Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 
 
 

Bangsa ini Butuh Pemimpin Bermoral
Sebuah catatan menjelang pemilu tahun 2009

© September 2007

Penulis: Sayed Muhammad

Lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, Sayed Muhammad, ia adalah penulis tetap di website ini

 

Opini

Opini berkenaan tentang psikologi dan fenomena sosial.

 
     
 

Bangsa ini Butuh Pemimpin Bermoral

Sebuah catatan menjelang pemilu tahun 2009


Artikel Opini | 09/2007 | Sayed Muhammad | Opini

 


Indonesia merupakan salah satu bagian dari komunitas negara-negara di dunia yang menyelenggarakan pemerintahan dengan tujuan kemakmuran untuk rakyat (solus populi est suprema lex) oleh karena itu Indonesia tidaklah dapat berlaku berorientasi pada state centrist saja dalam memandang pelbagai permasalahan dalam negeri menyangkut permasalahan kebangsaan (nasionalisme) melainkan secara menyeluruh sama halnya dengan bangsa-bangsa lain di dunia dalam memperlakukan warga negaranya demi kesejahteraan. Permasalahan doktrin nasionalisme merupakan sebuah konsep imajiner kebangsaan bukan hanya bersandarkan pada keutuhan suatu bangsa saja yang sengaja dibentuk atau tumbuh dengan sendirinya. Kemiskinan melanda di negeri ini, seharusnya tidak didasarkan jumlah dan nominal terhadap standar-standar hidup, menyedihkan lagi kemiskinan moral menggerogoti rasa nasionalisme itu tadi perlahan tapi pasti.

 

 


 

 

Mengutip apa yang pernah dikatakan oleh Nixon, janganlah bertanya apa yang telah apa yang telah diberikan oleh negara kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang telah kamu berikan kepada negara, mungkin tidaklah tepat menjadi idiom peribahasa Indonesia bila digunakan oleh pemegang kekuasaan untuk meningkatkan moral nasionalisme. Mudah saja, karena Nixon bukanlah warga negara Indonesia dan konsep ideologis kebangsaan yang dianut oleh Nixon tidaklah sama dengan Pancasila. Dengan kata lain semata-mata rakyatlah yang harus berbuat kebaikan (kemajuan) untuk negara dan bangsanya adalah tidak tepat. Kenapa mereka (pemegaang kekuasaan) lebih acap menggunakan kalimat tersebut untuk mengkritisi balik terhadap kritik yang ditujukan kepada pemerintah? Mungkin dalam perkataan lainnya dalam doktrin wawasan nusantara sebagai stabilitas negara terbebas dari pelbagai gangguan keamanan dari dalam negeri (berasal dari masyarakat Indonesia sendiri seperti terorisme, golongan yang menolak asas tunggal, seperatisme, tidak nasionalisme dan berbagai sebutan lainnya) haruslah ditanamkan secara dini pada rakyat, agar masyarakat tunduk dan patuh kepada negara (state centrist).

Instabilitas politik dimulai dengan kemunculan kelompok-kelompok yang dianggap membangkang terhadap kebijakan pemerintah. Kelompok haluan kiri ini dianggap sebagai pengganggu kelancaran program-program pemerintah dalam melaksanakan sistem pemerintahan kesehariannya. Kelompok radikal ini dianggap tidak mau bekerjasama dengan pemerintah, suka mengkritik, melakukan aksi demo, kampanye, rapat gelap untuk mendiskreditkan pemerintah, agitasi, provokasi dan berbagai aktivitas lainnya yang dianggap dapat membahayakan kewibawaan pemerintah. Pada masa orde baru, pemerintah mencantumkan aktivitas-aktivitas tersebut sebagai gerakan yang dilarang (ilegal) selama hampir keseluruhan masa pemerintahan Soeharto dan menyikat habis mereka-mereka yang berkoar penggegas ide-ide yang dianggap tidak sinkron dengan pemerintah. Padahal kemunculan kelompok berhaluan kiri ini justru mempertanyakan kesejahteraan yang diprogramkan oleh pemerintah.

Gerakan moral reformasi pada akhir-akhir kejatuhan rezim Soeharto dan masa sesudahnya, menjadikan Indonesia sebagai lahan kejatuhan derasnya informasi seperti bak tsunami, perubahan secara menyeluruh di segala aspek melanda masyarakat Indonesia yang memang sangat membutuhkan perubahan sosial. Perubahan drastis dibidang informasi yang sebelumnya sangat tertutup di jaman Soeharto seakan-akan menjadikan Indonesia sebagai negara bebas yang melancong setelah 32 tahun terkekang di dalam bui bawah tanah, gelap, dingin dan haus rasa ingin tahu dunia luar.

