|
Dalam
konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara Indonesia
melalui media massa atau melalui kehidupan nyata tentang kekerasan yang
dilakukan orang kecil seperti Ryan hingga para pemimpin politik dan mantan
presiden, akan menjadi ’pelajaran’ bagi mereka, yang menginspirasi mereka untuk
bertindak kekerasan. Tentu saja lingkungan kecil seperti sekolah juga menjadi
lingkungan yang membuat seseorang berbuat kekerasan atau tidak.
Pengantar
Agresivitas di dalam dunia pendidikan yang paling fenomenal mungkin adalah
agresivitas yang dilakukan senior kepada junior di IPDN Bandung. Cliff Muntu
meninggal dunia akibat tendangan bebas ke dada dan pukulan bertubi-tubi ke ulu
hati dari senior-seniornya (www.atmajaya.ac.id).
Namun, agresivitas di dunia pendidikan yang menghebohkan bukan itu saja. Di
kalangan pelajar, agresivitas antar pelajar telah lama menjadi persoalan, salah
satu di antaranya adalah peristiwa tawuran antar pelajar. Sebagai contoh,
puluhan siswa SMK Bhakti sedang nongkrong di kampus Universitas Kritsen
Indonesia (UKI) Jakarta. Tiba-tiba puluhan siswa SMK Penerbangan menyerang
mereka dengan senjata tajam. Akibatnya, seorang siswa menderita luka bacok di
kepala dan pahanya dalam tawuran tersebut (Tempointeraktif, 18 Februari 2007).
Salah satu gejala umum tawuran antar pelajaran yang dapat ditemui dalam
masyarakat adalah agresivitas yang melibatkan siswa SMA dan siswa SMK. Di
Kendari, Sulawesi Tenggara, pelajar antara dua SMA dan SMK saling kejar-kejaran
di jalanan, Jumat (7/9/2007). Pelajar yang terlibat tawuran adalah siswa
SMA Negeri 4 dan siswa SMK (STM) Negeri 2 Kendari. Akibat tawuran itu, seorang
siswa perempuan terluka di bagian kepala, karena terkena lemparan batu, sehingga
ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit (MetroTVNews, 7 September 2007).
Yogyakarta juga digegerkan oleh tawuran antar pelajar setelah sekian lama jarang
ada kejadian tawuran. Tawuran di DI Yogyakarta, seperti yang terjadi antar
pelajar SMA di Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, depan SMA Bopkri II, membuat
wali kota Yogya, Herry Zudianto, terusik. Herry mengaku mengundang seluruh
kepala SMA dan SMK, negeri dan swasta, di Kota Yogyakarta. Dalam pertemuan
tersebut, ia meminta para kepala sekolah untuk bertanggung jawab jika ada anak
didik mereka yang terlibat tawuran (Kompas, 5 September 2007)
Fenomena lainnya adalah agresivitas yang dilakukan guru kepada murid. Beberapa
agresivitas dalam dunia pendidikan dapat dibaca dalam beberapa berita ini. Di
salah satu SDN Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang tidak
mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di
Surabaya, seorang guru olah raga menghukum lari seorang siswa yang terlambat
datang beberapa kali putaran. Tapi karena fisiknya lemah, pelajar tersebut tewas.
Dalam periode yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung, Bengkalis,
Riau, menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang
bulat. (www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp - 71k).
Pengertian dan Jenis-jenis Agresivitas
Agresivitas dapat diartikan sebagai perilaku atau kecenderungan perilaku yang
diniati untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis (Buss &
Perry, 1992; Baron & Byrne, 2004). Mereka yang frustrasi (merasa gagal mencapai
tujuannya) adalah orang yang paling mudah melakukan tindakan agresi. Ahli
psikologi sosial, yaitu Dollard dan Miller, menerangkan hal di atas dengan
frustration-aggression hypothesis (Brigham, 1991; Baron & Byrne, 2004;
Nashori, 2008). Orang-orang yang frustrasi marah terhadap orang-orang yang
dianggap sebagai penyebab atau perantara terjadinya rasa sakit. Disakiti atau
dilukai perasaannya atau kepentingannya, itulah yang dijadikan alasan oleh
sementara orang untuk bertindak agresif. Mereka frustrasi dengan apa yang
terjadi, dan jadilah mereka menjarah, membunuh, menembak, melempar batu, memukul,
membacok, dan seterusnya.
