|

Berbagai
hadis Nabi Muhammad memberikan pelajaran pada kita tentang makna puasa. Puasa
adalah media bagi kita untuk membiasakan diri atau melatih diri dalam mengontrol
dorongan yang ada dalam diri kita.
Salah satu persoalan penting kita sebagai bangsa adalah kemampuan mengontrol
bicara kita. Gagasan yang ingin dimunculkan dalam tulisan ini adalah bagaimana
puasa menjadi terapi untuk mengendalikan lisan kita sehingga sebagai pribadi
maupun sebagai bangsa kita tumbuh kembang menjadi lebih baik. Puasa yang saya
maksud meliputi puasa wajib (puasa ramadhan) dan puasa sunnat (puasa senin-kamis,
puasa dawud, dan sebagainya).
Puasa dan Kendali Diri
Salah satu contoh hadis Nabi yang memerintahkan kita untuk mengendalikan diri
adalah sebagai berikut: ”Tidaklah berpuasa itu menahan diri dari makan dan minum,
tetapi berpuasa itu adalah menahan diri dari perbuatan kosong dan perkataan keji.
Maka jika kau dicaci orang atau diperbodohnya, hendaklah katakan: ’Saya berpuasa,
saya berpuasa’.” (HR Ibnu Khuzaimah). Dalam hadis di atas sangat jelas
digarisbawahi bahwa salah satu maksud penting aktivitas puasa kita adalah
menahan diri atau mengendalikan diri dari perkataan keji.
Dalam riset ilmiah yang dilakukan oleh pengkaji psikologi Islami, diketahui
puasa memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Hasil penelitian Akhmad
Ghozali (2004) dari Universitas Islam Indonesia menunjukkan dukungannya terhadap
pernyataan di atas. Ghozali menemukan intensitas berpuasa sunnah memiliki
korelasi dengan kendali diri mahasiswa. Semakin intens berpuasa sunnah, semakin
tinggi kendali dirinya. Lalu, bagaimana dengan kendali diri orang yang berpuasa
wajib?
Sejauh ini penulis belum menemukan riset yang berkenaan langsung dengan masalah
di atas. Namun, dengan menggunakan logika sederhana kita dapat mengatakan: puasa
sunnah saja dapat meningkatkan kendali diri seseorang, lebih-lebih puasa wajib
di bulan ramadhan. Proses melatih diri dalam puasa sunnah berlangsung dua hari
di antara tujuh hari (puasa senin-kamis) atau satu hari di antara dua hari.
Dalam puasa wajib seseorang dilatih mengendalikan diri setiap hari. Intensitas
melatih diri yang lebih tinggi dalam puasa wajib dapat memberikan efek yang
lebih optimal dalam meningkatkan kemampuan mengendalikan diri seseorang.
Puasa Bicara
Apa saja yang perlu kita puasakan atau kita tidak katakan selama kita menjalani
ibadah puasa ramadhan? Puasa bergunjing (ghibah), puasa mengadu domba (namimah),
puasa mengumbar aib diri, puasa berjanji adalah sejumlah hal yang patut kita
latihkan sepanjang ramadhan ini.
Hal penting yang perlu dipegangteguhi seseorang yang hendak puasa bicara adalah
kesadaran diri. Seseorang hendaknya mulai membiasakan melihat secara cermat ke
dalam diri (introspeksi). Apakah selama ini kita suka berbicara sesuatu yang
tidak berguna atau bahkan sesuatu yang menimbulkan efek buruk bagi diri sendiri
maupun orang lain? Kesadaran diri bahwa kita adalah seseorang yang banyak bicara
perlu menjadi poin awal yang penting untuk perubahan diri.
Selanjutnya, kita melakukan pemantauan diri. Fokus pemantuan diri adalah diri
kita pada saat tertentu, tepatnya apa yang di sini dan saat ini (here and now) kita rasakan dan alami. Apakah saat ini kita merasa marah dan ingin banyak
bicara, suka berbicara yang ekstrim, banyak mengumbar janji, banyak mengumbar
aib diri, dan sebagainya.
Bila pemantauan diri sudah kita lakukan, yang selanjutnya kita lakukan adalah
menetapkan target puasa bicara dalam hal tertentu. Bila kita melihat diri kita
adalah seseorang yang suka memberikan komentar provokatif, maka kita perlu
menetapkan target untuk tidak berbicara provokatif pada hari tertentu. Hari-hari
berikutnya kita menetapkan hal yang sama. Kita juga dapat menetapkan target
untuk tidak memberikan janji yang tak mungkin dipenuhi, tidak memberikan label
yang buruk kepada orang lain, tidak memberikan perumpamaan yang menyakitkan hati,
selalu bilang diri konsisten tapi tidak berperilaku konsisten, dan seterusnya.
