|
Ketika
Samuel Huntington membuat tesis bahwa benturan peradaban (clash civilization)
di masa yang akan datang melibatkan Barat versus Islam, dalam hati saya ada
‘rasa senang’ sekaligus sebuah pertanyaan. Tesis tersebut sekurang-kurangnya
menunjukkan secara potensial komunitas Muslim masih diperhitungkan dalam
percaturan global. Namun, dalam hati saya juga bertanya: Betulkah komunitas
Muslim benar-benar mampu menjadi umat yang terbaik dan memiliki kekuatan untuk
menandingi kekuatan Barat?
Kondisi Komunitas Muslim saat ini
Komunitas Muslim sering digambarkan sebagai komunitas besar yang “patut dianggap
remeh” dan “punya masalah rendah diri”. Komunitas Muslim sering digambarkan
sebagai “berada dalam barisan paling belakang di antara berbagai umat” atau
“berada di anak tangga terbawah bangsa-bangsa”. Dengan komunitas yang jumlahnya
melebihi satu milyar, ternyata komunitas Muslim tidak tampak kekuatannya dan
bahkan sering menjadi bulan-bulanan oleh sejumlah bangsa/komunitas lain. Contoh
klasik kelemahan komunitas Muslim adalah pertarungan klasik antara Palestina
yang mayoritas Muslim dan Israel yang mayoritas Yahudi. Israel hanya sebuah
negara kecil di antara puluhan negara Arab yang berideologi sama dengan
Palestina. Sayangnya bangsa Arab, Persia dan Negroid yang mengelilingi Palestina
tidak punya kekuatan untuk menandingi Israel selama berpuluh-puluh tahun. Kasus
lain, yaitu Afghanistan dan Irak, semakin menegaskan kelemahan umat Islam.
Kelemahan komunitas Muslim ini boleh jadi bersumber dari psiko-sosio-kultural
yang ada dalam diri komunitas Muslim. Rasa percaya diri yang rendah disinyalir
sebagai salah satu hal yang menjadikan kekuatan komunitas Muslim tidak tampak.
Kasus Indonesia dan Arab Saudi adalah contohnya. Indonesia adalah negara dengan
komunitas muslim terbesar di dunia. Namun, arah ekonomi dan politiknya sangat
kental dibayang-bayangi oleh kepentingan Amerika Serikat. Arab Saudi adalah
negara dengan kekuatan ekonomi yang luar biasa, namun politik luar negerinya
lebih banyak dikendalikan oleh Washington. Muncul pertanyaan: mengapa tidak
berdiri tegak sebagaimana Republik Islam Iran? Ya, Iran adalah satu negara di
antara puluhan negara Muslim yang tampak kepercayaan dirinya. Bila bangsa-bangsa
Muslim memiliki kepercayaan diri yang kuat, maka kita akan tumbuh bersama
menjadi umat terbaik.
Pada kesempatan ini mari kita renungkan kekuatan potensial komunitas muslim yang
dapat mengantarnya menjadi umat terbaik?
Kekuatan Potensial Komunitas Muslim
Saya tentu saja memiliki keyakinan akan hadirnya dan berkembangnya kekuatan
Muslim di masa-masa yang akan datang. Saya teringat dengan pernyataan Syaikh
Muhammad Al-Ghazali, mantan rektor Universitas Al-Azhar, yang mengatakan bahwa
pada akhir zaman nanti akan lahir peradaban keagamaan di mana Islam (dan
komunitas Muslim) akan berdiri pada barisan paling depan sebagai pewaris dunia.
Lebih lanjut al-Ghazali mengungkapkan bahwa sebelum dunia berakhir peradaban
Islam ini kelak akan memimpin dunia. Pandangan Syaikh Muhammad al-Ghazali ini
didasari oleh QS Ali Imran, 3: 55.
Bila komunitas Muslim semakin menghayati kekuatan ajaran agamanya, maka potensi
kebangkitannya akan memancar. Bunga-bunga kebangkitan muslim akan mekar. Apa
potensi kekuatan komunitas Muslim yang harus dibangkitkan?
Pertama: keyakinan.
