|
Perubahan
global tidak hanya mempengaruhi perubahan secara fisik semata, ternyata juga
mempengaruhi terhadap pemikiran manusia. Pada dasarnya ide-ide perilaku manusia
tidak banyak berubah sejak jaman manusia memasuki jaman sejarah modern. Ide-ide
tersebut secara terus menerus berkembang disamping mengalami kontradiktif
disana-sini, namun ide dasar tersebut merupakan dasar pemikiran pada awalnya.
|
 |
|
|
|
|
|
Picture: Jaringan Islam Liberal |
|
|
|
|
Hubungan seksual secara bebas sebenarnya merupakan sejarah
purba yang masih terus berlangsung sampai abad modern ini, hanya saja kulitnya
saja yang berubah. Manusia menciptakan istilah-istilah tertentu untuk menyebut
perilaku ini. Berawal dari sinilah prostitusi itu lahir. Manusia purba, terutama
laki-laki sebagai pemimpin kelompok akan menyetubuhi wanita-wanita yang
dipilihnya pada masa meramu atau selesai berburu. Perilaku manusia purba ini
terus berlanjut pada masa kerajaan. Raja-raja di Eropa misalnya mempunyai hak
untuk mengawini wanita-wanita di daerah kekuasaannya. Hak ini disebut dengan
istilah ius prima noctus. Raja berhak membunuh bagi siapa saja yang menolak atau
menghalangi niat sang raja tersebut.
Gerakan feminism di Amerika ternyata juga mendorong lahirnya hubungan seksual
secara bebas yang terselubung sebagai perjuangan hak kaum wanita untuk
mendapatkan hak yang sama dengan pria. Gerakan ini membuat kaum wanita juga
mempunyai kesempatan yang luas untuk bergaul secara bebas sepertinya dengan pria
―yang pada awalnya kaum wanita masih terkukung dengan kultur tradisional untuk
menetap di rumah.
Perubahan sosial secara global dan menyeluruh mempengaruhi perilaku generasi
buster (boom-X) yang mengarah pada kepribadian yang berbeda dari generasi
sebelumnya, hedonism, seks bebas, tindakan brutal dan tidak beradab sebagaimana
yang tulis oleh Rowland Nethaway dalam artikel Cox News Service;
Orang dewasa selalu mengeluh tentang anak remajanya, tetapi ini berbeda. Selalu
ada anak liar dan suka memberontak, yang akan keluar jalur dan melakukan yang
salah. Banyak pemuda zaman sekarang yang rupanya tidak bisa membedakan antara
benar dan salah. Anak-anak merampok, menganiaya, dan membunuh sesuka hatinya
tanpa belas kasihan dan penyesalan.
Josh McDowell menulis; pemuda jaman sekarang bukan hanya memainkan musik keras
dan memakai tatanan rambut yang radikal; mereka rupanya telah naik ke tingkat
agresi remaja, seks bebas, sinisme, dan kekerasan yang membuat bulu kuduk
orangtua merinding.
Kekhawatiran Josh McDowell bukan tidak beralasan, sebuah laporan statistik di
Amerika pada tahun 1996 melaporkan dalam sehari di Amerika Serikat;
- 1.000 gadis remaja yang tidak menikah menjadi ibu.
- 1.106 remaja mengalami abortus
- 4.219 remaja terjangkit penyakit kelamin
- 500 remaja mulai menggunakan obat terlarang
- 1.000 anak mulai minum minuman keras
- 135.000 anak membawa pistol atau senjata lain ke sekolah
- 3.610 anak remaja diserang dan 80 diantaranya diperkosa
- 2.200 anak remaja berhenti sekolah dari sekolah sekolah menengah sebelum tamat
- 6 remaja bunuh diri.
Perubahan nilai-nilai keluarga di Amerika Serikat dimulai dengan timbulnya
inflasi pada tahun 1971, peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Richard
Nixon, ketika itu Nixon melepas standar emas dengan maksud meningkatkan nilai
dollar Amerika. Tindakan itu justru menimbulkan inflasi besar-besaran. Akibatnya
pendapatan keluarga di Amerika terus merosot tajam. Hal tersebut memicu
wanita-wanita untuk bekerja untuk meningkatkan taraf hidup keluarga. Perang
Vietnam juga ikut berperan melemahnya vitalitas ekonomi Amerika.
