Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 
 
 

Poligami Dicerca, Freesex yang Dipuja

© Mei 2006

Penulis: Sayed Muhammad

Lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, Sayed Muhammad, ia adalah penulis tetap di website ini

 

Opini

Opini berkenaan tentang psikologi dan fenomena sosial.

 
     
 

Poligami Dicerca, Freesex yang Dipuja


Artikel Opini | 05/2006 | Sayed Muhammad | Opini

 

 


Perubahan global tidak hanya mempengaruhi perubahan secara fisik semata, ternyata juga mempengaruhi terhadap pemikiran manusia. Pada dasarnya ide-ide perilaku manusia tidak banyak berubah sejak jaman manusia memasuki jaman sejarah modern. Ide-ide tersebut secara terus menerus berkembang disamping mengalami kontradiktif disana-sini, namun ide dasar tersebut merupakan dasar pemikiran pada awalnya.

 

 


 

 

 

Picture: Jaringan Islam Liberal

Hubungan seksual secara bebas sebenarnya merupakan sejarah purba yang masih terus berlangsung sampai abad modern ini, hanya saja kulitnya saja yang berubah. Manusia menciptakan istilah-istilah tertentu untuk menyebut perilaku ini. Berawal dari sinilah prostitusi itu lahir. Manusia purba, terutama laki-laki sebagai pemimpin kelompok akan menyetubuhi wanita-wanita yang dipilihnya pada masa meramu atau selesai berburu. Perilaku manusia purba ini terus berlanjut pada masa kerajaan. Raja-raja di Eropa misalnya mempunyai hak untuk mengawini wanita-wanita di daerah kekuasaannya. Hak ini disebut dengan istilah ius prima noctus. Raja berhak membunuh bagi siapa saja yang menolak atau menghalangi niat sang raja tersebut.

Gerakan feminism di Amerika ternyata juga mendorong lahirnya hubungan seksual secara bebas yang terselubung sebagai perjuangan hak kaum wanita untuk mendapatkan hak yang sama dengan pria. Gerakan ini membuat kaum wanita juga mempunyai kesempatan yang luas untuk bergaul secara bebas sepertinya dengan pria ―yang pada awalnya kaum wanita masih terkukung dengan kultur tradisional untuk menetap di rumah.

Perubahan sosial secara global dan menyeluruh mempengaruhi perilaku generasi buster (boom-X) yang mengarah pada kepribadian yang berbeda dari generasi sebelumnya, hedonism, seks bebas, tindakan brutal dan tidak beradab sebagaimana yang tulis oleh Rowland Nethaway dalam artikel Cox News Service;

Orang dewasa selalu mengeluh tentang anak remajanya, tetapi ini berbeda. Selalu ada anak liar dan suka memberontak, yang akan keluar jalur dan melakukan yang salah. Banyak pemuda zaman sekarang yang rupanya tidak bisa membedakan antara benar dan salah. Anak-anak merampok, menganiaya, dan membunuh sesuka hatinya tanpa belas kasihan dan penyesalan.

Josh McDowell menulis; pemuda jaman sekarang bukan hanya memainkan musik keras dan memakai tatanan rambut yang radikal; mereka rupanya telah naik ke tingkat agresi remaja, seks bebas, sinisme, dan kekerasan yang membuat bulu kuduk orangtua merinding.

Kekhawatiran Josh McDowell bukan tidak beralasan, sebuah laporan statistik di Amerika pada tahun 1996 melaporkan dalam sehari di Amerika Serikat;
- 1.000 gadis remaja yang tidak menikah menjadi ibu.
- 1.106 remaja mengalami abortus
- 4.219 remaja terjangkit penyakit kelamin
- 500 remaja mulai menggunakan obat terlarang
- 1.000 anak mulai minum minuman keras
- 135.000 anak membawa pistol atau senjata lain ke sekolah
- 3.610 anak remaja diserang dan 80 diantaranya diperkosa
- 2.200 anak remaja berhenti sekolah dari sekolah sekolah menengah sebelum tamat
- 6 remaja bunuh diri.

