|
Pernah
suatu malam Khalifah Umar bin Khattab berjalan menyusuri lorong-lorong kota
Madinah. Bersama seorang pembantunya, Umar hendak melihat keadaan rakyatnya.
Mereka mendapati seorang wanita dan anak-anaknya yang masih kecil duduk
mengitari periuk besar di atas tungku api. Anak-anak itu terlihat menangis. Umar
lalu mendekat dan bertanya, “Apa yang sedang terjadi?”
“Kami sudah
dua hari tidak makan. Kami kedinginan dan kelaparan,” jawab wanita itu. Ia tidak
tahu kalau yang ada di hadapannya itu adalah Khalifah Umar.
“Lalu apa yang ada di dalam periuk itu?”
“Air, agar mereka diam dan tertidur.”
“Apa kau tidak memberi tahu pada Khalifah Umar?”
“Seharusnya dialah yang harus tahu keadaan kami. Dia punya kuda, juga ribuan
pegawai dan tentara. Dia seharusnya tidak boleh tidur nyenyak di rumahnya,
sementara ada rakyatnya seperti kami yang kedinginan dan kelaparan.”
Hati Umar sangat pedih. Umar bergegas pergi mengajak pembantunya menuju ke
gudang penyimpanan gandum. Umar mengambil sekarung gandum dan hendak
memanggulnya. Sang pembantu mencegah, “Jangan, Tuan, biarlah saya saja yang
memanggulnya.”
Umar malah marah dan menghardik, “Apakah kamu juga akan memanggul dosaku di Hari
Kiamat kelak!”
Pembantu itu diam seribu bahasa. Ia lalu membantu Umar menaikkan sekarung gandum
itu ke pundaknya. Umar juga menenteng beberapa liter minyak samin. Kemudian Umar
berjalan tergesa menuju rumah wanita tadi. Umar tidak peduli dengan beratnya
beban dan dinginnya malam.
Sesampainya di tempat tujuan, api yang menggodok periuk itu hampir padam.
Anak-anak yang tadi menangis sudah tertidur. Umar meletakkan karung berisi
gandum itu di tanah. Pun minyak samin yang ditentengnya. Umar lalu memasukkan
beberapa kayu bakar ke dalam tungku, dan meniupnya hingga api itu membesar
kembali. Umar keluar sebentar mencari air lalu menambahkannya ke dalam periuk.
Dengan kedua tangannya, Umar mengambil gandum dan memasukkannya ke dalam periuk.
Begitu mendidih, Umar mengaduknya sampai matang. Umar pun menyuruh wanita itu
membangunkan anak-anaknya untuk makan. Anak-anak yang kelaparan itu bangun dan
makan dengan lahapnya. Setelah itu mereka bermain-main hingga tertidur kembali
dengan nyenyaknya
Apa yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam kisah di atas adalah
bukti kecintaannya kepada rakyat yang dipimpinnya. Umar merepresentasikan
penguasa yang menjunjung tinggi kesederhanaan hidup, kecepatan bertindak dan
tidak pandang bulu terhadap siapa saja yang melakukan kesalahan, serta sikapnya
yang terbuka. Dia telah berhasil membumikan kezuhudan ajaran yang ada dalam
Alquran. Agaknya pribadi Nabi Muhammad SAW terpancar pada dirinya. Dia menjadi
abdi rakyat, bukan abdi kekuasaan. Dia mengabdi kepada kepentingan rakyat, bukan
kepada kepentingan pribadi. Pada pribadi Umarlah nilai-nilai Islam mencuat
laksana mercusuar. Betapa masyarakat kita merindukan sosok pemimpin bangsa
layaknya Umar. Adakah sosok pemimpin kita seperti itu?
Dicari: Sosok Pemimpin Sejati
Pencapaian suatu bangsa tidak akan melampaui kapasitas pemimpinnya. Oleh sebab
itu, sangat penting bagi sebuah bangsa mencari sosok terbaik sebagai pemimpinnya.
Pemimpin terbaik akan menjadi pembimbing langkah-langkah bangsanya. Indonesia ke
depan memerlukan pemimpin yang bukan hanya cerdas dan cakap, melainkan juga juga
arif-bijaksana dan sanggup mengabdikan diri sebesar-besarnya untuk kepentingan
bangsa. Bukan pemimpin yang gemar bersiasat, apalagi hanya pemimpin pemburu
kekuasaan dengan mengorbankan etika dan hajat hidup publik. Bangsa ini sudah
terlalu lelah dengan ulah elite politik dan pemimpin yang gemar merugikan rakyat
dan tidak memberikan harapan. Padahal sejatinya, pemimpin itu harus mampu
menjadi teladan bagi rakyatnya.
Coba kita tengok hajatan lima tahunan negeri ini. Pemilihan presiden memang
masih setahun lagi, namun bursa calon presiden makin menghangat. Partai-partai
politik sudah sibuk menjaring calon-calon pemimpin baru. Akhir oktober lalu,
laporan utama Tempo mengulas hasil jajak pendapat paling aktual versi
berbagai lembaga survei yang masih condong pada Susilo Bambang Yudoyono dan
Megawati Soekarno Putri. Mereka berada di puncak lantaran masih rendahnya
popularitas para figur tandingan, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wiranto,
dan Prabowo Subianto. Dukungan terhadap Yudoyono pada September lalu bahkan
dilaporkan sedikit meningkat ketimbang tiga bulan sebelumnya. Ribuan responden
masih menjagokan dia, walaupun kepuasan mereka terhadap kinerjanya cenderung
merosot.
