|
Haruskah Menyontek Jadi Budaya?
11/2007 | Fira Friantini
Budaya nyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika
ujian sedang berlangsung. Tak peduli lelaki atau perempuan, tua dan muda,
menyontek seolah menjadi tradisi sebagian dari mereka dalam menyelesaikan
soal-soal dalam ujian. Tujuannnya tak lain adalah untuk mendapatkan nilai sebaik
mungkin.
Membantu Proses Adaptasi Anak pada Awal Sekolah
08/2007 | Yatimah
Penyesuaian diri dalam hubungan dengan lingkungan itu bersifat unik, khas atau
khusus, yakni mempunyai ciri-ciri tersendiri dan tidak ada yang menyamainya.
Tiap penyesuaian kepribadian tidak ada yang sama dan arena itu berbeda dengan
penyesuaian kepribadian yang lain. Walaupun dua kepribadian anak kembar berasal
dari satu telur. Tiap-tiap penyesuaian terarah pada diri sendiri, lingkungan
ataupun kebudayaan
Menumbuhkan Harga Diri pada Anak Didik
08/2007 | Rahmawati
Dengarkan permasalahan yang sedang dihadapinya, biarkanlah siswa itu sendiri
untuk mengambil semua keputusan dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapinya,
bimbinglah dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan perilaku dan sikapnya
bila ia mulai menyusun kerangka solusi (tindakan yang akan dilakukannya) secara
tepat dan benar
Enaknya Duduk di Barisan Depan Kelas!
08/2007 | Pikirdong
Duduk di bagian paling depan berarti kamu telah membangun interaksi dengan
guru. Suatu penelitian menunjukkan bawa siswa yang mempunyai interaksi yang baik
dengan gurunya atau sebaliknya, akan meningkatkan motivasi siswa belajar dan
meningkatkan pemahaman dan ketertarikannya terhadap pelajaran. Tidak hanya itu,
kamu telah memberi kesempatan kepada guru untuk mengenalmu, sehingga guru akan
terus memperhatikan perkembangan kamu, nah sekarang tergantung bagaimana kamu
memperkenalkan dirimu kepada guru tersebut.
Merosotnya Kualitas Pendidikan Kaitannya dengan SDM
Pendidik
08/2007 | Hadiati
Gaji yang kecil terhadap pendidik juga merupakan suatu persoalan tersendiri.
Pasalnya dengan gaji kecil seorang tenaga pendidik kurang maksimal dalam
melaksanakan tugasnya. Sehinga optimalisasi dari kemampuannya baik dari segi
pemanfaatan waktu dan kecerdasan melahirkan ide-ide baru sangat kurang.
Menggunakan Media Untuk Anak Awal Sekolah
06/2007 | Pikirdong
Media digunakan sebagai alat bantu anak didik untuk dapat
mengerti pembelajaran. Penggunaan media juga dapat menumbuhkan ketertarikan
siswa untuk memahami mata pelajaran yang sedang diajarkan. Media juga dapat
digunakan untuk membangkitkan motivasi belajar sehingga siswa dapat mengerti
kegunaannya dalam sehari-hari. Guru haruslah melatihnya terlebih dahulu sebagai
persiapan mengajar di depan anak-anak sebelum memperkenalkan media-media yang
dapat digunakan, tujuannya untuk mempersiapkan konsep yang jelas dan dapat
dimengerti dan dipahami secara mudah oleh anak-anak awal sekolah.
Konsep Kecerdasan
07/2007 | Pikirdong
Gardner menawarkan suatu konsep kecerdasan yang samasekali tidak dapat
dijawab oleh orang-orang yang berpegang bahwa kecerdasan itu bersifat statis,
konsep kecerdasan yang sangat terpaku pada hasil tes IQ yang menggolongkan Anda
cerdas atau tidak. Gardner memberikan suatu alternatif kecerdasan yang lebih
luas daripada sekedar IQ semata. Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan
persiapan untuk emnghadapi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan
hidup. Namun, bahkan IQ yang lebih tinggi pun tidak menjamin kesejahteraan,
gengsi atau kebahagian hidup; sekolah dan budaya kita menitik beratkan pada
kemampuan akademis, mengabaikan kecerdasan emosional.
Menghargai Kesalahan Siswa dengan Penghargaan
08/2004 | Pikirdong
Bila guru menghargai setiap jawaban anak yang salah, maka ia akan merasa
dihargai, harga dirinya menjadi lebih baik, dengan demikian otak dapat
melibatkan secara emosioal dan memungkinkan kerja syaraf secara maksimal dalam
proses belajar anak. Menghargai juga memberi kesempatan buat aank untuk
mengembakan fungsi-fungsi berpikirnya, sehingga meningkatkan keluwesan serta
kefasihan fungsi pikiran anak.
Interaksi Guru Terhadap Proses Belajar Siswa
08/2004 | Pikirdong
Dalam bekerja guru cenderung mengelompokan siswa dalam interaksi yang
berbeda, mereka mengelompokan sebagai "golongan siswa berkemampuan tinggi" yang
mereka anggap sebagai siwa yang cerdas, patuh, tertib, rajin, rapi dan
sebagainya. Interaksi kedua adalah "golongan siswa berkempuan rendah", mereka
adalah yang termasuk siswa yang mempunyai nilai rendah, bandel, pemberontak,
malas, dan sebagainyai.
Memasuki Dunia Siswa: Menjalin Rasa Simpati dan
Pengertian
08/2004 | Pikirdong
Siswa biasanya menciptakan suau bentuk ketidaksukaan, rasa cemas, benci dan
sebagainya bila berhadapan dengan guru-guru yang dianggap tidak bersahabat.
Mereka menyebutnya sebagai "guru killer" atau menyebut dengan istilah tertentu,
efeknya pelajaran yang diajarkan pun dianggap tidak menarik lagi, membosankan,
gairah untuk belajar menjadi lenyap
|