Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 
 
 

Seks Bebas Benar atau Salah?

© Maret 2004

Penulis: Sayed Muhammad

Lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, Sayed Muhammad, ia adalah penulis tetap di website ini

 

Opini

Opini berkenaan tentang psikologi dan fenomena sosial.

 
     
 

Seks Bebas Benar atau Salah?


Artikel Opini | 03/2004 | Sayed Muhammad | Opini

 

Tidak ada suatu gagasan yang kelihatannya sangat aneh untuk dipertimbangkan
[ Winston Churchill ]

 


Tulisan saya ini berawal dari sebuah iklan masyarakat di televisi yang menganjurkan pemakaian kondom sebagai pencegahan AIDS. Saya menyebut iklan tersebut tidak lebih dari suatu pembodohan secara umum dan terang-terangan. Kenapa?

 

 


 

 

Kita hidup dikelilingi oleh suatu informasi melalui transform media yang menanamkan suatu bentuk kesadaran dalam pikiran kita yang sebenarnya adalah mengaburkan prinsip nilai-nilai kebenaran yang universal.

Perkembangan budaya dan teknologi telah menggeser nilai-nilai tradisional dalam sikap skeptis dan serba boleh (instant), kecuali Anda tidak mempunyai iman (percaya akan kebenaran Tuhan) Anda boleh menutup tulisan ini. Manusia telah membentuk suatu peradapan, menentukan hukum dan norma. Nilai-nilai terkandung di dalamnya, boleh dan tidak menjadi suatu prinsipil, Andalah yang menentukannya. Liberalisme telah menjadi suatu pegangan pembelajaran sejak Adam Smith memperkenalkan suatu kebebesan individu yang tak terbatas, Anda boleh melakukan apa saja, tentunya sesuai dengan prinsip dan budaya yang mengikat Anda berada.

Prinsip benar dan salah adalah nilai dari manusia itu belajar dari sebuah peradapan dimana ia dibesarkan dalam lingkungan dimana ia belajar untuk menentukan mana yang boleh (dalam konteks kewajaran) dan mana yang tidak boleh. Percaya atau tidak, sebuah contoh berikut ini, Anda berciuman dengan pasangan cinta Anda di tempat umum adalah sah-sah saja. Anda tokh cuma mengekspresikan cinta kepada pasangan Anda. Masyarakat menyaksikan apa yang Anda lakukan akan maklum dan dapat menerima sikap Anda, atau bahkan Anda akan mendapat acungan jempol dan aplaus dari mereka. Tapi bagaimana bila Anda lakukan itu di budaya Timur? Hal yang tabu kah? Mungkin suatu saat Anda boleh-boleh saja melakukannya. Kenapa tidak? Bukankah Anda hanya mengekspresikan rasa cinta Anda? Pergeseran nilai, percampuran budaya dimana budaya asli dapat hilang dengan semakin permisif dan semakin terbuka menerima budaya luar dapat saja terjadi di sini, di budaya Timur.

Tulisan saya ini hanya sebuah opini secara pribadi, bukan bertujuan mempengaruhi prinsip-prinsip yang Anda pegang. Anda mempunyai hak dan cara pandang yang berbeda tentang permasalahan yang sedang saya bahas sekarang, ini adalah suatu warna, adanya perbedaan persepsi setiap orang untuk saling menghargai dan menerima perbedaan itu. Saya tidak bermaksud untuk mempermainkan logika dan rasio untuk suatu pembenaran pikiran-pikiran saya. Anda lah yang menilainya. Tulisan ini banyak di pengaruh dari buku-buku yang saya baca, setidaknya mereka mencemaskan suatu bentuk kehidupan yang tercipta oleh budaya hedonisme pada generasi muda sekarang. Dan saya salah satu orang yang terpengaruh di dalamnya. Atau setidaknya kita mempunyai harapan yang lebih baik untuk anak cucu kita nantinya.

Stanley Newborn pernah menulis, "Setiap pemikiran yang sistematis harus di mulai dari titik awal." Bagaimana suatu permasalah moral menjadi suatu standar kebenaran? Apa yang salah dan mana yang lebih benar?

Melihat kebelakang sedikit, sekitar tahun 1300-an, suatu jaman yang dikenal dengan Renaisans di Italia. Renaisans mempunyai ciri khas, dalam sastra, pengajaran, seni dan arsiteksur. Petrarch, Boccaccio, Giotto dan Michelangelo mengobarkan era keberhasilan manusia yang luar biasa. Renaisans menandai pergeseran yang penting alam pikiran manusia. Berlawanan dengan jaman sebelumnya, ketika tema utama seni, sastra dan filsafat mengagungkan dan melayani Tuhan, maka seniman dan ahli pikir renaisans mengagungkan manusia dan kemampuannya. Pergeseran melahirkan ajaran yang di sebut sebagai humanisme, yang menekankan martabat dan kemampuan manusia. Humanisme memandang manusia sebagai pusat segala hal, penguasa nasibnya sendiri, pemimpin jiwanya sendiri. Penekanan ini akhirnya membawa kita kepandangan yang tidak berdasarkan alkitab. Rasanya terlalu cepat untuk membicarakan dampak dari pemikiran-pemikiran seperti itu, mari kita lihat jaman sesudahnya.