Namun demikian, rasa apatisme, kekecewaan, dan ketidakpuasan terhadap para
pemimpin bangsa ini sudah makin mengental di tengah-tengah masyarakat. Sikap
pemerintah yang terus membebani rakyat menunjukkan bahwa pemerintahan tidak
berfungsi sebagaimana mestinya. Pemerintah seharusnya menjadi pihak pertama yang
bertanggungjawab untuk menjamin kemaslahatan dan kepentingan rakyat. Kenyataan
itu diperparah oleh sikap aparatur negara yang tidak amanah, korup, dan sering
melakukan penyalahgunaan wewenang. Padahal, pemerintah yang baik tidak bisa
diwujudkan oleh aparatur yang kotor. Alhasil, masyarakat sudah tidak percaya
lagi terhadap para pemimpinnya. Mereka menginginkan calon-calon pemimpin yang
diharapkan mampu membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan.
Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah, ujian, dan tanggung jawab dari
Tuhan. Pelaksanaannya tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat yang
dipimpinnya, melainkan juga kepada Sang Khaliq sebagai pemilik kekuasaan. Karena
itu, pertanggungjawaban kepemimpinan dalam Islam tidak hanya bersifat
horizontal-formal kepada sesama manusia, tetapi juga bersifat vertikal-moral
kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Rasul SAW bersabda, “Seorang
imam (pemimpin) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya; ia akan
dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai dan diridhai oleh rakyatnya.
Begitu juga sebaliknya, ia pun mencintai dan meridhai rakyatnya. Kedua belah
pihak saling membutuhkan untuk membuat sinergi bagi peningkatan ketakwaan di
sisi Allah. Kondisi ini bisa terwujud ketika tidak ada perbedaan tujuan antara
pemimpin dan rakyatnya. Keduanya sama-sama berlomba dalam kebajikan, bukan dalam
kemungkaran. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian
ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka
mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian
ialah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknati
mereka dan mereka pun melaknati kalian.” (HR. Muslim)
Meneladani Kepemimpinan Rasul
Kata orang bijak, belajarlah dari sejarah. Dalam ungkapan yang sangat indah dan
memukau, Thomas Carlyle mengatakan, “The history of the world is but the
biography of great man.” Sejarah tak lebih merupakan kumpulan biografi
orang-orang besar. Kita bisa menemukan sosok pemimpin ideal dalam sejarah Islam
di masa silam. Tentu saja perilaku pemimpin yang paling ideal dijadikan teladan
adalah perilaku yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana dijelaskan
dalam surat Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap
rahmat Allah dan kedatangan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Rasul SAW adalah manusia istimewa. Kepemimpinannya
pun secara pasti berlangsung secara istimewa dan luar biasa. Beliau memimpin
dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau pun bisa tampil sebagai
pemimpin yang gagah berani, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Kepemimpinan
model ini disebut kepemimpinan profetik, yakni kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan sebagaimana nabi dan rasul
melakukannya. Karakteristik kepemimpinan ini terdiri dari empat aspek, yaitu
sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.
Sifat sidiq berpihak pada kebenaran yang datangnya dari Allah, sehingga seluruh
pikiran, perasaan, dan ucapannya selalu konsisten dengan perbuatannya. Sifat amanah berarti dapat dipercaya karena mampu memelihara kepercayaan dan
melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Sifat tabligh berarti memiliki
kemampuan dalam menyampaikan informasi apa adanya serta berani menyatakan
kebenaran dan bersedia mengakui kekeliruan. Adapun sifat fathonah berarti cerdas
yang dibangun dari ketakwaan kepada Tuhan, di mana aktualisasinya pada etos
kerja dan kinerja pemimpin yang berkomitmen pada keunggulan..
Nah, akankah kita terjebak lagi untuk memilih pemimpin yang tidak memenuhi
karakteristik kepemimpinan sebagaimana yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW?
Marilah kita bersama-sama merapatkan barisan serta menyatukan pikiran dan
perasaan untuk berjuang bersama mewujudkan kepemimpinan profetik yang berpegang
teguh kepada Alquran dan Hadis. Mahabenar Allah dalam firman-Nya, “Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul
menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfaal
[8]: 24) [AA]
_______
|
sangat ditunggu pemimpin yang membawa teladan Rasulullah...
tapi mau nunggu smp kapan ya di Indonesia??
pesimis juga kalo dipikir2 yang terlihat orang-orang di pemerintahan kebanyakan cuma janji2 manis di awal yang berakir di tong sampah saja!banyak diperbudak kekuasaan dan kekayaan pribadi atau golongan tertentu...(dalamnya lautan qt bisa ukur tapi dalamnya hati siapa yang tahu)
contoh konkritnya banyak permasalahan2 sosial di sekitar qt yaitu indikator: janda-janda yang harus menghidupi anak-anaknya tanpa suami,menjual anak dengan harga yang tidak seberapa demi untuk makan melanjutkan hidup,itu menunjukkan bhw kemiskinan dan kebodohan masih merajalela di negri kita..bgmna tdk, klo qt terbebas dari kemiskinan dan kebodohan tidak ada lagi anak ditemukan busung lapar, malnutrisi, sampai tenaga kerja indonesia yang dianiaya di negeri orang...seolah pemerintah menutup mata, telinga dan mulut mereka...
aniway..
mencari sosok pemimpin sejati tidak semudah membalik telapak tangan apalagi kalo qt mau mencetaknya...
bagai mencari jarum ditumpukan jerami...