|

Ragam dan
kedalaman pengalaman buruk antara manusia satu dengan yang lain berbeda-beda.
Pada sebagian orang, terdapat pengalaman yang sedemikian buruk sehingga sangat
membekas dalam hati. Pengalaman dilecehkan secara seksual waktu kecil, orangtua
bercerai, siksaan fisik dari orang yang lebih dewasa, dan berbagai pengalaman
memalukan di waktu remaja dan dewasa, adalah beberapa contoh pengalaman yang
orang merasa harus menyimpannya rapat-rapat dalam hati. Sebanyak 22 persen
perempuan dan 10 persen laki-laki dari responden yang diteliti Psychology Today
(berjumlah 24.000 orang), pernah mengalami trauma seksual sebelum mereka berusia
17 tahun.
Sakit Hati dan Kesehatan
Kalau dalam diri seseorang terdapat pengekangan diri –atau penyumbatan atas rasa
sakit hati--, maka ia akan menghadapi resiko berupa terganggunya kesehatan
jangka panjang dan rendahnya performansi diri dalam berbagai aspek kehidupan.
Diungkapkan oleh James W. Pennebaker dalam buku Ketika Diam Bukan Emas,
orang-orang yang masalah kesehatannya paling parah telah mengalami paling
sedikit satu trauma masa kecil yang tidak pernah mereka kisahkan kepada siapapun.
Dari dua ratus responden yang pernah diwawancarai oleh Pennebaker, 65 orang
memiliki trauma masa kecil yang mereka rahasiakan. Mereka mendapatkan diagnosis
hampir semua masalah kesehatan besar dan kecil: kanker, tekanan darah, tukak
lambung, flu, sakit kepala bahkan sakit telinga.
Dari penjelasan di atas dapat diungkapkan bahwa apabila ada sesuatu yang tidak
menyenangkan masuk ke dalam sistem diri kita, maka langkah yang semestinya kita
tempuh adalah melakukan pengungkapan diri. Bila hal ini tidak dilakukan (atau
kita melakukan pengekangan diri), maka resiko yang bakal kita hadapi adalah
masalah kesehatan jangka panjang dan rendahnya performansi diri kita. Dengan
demikian, manusia memerlukan sarana untuk selalu bisa melakukan pengungkapan
diri. Secara sosial, pengungkapan diri kadang tidak mudah. Pengalaman-pengalaman
yang memalukan sangat tidak nyaman untuk diceritakan. Pennebaker menggambarkan
bahwa orang-orang yang kehilangan keluarganya tidak menderita stres terlalu lama
karena menceritakan kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai biasanya
dianggap sebagai hal yang tidak memalukan. Orang merasa bebas saja ketika ingin
mengungkapkannya kepada orang lain. Tetapi menceritakan bahwa “saya pernah
diperkosa untuk teman bapak” atau “saya pernah disodomi oleh tetangga saya”
kepada orang lain adalah hal yang sangat memalukan. Oleh karena itu, diperlukan
upaya lain yang memungkinkan seseorang mengungkapkan berbagai macam
pengalamannya dalam bentuk ungkapan lisan maupun ungkapan tertulis.
Bila seseorang merasa orang lain sangat mendominasinya, maka ia sering tidak
berani mengungkapkannya. Bila kita tidak suka dengan teman kita, maka kita tidak
bisa begitu saja mengungkapkannya. Ada beberapa resiko yang kita hadapi. Pertama,
kita dipandang tidak memiliki kesabaran. Kedua, orang akan membenci kita karena
kita dianggap sengaja menyerang salah satu bagian dari dirinya atau bahkan
menyerang diri orang tersebut secara keseluruhan. Dalam situasi semacam ini,
orang lebih senang untuk melakukan pengekangan. Budaya Jawa misalkan mengajarkan
untuk melakukan pengekangan. Istilah ngono yo ngono neng ajo ngono (secara
harfiah: begitu ya begitu namun jangan begitu) menunjukkan agar kita tidak
mengungkapkan pikiran-perasaan kita apa adanya kepada orang lain, tetapi harus
dikemas dengan bahasa yang pas. Kalaupun dilakukan pengungkapan diri, biasanya
dilakukan melalui aktivitas rerasan atau ghibah. Namun, aktivitas
rerasan ini
pun secara moral-agama dianggap sebagai “tega memakan bangkai saudara sendiri”.
Oleh karena itu, kalau mau menjadi seorang yang menerapkan norma agama, maka
orang akan memilih untuk tidak melakukan perilaku membicarakan hal-hal pribadi (biasanya
yang negatif) atas diri orang lain. Oleh karena itu, kita memerlukan yang
namanya forgiveness (pemaafan).