Pada tahun 1960 hanya 19% wanita di Amerika serikat yang bekerja, pada tahun
1995 angka tersebut melonjak 65%. Secara ekonomi, keluarga inti dengan
pendapatan tunggal tidak dapat lagi berfungsi sebagai model standar yang
berhasil. Kehidupan keluarga di Amerika telah berubah secara drastis. Pada tahun
sama telah juga mengakibatkan 7 juta anak kehilangan waktunya bersama keluarga
karena disibukan oleh pekerjaan orangtua. Asosiasi Orangtua-Guru di Amerika juga
melaporkan, meningkatnya perceraian mengakibatkan 33 juta anak hidup dengan
keluarga yang tidak lengkap.
Nilai-nilai keluarga merupakan hal yang penting untuk membendung arus perubahan
generasi X tersebut. Apalagi masyarakat Indonesia yang terkenal dengan sangat
kental kultur budayanya. Generasi terpelajar Indonesia kadang malah mengambil
perilaku budaya-budaya yang mereka tidak tahu samasekali dampak dari kultur
dunia barat dengan berbagai alasan. Mereka bersembunyi dibalik HAM, modernisme,
freudianisme untuk dapat mengumbar libido mereka. Padahal pemahaman yang salah
kaprah tersebut dapat mengakibatkan dekadensi moral generasi bangsa mendatang.
Amerika Serikat merupakan salah satu pengekspor dan produsen film-film porno
terbesar di dunia juga berusaha melebarkan pemasaran kebutuhan esek-esek seluruh
penjuru dunia. Beberapa majalah porno seperti Playboy, Penthouse, Busty,
Paradise dan masih banyak lagi untuk disebutkan, tersebar hampir di seluruh toko
kelontong di negeri tersebut. Bahkan di beberapa negara juga seperti Hongkong,
Taiwan, Thailand, Jerman, Spanyol, Italia dan beberapa negara lainnya juga
mendapatkan lisensi untuk memproduksi pornografi tersebut dengan nama yang sama
dari majalah induknya di Amerika. Samantha, wanita pemeran film porno di Amerika
pada tahun 2001 dilaporkan mendapatkan 500 juta dollar dari hasil royalti atas
film-film porno yang dibintanginya. Pendapatan yang luar biasa sebagai ratu
porno dibandingkan dengan pendapatan pekerja lainnya, sementara beberapa bintang
porno lainnya bersiap menghadapi kematian karena mengidap HIV/AIDS.
Amerika Serikat juga membangun jaringan televisi kabel yang memuatkan
siaran-siaran pornografi yang dapat diakses melalui tv kabel dalam 24 jam sehari.
Kabarnya Amerika juga merelay acara televisi tersebut hingga ke Afghanistan yang
bertujuan untuk "menghibur" tentaranya yang bertugas di negara tersebut. Sebuah
"hiburan" yang bertujuan merusak generasi muda Afghanistan dengan tontonan
vulgar, dimana adegan-adegan yang tak pantas dipertonton untuk khalayak umum
sebagai salah satu pendidikan baru bagi masyarakat Afghanistan yang disebut
sebagai demokrasi, hak asasi dan liberalisme.
Permasalahan nyata negara maju pada gaya hidup generasi mudanya yang sangat
bebas, inilah sebenarnya masalah utama terhadap munculnya beberapa penyakit
mental yang telah mengkristal dalam kehidupan seahri-hari yang mereka sebut
sebagai hak asasi. Anehnya permasalahan nyata tersebut membawa dampak buruk pada
setiap generasi muda ―akan tetapi tidak pernah dianggap sebagai masalah krusial.
Mereka para ahli sosiologi, psikologi, budayawan, anthropolog dan pakar lainnya
tidak berani mengungkap fakta yang sebenarnya berawal dari tatanan kehidupan
yang bebas. Mereka justru gencar mengkampanyekan liberalisme syahwat.
