|
Budaya
nyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian
sedang berlangsung. Tak peduli lelaki atau perempuan, tua dan muda, menyontek
seolah menjadi tradisi sebagian dari mereka dalam menyelesaikan soal-soal dalam
ujian. Tujuannnya tak lain adalah untuk mendapatkan nilai sebaik mungkin.
 |
|
| |
|
|
Mencontek. Sebuah laporan
menyebutkan bahwa mahasiswa di India terkenal dengan budaya mencontek,
bagaimana dengan Indonesia? |
|
| |
|
Pelbagai macam cara kemudian dilakukan, misalnya dengan bertanya ke teman
kiri-kanan, muka-belakang. Cara ini sudah sangat lazim dilakukan. Tapi tentunya
akan menjadi tidak efektif bagi mereka yang pendengarannya yang rada-rada minus.
Kalau mau ngasih tau dengan suara keras, sudah pasti kena tegur sama pengawas
ujian. Apalagi yang punya mata rabun, kalau mau melihat tulisan teman pasti
sulit banget. Bisa-bisa malah disuruh keluar oleh pengawas. Kacau khan untuk
yang mau memberi contekan, sudah belajar semalaman, taunya malah enggak
kelar menjawab soal gara-gara kasihan sama teman.
Ada lagi trik mencontek yaitu dengan membuat krepekan lalu diumpetin di berbagai
tempat seperti di lipatan rok, dalam saku, dan dibalik baju, dan sebagainya
supaya enggak ketahuan. Lalu saat pengawas lengah, dengan sigap mereka
segera mengeluarkan "kertas-kertas fortuna" dan sret sret sret jawaban
yang diperlukan langsung berpindah ke lembar jawaban mereka. Nah, ada yang lebih
gawat lagi yaitu saling barter lembar jawaban. Alhasil, rata-rata jawaban jadi
mirip semua (yah, namanya saja nyontek). Yang paling canggih lagi, ada lagi yang
pakai sms untuk nyontek lho!
Banyak faktor yang mendorong seseorang menyontek. Salah satunya karena kondisi
otak yang sulit diajak kompromi untuk mengingat rumus-rumus, macam-macam teori
dan sebagainya. Awalnya mereka sudah berusaha belajar, tapi karena dikebut malah
jadi lupa semua. Gimana enggak, dalam semalam harus belajar untuk dua
sampai tiga pelajaran yang catatannya banyak banget. Ketimbang enggak bisa
menjawab, mereka membuat catatan-catatan mini yang kemudian dipergunakan saat
kondisi mendesak sebagai antisipasi mengatasi kelupaan.
Pernah seorang mahasiswa ditanya tentang hal menyontek tersebut. "Saya nyontek
cuma kalau ada poin-poin yang enggak ingat. Jadi dengan catatan kecil tersebut
akan mudah terlacak. Enggak semua dilihat kok" begitu pengakuannya. Benarkah
demikian? Ladang emas sudah depan mata, masa sih tega dilepaskan. Biasanya
nih kalau sudah melihat sedikit pasti jadi kepingin lagi. Akhirnya jiplak
abis deh.
Ada juga menyontek karena sudah jadi kebiasaan. Pertama atas dasar coba-coba.
Setelah dijalani, eh ternyata asyik juga tuh. Sebenarnya mereka
itu bisa menyelesaikan soal-soal ujian tanpa bantuan lain. Namun karena sudah
biasa ya jadi enggak enak aja kalau enggak ngintipin si 'savior' alias
gopekan. Kaya ada something missing gitu. Mereka jadi merasa enggak pe-de
sama kemampuan sendiri. Kalau soal ujiannya dibuat dalam bentuk penalaran, apa
enggak blingsatan tuh. Sudah capek bikin resep, lembar jawaban
masih juga kosong.
Padahal, kalau kita mau menyadari sebenarnya kita sudah merugikan diri sendiri
dengan aksi nyontek tersebut. Tuhan memerintahkan kita membaca dan terus
menggali ilmu pengetahuan, tapi kita enggak mau melakukannya. Alasannya
karena otak tak seencer Rita atau Yudi, sehingga pada akhirnya di ambillah jalan
pintas yaitu dengan menyontek.
Disamping itu, kita juga sudah menzalimi orang lain. Lho, kok bisa? Ya iyalah,
dengan menyontek kita sudah menghilangkan kesempatan orang-orang yang tidak
menyontek untuk mendapatkan nilai yang sesuai dengan kerja kerasnya selama ini.
Biasanya kita cuma mampu mendapatkan nilai C, tapi lantaran menyontek bisa
mendongkrak nilai menjadi B atau malah mendapat A. Hal itu tentu berdampak buruk
bagi teman-teman yang tidak menyontek. Kita mendapatkan nilai bagus dengan nilai
yang curang.
Kita juga sudah membohongi guru. Mereka sudah tahu batas kemampuan yang kita
miliki, dan agak kaget juga melihat jawaban kita yang cukup perfect.
Karena mereka tidak mempunyai bukti konkrit kalau kita menyontek maka mereka
terpaksa memberikan nilai yang tinggi untuk jawaban tersebut.
Nah, biar enggak disebut generasi penyontek mulai sekarang hindarilah
wabah berbahaya itu. Ayo, kita perangi budaya nyontek dan mari tumbuhkan
minat untuk belajar lebih giat lagi. Say No To Nyontek! [Fira]
___________________
|
cuman.. orang2 indonesia tuh seneng banget sama yang namanya nyontek.. jujur aja aku kalau ulangan juga nyontek
hhe...
gak tau deh.. yang jelas nyontek tuh udah ada sejak jaman dulu..
kalau mau dihilangkan kayaknya... udah gak bisa deh.. kecuali dari diri kita sendiri..
Karen mencontek membuat kita malas untuk berfikir dan membuat kita bodoh.>-(
Mencontek adalah hal yang tidak jujur dalam mengambil kesempatan, sama halnya dengan koruptor yang tidak jujur dalam mengambil materi.>-(
Sebagai WNI yang ingin bangsa Indonesia maju, janganlah mencontek ataupun korupsi!>-(
Dan jangan pula menunjuk koruptor itu korupsi padahal kita juga melakukan hal yang sama dalam hal yang berbeda.>-(
JUJURLAH!
MAKA KITA AKAN MENDAPATKAN HASIL YANG TERBAIK!
Dan saya telah membuktikannya!