Pengelompokan jenis agresi menurut berbagai ahli tetu saja cukup beragam, salah
satunya adalah pendapat Buss. Indikator atau ciri-ciri agresivitas menurut Buss
(Nashori, 2008) meliputi: perilaku agresif secara fisik dan verbal, secara aktif
dan pasif, dan secara langsung dan tidak langsung. Tiga klasifikasi tersebut
masing – masing akan saling berinteraksi, sehingga akan menghasilkan delapan
bentuk perilaku agresif, yaitu :
1. Perilaku agresif fisik aktif yang dilakukan secara langsung, misalnya menusuk,
menembak, memukul orang lain.
2. Perilaku agresif fisik aktif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya
membuat jebakan untuk mencelakakan orang lain.
3. Perilaku agresif fisik pasif yang dilakukan secara langsung, misalnya tidak
memberikan jalan kepada oarang lain.
4. Perilaku agresif fisik pasif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya
menolak untuk melakukan sesuatu, menolak mengerjakan perintah oarang lain.
5. Perilaku agresif verbal aktif yang dilakukan secara langsung, misalnya memaki
– maki orang.
6. Perilaku agresif verbal aktif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya
menyebar gosip tentang orang lain.
7. Perilaku agresif verbal pasif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya
menolak untuk berbicara dengan orang lain, menolak untuk menjawab pertanyaan
orang lain atau menolak untuk memberikan perhatian pada suatu pembicaraan.
Perilaku agresif verbal pasif yang dilakukan
secara langsung, misalnya tidak setuju dengan pendapat orang lain, tetapi tidak
mau mengatakan (memboikot), tidak mau menjawab pertanyaan orang lain.
Akar Agresivitas: Budaya Kekerasan
Agresi dalam pendidikan terjadi karena pelaku belajar dari lingkungan, termasuk
di dalamnya dari media massa. Kekerasan yang berlangsung pada diri Cliff Muntu
berkaitan dengan budaya kekerasan yang dihidupkan dan dipelihara di IPDN. Para
senior adalah agen yang mentransfer budaya kekerasan itu kepada para juniornya.
Kejadian ini berlangsung dari generasi ke generasi sehingga menjadi budaya
kekerasan bagi mahasiswa IPDN.
Berkenaan dengan pentingnya faktor lingkungan atau kebudayaan dalam meningkatkan
kekerasan dalam dunia pendidikan, ada sejumlah pernyataan dan penelitian serta
teori yang diajukan oleh ahli psikologi yang menyatakan bahwa kekerasan manusia
(semata-mata) adalah hasil belajar dari lingkungan sosialnya (Wrightsman & Deaux,
1981). Menurut Wrightsman & Deaux, prinsip dasar teori belajar adalah apabila
suatu tingkah laku termasuk tingkah laku agresif diberi reinforcement (penguatan)
atau reward (hadiah), maka tingkah laku tersebut akan cenderung diulang
pada saat yang lain. Teori belajar observasional atau modeling yang
dikembangkan oleh Albert Bandura berasumsi bahwa tingkah laku agresif diperoleh
dari hasil belajar melalui pengamatan (observasi) terhadap tingkah laku yang
ditampilkan oleh individu lain yang menjadi model (Koeswara,1988). Bandura
sendiri pernah melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa kekerasan yang
dilakukan model akan ditiru anak-anak (Monks dkk, 2004).
