|
Tak dapat
dipungkiri bahwa mutu pendidikan saat ini di Aceh pada umumnya dan Indonesia
secara keseluruhan masih jauh, dari yang diharapkan. Hal itu dapat diketahui
dari anjloknya kelulusan Ujian Akhir Nasional (UAN) di beberapa sekolah. Malah
presentase ketidaklulusan lebih besar bila dibandingkan dengan kelulusan
Hal ini merupakan cerminan dari kegagalan proses pendidikan yang selama ini
dijalankan. Walaupun tidak ada bukti yang konkret tentang kegagalan tersebut,
namun kenyataan ini harus menjadi perhatian kita semua.
Jika ditelusuri dan dikaji secara umum, merosotnya pendidikan di Indonesia ada
beberapa faktor penting baik berupa teknis dan persoalan karakter sosial lainnya
antara lain sebagai berikut:
Gaji Kecil
Gaji yang kecil terhadap pendidik juga merupakan suatu persoalan tersendiri.
Pasalnya dengan gaji kecil seorang tenaga pendidik kurang maksimal dalam
melaksanakan tugasnya. Sehinga optimalisasi dari kemampuannya baik dari segi
pemanfaatan waktu dan kecerdasan melahirkan ide-ide baru sangat kurang.
Tentu hal ini menjadi efek yang serius dalam dunia pendidikan, bila tenaga
pendidiknya tidak berkonsentrasi pada bidang pekerjaannya. Jika kita runut
kembali permasalahan gaji guru yang kecil juga merupakan salah satu faktor besar
terhadap kemunduran pendidikan karena menyangkut masalah kesejahteraan.
Mengapa banyak yang tidak mau menjadi seorang guru? Pertanyaan ini merupakan hal
yang sangat klasik namun sangat mudah jawabannya; karena gaji guru kecil
sehingga tidak menjamin masa depan. Sekaligus penghargaan terhadap profesi guru
juga masih kalah dibandingkan dengan profesi dokter, pengacara atau profesi
lainnya yang keren.
Karena banyaknya lulusan SMU yang berkualitas dan mempunyai kecerdasan emosional
lebih memilih menempuh disiplin ilmu dibidang lain daripada menjadi guru. Karena
persoalan tadi alhasil tenaga guru yang berpotensi sangat minim sekali.
Salah satu upaya dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan kedepan pemerintah
harus juga menaikkan gaji guru sebagai upaya memotivasi profesi yang dijalankan
oleh seorang guru. Sebutan pahlawan tanpa tanda jasa saja tidak cukup dalam
mendongkrak motivasi pendidik.
Kuliah Pelarian
Sejumlah mahasiswa yang kuliah pada disiplin ilmu keguruan mengatakan bahwa
kuliah dibidang kependidikan bukanlah tujuannya, hanya karena keterpaksaan baik
dari tekanan orang tua maupun tekanan karena mudahnya mendapat pekerjaan saja.
Jarang dibarengi dengan bakat dan kecintaan terhadap profesi ini. Akibatnya,
selama menempuh pendidikan di keguruan kurang memahami mata kuliah yang
diberikan dosen dan juga sangat minim aplikasinya dalam sehari-hari
Selain itu dengan dibukanya program Akta IV pada beberapa perguruan tinggi
secara tidak langsung telah membuka peluang bagi sarjana non kependidikan untuk
terjun kedalam dunia pendidikan. Hal ini sangat tidak efektif bahkan,
kemampuannya jauh sekali dibandingkan dengan mereka yang sarjana khusus ilmu
kependidikan yang lebih menguasai persoalan dalam tata cara mendidik.
Sarjana non kependidikan yang mengambil program Akta IV hanya ingin mendapat
legalisasi profesi guru saja yang disebabkan sangat susah diterima apabila tidak
ada ijazah Akta IV tersebut. Ini juga merupakan salah satu kemunduran dalam
dunia pendidikan. Karena yang mendidik bukan orang yang menguasai bidangnya.
Jelas itu merupakan kesalahan pemerintah.
Nepotisme Penerimaan Guru
Kita tidak melangkah jauh terhadap penerimaan guru PNS namun kita coba lirik
kenyataan yang sering terlihat bahwa terkadang penerimaan guru untuk tenaga
honorer banyak yang berkaitan sanak famili. Dimana ada juga yang diterima
menjadi guru honor, malah bukan lulusan kependidikan baik jenjang D2 maupun S1.
Hal itu sering terlihat di sekolah-sekolah yang ada di daerah. Jika ada sanak
familinya di suatu sekolah maka secara tidak langsung diikuti oleh saudaranya
yang lain walaupun bukan dari disiplin ilmu kependidikan. Bahkan hanya tamatan
SMU sudah dibolehkan mengajar sedangkan yang lulusan pendidikan keguruan tidak
digunakan.
Pengalaman ini didapat dari beberapa lulusan ilmu kependidikan yang sulit
diterima pada suatu sekolah untuk mengajar disebabkan tidak adanya orang dekat
di sekolah itu. Bahkan pengamatan pada beberapa sekolah sejumlah tenaga honorer
bertalian saudara dengan orang kuat di lembaga kependidikan.
Jika hal ini terus terjadi maka kita jangan pernah bermimpi paradigma dan wajah
pendidikan di negeri akan berubah. Jika beberapa faktor penyebab kegagalan
pendidikan itu telah diubah, Insyaallah, wajah pendidikan di negeri ini akan
berubah dan bermutu serta sejajar dengan kualitas pendidikan di negara lain [Hadiati]
___________________
|