Setiap Muslim mempercayai bahwa penentu segala sesuatu adalah
Allah ‘Azza wa jalla. Kalau kita yakin bahwa langkah-langkah kita
diridhai Allah, maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Keyakinan kepada
pertolongan Allah akan memantapkan komunitas Muslim maupun individu Muslim untuk
menatap masa depan dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi. Ketika Shalahuddin
al-Ayyubi memimpin umat Islam dalam perang Salib, keyakinan akan pertolongan
Allah-lah yang membantu kemenangannya. Ketika Bung Tomo memimpin gerakan 10
November, pekik keyakinan Allah-lah yang menguatkan langkah-langkah pahlawan
Muslim Indonesia.
Kedua: konsep ummah.
Berbeda dengan ahli sosiologi yang mempercayai mempercayai
ikatan darah (gemeinschaft by blood) sebagai ikatan dalam komunitas yang
paling utama, Ismail Raji al-Faruqi mempercayai ideologi sebagai perekat pokok
komunitas Muslim. Ideologi inilah yang menjadi penghubung antar umat Islam di
berbagai belahan dunia. Komunitas Muslim memiliki kesadaran sebagai ummah. Di
manapun Muslim berada, mereka adalah saudara. Muslim adalah saudara bagi Muslim
yang lain, demikian salah satu ungkapan dalam al-Qur’an. Ketika orang-orang
Bosnia Herzegovina menjadi objek kekejaman orang-orang Serbia, komunitas Muslim
yang berada di berbagai belahan dunia lain merasakan sakit atas penderitaan yang
dialami saudaranya. Ketika muslim Afghanistan dan Irak menjadi sasaran
kebrutalan tentara Amerika, muslim yang lain berempati dengan
saudara-saudaranaya ini.
Ketiga: prinsip kesetaraan dan penghargaan kepada
multikultur.
Salah satu kekuatan komunitas Muslim adalah prinsip
kesetaraan atau kesamaan yang diterapkannya dalam pergaulan sosial dengan
umat-umat lain. Perlakuan yang setara dengan komunitas lain menjadikan komunitas
muslim sebagai perekat. Dengan prinsip ini, komunitas Muslim tidak memiliki
jarak dengan komunitas lain. Salah satu prinsip kesetaraan ini dipraktikkan
komunitas muslim di India. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti Muslim
India N. Hasnain (M.G. Husain, 2003) menunjukkan bahwa komunitas Hindu Terdaftar
(Hindu yang berasal dari kalangan kasta bawah) lebih cenderung bersahabat dengan
komunitas Muslim India dan memandang komunitas Muslim dengan cara pandang yang
lebih baik dibanding dengan komunitas Hindu Kasta Formal (kasta tinggi dalam
agama Hindu).
Mengapa demikian? Tidak lain adalah karena diaktualisasikannya prinsip
kesetaraan. Saya percaya bila prinsip penghargaan terhadap sesama ini
dikembangkan oleh komunitas Muslim, maka ini akan menumbuhkan respek (penghormatan)
dari komunitas lain. Semua itu akan memperlancar komunitas dalam pergaulan antar
individu hingga pergaulan global.
Pada giliran berikutnya, penghargaan terhadap sesama memungkinkan berkembangnya
penghargaan pada keragaman kultur atau multikultur. Salah satu ciri muslim
adalah toleran terhadap ajaran agama lain. Pernyataan al-Qur’an ”lakum
diinukum wa liyadiin” (untukkmu agamamamu dan untukku agamaku). Umat Islam
sudah diajari dan belajar dari orang-orang penting dari masa lalu, yang intinya
adalah penghargaan terhadap keragaman manusia dari berbagai hal, seperti ras,
budaya, dan sebagainya.
Kalau komunitas politik Muslim Indonesia mengharapkan dapat diterima secara baik
oleh komunitas non-Muslim, maka penghargaan terhadap multikultur ini adalah
salah satu syarat kesuksesannya.
Keempat: Sinergi dan Kompetisi.