Pandangan ahli-ahli psikologi sosial di atas memperoleh dukungan empiris dari
ahli antropologi. Ruth Benedict (Goble, 1994) dan Brown (Setiadi, 2001)
berpandangan bahwa lingkungan sosiallah yang membentuk perilaku agresif atau
kekerasan. Ruth Benedict (Goble, 1994) menunjukkan bahwa manusia yang hidup
dalam lingkungan masyarakat yang saling membantu akan menumbuhkan individu
individu yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, masyarakat yang
tidak ramah dan jahat akan menghasilkan individu-individu yang berkarakter keras
dan agresif. Hal ini dapat kita lihat dari penelitian Ruth Benedict pada
masyarakat masyarakat Indian. Benedict meneliti empat kebudayaan yang tidak
ramah dan jahat (Chuckchee, Ojibwa, Dobwo, Kwakiutl) dan empat kebudayaan
lainnya yang menghasilkan orang orang yang menyenangkan (Zuni, Arapesh, Dakota,
dan Eskimo). Ruth Benedict berpendapat bahwa masyarakat yang tidak dikuasai oleh
agresi atau kekerasan memiliki tata tertib sosial yang mengatur bahwa setiap
individu, lewat perbuatannya yang sama, melakukan sesuatu yang menguntungkan
dirinya sendiri sekaligus menguntungkan kelompok. Salah satu kuncinya adalah
bahwa non-agresi (atau saling membantu dan kasih sayang) terjadi karena tatanan
sosial telah membuat keduanya itu keuntungan diri dan keuntungan kelompok
identik (Goble, 1994). Lingkungan, bagaimanapun sangat menonjol peranannya dalam
hal membentuk watak, manusia: apakah menjadi agresif atau penuh kasih sayang.
Senada dengan hasil penelitian di atas, Brown (Setiadi, 2001) mengungkapkan
bahwa ada hubungan antara budaya dan kekerasan. Brown menemukan bahwa orang
Simbu di New Guinea (baca: Papua Nugini) menunjukkan perilaku agresif yang
tinggi dibandingkan dengan apa yang ditemukan Robarchek pada budaya Semai.
Budaya Simbu memiliki sikap sangat favorable terhadap perilaku agresif.
Dalam budaya ini, orang yang dikagumi adalah orang yang agresif. Status sosial
yang tinggi diasosiasikan dengan pria, kekerasan dan sikap kompetitif.
Sebaliknya, budaya Semai memiliki sikap sangat negatif terhadap perilaku agresif.
Orang-orang Semai justru berpendapat bahwa hanya orang-orang jahat yang bisa
bertindak dengan kekerasan.
Penelitian empiris yang ditemukan penulis (Nashori & Diana, 2007) di SMA dan SMK
Yogyakarta ini searah dengan hasil penelitian Benedict (Goble, 1994) dan Brown (Setiadi,
2001). Lingkungan sehari-hari siswa SMA dan siswa SMK adalah lingkungan sekolah
yang sesungguhnya tidak menoleransi adanya kekerasan. Kalaupun ada kekerasan,
maka kekerasan atau agresi itu terbentuk di luar lingkungan sekolah, yaitu
lingkungan tempat tinggal (rumah, kos-kosan atau kontrakan). Pengaruh lingkungan
dalam sekolah lebih besar dibandingkan dengan lingkungan luar sekolah.
Dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara
Indonesia melalui media massa atau melalui kehidupan nyata tentang kekerasan
yang dilakukan orang kecil seperti Ryan hingga para pemimpin politik dan mantan
presiden, akan menjadi ’pelajaran’ bagi mereka, yang menginspirasi mereka untuk
bertindak kekerasan. Tentu saja lingkungan kecil seperti sekolah juga menjadi
lingkungan yang membuat seseorang berbuat kekerasan atau tidak. Kasus kekerasan
di IPDN, perploncoan, menunjukkan adanya faktor lingkungan yang membudayakan
kekerasan.
Akar Agresivitas Lain: Biologis, Amarah, Frustrasi, Lingkungan Fisik, dll
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
agresivitas di antaranya adalah biologis (Buss & Perry, 1992), kognitif (Dodge &
Coi, 1987; Dodge & Crick, 1990; Dodge & Newman, 1981), etnis (Ekawati & Nashori,
2001), dzikir (Buchori, 2005), perlakuan orang signifikan (Hidayat, 2004),
amarah, frustrasi (Dollard and Miller, 998), cara bersikap terhadap sumber
agresi (Nashori, 2004).