Perubahan nilai-nilai keluarga di Amerika Serikat dimulai dengan timbulnya inflasi pada tahun 1971, peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Richard Nixon, ketika itu Nixon melepas standar emas dengan maksud meningkatkan nilai dollar Amerika. Tindakan itu justru menimbulkan inflasi besar-besaran. Akibatnya pendapatan keluarga di Amerika terus merosot tajam. Hal tersebut memicu wanita-wanita untuk bekerja untuk meningkatkan taraf hidup keluarga. Perang Vietnam juga ikut berperan melemahnya vitalitas ekonomi Amerika.

Pada tahun 1960 hanya 19% wanita di Amerika serikat yang bekerja, pada tahun 1995 angka tersebut melonjak 65%. Secara ekonomi, keluarga inti dengan pendapatan tunggal tidak dapat lagi berfungsi sebagai model standar yang berhasil. Kehidupan keluarga di Amerika telah berubah secara drastis. Pada tahun sama telah juga mengakibatkan 7 juta anak kehilangan waktunya bersama keluarga karena disibukan oleh pekerjaan orangtua. Asosiasi Orangtua-Guru di Amerika juga melaporkan, meningkatnya perceraian mengakibatkan 33 juta anak hidup dengan keluarga yang tidak lengkap.

Nilai-nilai keluarga merupakan hal yang penting untuk membendung arus perubahan generasi X tersebut. Apalagi masyarakat Indonesia yang terkenal dengan sangat kental kultur budayanya. Generasi terpelajar Indonesia kadang malah mengambil perilaku budaya-budaya yang mereka tidak tahu samasekali dampak dari kultur dunia barat dengan berbagai alasan. Mereka bersembunyi dibalik HAM, modernisme, freudianisme untuk dapat mengumbar libido mereka. Padahal pemahaman yang salah kaprah tersebut dapat mengakibatkan dekadensi moral generasi bangsa mendatang.

Amerika Serikat merupakan salah satu pengekspor dan produsen film-film porno terbesar di dunia juga berusaha melebarkan pemasaran kebutuhan esek-esek seluruh penjuru dunia. Beberapa majalah porno seperti Playboy, Penthouse, Busty, Paradise dan masih banyak lagi untuk disebutkan, tersebar hampir di seluruh toko kelontong di negeri tersebut. Bahkan di beberapa negara juga seperti Hongkong, Taiwan, Thailand, Jerman, Spanyol, Italia dan beberapa negara lainnya juga mendapatkan lisensi untuk memproduksi pornografi tersebut dengan nama yang sama dari majalah induknya di Amerika. Samantha, wanita pemeran film porno di Amerika pada tahun 2001 dilaporkan mendapatkan 500 juta dollar dari hasil royalti atas film-film porno yang dibintanginya. Pendapatan yang luar biasa sebagai ratu porno dibandingkan dengan pendapatan pekerja lainnya, sementara beberapa bintang porno lainnya bersiap menghadapi kematian karena mengidap HIV/AIDS.

Amerika Serikat juga membangun jaringan televisi kabel yang memuatkan siaran-siaran pornografi yang dapat diakses melalui tv kabel dalam 24 jam sehari. Kabarnya Amerika juga merelay acara televisi tersebut hingga ke Afghanistan yang bertujuan untuk "menghibur" tentaranya yang bertugas di negara tersebut. Sebuah "hiburan" yang bertujuan merusak generasi muda Afghanistan dengan tontonan vulgar, dimana adegan-adegan yang tak pantas dipertonton untuk khalayak umum sebagai salah satu pendidikan baru bagi masyarakat Afghanistan yang disebut sebagai demokrasi, hak asasi dan liberalisme.

Permasalahan nyata negara maju pada gaya hidup generasi mudanya yang sangat bebas, inilah sebenarnya masalah utama terhadap munculnya beberapa penyakit mental yang telah mengkristal dalam kehidupan seahri-hari yang mereka sebut sebagai hak asasi. Anehnya permasalahan nyata tersebut membawa dampak buruk pada setiap generasi muda ―akan tetapi tidak pernah dianggap sebagai masalah krusial. Mereka para ahli sosiologi, psikologi, budayawan, anthropolog dan pakar lainnya tidak berani mengungkap fakta yang sebenarnya berawal dari tatanan kehidupan yang bebas. Mereka justru gencar mengkampanyekan liberalisme syahwat.