Memaafkan dan Kebahagiaan
Pemaafan atau memaafkan (forgiveness) berarti menghapus luka atau
bekas-bekas luka dalam hati. Boleh jadi ingatan akan kejadian yang memilukan
hati di masa lalu masih ada, akan tetapi persepsi bahwa kejadian itu sesuatu
yang menyakitkan hati telah terhapuskan.. Keterbukaan diri untuk memberi maaf
kepada orang lain yang menyakiti hati kita adalah tanda utama yang dapat segera
ditangkap orang lain. Memberi maaf adalah salah satu perintah agama: Balasan
terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barang siapa yang
memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS as Syuura:
40).
Nabi Muhammad adalah contoh pribadi pemaaf. Setiap kali menerima stimulasi yang
tidak menyenangkan, Nabi Muhammad selalu memiliki kesiapan untuk memberikan maaf
atau pengampunan terhadap seseorang yang menyakitinya. Salah satu peristiwa yang
menggambarkan pemaafan Nabi Muhammad adalah saat beliau mencoba berdakwah
terhadap masyarakat Thaif. Orang-orang Thaif ternyata tidak menerima dakwah yang
disampaikan Nabi, bahkan lebih dari itu mereka mengusir dan melempari Nabi.
Akibatnya, Nabi Muhammad pulang dengan tubuh dalam keadaan berdarah. Melihat
keadaan yang tidak manusiawi tersebut, seorang malaikat menawarkan diri untuk
melakukan pembalasan atas perilaku yang diterima Nabi. Tetapi Nabi Muhammad
ternyata sangat pemaaf. “Aku memaafkan mereka. Semoga anak cucu mereka akan
menjadi orang-orang yang taat.”
Ketika seseorang telah memiliki kepribadian pemaaf seperti Nabi Muhammad, maka
tidak ada bekas luka yang terpelihara dalam hatinya. Bahkan hidup orang-orang
yang suka memberi maaf juga lebih bahagia. Frederic Luskin, pelopor Stanford
Forgiveness Project, mengungkapkan ada tiga hal yang menjadikan kehidupan orang
yang suka memberi maaf menjadi lebih sehat. Menurutnya, orang yang memberi maaf
tidak mudah tersinggung saat diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain.
Selain itu, mereka tidak mudah menyalahkan orang lain ketika hubungannya dengan
orang tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Hal di atas dapat dicapai
karena mereka memiliki penjelasan nalar terhadap sikap orang lain yang telah
menyakiti mereka.
Frederic Luskin sendiri pernah melakukan penelitian lanjutan terhadap 55
mahasiswa Universitas Stanford Amerika. Hasilnya adalah mahasiswa yang dilatih
meningkatkan ketiga komponen tersebut di atas (mudah tersinggung, tidak mudah
menyalahkan, memiliki penjelasan nalar) ternyata jauh lebih tenang kehidupan
sosialnya. Mereka menjadi tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung dan dapat
membina hubungan lebih baik dengan sesama. Di samping itu, mereka pun semakin
jarang mengalami konflik dengan orang lain.
Perlu Proses
Pemberian maaf yang ada dalam diri seseorang terjadi melalui serangkaian proses.
Robert Enright dan Gayle Reed mengungkapkan adanya empat fase untuk pemberian
maaf. Pertama, fase pengungkapan (uncovering phase), yaitu ketika seseorang
merasa sakit hati dan dendam. Kedua, fase keputusan (decision phase),
yaitu orang tersebut mulai berpikir rasional dan memikirkan kemungkinan untuk
memaafkan. Pada fase ini orang belum dapat memberikan maaf sepenuhnya. Ketiga,
fase tindakan (work phase), yaitu adanya tingkat pemikiran baru untuk
secara aktif memberikan maaf kepada orang yang telah melukai hati. Kempat, fase
pendalaman (outcome/ deepening phase), yaitu internalisasi kebermaknaan
dari proses memaafkan. Di sini orang memahami bahwa dengan memaafkan, ia akan
memberi manfaat bagi dirinya sendiri, lingkungan dan juga semua orang.
Menurut saya, ada dua fase lagi agar pemaafan dapat berlangsung secara optimal,
yaitu fase memberi (giving phase), yaitu memberi sesuatu yang berharga
bagi orang lain, seperti memohonkan ampunan dan doa keselamatan bagi orang yang
pernah menyakiti kita. Tahap keenam adalah bekerja sama kembali dengan yang
bersangkutan. Tahap kelima dan tahap keenam diisyaratkan oleh al-Qur’an. Dengan
langkah kelima dan keenam di atas, ada sebuah resep dari al-Qur’an agar pemaafan
terhadap orang lain menjadi tuntas, yaitu dengan memohonkan ampunan untuk orang
yang menyakiti kita dan tetap bermusyawarah dengannya. Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam QS Ali Imran ayat 159: Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun
bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kadang
memaafkan tidak berhasil, namun begitu seseorang memohonkan amunan secara tulus
kepada Tuhan, maka ada proses munculnya sikap-sikap yang positif.
Bagaimana pendapat Anda? [FN]

___________________
|