dengan atau seperti menutup mata lalu Anda menerima pria dengan rasa percaya
diri Anda kepadanya. Ketakutan yang Anda rasakan saat ini bukanlah hal yang
jelek, melainkan dapat membuat Anda lebih waspada, Anda bisa belajar
kebutuhan-kebutuhan tersebut pada pengalaman pada orangtua Anda. Inilah yang
disebut dengan Relationship Mistake List. Anda dapat menghubungkan daftar
tersebut dengan kebutuhan-kebutuhan pada Anda.
Kedua, Anda harus mengenal muatan-muatan emosi negatif yang dapat merusak
hubungan Anda dimasa seakarang dan dimasa mendatang lalu mengubahnya menjadi
energi positif. Tahap penyembuhan emosional ini biasanya membutuhkan waktu yang
lama dan sangat tergantung karakter individu tersebut.
Hal ketiga adalah dengan membuka diri dengan penerimaan pasangan yang tulus. Ini
bukan berarti bahwa Anda hanya menerima pasangan Anda dengan apa adanya, cinta
merupakan pembelajaran kedua pasangan. Inilah yang saya sebut di awal tadi,
karakteristik yang buruk pada orang tertentu menganggap cinta tidak perlu
dipelajari lagi! Banyak pasangan sering berkonsultasi selalu mengeluh bahwa
mereka menemukan pasangannya yang labil, egois, berselingkuh, kurang peka dan
sebagainya. Mereka tidak pernah belajar untuk mengenal kebutuhan pasangannya
atau memperbaiki sikap dan perilakunya.
Suatu ketika orang yang sangat Anda sayangi, menjauhi Anda dan beberapa waktu
kemudian ia kembali lagi dan mengatakan bahwa ia telah melakukan kesalahan
karena melupakan Anda? Kesalahan apa? Apakah Anda tahu kesalahan yang
dilakukannya terhadap mantan pacarnya dahulu hingga ia memutuskan untuk kembali
kepada Anda? Apakah Anda menginginkan ia kembali kepada Anda? ataukah Anda hanya
menginginkan seseorang laki-laki yang mengisi hari-hari sepi Anda? Apakah ia
benar-benar memenuhi kriteria kebutuhan-kebutuhan cinta Anda?
Menurut saya, Anda terlalu cepat untuk menerimanya kembali, saya pikir Anda
membutuhkan 6 sampai 1 tahun untuk penyembuhan emosional Anda, atau waktu untuk
tercepat adalah 3 bulan. Saya pikir ini bukanlah waktu yang lama, waktu tersebut
dapat menjadikan Anda lebih selektif dalam menilai perilaku dirinya. Tujuannya
adalah agar Anda dapat mencermati pada awal-awal suatu hubungan untuk memastikan
hubungan Anda tidak akan berakhir nantinya yang disebabkan karena pasangan yang
tidak tepat atau disebabkan oleh karakteristik yang menyebabkan muncul
masalah-masalah dalam suatu hubungan (fatal flaws). Selain itu, jarak waktu
tersebut dapat Anda gunakan untuk penyembuhan emosional Anda.
|