|
Tidak ada suatu gagasan yang kelihatannya
sangat aneh untuk dipertimbangkan
[ Winston Churchill ]
Tulisan
saya ini berawal dari sebuah iklan masyarakat di televisi yang menganjurkan
pemakaian kondom sebagai pencegahan AIDS. Saya menyebut iklan tersebut tidak
lebih dari suatu pembodohan secara umum dan terang-terangan. Kenapa?
Kita hidup dikelilingi oleh suatu informasi melalui transform
media yang menanamkan suatu bentuk kesadaran dalam pikiran kita yang sebenarnya
adalah mengaburkan prinsip nilai-nilai kebenaran yang universal.
Perkembangan budaya dan teknologi telah menggeser nilai-nilai tradisional dalam
sikap skeptis dan serba boleh (instant), kecuali Anda tidak mempunyai iman (percaya
akan kebenaran Tuhan) Anda boleh menutup tulisan ini. Manusia telah membentuk
suatu peradapan, menentukan hukum dan norma. Nilai-nilai terkandung di dalamnya,
boleh dan tidak menjadi suatu prinsipil, Andalah yang menentukannya. Liberalisme
telah menjadi suatu pegangan pembelajaran sejak Adam Smith memperkenalkan suatu
kebebesan individu yang tak terbatas, Anda boleh melakukan apa saja, tentunya
sesuai dengan prinsip dan budaya yang mengikat Anda berada.
Prinsip benar dan salah adalah nilai dari manusia itu belajar dari sebuah
peradapan dimana ia dibesarkan dalam lingkungan dimana ia belajar untuk
menentukan mana yang boleh (dalam konteks kewajaran) dan mana yang tidak boleh.
Percaya atau tidak, sebuah contoh berikut ini, Anda berciuman dengan pasangan
cinta Anda di tempat umum adalah sah-sah saja. Anda tokh cuma mengekspresikan
cinta kepada pasangan Anda. Masyarakat menyaksikan apa yang Anda lakukan akan
maklum dan dapat menerima sikap Anda, atau bahkan Anda akan mendapat acungan
jempol dan aplaus dari mereka. Tapi bagaimana bila Anda lakukan itu di budaya
Timur? Hal yang tabu kah? Mungkin suatu saat Anda boleh-boleh saja melakukannya.
Kenapa tidak? Bukankah Anda hanya mengekspresikan rasa cinta Anda? Pergeseran
nilai, percampuran budaya dimana budaya asli dapat hilang dengan semakin
permisif dan semakin terbuka menerima budaya luar dapat saja terjadi di sini, di
budaya Timur.
Tulisan saya ini hanya sebuah opini secara pribadi, bukan bertujuan mempengaruhi
prinsip-prinsip yang Anda pegang. Anda mempunyai hak dan cara pandang yang
berbeda tentang permasalahan yang sedang saya bahas sekarang, ini adalah suatu
warna, adanya perbedaan persepsi setiap orang untuk saling menghargai dan
menerima perbedaan itu. Saya tidak bermaksud untuk mempermainkan logika dan
rasio untuk suatu pembenaran pikiran-pikiran saya. Anda lah yang menilainya.
Tulisan ini banyak di pengaruh dari buku-buku yang saya baca, setidaknya mereka
mencemaskan suatu bentuk kehidupan yang tercipta oleh budaya hedonisme pada
generasi muda sekarang. Dan saya salah satu orang yang terpengaruh di dalamnya.
Atau setidaknya kita mempunyai harapan yang lebih baik untuk anak cucu kita
nantinya.
Stanley Newborn pernah menulis, "Setiap pemikiran yang sistematis harus di mulai
dari titik awal." Bagaimana suatu permasalah moral menjadi suatu standar
kebenaran? Apa yang salah dan mana yang lebih benar?
Melihat kebelakang sedikit, sekitar tahun 1300-an, suatu jaman yang dikenal
dengan Renaisans di Italia. Renaisans mempunyai ciri khas, dalam sastra,
pengajaran, seni dan arsiteksur. Petrarch, Boccaccio, Giotto dan Michelangelo
mengobarkan era keberhasilan manusia yang luar biasa. Renaisans menandai
pergeseran yang penting alam pikiran manusia. Berlawanan dengan jaman sebelumnya,
ketika tema utama seni, sastra dan filsafat mengagungkan dan melayani Tuhan,
maka seniman dan ahli pikir renaisans mengagungkan manusia dan kemampuannya.