Bila kita lakukan latihan itu selama 29-30 hari dalam bulan puasa, maka kita
melakukan proses pengulangan pengendalian diri itu secara intensif. Begitu juga
seseorang yang melakukan latihan itu setiap dua hari sekali (puasa dawud) atau
seminggu dua kali (puasa senin-kamis), maka kita melakukan hal yang sama:
melakukan proses pengulangan pengendalian diri secara intensif. Latihan yang
intensif seperti ini pasti akan memberikan dampak yang riil terhadap kehidupan
kita, khususnya dalam hal pengendalian diri. Kita akan menjadi orang baru dalam
bicara, yaitu lebih mengendalikan pembicaraan yang keji.
Puasa Ghibah
Ghibah (menggunjing) adalah perkataan yang berkaitan dengan perbuatan jelek atau
buruk yang dilakukan orang lain. Dalam agama, ghibah terkategori sebagai
perbuatan yang jahat. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam salah satu ayat suci
al-Qur’an yang menyatakan “tegakah kalian memakan daging saudara kalian sendiri?”
Dalam realitas kehidupan sehari-hari kita dapati kenyataan kuatnya kebiasaan
ghibah ini. Contoh yang paling kongkrit adalah di tempat kerja para staf suka
berbicara yang isinya adalah penilaian terhadap teman sekerja mereka. Bukti lain
tentang kekuatan ghibah adalah bertahannya acara-acara di media massa yang
isinya menggunjing kehidupan selebritis. Acara-acara televisi bertahan
sedemikian lama seperti Kiss, Kasak-kusuk, dan sebagainya.
Di saat kita berpuasa, wajib maupun sunnah, kita berlatih untuk meninggalkan
gunjingan terhadap orang lain. Saat melihat pembicaraan atau perilaku orang lain
yang tidak menunjukkan akhlak yang baik, yang pertama-tama kita lakukan adalah
apakah diri ini tidak sama saja dengan dia. Selanjutnya, yang patut kita lakukan
adalah berjanji untuk tidak melakukannya. Lebih baik lagi bila kita dapat
menyampaikan nasihat kepada orang tersebut agar dapat berbicara tentang sesuatu
yang lebih positif.
Puasa Mengadu Domba
Namimah adalah mengadu domba. Adu domba memang menggunakan banyak media, baik
melalui audio (suara), gambar (visual), maupun gabungan keduanya. Dalam
kehidupan sehari-hari, kita dapati banyaknya pembicaraan yang mengadu domba
terhadap kawan atau teman kerja yang tak disukai. Acara-acara entertainment di
televisi dan tabloid banyak menyajikan komentar yang menyakitkan dari seorang
artis terhadap suami, istri, orangtua atau mertuanya dan sebaliknya.
Salah satu bentuk provokasi yang kita dengar dalam beberapa waktu lalu adalah
banyaknya demo yang meminta pemutusan hubungan dengan Malaysia. Yang menjadi
pemikiran saya, apa mereka tidak berpikir tentang nasib ratusan ribu hingga
jutaan warga negara kita yang ada di Malysia bila hubungan diplomatik diputuskan.
Bahkan sejumlah kelompok menyatakan ganyang Malaysia. Sebuah koran
terang-terangan menyebut Malaysia dengan istilah neo-kolonialis.
Di saat kita melakukan puasa, baik puasa wajib maupun sunnah, kita perlu
berlatih untuk menahan diri dari niatan, perilaku, dan pembicaraan yang mengarah
kepada adu domba. Tidak ada satu kata pun yang patut kita ucapkan berkaitan
dengan menguatnya permusuhan antar individu atau antar kelompok yang patut kita
ucapkan. Yang patut kita latihkan justru adalah kemampuan menjadi mediator (penghubung)
antar individu atau antar kelompok yang berseteru.
Puasa Berjanji
Salah satu kebiasaan yang sering kita temukan pada sebagian warga bangsa ini
adalah kesukaannya memberikan janji. Banyak janji politik yang diberikan
pemimpin negeri ini saat kampanye atau saat mendatangi sebagian anak negeri yang
mengalami bencana. Namun, begitu mereka beranjak pergi dari tempatnya
janji-janji itu tinggal kenangan. Saya mendengar banyak cerita tentang janji
yang diberikan pemimpin negeri ini terhadap korban bencana tsunami Aceh, bencana
gempa Yogya dan bencana lumpur Lapindo. Sayangnya, sebagian sangat kecil saja
janji itu dapat dipenuhi.
Di saat berpuasa, wajib atau sunnah, kita berpuasa atau menahan diri untuk mudah
memberikan janji. Kita memang patut berusaha untuk memberikan bantuan riil
terhadap orang-orang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan kita. Namun,
hendaknya janji-janji –apalagi yang kita yakin tak dapat dipenuhi— betul-betul
dihindari.
Bagaimana menurut Anda? [FN]

___________________
|