Sekitar tahun 1600-an, dikenal suatu masa enlightenmen, penerangan batin, atau jaman pertimbangan akal. Voltaire dan Descartes adalah salah satu tokoh di jaman itu. Manusia harus tegantung pada kekuatan dan pertimbangan akalnya sendiri kalau mereka berharap akan bisa memahami suatu kebenaran. Standar benar dan salah tidak berdasarkan sifat dan hakikat Tuhan. Manusia itulah sendiri harus menemukannya. Pada jaman ini para pengagung akal rasio dan logika telah menyingkirkan Tuhan sebagai hakikat kebenaran, menurut mereka bahwa, "Kalau pun Tuhan yang menciptakan dunia ini, maka Dia sudah tidak ada lagi hubungan dengan dunia ini."

Perkembangan penting selanjutnya di ikuti dengan revolusi industri sampai abad modern saat ini, inovasi dan penciptaan dunia industri seperti ledakan yang mengobarkan api keyakinan akan kemampuan manusia. Demikian juga teori-teori kebenaran di gali dari hasil pemikiran manusia, sifatnya sangat antroplogis dan darwinisme. Mereka telah membentuk pergeseran yang tajam dalam pemikiran; penentu kebenaran dan moralitas, bukan Tuhan.

Bagaimana gagasan-gagasan itu menyebar? Francis Schaeffen menjelaskan dalam bukunya, How should We then Live?
 

[Kehilangan nilai-nilai tradisional] menyebar dengan tiga cara yang berbeda kepada orang-orang dalam budaya kita sendiri dan orang-orang di seluruh dunia. Secara geografis ini menyebar dari benua Eropa ke kepulauan Inggris, dan beberapa waktu kemudian melompati Samudra Antlantik ke Amerika Serikat. Secara budaya, ini menyebar dalam berbagai disiplin mulai dari flisafat sampai ke seni, musik, dan kebudayaan umum (novel, puisi, drama, film), serta theologi. Secara sosial, ini menyebar dari para cendekiawan kepada orang berpendidikan dan kemudian melalui media massa kepada setiap orang."


Atau kita dapat membaca sebuah analogi menarik dari Josh McDowell;


"Gagasan dan komentar orang-orang seperti Descartes, Darwin dan lain-lainnya, yang selama bertahun-tahun melayang seperti serpihan salju di langit yang kelabu, akhirnya mengendap di tanah. Sejak pergantian abad ke dua puluh dan sesudahnya, peralihan nilai-nilai tradisonal dari satu generasi ke generasi berikutnya mulai lenyap, seperti mobil-mobil tua yang menghilang dari jalan."



Bagaimana kita memegang suatu prinsip kebenaran? Maka bila kita mengikuti sejarah, ada dua pilihan untuk itu;

1. Kebenaran yang di tetapkan oleh Tuhan bagi setiap orang, melalui kitab suci, suatu kebenaran yang objektif, dan mutlak, atau:
2. Kebenaran yang di tentukan oleh individu; kebenaran yang bersifat subjektif dan situasional

Mana kedua prinsip itu lebih kuat? Mana yang lebih berperan dalam kehidupan sekarang? Bagaimana menemukan suatu kebenaran? Kebenaran bukanlah suatu produk pemikiran, didasarkan pada nilai dan kebutuhan manusia. Suatu kebenaran haruslah bersifat konstan, tidak berubah, berlaku sepanjang waktu dan untuk semua orang. Inilah kebenaran yang hakiki. Suatu kebenaran yang berdasarkan pada sifat-sifat Tuhan.

Sebelum Anda mengambil suatu kesimpulan mari kita uji kedua prinsip kebenaran itu;

Fakta: Semakin banyak orang melakukan atau setidaknya mendukung aktivitas seks bebas.