Pergeseran melahirkan ajaran yang di sebut sebagai humanisme, yang menekankan
martabat dan kemampuan manusia. Humanisme memandang manusia sebagai pusat segala
hal, penguasa nasibnya sendiri, pemimpin jiwanya sendiri. Penekanan ini akhirnya
membawa kita kepandangan yang tidak berdasarkan alkitab. Rasanya terlalu cepat
untuk membicarakan dampak dari pemikiran-pemikiran seperti itu, mari kita lihat
jaman sesudahnya.
Sekitar tahun 1600-an, dikenal suatu masa enlightenmen, penerangan batin, atau
jaman pertimbangan akal. Voltaire dan Descartes adalah salah satu tokoh di jaman
itu. Manusia harus tegantung pada kekuatan dan pertimbangan akalnya sendiri
kalau mereka berharap akan bisa memahami suatu kebenaran. Standar benar dan
salah tidak berdasarkan sifat dan hakikat Tuhan. Manusia itulah sendiri harus
menemukannya. Pada jaman ini para pengagung akal rasio dan logika telah
menyingkirkan Tuhan sebagai hakikat kebenaran, menurut mereka bahwa, "Kalau pun
Tuhan yang menciptakan dunia ini, maka Dia sudah tidak ada lagi hubungan dengan
dunia ini."
Perkembangan penting selanjutnya di ikuti dengan revolusi industri sampai abad
modern saat ini, inovasi dan penciptaan dunia industri seperti ledakan yang
mengobarkan api keyakinan akan kemampuan manusia. Demikian juga teori-teori
kebenaran di gali dari hasil pemikiran manusia, sifatnya sangat antroplogis dan
darwinisme. Mereka telah membentuk pergeseran yang tajam dalam pemikiran;
penentu kebenaran dan moralitas, bukan Tuhan.
Bagaimana gagasan-gagasan itu menyebar? Francis Schaeffen menjelaskan dalam
bukunya, How should We then Live?
[Kehilangan nilai-nilai tradisional] menyebar dengan tiga
cara yang berbeda kepada orang-orang dalam budaya kita sendiri dan orang-orang
di seluruh dunia. Secara geografis ini menyebar dari benua Eropa ke kepulauan
Inggris, dan beberapa waktu kemudian melompati Samudra Antlantik ke Amerika
Serikat. Secara budaya, ini menyebar dalam berbagai disiplin mulai dari flisafat
sampai ke seni, musik, dan kebudayaan umum (novel, puisi, drama, film), serta
theologi. Secara sosial, ini menyebar dari para cendekiawan kepada orang
berpendidikan dan kemudian melalui media massa kepada setiap orang."
Atau kita dapat membaca sebuah analogi menarik dari Josh McDowell;
"Gagasan dan komentar orang-orang seperti Descartes, Darwin dan lain-lainnya,
yang selama bertahun-tahun melayang seperti serpihan salju di langit yang kelabu,
akhirnya mengendap di tanah. Sejak pergantian abad ke dua puluh dan sesudahnya,
peralihan nilai-nilai tradisonal dari satu generasi ke generasi berikutnya mulai
lenyap, seperti mobil-mobil tua yang menghilang dari jalan."
Bagaimana kita memegang suatu prinsip kebenaran? Maka bila kita mengikuti
sejarah, ada dua pilihan untuk itu;
1. Kebenaran yang di tetapkan oleh Tuhan bagi setiap orang, melalui kitab suci,
suatu kebenaran yang objektif, dan mutlak, atau:
2. Kebenaran yang di tentukan oleh individu; kebenaran yang bersifat subjektif
dan situasional
Mana kedua prinsip itu lebih kuat? Mana yang lebih berperan dalam kehidupan
sekarang? Bagaimana menemukan suatu kebenaran? Kebenaran bukanlah suatu produk
pemikiran, didasarkan pada nilai dan kebutuhan manusia. Suatu kebenaran haruslah
bersifat konstan, tidak berubah, berlaku sepanjang waktu dan untuk semua orang.
Inilah kebenaran yang hakiki. Suatu kebenaran yang berdasarkan pada sifat-sifat
Tuhan.
Sebelum Anda mengambil suatu kesimpulan mari kita uji kedua prinsip kebenaran
itu;
Fakta: Semakin banyak orang melakukan atau setidaknya mendukung aktivitas seks
bebas.
Pembenaran secara manusia:
- Virginitas [1] bukanlah hal yang
penting lagi dalam lembaga perkawinan, faktor cinta menjadi salah pertimbangan.