Meningkatnya pedophilia seluruh dunia menunjukkan penyimpang seksual yang
diakibatkan pornografi yang mudah di dapat dari; televisi, majalah, internet,
video dan sebagainya. Dorongan nafsu yang setiap saat muncul akibat
rangsangan-rangsangan tiap waktu yang terus menumpuk hingga suatu saat menjelma
pada tindakan kejahatan seksual. Pada akhirnya anak-anaklah yang menjadi korban
terbesar. Inilah yang saya sebut bahwa masalah nyata yang tidak berani diungkap.
Kenapa?
Mereka (orang-orang barat) justru menghakimi syariah Islam sebagai bentuk
penindasan hak-hak asasi. Saat ini Islamphobia menjadi penyakit mental yang akut
diantara orang-orang berintelektual non Islam, bahkan pada orang Islam itu
sendiri! Beberapa buku seperti Civil democratic Islam, Partners, Resources,
and Strategies karangan Cheryl Bernard yang menjadi buku pegangan LSM-LSM
yang mengkampanyekan demokrasi dan hak asasi di Indonesia. Buku tersebut
menjelekan citra Islam perihal demokrasi, HAM, Poligami, sanksi kriminal, jilbab
dan sebagainya. Kalau Anda berpikir, berbagai permasalahan generasi muda seperti
yang terjadi di negara-negara maju kenapa tidak pernah terjadi di negara Islam
yang memegang syariah Islam yang teguh? Lalu kenapa negara Barat meracuni
pemikiran demokrasi mereka dengan nilai-nilai Islam yang jelas-jelas sangat
melindungi wanita? Seharusnya bila emang demokrasi mereka lebih baik, negara
mereka aman dari tindakan pelecehan terhadap kaum wanita.
Beberapa majalah nasional dalam beberapa tahun ini secara terus menerus
mengungkapkan keburukan dari poligami, bahkan yang mengejutkan pernyataan dari
Dr. Siti Musdah Mulia yang menuduh, poligami sebagai pembawa sumber penyakit
kelamin dan 'child abuse'. Mungkin pernyataan ini mengisyaratkan suami yang suka
jajan di lokalisasi pelacuran adalah hal yang sah-sah saja terjadi dalam suatu
rumahtangga dan tidak membawa penyakit untuk istrinya? atau terlantarnya
anak-anak yang disebabkan oleh kedua orangtuanya yang bekerja tidak sebut
sebagai biang terjadinya child abuse?
Media lebih suka mengekspose perselingkuhan dengan menciptakan berbagai istilah
untuk melegalkan bahwa perselingkuhan (seks bebas) adalah wajar terjadi di dalam
masyarakat, bahkan media membentuk image bahwa seolah-olah berselingkuh itu
merupakan suatu trend modernisme yang harus diterima, lihat saja istilah-istilah
yang mereka berikan; sex after lunch (menggambarkan kehidupan
pekerja-pekerja kantoran yang melakukan seks pranikah dan perselingkuhan di saat
jam istirahat kantor), one stand night (menggambarkan perilaku seksual [baca:
perselingkuhan] yang terjadi hanya sesaat atau semalam tanpa ada kelanjutan
secara emosional), wife swiping (pertukaran istri yang dimaksudkan untuk
mencari suasana baru dalam kehidupan seksual pasangan suami-istri) dan berbagai
liputan lainnya yang menggambarkan perilaku seksual metropolis yang liar dan
vulgar.
Saya pikir sudah saatnya media dan kaum intelektual di Indonesia mempunyai visi
dan misi menuju pada perubahan yang membawa dampak yang lebih baik pada generasi
mendatang, setidaknya sikap dan perilaku yang diambil merupakan resiko terkecil
dari perilaku dan pernyataan-pernyataan yang membawa dampak pada kerusakan moral
yang lebih luas, tidak perlu saling menghujat melainkan mencari solusi yang
terbaik. Terpenting dari semua itu, poligami tidak pernah dicaci oleh Tuhan
dalam Islam ataupun Kristen, lalu kenapa kita ribut mempermasalahkannya? [PD/Ayed]
|