Pembenaran secara manusia:

- Virginitas [1] bukanlah hal yang penting lagi dalam lembaga perkawinan, faktor cinta menjadi salah pertimbangan.
- Seks bebas boleh-boleh saja asal adanya tanggung jawab kedua belah pihak
-Tinggal (hidup) bersama pacar sebelum menikah, melatih kita untuk bertanggung jawab dan kita mempunya kesempatan yang luas untuk mengenal pasangan kita lebih dalam. [2]
-Itulah adalah hak (privasi) orang lain yang patut dihargai, dan kita tidak boleh mencampuri permasalahan orang lain.
Maka bila memegang prinsip kebenaran berdasarkan sifat Tuhan;
-Kesucian merupakan moral dan kebebasan seks adalah tidak bermoral karena Tuhan itu suci

Secara implisit kebenaran yang diciptakan oleh manusia pada fakta di atas mempunyai tujuan sebagai pembenaran pengumbaran libido seksual secara nyata. Pemikiran yang terbentuk dari pembenaran seks bebas adalah benar, boleh-boleh saja, hal yang wajar dan berbagai bentuk pembenaran lainnya. Kebenaran yang bersifat subjektif, selama itu baik dan menguntungkan silahkan saja.

Anda akan mudah menemukan orang-orang seperti itu, Anda dapat mendengar kata-kata berikut ini yang sering mereka gunakan disebut dengan 'kekuatan berprinsip', "...suatu pernyataan kadang sifatnya dikotomi, kita tidak dapat menemukan suatu titik kebenaran, karena semuanya semu. Kita hanya mencoba melihat suatu kenyataan fenomena dari trend-trend yang terbentuk dari masyarakat kini. Suatu permasalahan sosial tidak dapat dilihat dari salah satu sudut (inti dari) permasalahan sendiri, semuanya ada hubungan sebab akibat yang saling menarik dan mengikat, maka mustahil menentukan penyebab utama karena masalah sosial (moral) adalah hal yang kompleks, banyak hal yang harus di perhatikan,... bla... bla..."

Konsep pemikiran diatas, secara jelas menunjukkan suatu kebingungan makna dari suatu kebenaran, konsep kebenaran no 2, manusia itu sendiri yang menentukan nilai kebenaran, ilmiah, darwinisme, humanisme. Kebenaran yang didasarkan pendekatan ilmiah (subjektif) dan situasional (tergantung beberapa faktor). Maka secara sinis saya katakan bahwa kejahatan moral tidak akan pernah terselesaikan, bahkan di negara maju sekali pun tidak dapat menuntaskan kerusakam mental ini. Humanisme pun hanya menjadi simbol belaka, karena mereka tidak pernah mencoba menemukan kebenaran sejati, kebenaran dari Tuhan.

Mari kita lihat sebuah iklan yang saya sebut sebagai suatu pembodohan secara umun dan terang-terangan;

"Biar lebih aman [melakukan hubungan seksual] maka gunakan kondom! Pakai kondom atau [jika tidak] terkena AIDS! [3]

Iklan di atas tidak lebih dari pembodohan masyarakat secara umum dan terang-terangan, mengaburkan nilai-nilai kebenaran yang hakiki dan mengesampingkan informasi yang sebenarnya.

-Kondom bukanlah pencegah AIDS yang efektif, menurut penelitian 0,4% didapati error sampling, artinya 4% dari luas kondom yang diproduksi mempunyai cacat, yakni kebocoran yang di sebut pine hole [4]

-AIDS dapat menular tidak hanya melalui cairan sperma atau vagina, darah juga dapat menjadi media penghantar menularnya AIDS. Hubungan seksual mempunyai resiko terbesar tertular AIDS.

-Untuk menghindari AIDS bukanlah kondom, melainkan hubungan seks yang sehat dan monogamis (tidak berganti pasangan) dan setia kepada pasangannya.


Bagaimana bila iklan itu dilihat oleh anak-anak kecil, remaja sementara orang tua tidak membimbing tentang kebenaran dari iklan tersebut? Apa yang muncul dari benak mereka? Hampir seluruh orang sangat sukar melepaskan dirinya dari televisi. Hampir tiap hari kita menerima info yang kita samasekali tidak pernah tahu kebenaran info itu secara tepat dan detil. Informasi yang di sampaikan oleh televisi begitu cepat, lalu di ikuti oleh informasi selanjutnya sehingga otak tidak sempat melakukan penyaringan dan seleksi, akibatnya info tersebut disimpan langsung dalam memori otak.

Kesalahan pemahaman dan informasi yang sesungguhnya dapat terjadi pada anak,ketika iklan itu di tonton, anak dapat menganggap bahwa untuk berhubungan seks haruslah menggunakan kondom, hubungan seks merupakan hal yang lumrah atau kondom dapat mencegah AIDS. Kesalaham pemahaman dari awal inilah yang mengubah pola pikir remaja dan generasi sekarang menjadi lebih terbuka dan vulgar yang secara perlahan-lahan menjadi suatu prinsip individual yang perlu mereka hormati antara sesama teman dan sesama generasinya.