Meningkatnya pedophilia seluruh dunia menunjukkan penyimpang seksual yang diakibatkan pornografi yang mudah di dapat dari; televisi, majalah, internet, video dan sebagainya. Dorongan nafsu yang setiap saat muncul akibat rangsangan-rangsangan tiap waktu yang terus menumpuk hingga suatu saat menjelma pada tindakan kejahatan seksual. Pada akhirnya anak-anaklah yang menjadi korban terbesar. Inilah yang saya sebut bahwa masalah nyata yang tidak berani diungkap. Kenapa?

Mereka (orang-orang barat) justru menghakimi syariah Islam sebagai bentuk penindasan hak-hak asasi. Saat ini Islamphobia menjadi penyakit mental yang akut diantara orang-orang berintelektual non Islam, bahkan pada orang Islam itu sendiri! Beberapa buku seperti Civil democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies karangan Cheryl Bernard yang menjadi buku pegangan LSM-LSM yang mengkampanyekan demokrasi dan hak asasi di Indonesia. Buku tersebut menjelekan citra Islam perihal demokrasi, HAM, Poligami, sanksi kriminal, jilbab dan sebagainya. Kalau Anda berpikir, berbagai permasalahan generasi muda seperti yang terjadi di negara-negara maju kenapa tidak pernah terjadi di negara Islam yang memegang syariah Islam yang teguh? Lalu kenapa negara Barat meracuni pemikiran demokrasi mereka dengan nilai-nilai Islam yang jelas-jelas sangat melindungi wanita? Seharusnya bila emang demokrasi mereka lebih baik, negara mereka aman dari tindakan pelecehan terhadap kaum wanita.

Beberapa majalah nasional dalam beberapa tahun ini secara terus menerus mengungkapkan keburukan dari poligami, bahkan yang mengejutkan pernyataan dari Dr. Siti Musdah Mulia yang menuduh, poligami sebagai pembawa sumber penyakit kelamin dan 'child abuse'. Mungkin pernyataan ini mengisyaratkan suami yang suka jajan di lokalisasi pelacuran adalah hal yang sah-sah saja terjadi dalam suatu rumahtangga dan tidak membawa penyakit untuk istrinya? atau terlantarnya anak-anak yang disebabkan oleh kedua orangtuanya yang bekerja tidak sebut sebagai biang terjadinya child abuse?

Media lebih suka mengekspose perselingkuhan dengan menciptakan berbagai istilah untuk melegalkan bahwa perselingkuhan (seks bebas) adalah wajar terjadi di dalam masyarakat, bahkan media membentuk image bahwa seolah-olah berselingkuh itu merupakan suatu trend modernisme yang harus diterima, lihat saja istilah-istilah yang mereka berikan; sex after lunch (menggambarkan kehidupan pekerja-pekerja kantoran yang melakukan seks pranikah dan perselingkuhan di saat jam istirahat kantor), one stand night (menggambarkan perilaku seksual [baca: perselingkuhan] yang terjadi hanya sesaat atau semalam tanpa ada kelanjutan secara emosional), wife swiping (pertukaran istri yang dimaksudkan untuk mencari suasana baru dalam kehidupan seksual pasangan suami-istri) dan berbagai liputan lainnya yang menggambarkan perilaku seksual metropolis yang liar dan vulgar.

Saya pikir sudah saatnya media dan kaum intelektual di Indonesia mempunyai visi dan misi menuju pada perubahan yang membawa dampak yang lebih baik pada generasi mendatang, setidaknya sikap dan perilaku yang diambil merupakan resiko terkecil dari perilaku dan pernyataan-pernyataan yang membawa dampak pada kerusakan moral yang lebih luas, tidak perlu saling menghujat melainkan mencari solusi yang terbaik. Terpenting dari semua itu, poligami tidak pernah dicaci oleh Tuhan dalam Islam ataupun Kristen, lalu kenapa kita ribut mempermasalahkannya? [PD/Ayed]
 


 

 

Comment Script

Comments

kata siapa masalah2 itu hanya terjadi di negara barat? lihat saja para TKW yang pulang dari negara2 yang mengaku memegang syariat, ada yang pulang hamil, luka2 batin,trauma. menurut saya yang namanya hawa nafsu kalo dituruti ya hasilnya kebahagian diatas penderitaan orang lain
#1 - rinna - 10/21/2009 - 18:08
Name
E-mail (Will not appear online)
Homepage
Title
Comment
;-) :-) :-D :-( :-o >-( B-) :oops: :-[] :-P
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184