Singkat cerita, saat ini, dalam arus transisi tanpa ambang batas physically milestones, Indonesia terseok-seok tanpa arah jelas, seiring dengan semakin tuanya bumi, Indonesia pun hanya berjalan menghitung angka jumlah penambahan hari 17 agustus (1945) setiap tahunnya yang tertera di gapura-gapura setiap gang, jalan raya atau dibalik perlombaan panjat pinang. Indonesia masih meraba dalam tahap batas-batas masa perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya, tanpa akhir stadium (rancangan) masa depan yang jelas, sementara dunia terus mendesak agar Indonesia tidak terus diam (terus berpura-pura) dalam fase oral seperti yang pernah disebutkan oleh Freud, selalu saja perlu ditegur dan dikasihani dalam kancah globalisasi.
 


Menjelang Pemilu

Mentalitas negara yang korup menjadikan negara besar ini mendapat julukan down state dimata internasional, betapa tidak, lihat saja negara tetangga yang dulunya berguru kepada Indonesia justru kini siap lepas landas sebagai negara maju di tahun 2020. Bagaimana dengan Indonesia? Target Indonesia mendekati tahun itu hanya memberantas kemiskinan, itupun karena adanya desakan internasional agar Indonesia dapat mengurangi jumlah penduduk miskin dalam menyepakati perjanjian MDGs. Inferioritas jelas terlihat pada pemimpin-pemimpin kita dalam memandang masa depan. Mungkin kita sedikit tidak perlu malu untuk belajar Malaysia, konon rancangan blueprints pemerintahan Malaysia dalam menyambut Malaysia menjadi sebuah negara maju di tahun 2020 setebal buku ensiklopedia yang jumlah ribuan tumpukan buku yang mencakup rancangan persiapan di segala aspek kehidupan. Malaysia menyosong masa depan dengan penuh perencanaan.

Banyak alasan negara-negara maju merasa “keberatan” dengan ketidak mandirian Indonesia dalam menghadapi pelbagai permasalahan sosial, bagaimanapun sebagai komunitas internasional yang terikat dengan piagam kemanusiaan PBB, negara-negara lain mempunyai komitmen sosial (social compassion) merasa tergugah terhadap masalah krusial kependudukan yang dihadapi Indonesia, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, terorisme, ataupun musibah bencana alam yang kerap terjadi. Indonesia secara terus menerus mengharapkan ulur tangan dari beberapa negara donatur.

Ketidakmampuan bangsa Indonesia dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut, bukanlah disebabkan oleh sumber daya alam yang minim ―sumber daya alam yang disebut-sebut melimpah dalam berbagai wacana, melainkan pemamfaatan tepat guna yang tidak yang tidak bersinergi dengan sumber daya manusia dan dekadensi moral semakin menuju kedalam kebobrokan mental yang korup. Korupsi disertai ketamakan sisa peninggalan jaman feodal menghantui setiap manusia yang mempunyai kedudukan penting dalam instansi kepemerintahan, mereka mempunyai kepentingan; kekayaan tanpa kerja keras, sebagai dosa sosial yang termaklumi.

Bagaimana pun, rakyat tidak dapat memilih, mereka tidak mampu, lumpuh dan tak berdaya digerogoti praktek kepentingan uang (baca: kebutuhan hidup) karena orang-orang yang berkepentingan dalam sistem pemerintahan masihlah orang-orang lama yang berkecimpung dalam lingkaran setan, hidup tanpa perlu kerja keras. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sempat mendengung kencang di awal-awal kejatuhan Soeharto kini mulai redup atau barangkali bakal hilang seiring dengan makin dekatnya pemilu di tahun 2009 ini.

Dilupakan orang, terbuai dengan isi kampanye yang muluk atau rintikan air mata sesaat yang disambut dengan yel-yel simpatisan. Kegagalan dalam pemerintahan sebelumnya sebagai politisi busuk akan mudah dilupakan orang hanya dengan lip service yang terdengar indah dilapangan-lapangan terbuka di masa kampanye pemilihan mendatang ini. Akankah kita menutup mata dengan kembali memilih mereka-mereka yang telah gagal untuk menjadi pemimpin bangsa ini? Masa depan Indonesia sangat tergantung pada hasil pemilu 2009, apakah kita akan semakin jatuh merosot sebagai bangsa lemah atau menjadi sebuah bangsa yang besar, bukan sebagai doktrin dalam buku-buku cerita anak-anak penerus bangsa sebagai dongeng masa lalu atau mimpi, melainkan suatu bangsa yang nyata disegani dan dihormati oleh bangsa lain dari sekarang sampai masa mendatang.  [PD/Ayed]


 


 

 

Comment Script

Comments

bagaimana menurut penulis, apakah calon presiden saat ini seperti Megawati, SBY dan JK adalah pemimpin yang bermoral? APakah kita harus memilih salah satu diantara mereka?
#1 - Ayam Buruk - 06/27/2009 - 15:29
Name
E-mail (Will not appear online)
Homepage
Title
Comment
;-) :-) :-D :-( :-o >-( B-) :oops: :-[] :-P
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184