1. Biologis.
Diungkapkan oleh Buss dan Perry (1992),
Sigmund Freud meyakini bahwa manusia lahir dengan dua sifat dasar, sesuatu yang
bersifat biologis atau ada sejak manusia dilahirkan, yaitu eros (dorongan hidup)
dan thanatos (dorongan mati). Agresi dan kekerasan adalah salah satu wujud
kehendak untuk mati. Apabila agresi dan kekerasan muncul di mana mana dengan
frekuensi, kuantitas, dan kualitas yang beragam dan cenderung meningkat, maka
pada saat itulah manusia mewujudkan sifat dasarnya. Pernyataan bahwa manusia
pada dasarnya agresif memperoleh dukungan dari sejumlah ahli agama. Mereka
berpandangan bahwa semua manusia adalah anak-cucu Qabil, padahal Qabil –putra
Nabi Adam—adalah seseorang yang tega membunuh saudaranya sendiri (baca boks 1:
Kekerasan pertama manusia). Diskusi tentang kebenaran kelamiahan kekerasan dalam
diri manusia bisa panjang, karena pendapat yang sebaliknya juga banyak. Nashori
(2003) menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia lahir dengan sifat asal positif
saja. Ini sesuai dengan jumhur ulama Islam tentang apakah manusia memiliki hanya
sifat dasar positif atau positif dan negatif saat dilahirkan. Dengan pandangan
demikian, pandangan bahwa manusia secara alamiah agresif belum dapat diterima.
|
Agresivitas Pertama Manusia
Agresi
pertama antar manusia terjadi pada putra-putra Nabi Adam dan Hawa. Dari
sejarah diketahui bahwa ketika anak-anaknya sudah menjelang dewasa, Nabi
Adam bermaksud menikahkan mereka. Kembar pertama putra-putri Adam dan Hawa
adalah Qabil dan Iqlima serta kembar kedua adalah Habil dan Labuda.
Berdasarkan petunjuk Allah Tuhan Yang Maha Esa, Adam
berencana untuk menikahkan mereka secara bersilang, yaitu Habil menikah
dengan Iqlima dan Qabil menikah dengan Labuda. Atas dasar ketaatan kepada
Allah, Habil menerima gagasan ayahnya. Namun, tidak demikian halnya dengan
Qabil. Ia tidak menerima rencana tersebut, karena dengan begitu ia akan
gagal menyunting Iqlima yang lebih cantik dan lebih ia sayangi daripada
Labuda.
Rasa frustrasi yang muncul akibat dari kegagalan
mendapatkan dambaan hati menjadikan Qabil kalap. Akhirnya ia melakukan
serangan atau kekerasan terhadap Habil yang menyebabkan Habil meninggal
dunia. Oleh sebagian ahli, kekerasan yang dilakukan Qabil dianggap sebagai
cikal bakal sifat agresif yang ada dalam diri manusia, karena semua
manusia adalah keturunan Qabil. Benarkah?
|
2. Kognisi.
Dekat dengan peniruan adalah aspek kognisi.
Agresivitas melibatkan proses perhatian yaitu proses ketertarikan individu untuk
mengamati tingkah laku model. Proses ini dipengaruhi oleh frekuensi kehadiran
model dan karakteristik-karakteristik yang dimilikinya. Model yang sering tampil,
tampak menonjol dan menimbulkan perasaan positif pada pengamatnya akan lebih
midah mengundang perhatian daripada model yang jarang tampil dan tidak menonjol.
3. Amarah.
Amarah akibat dari serangan atau gangguan
orang lain juga mempengaruhi kekerasan. Suatu saat tiba tiba ada orang lain yang
mengejek individu sebagai orang yang tolol dan tidak sopan. Maka, sangat mungkin
ada reaksi marah. Apa yang terjadi di IPDN adalah orang-orang terluka yang di
masa lalu selalu dihina, dilecehkan, dipukuli. Tindak kekerasan yang mereka
lakukan tidak lain adalah sebagai balas dendam atas pengalaman masa lalu.
