Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 

Pendidikan

Artikel psikologi mengenai  mengenai dunia pendidikan.

 
     
 

Menumbuhkan Harga Diri pada Anak Didik


Artikel Pendidikan | 08/2007 | Rahmawati | Pendidikan

 
 

Menumbuhkan Harga Diri pada Anak Didik

© Agustus 2007

Penulis: Hadiati

Rahmawati adalah lulusan PGMI STAIN Malikussaleh Lhokseumawe.

 
 


Tugas seorang guru bukanlah semata-mata untuk mengajar atau memberikan materi kepada anak didiknya, tetapi guru juga bertugas untuk mendidik anak didiknya menjadi lebih baik dalam segala hal, baik itu tingkah lakunya, akhlaknya, maupun untuk menumbuhkan rasa harga dirinya.

 

 


 

Untuk menumbuhkan rasa harga diri pada anak didik, guru harus memberikan kesempatan pada didiknya:


1. Anak didik diperlakukan secara hormat
Guru tidak memotong pembicaraannya ketika ia sedang memberikan pendapat dan jika pendapatnya itu terdengar aneh, guru juga tidak boleh mencela atau mengatakan pendapatnya itu salah

2. Siswa mempunyai perasaan sendiri untuk mengungkapkan perasaannya.
Anak didik berhak menyatakan nyaman atau tidaknya ketika proses belajar sedang berlangsumg, misalnya ia berhak untuk mengutarakan bahwa ia belum paham dengan apa yang telah dijelaskan oleh gurunya atau penggunaan kalimat yang sulit dimengerti oleh si anak didik.

3. Didengarkan dan tidak dianggap remeh
Ketika anak didik mengeluarkan pendapatnya, dia ingin didengarkan daan tidak dianggap remeh hanya karena dia adalah seorang anak kecil.

4. Memutuskan apa yang penting baginya.
Siswa berhak memutuskan sesuatu yang menurutnya itu penting baginya dan guru tidak boleh melarangnya. Guru haruslah memberikan kesempatan baginya untuk melakukan yang terbaik bagi dirinya sendiri.

5. Belajar dari kesalahannya.
Bila siswa mendapat nilai jelek, guru tidaklah harus memberikan hukuman, melainkan memberi kesempatan bagi sang anak untuk memperbaiki nilainya dikemudian hari.

6. Mengambil tanggung jawab atas pilihannya.
Biasanya siswa-siswa yang belajar pada kelas akhir, diminimkan kegiatan ekstrakurikuler dengan tujuan untuk memusatkan perhatian dan konsentrasi menjelang ujian akhir, akan tetapi guru tidaklah boleh membatasi bila ada beberapa siswa yang tetap berkeinginan untuk mengambil kegiatan lain di luar jam sekolah. Siswa harus bertanggung jawab dengan apa yang telah menjadi pilihannya dan menganggung dampak resiko dengan semua pilihannya.

7. Beri kesempatan untuk memecahkan masalah dengan keputusannya sendiri.
Dengarkan permasalahan yang sedang dihadapinya, biarkanlah siswa itu sendiri untuk mengambil semua keputusan dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapinya, bimbinglah dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan perilaku dan sikapnya bila ia mulai menyusun kerangka solusi (tindakan yang akan dilakukannya) secara tepat dan benar. [Rahmawati]

 

 

___________________


 

 

Comment Script

Comments

Name
E-mail (Will not appear online)
Homepage
Title
Comment
;-) :-) :-D :-( :-o >-( B-) :oops: :-[] :-P
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184