Kekuatan potensial lain dalam diri Muslim adalah hidupnya
kompetisi dan sinergi sekaligus. Dua kata kunci seperti dua kata yang berlawanan,
namun ia bisa jadi dua kata yang berjalin berkelindan. Islam mengajarkan kepada
setiap Muslim untuk ”fastabiqul khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan). Ini
mengisyaratkan ajaran kompetisi diperkenankan oleh Islam. Kalau komunitas Muslim
menghidupkan kompetisi, maka ini akan memacu munculnya karya-karya dan
putra-putra terbaik dari kalangan Muslim. Bila prinsip ini diterapkan dalam
politik misalnya, maka komunitas muslim hendaknya memilih calon yang terbaik
sebagai calon wakil rakyat.
Sekalipun demikian, komunitas muslim juga hendaknya mementingkan sinergi.
Ungkapam Alloh ’Azza wa jalla agar kita ”bekerjasama dalam kebaikan dan
taqwa” mengisyaratkan pentingnya bekerjasama satu dengan yang lain. Dulu, Amirul
Mukminin Umar bin Khattab berhasil mencapai puncak kekhalifahan karena berhasil
mensinergikan sahabat-sahabat terbaik seperti Ali bin Thalib, Utsman bin Affan,
Abdurrahman bin Auf, Thalhah dan Zubair.
Sinergi yang dilakukan tidak hanya terarah kepada sesama Muslim, tapi juga dapat
dijalankan dengan komunitas lain. Di masa lalu ada sebuah nama yang begitu
mencintai Islam, namun kemampuannya bersinergi dengan non-Muslim sangat baik,
yaitu Muhammad Natsir, mantan perdana mentri di awal-awal kemerdekaan Republik
Indonesia. Di zaman moderen ini, ada seorang ilmuwan Muslim yang taat –Prof. Dr.
Abdus Salam-- yang pernah menerima Nobel Fisika, juga memiliki kemampuan
bersinergi yang luar biasa dengan kolega-koleganya dari Eropa dan bagian dunia
lain. Beliau sendiri berasal dari Republik Islam Pakistan.
Kelima: Pengembangan Sifat-sifat Positif
Beberapa sifat positif manusia yang dulu menjadi karakter komunitas Muslim dan
sekarang tampak kurang berkembang adalah keberanian. Setiap komunitas Muslim
mendapat tugas untuk menjadi umat terbaik yang melaksanakan amar maruf, nahi
mungkar dan percaya kepada Alloh. Tugas-tugas di atas dapat dilaksanakan dengan
baik bila komunitas muslim memiliki keberanian. Apa yang ditunjukkan oleh
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam menyikapi sikap arogan Amerika patut
menjadi renungan dan teladan bagi kita. Ia menunjukkan secara meyakinkan
karakter Muslim yang sudah ditunjukkan oleh para sahabat. Pada zaman Nabi ada
sebuah contoh keberanian yang sulit dicari tandingannya sampai saat ini, yaitu
ketika Ali bin Abi Thalib bersedia tidur di tempat tidur Rasulullah saat
Rasulullah meninggalkan rumah untuk berhijrah ke Madinah. Menurut saya,
keberanian adalah salah satu sifat positif yang saat ini tidak terasah dalam
diri Muslim.
Sifat positif lainnya yang sepatutnya dikembangkan adalah mencintai sesama,
memaafkan, murah hati, dan sebagainya.
Kalau sifat-sifat positif ini diimplementasikan oleh komunitas Muslim dengan
sasaran Muslim maupun non-Muslim, maka umat Islam akan menjadi umat yang
berkarakter kuat dan, tidak kurang dari itu, persepsi serta perlakuan dari
komunitas non-Muslim terhadap komunitas Muslim akan lebih positif.
Penutup
Agar umat Islam lebih siap menghadapi globalisasi, maka prinsip yang semestinya
dipegangteguhi adalah rahmatan lil ’alamin. Para Rasul diutus Allah
kepada manusia di dunia ini adalah untuk menghadirkan rahmat (kebaikan) kepada
alam semesta dan isinya ini. Mengapa kita harus siap menghadapi interaksi
global, tidak lain adalah agar ajaran rahmatan lil ’alamin yang
diperintahkan Allah itu dapat berlangsung secara lebih optimal. [FN]
_______
|