Perilaku kekerasan akan melahirkan kekerasan lain. Lingkaran balas dendam inilah
yang terjadi dalam kasus kekerasan di IPDN (Doni Koesoema, Kompas, 11 April
2007)
4. Frustrasi.
Frustrasi, adalah gangguan atau kegagalan
dalam mencapai tujuan. Bila seseorang hendak pergi ke suatu tempat, melakukan
sesuatu, atau menginginkan sesuatu, dan kemudian merasa dihalangi, dikatakan
bahwa orang tersebut mengalami frustrasi. Salah satu prinsip dalam psikologi
adalah frustrasi cenderung membangkitkan perasaan agresif. Pengaruh frustrasi
terhadap perilaku diperlihatkan dalam penelitian klasik yang dilakukan Barker,
Dembo dan, Lewin. Kepada sekelompok anak, ditunjukkan ruangan yang penuh berisi
mainan yang menarik, tetapi mereka tidak diijinkan untuk memasukinya. Mereka
berdiri di luar, memperhatikan mainan mainam itu: ingin memainkannya tetapi
tidak dapat meraihnya: Sesudah menunggu beberapa saat, mereka diperbolehkan
untuk bermain dengan mainan tersebut: Kelompok anak yang lain diberi mainan
tanpa dihalangi terlebih dahulu. Anak-anak yang sudah mengalami frustrasi
membanting mainan ke lantai, melemparkannya ke dinding dan pada umumnya
menampilkan perilaku merusak, anak anak yang tidak mengalami frustrasi jauh
lebih tenang dan tidak menimbulkan perilaku merusak.
Kekerasan material yang dilakukan oleh guru dan dosen kemungkinan disebabkan
oleh rasa frustrasi. Sudah kita ketahui bahwa sebagian besar bangsa Indonesia,
termasuk guru, memperoleh penhasilan yang sangat terbatas. Keterbatan materi
yang mencekik menjadikan dosen dan guru menggunakan kekerasan material.
5. Cara bersikap terhadap sumber agresi.
Diungkapkan oleh Nashori (2004), apakah
seseorang akan bertindak menyerang terhadap orang lain yang menyakitinya atau
tidak sangat dipengaruhi oleh cara bersikap orang tersebut. Seseorang yang
memandang rasa sakit yang diarahkan kepada dirinya adalah sesuatu yang diizinkan
Tuhan, maka ia akan lebih siap menerima rasa sakit. Kelapangdadaan adalah
potensi psikologis yang memungkinkan seseorang mampu memaafkan kesalahan orang
lain.
Mengatasi Agresivitas dalam Pendidikan
1. Membentuk lingkungan yang shaleh dan menghargai martabat manusia: Di
sekolahan/kampus dihidupkan aktivitas keberagamaan, seperti pengajian rutin (untuk
guru/murid), shalat berjamaah, pembacaan dzikir dan al-Qur’an secara
bersama-sama, dsb. Di sini juga ada aturan yang jelas yang melarang perbuatan
jahat yang menyakiti/mengganggu orang lain, memberi penghargaan yang tepat untuk
setiap prestasi yang diraih. Pesantren adalah contoh komunitas yang menggunakan
pendekatan ini.
2. Memberi hukuman yang setimpal: Orang yang melakukan kesalahan (menyakiti
orang lain) dibalas dengan hukuman yang setimpal oleh pihak berwenang. Tujuannya
adalah membuat pelaku jera. Ini cocok kekeraan fisik. Tepat untuk orang yang
rasional (selalu mempertimbangkan untung rugi atas perilakunya). Misalnya: skors
atau drop out.
3. Menjamin adanya akses untuk memperoleh kemudahan hidup dan kesamaan hak untuk
mendapatkan keperluan hidup sehingga dapat mengurangi sumber frustrasi:
memperoleh penghasilan dan tunjangan yang memadai.
4. Mengembangkan sikap positif: Mengembangkan sikap positif terhadap keadaan
apapun yang terjadi (sehingga membuat seseorang tidak terpancing untuk bertindak
penuh kekerasan) seperti berprasangka baik (khusnudhdhon), lapangdada,
dsb
5. Menggunakan paradigma dan teknik belajar yang dapat dinikmati subjek didik
dan tidak menimbulkan amarah, frustrasi, dll. Contoh: Problem based learning,
student centered leraning, quantum learning.
6. Pengalihan: mencari sasasaran pengganti. Mis: boneka. Semakin banyak kesamaan
sumber dan atau sasaran semakin kuat fungsi pengalihan.
7. Katarsis: Pembersihan “pengganggu” dari sistem diri secara lisan. Cara:
berbicara sendiri atau kepada orang lain yang dipercaya. Mis: relaksasi
berteriak dengan menyebut nama pengganggu.