- Seks bebas boleh-boleh saja asal adanya tanggung jawab kedua belah pihak
-Tinggal (hidup) bersama pacar sebelum menikah, melatih kita untuk bertanggung
jawab dan kita mempunya kesempatan yang luas untuk mengenal pasangan kita lebih
dalam. [2]
-Itulah adalah hak (privasi) orang lain yang patut dihargai, dan kita tidak
boleh mencampuri permasalahan orang lain.
Maka bila memegang prinsip kebenaran berdasarkan sifat Tuhan;
-Kesucian merupakan moral dan kebebasan seks adalah tidak bermoral karena Tuhan
itu suci
Secara implisit kebenaran yang diciptakan oleh manusia pada fakta di atas
mempunyai tujuan sebagai pembenaran pengumbaran libido seksual secara nyata.
Pemikiran yang terbentuk dari pembenaran seks bebas adalah benar, boleh-boleh
saja, hal yang wajar dan berbagai bentuk pembenaran lainnya. Kebenaran yang
bersifat subjektif, selama itu baik dan menguntungkan silahkan saja.
Anda akan mudah menemukan orang-orang seperti itu, Anda dapat mendengar
kata-kata berikut ini yang sering mereka gunakan disebut dengan 'kekuatan
berprinsip', "...suatu pernyataan kadang sifatnya dikotomi, kita tidak dapat
menemukan suatu titik kebenaran, karena semuanya semu. Kita hanya mencoba
melihat suatu kenyataan fenomena dari trend-trend yang terbentuk dari masyarakat
kini. Suatu permasalahan sosial tidak dapat dilihat dari salah satu sudut (inti
dari) permasalahan sendiri, semuanya ada hubungan sebab akibat yang saling
menarik dan mengikat, maka mustahil menentukan penyebab utama karena masalah
sosial (moral) adalah hal yang kompleks, banyak hal yang harus di perhatikan,...
bla... bla..."
Konsep pemikiran diatas, secara jelas menunjukkan suatu kebingungan makna dari
suatu kebenaran, konsep kebenaran no 2, manusia itu sendiri yang menentukan
nilai kebenaran, ilmiah, darwinisme, humanisme. Kebenaran yang didasarkan
pendekatan ilmiah (subjektif) dan situasional (tergantung beberapa faktor). Maka
secara sinis saya katakan bahwa kejahatan moral tidak akan pernah terselesaikan,
bahkan di negara maju sekali pun tidak dapat menuntaskan kerusakam mental ini.
Humanisme pun hanya menjadi simbol belaka, karena mereka tidak pernah mencoba
menemukan kebenaran sejati, kebenaran dari Tuhan.
Mari kita lihat sebuah iklan yang saya sebut sebagai suatu pembodohan secara
umun dan terang-terangan;
"Biar lebih aman [melakukan hubungan seksual] maka gunakan kondom! Pakai kondom
atau [jika tidak] terkena AIDS! [3]
Iklan di atas tidak lebih dari pembodohan masyarakat secara umum dan
terang-terangan, mengaburkan nilai-nilai kebenaran yang hakiki dan
mengesampingkan informasi yang sebenarnya.
-Kondom bukanlah pencegah AIDS yang efektif, menurut penelitian 0,4% didapati
error sampling, artinya 4% dari luas kondom yang diproduksi mempunyai cacat,
yakni kebocoran yang di sebut pine hole [4]
-AIDS dapat menular tidak hanya melalui cairan sperma atau vagina, darah juga
dapat menjadi media penghantar menularnya AIDS. Hubungan seksual mempunyai
resiko terbesar tertular AIDS.
-Untuk menghindari AIDS bukanlah kondom, melainkan hubungan seks yang sehat dan
monogamis (tidak berganti pasangan) dan setia kepada pasangannya.
Bagaimana bila iklan itu dilihat oleh anak-anak kecil, remaja sementara orang
tua tidak membimbing tentang kebenaran dari iklan tersebut? Apa yang muncul dari
benak mereka? Hampir seluruh orang sangat sukar melepaskan dirinya dari televisi.
Hampir tiap hari kita menerima info yang kita samasekali tidak pernah tahu
kebenaran info itu secara tepat dan detil. Informasi yang di sampaikan oleh
televisi begitu cepat, lalu di ikuti oleh informasi selanjutnya sehingga otak
tidak sempat melakukan penyaringan dan seleksi, akibatnya info tersebut disimpan
langsung dalam memori otak.