Mengakhiri tulisan saya ini, walaupun etika moral -apa itu salah atau benar [dan dikatakan bahwa itu adalah hal tersulit sebagaimana suatu keputusan semu setiap orang karena perbedaan nilai tiap individu berbeda] maka nilai kebenaran itu haruslah mempunyai beberapa prinsip yang mendasar; mempunyai sifat konstan, tidak berubah karena situasi tertentu, mempunyai dampak kebaikan demi bagi umat manusia, tegas, nilai yang dikandung objektif dan mutlak, berlaku untuk semua orang, tidak dibatasi oleh tradisi budaya ataupun ilmu pengetahuan. Inilah suatu kebenaran yang hakiki dan bersumber pada Tuhan.   [PD/Ayed]



_____________________________________________

[1] Kadang ketika membaca beberapa pendapatan mereka yang ditanya mengenai masalah virginitas di beberapa tabloid dan majalah, membuat saya berpikir akan kekurangan ini: Virginitas sudahlah tidak penting lagi! Kenapa? Suatu pembenaran Freudianisme? Sebelum menghakimi Tuhan, saya sempat berpikir, bila itu [virginitas] tidak penting lagi berarti kesalahan Tuhan menciptakan himen pada wanita dan kealpaan pada pria? [^]

[2] Dalam suatu wawancara di detikcom, wawancara dengan seorang artis S ketika di tanya perihal kumpul kebo. Menurutnya, "...yang lebih penting adalah semua itu dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang..." Lalu ia memberi contoh sebuah tanggung jawab: "...mereka hidup bersama, punya anak dan bahagia meski tidak secara resmi menikah. Bahkan mereka pun telah menyiapkan asuransi dan memperhitungkan biaya-biaya untuk kehidupan mereka di masa mendatang..." Lalu ia menunjukkan suatu ketidaktahuannya tentang moral benar dan salah: "...yang terpenting dari semua itu adalah komitmen kepada Tuhan untuk hidup bersama. Kita tidak bisa menghakimi begitu saja bahwa mereka yang kumpul kebo tidak berkomitmen terhadap Tuhan. Itu kan ada di hati mereka yang tidak bisa kita lihat. Mungkin mereka melegalkan secara hukum karena tidak mau repot saja. Yah, sebenarnya untuk masalah ini berpulang lagi kepada kepribadian masing-masing..." Menjadi pertanyaan bagi saya adalah, kumpul kebo dan komitment kepada Tuhan, sejak kapan Tuhan menyetujui kumpul kebo? Agama manapun belum ada dalam alkitabnya yang menjelaskan Tuhan menyetujui praktek zina ini. Kerancuan nilai ini hampir dirasakan seluruh generasi muda di seluruh dunia. Dan anehnya wawancara di atas seperti serpihan salju yang terus melayang di langit yang kelabu... [^]

[3] Dengan penekanan penulis [^]

[4] Produk kondom di Amerika mencamtumkan error sampling tersebut dalam kemasannya. Menurut riset yang dilakukan oleh Physical Division of Human Sciences di Maryland tahun 1992, bahwa virus dapat menembus lubang cacat [pin hole] pada lapisan kulit kondom. Lubang itu sebesar 1/100 mikron muncul sebagai suatu kesalahan saat pencetakan di pabrik. Jadi adalah kesalahan besar bila kita menganggap bahwa kondom memberikan keamanan sebagai pencegahan AIDS. [^]
 

 

Comment Script

Comments

Just Comment
Menurut saya iklan yang menganjurkan pemakaian kondom itu, jika tidak dipublikasikan dengan bahasa dan cara yang benar, secara tidak langsung membawa masyarakat pada pemikiran bahwa "ternyata seks bebas atau seks tanpa ikatan pernikahan itu sebenarnya boleh saja dilakukan asalkan kita bermain dengan safety yaitu dengan menggunakan kondom".
#1 - Riany Putri Riyadi - 11/03/2009 - 20:30
ap tdak apa2 jika pcar kita mmgng vagina kita???? tlng d jwb y !!

---

Webmaster
Pikirdong sedang menyusun artikel tentang pelbagai penyakit yang menular dari hubungan seksual beresiko, mohon bersabar ya...
@Nurul, dampaknya tetap saja ada, tidak hanya secara kesehatan melainkan juga berdampak pada psikologis. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan terjadi peningkatan kanker servik pada wanita usia baya, salah satu faktor adalah masuknya kuman kedalam vagina.

Sayed Muhammad
#2 - nurul - 04/26/2010 - 16:45
Name
E-mail (Will not appear online)
Homepage
Title
Comment
;-) :-) :-D :-( :-o >-( B-) :oops: :-[] :-P
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184