|
Saat Anda
berdiri dalam kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid Anda tentang mata
pelajaran, tentunya Anda berharap murid antusias dengan pelajaran yang Anda
terangkan. Anda menatap mata siswa satu persatu dan memperkirakan kemampuan
mereka dalam menangkap bahan pelajaran yang Anda berikan.
Anda menatap Any yang Anda anggap cukup cerdas, tentu ia dapat menguasai
pelajaran ini dengan mudah, ia akan mudah menguasai soal-soal yang akan
diberikan, sementara di sudut kelas Andy menatap gurunya seakan mengerti dengan
apa diajarkan, ia berusaha bersikap sewajarnya, ketika Anda menatap ke sudut
kelas, Andy menundukkan kepalanya dan berpura-pura mencatat bahan pelajaran
diberikan.
Sembilan dari sepuluh guru mengatakan bahwa mereka sering mengingat dan
memperkirakan kegagalan siswa hanya dengan mengingat sikap siswa di masa lalunya,
dan hasilnya sesuai dengan ramalan mereka. Apakah pandangan guru tersebut
berpengaruhi terhadap prestasi dan citra diri siswa tersebut?
Dalam bekerja guru cenderung mengelompokan siswa dalam interaksi yang berbeda,
mereka mengelompokan sebagai "golongan siswa berkemampuan tinggi" yang mereka
anggap sebagai siwa yang cerdas, patuh, tertib, rajin, rapi dan sebagainya.
Interaksi kedua adalah "golongan siswa berkempuan rendah", mereka adalah yang
termasuk siswa yang mempunyai nilai rendah, bandel, pemberontak, malas, dan
sebagainya.
Martin Seligman, Psikolog dari Universitas Pennsylvania menemukan bahwa setiap
sebagian orang bereaksi lebih sensitif terhadap prasangka. Dalam ekspreimennya
ia menguji sekelompok perenang untuk menentukan tingkat optimisme dan pesimisme
pribadi mereka. Perenang yang dikelompokan sebagai perenang yang memiliki
pesimise diberikan catatan rekor renang palsu yang sengaja dibuat buruk,
ternyata akan memberikan umpan balik yang sama pula, catatan waktu yang mereka
peroleh semakin buruk dan ini berbalik dengan perenang yang optimis, mereka
memberikan umpan balik negatif, prestasi mereka terus membaik.
|
Interaksi guru terhadap siswa
|
|
Siswa berkemampuan tinggi
|
|
Siswa berkemampuan rendah |
|
-Cenderung lebih murah senyum |
|
-Cenderung berbicara lebih keras |
|
-Lebih banyak ngobrol |
|
-Ngobrol seperlunya |
|
-Akrab |
|
-Jarang tersenyum |
|
-Berbicara secara intelektual |
|
-Berbicara lambat |
|
-Humoris |
|
-Instruksional |
|
-Bertindak lebih matang |
|
-Otoriter |
|
-Menggunakan kosakata yang
kompleks |
|
-Menggunakan kalimat mentah |
|
|
|
|
|
Keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar dan
berprestasi merupakan hal yang penting diperhatikan. Aspek-aspek teladan mental
guru sangat berpengaruh terhadap iklim belajar siswa. Siswa menangkap pandangan
penilaian guru terhadap dirinya lebih cepat dan akurat dibandingkan menangkap
pelajaran yang diterangkan oleh gurunya.
Saat siswa mendapatkan penilaian negatif dari gurunya, otak terasa terancam oleh
tekanan-tekanan tersebut, kapasitas syaraf untuk berpikir rasional mengecil.
Otak "dibajak" secara emosional menjadi mode bertempur atau kabur [Inilah yang
disebut siswa sebagai pelajaran yang tidak sukai, membosankan, menakutkan dan
sebagainya], akibatnya otak tidak dapat mencerna lebih baik, Higher Order
Thinking Skills. Fenomena ini sering disebut dengan downshifting yakni tanggapan
psikologis yang dapat menghentikan proses belajar saat itu dan sesudahnya.
Untunglah otak juga dapat melakukan sebaliknya, dengan tekanan positif dan
supportif, dikenal dengan eustress, otak dapat melibatkan secara emosioal dan
memungkinkan kerja syaraf secara maksimal dalam proses belajar anak. Kuncinya
adalah membangun ikatan emosional dengan menciptakan kesenangan belajar,
menjalinkan hubungan antara guru dan siswa yang lebih akrab dan ramah dan
menyingkirkan ancaman-ancaman yang dapat mempengaruhi suasana belajar.
Studi-studi menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya
memuaskan, menantang, hubungan yang ramah antara guru dan siswa, dan mempunyai
kesempatan yang sama untuk membuat keputusan. Bila demikian siswa pun akan
tertarik melakukan hal-hal secara sukarela yang berhubungan dengan bahan
pelajaran. Disamping itu, ikatan emosi juga mempengaruhi memori dan ingatan
mereka akan bahan-bahan yang dipelajari. Seperti yang dikatakan oleh ilmuwan
syaraf otak Joseph LeDoux;
... perangsangan amigdala agaknya lebih kuat mematrikan
kejadian dengan perangsangan emosional dalam memori.... Semakin kuat rangsangan
amigdala, semakin kuat pula pematrikan dalam memori (Joseph LeDoux, 1994,
Emotion, Memory and the Brain)
Untuk para guru, berlatihlah untuk mengubah pandangan Anda
terhadap siswa, tidak ada siswa yang dapat dikategorikan dalam stage tertentu
sebagai siswa cerdas atau tidak cerdas, semua siswa mempunyai kesempatan yang
sama untuk berprestasi, ubahlah cara pandang Anda dengan membayangkan angka
sempurna pada setiap kepala siswa seolah-olah mereka adalah semua murid top
generasi Einstein-Einstein baru yang akan Anda poles... dan perhatikan perbedaan
yang terjadi [PD/ayed]
___________________
|