|
Anak-anak
yang merasa, atau dibuat tidak merasa, tidak diterima dan tidak kompeten akan
lambat memulihkan rasa percaya diri dan, akibatnya, kemampuan mereka untuk
memanfaatkan kesempatan belajar diperbesar yang disediakan sekolah tersebut
bahkan mungkin berkurang, dalam kasus ekstrim, rusak dan tidak dapat diperbaiki
lagi (Kajian Gordon Wells, 1986, The Meaning Makers: Children Learning
Language and Using Language o Learn).
Kebanyakan guru-guru berpikir bahwa muridlah yang harus menyukai gurunya, mau
tidak mau, mereka—para murid, harus tunduk dan patuh, mengikuti setiap pelajaran
yang diberikan, mengerjakan semua tugas dan menghormati gurunya. Tuntutan
tersebut merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan oleh siswa sebagai
bentuk kedisplinan.
Kenyataannya hal demikian bukanlah mudah, seandainya tidak ada siswa yang
dikategorikan sebagai siswa nakal, malas, pemberontak, tidak cerdas dan
sebgainya, maka pekerjaan guru akan lebih mudah.
Untuk menciptakan proses belajar-mengajar diperlukan suatu bentuk kerjasama team
antara Anda sebagai guru dan siswa. Untuk menyukseskan proses tersebut Anda
harus menarik keterlibatan siswa, guru harus membangun hubungan yaitu dengan
menjalin simpati dan saling pengertian. Hubungan membangun jembatan menuju
kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia-baru siswa, mengetahui
minat mereka, berbagi kesuksesan dengan mereka dan berbicara dengan halus dengan
mereka. Membina hubungan bisa memudahkan Anda melibatkan siswa, memudahkan Anda
mengelola kelas, memperpanjang fokus berlajar dan meningkatkan kegembiraan tidak
hanya bagi siswa juga bagi Anda sendiri.
Membuka komunikasi antara guru dan siswa yang tidak sekedar hanya sebagai
basa-basi semata, tetapi secara jujur dan tulus, menciptakan kegembiraan dan
mengubah sikap negatif siswa dan terpenting adalah menyiapkan siswa untuk terus
belajar.
Siswa biasanya menciptakan suau bentuk ketidaksukaan, rasa cemas, benci dan
sebagainya bila berhadapan dengan guru-guru yang dianggap tidak bersahabat.
Mereka menyebutnya sebagai "guru killer" atau menyebut dengan istilah tertentu,
efeknya pelajaran yang diajarkan pun dianggap tidak menarik lagi, membosankan,
gairah untuk belajar menjadi lenyap.
Tanggapan dan interaksi guru terhadap siswa sangat berpengaruh terhadap
kelanjutan proses belajar anak, bila guru menghargai setiap usaha dan keberadaan
siswa sebagai manusia yang sederajat maka akan menjadi umpan balik yang positif
untuk kelangsungan belajar siswa.
Pengalaman-pengalaman perlakuan guru yang tidak menyenangkan, akan terus
disimpan dalam memori otak anak sebagai cambuk yang menghambat otaknya untuk
berprestasi. Otak akan menghambat pikiran dan sikap untuk tidak akan melakukan
hal-hal yang dianggap tidak menyenangkan, "tidak, tidak akan aku lakukan lagi
hal-hal bodoh seperti itu" dan memori ketidaksenangan ini akan terus disimpan
sampai waktu tertentu seiring dengan waktu pembelajaran.
Tidak terlambat bagi Anda untuk mengubah sikap Anda, memperlakukan siswa-siswa
Anda menjadi lebih baik dan lebih dihargai, bila Anda dulunya tidak pernah
tersenyum sampai akhir semester, saatnya Anda mengubahnya, perhatikan perubahan
reaksi siswa-siswa Anda, semuanya akan lebih senang mengikuti pelajaran Anda.
Tidak ada lagi kata pelajaran yang membosankan, semuanya adalah menyenangkan.
Membangun Hubungan dengan Siswa
Perlakukan siswa sebagai manusia yang sederajat
Mengetahui apa yang disukai siswa, cara berpikir mereka, dan perasaan mereka
mengenai hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.
Bayangkan apa yang mereka katakan pada diri sendiri, mengenai dirinya sendiri
Ketahuilah apa yang menghambat mereka memperoleh hal yang benar-benar mereka
inginkan, jika Anda tidak tahu tanyakanlah.
Berbicaralah jujur dengan mereka dengan cara yang membuat mereka mendengarkannya
dengan jelas dan halus
Bersenang-senanglah dengan mereka.
One Step Behind
Tetap
tersenyum pada siapapun
Tidak ada
siswa yang spesial sebagai siswa cerdas atau tidak, semuanya mempunyai
kesempatan yang sama untuk belajar.
Bersikap
adil pada semua siswa.
Berbicaralah
secara halus tanpa intonasi yang dikeraskan seakan-akan siswa tidak dapat
mendengar perkataan Anda.
Bersikap
ramah pada setiap siswa
Berusahalah
mengenal tentang sifat dan perilaku mereka.
Sapalah
siswa dengan menyebut namanya
Berilah
waktu dan kesempatan untuk mereka berbicara tentang keinginan dan pikiran mereka.
Gunakan
waktu senggang untuk mengobrol dengan mereka
Bersenang-senanglah
dengan mereka
Dengarkanlah
dengan empati setiap keluhan yang menghambat keinginan-keinginan mereka,
doronglah mereka dengan semangat.
Jangan
menertawakan siswa yang melakukan kesalahan di kelas, berilah semangat dan
pujian atas keberaniannya yang telah berusaha menjawab atau berbicara di depan
kelas
Menjadi guru pintar dan cemerlang? [PD/ayed]
___________________
|