8. Belajar mengelola diri (emosi): melalui training seperti self training,
social skill training, forgiveness training.
9. Intervensi Kognitif: meminta dan
memaafkan [Fuad Nashori & R. Rachmy Diana]
Daftar Pustaka
Bailey, H. 1988. Kekerasan dan Agresi.
Jakarta: PT Tira Pustaka Life.
Baron, R.A. & Byrne, D. 2004. Social
Psychology: Understanding Human Interaction. Boston: Allyn and Bacon.
Brigham, J.C. 1991. Social Psychology.
New York: Harper Collin Publisher Inc.
Buchori, B. 2005. Intensitas Dzikir dan
Agresivitas pada Santri. Jurnal Psikologi Islami, 1, (2), 141-152.
Buss, A.H. & Perry, M. 1992. The Aggression
Questionnaire. Journal of Personality and Social Psychology. 63, (33),
452-459.
Dodge, K.A. & Newman, J.P. 1981. Biased
Decision-Making Process in Aggressive Boys. Journal of Abnormal Psychology,
90, (4), 375-379.
Dodge, K.A. & Coi, J.D. 1987. Social
Information Processing Factor in Reactive and Proactive Aggressiion in Children
Peer Groups, Journal of Personality and Social Psychology, 53, 1146-1158.
Dodge, K.A. & Crick, N.R. 1990. Social
Information Processing Based of Aggressive Behavior in Children, Personality
and Social Psychology Bulletin, 16, 18-22.
Ekawati, D.S. 2001. Agresivitas Mahasiswa
Berdasarkan Etnis. Laporan Penelitian. Yogyakarta. Fakultas Psikologi UII.
Goble, Frank. 1994. Abraham Maslow:
Mazhab Ketiga. Yogyakarta: Kanisius.
Hidayat, S. 2004. Hubungan Perilaku
Kekerasan Ibu pada Anaknya terhadap Munculnya Perilaku Agresif pada Anak SMP,
Jurnal Provitae, 1, 83-92.
Hidayat, B. 2006. Pluralisme dan
Aktualisasi Diri. Jurnal Psikologi Sosial, Vol. 12, No. 2, 141-152.
Kedaulatan Rakyat. 2002. Pelajar Tewas Oleh
Pelajar. Harian Kedaulatan Rakyat, 2 Februari 2002.
Liputan 6 SCTV. Polisi Mengamankan Seoramh
Pelajar yang Terlibat Tawuran. Liputan 6 SCTV, 17 Agustus 2007.
Nashori, H.F. 2004. Bila Disakiti, Haruskah
Membalasnya? Majalah Forum Keadilan, 28 Februari 2004.
Nashori, H.F. 2005. Hubungan antara
Kualitas dan Intensitas Dzikir dengan Kelapangdadaan Mahasiswa. Jurnal Millah,
5, (1), 121-135.
Nashori, H.F. 2005. Kelapangdadaan
Mahasiswa-Santri dan Mahasiswa-Reguler. Jurnal Psikologi Islami, I, (2),
78-81.
Nashori, H.F. 2006. Kelapangdadaan Survivor
Bencana Tsunami Aceh. Hasil Penelitian. Jakarta: Depdiknas.
Nashori, H.F. 2006. Kelapangdadaan Survivor
Bencana Gempa Yogya. Jurnal Religiusitas.
Nashori, H.F. & Diana, R.R. 2007. Hubungan
antara Kelapangdadaan dan Agresivitas Siswa SMA dan SMK. Laporan Penelitian
Fundamental. Jakarta: Ditjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.
Radar Bogor. 1999. Tawuran MAN 2 vs SMUN 3
Bogor. 25 Juli 1999, hal. 12.
Tempointeraktif. 2007. Satu orang Dibacok
dalam Tawuran Pelajar.
www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2007/02/18.
Tuasikal, R.F. 2001. Hubungan antara
Komunikasi Interpersonal Anak dan Orangtua dengan Agresivitas Siswa SMU.
Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.
Wrightsman & Deaux. 1981. Social
Psychology in the 80’s. Monterey, California: Brools.
___________________
|