Kesalahan pemahaman dan informasi yang sesungguhnya dapat terjadi pada
anak,ketika iklan itu di tonton, anak dapat menganggap bahwa untuk berhubungan
seks haruslah menggunakan kondom, hubungan seks merupakan hal yang lumrah atau
kondom dapat mencegah AIDS. Kesalaham pemahaman dari awal inilah yang mengubah
pola pikir remaja dan generasi sekarang menjadi lebih terbuka dan vulgar yang
secara perlahan-lahan menjadi suatu prinsip individual yang perlu mereka hormati
antara sesama teman dan sesama generasinya.
Mengakhiri tulisan saya ini, walaupun etika moral -apa itu salah atau benar [dan
dikatakan bahwa itu adalah hal tersulit sebagaimana suatu keputusan semu setiap
orang karena perbedaan nilai tiap individu berbeda] maka nilai kebenaran itu
haruslah mempunyai beberapa prinsip yang mendasar; mempunyai sifat konstan,
tidak berubah karena situasi tertentu, mempunyai dampak kebaikan demi bagi umat
manusia, tegas, nilai yang dikandung objektif dan mutlak, berlaku untuk semua
orang, tidak dibatasi oleh tradisi budaya ataupun ilmu pengetahuan. Inilah suatu
kebenaran yang hakiki dan bersumber pada Tuhan. [PD/Ayed]
_____________________________________________
[1] Kadang ketika membaca beberapa pendapatan mereka yang
ditanya mengenai masalah virginitas di beberapa tabloid dan majalah, membuat
saya berpikir akan kekurangan ini: Virginitas sudahlah tidak penting lagi!
Kenapa? Suatu pembenaran Freudianisme? Sebelum menghakimi Tuhan, saya sempat
berpikir, bila itu [virginitas] tidak penting lagi berarti kesalahan Tuhan
menciptakan himen pada wanita dan kealpaan pada pria? [^]
[2] Dalam suatu wawancara di detikcom, wawancara dengan seorang
artis S ketika di tanya perihal kumpul kebo. Menurutnya, "...yang lebih penting
adalah semua itu dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang..." Lalu
ia memberi contoh sebuah tanggung jawab: "...mereka hidup bersama, punya anak
dan bahagia meski tidak secara resmi menikah. Bahkan mereka pun telah menyiapkan
asuransi dan memperhitungkan biaya-biaya untuk kehidupan mereka di masa
mendatang..." Lalu ia menunjukkan suatu ketidaktahuannya tentang moral benar dan
salah: "...yang terpenting dari semua itu adalah komitmen kepada Tuhan untuk
hidup bersama. Kita tidak bisa menghakimi begitu saja bahwa mereka yang kumpul
kebo tidak berkomitmen terhadap Tuhan. Itu kan ada di hati mereka yang tidak
bisa kita lihat. Mungkin mereka melegalkan secara hukum karena tidak mau repot
saja. Yah, sebenarnya untuk masalah ini berpulang lagi kepada kepribadian
masing-masing..." Menjadi pertanyaan bagi saya adalah, kumpul kebo dan komitment
kepada Tuhan, sejak kapan Tuhan menyetujui kumpul kebo? Agama manapun belum ada
dalam alkitabnya yang menjelaskan Tuhan menyetujui praktek zina ini. Kerancuan
nilai ini hampir dirasakan seluruh generasi muda di seluruh dunia. Dan anehnya
wawancara di atas seperti serpihan salju yang terus melayang di langit yang
kelabu... [^]
[3] Dengan penekanan penulis [^]
[4] Produk kondom di Amerika mencamtumkan error sampling
tersebut dalam kemasannya. Menurut riset yang dilakukan oleh Physical Division
of Human Sciences di Maryland tahun 1992, bahwa virus dapat menembus lubang
cacat [pin hole] pada lapisan kulit kondom. Lubang itu sebesar 1/100 mikron
muncul sebagai suatu kesalahan saat pencetakan di pabrik. Jadi adalah kesalahan
besar bila kita menganggap bahwa kondom memberikan keamanan sebagai pencegahan
AIDS. [^]
|
---
Webmaster
Pikirdong sedang menyusun artikel tentang pelbagai penyakit yang menular dari hubungan seksual beresiko, mohon bersabar ya...
@Nurul, dampaknya tetap saja ada, tidak hanya secara kesehatan melainkan juga berdampak pada psikologis. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan terjadi peningkatan kanker servik pada wanita usia baya, salah satu faktor adalah masuknya kuman kedalam vagina.
Sayed Muhammad