|

Psikologi
Islami (Islamic psychology) dapat diartikan suatu studi tentang jiwa dan
perilaku manusia berdasarkan pandangan dunia Islam (Islamic world view).
Sebagai suatu studi, ia haruslah suatu kajian yang sistematis dan objektif.
Sementara jiwa adalah suatu substansi yang ada dalam diri manusia yang memiliki
pengaruh terhadap perilaku. Perilaku sendiri dapat diartikan sebagai ekspresi
jiwa, baik yang tampak dan tak tampak. Selanjutnya, yang dimaksud dengan
pandangan dunia Islam adalah cara memandang sesuatu dengan menempatkan
sumber-sumber Islam (terutama al-Qur’an dan alh-Hadits) sebagai bahan dasar
dalam memahami manusia. Dalam pandangan dunia Islam, pengetahuan atau kebenaran
juga diperoleh melalui akal dan indra manusia.
Secara agak khusus akan dijelaskan tentang jiwa dan perilaku kreatif. Jiwa
manusia terdiri atas ruh, qalbu, akal, dan nafsu. Ruh (al-ruh) adalah
substansi yang ada dalam diri manusia yang memiliki keterkaitan langsung dengan
Tuhan (juga dunia gaib pada umumnya). Perlu diingat ruh-lah yang pertama kali
diciptakan Tuhan sebalum Dia menciptakan raga manusia. Ruh memiliki sifat suci
nan abadi. Qalbu (al-qalb) atau al-fuad adalah komponen dalam diri
manusia yang mempunyai kemampuan memahami realitas/kebenaran melalui cita rasa.
Ia dapat membedakan yang baik dan buruk, mengetahui keadaan orang lain sampai ke
keadaan batinnya, mampu menerima pengetahuan yang intuitif, menjadi sumber
kekuatan dalam diri manusia, mampu memahami realitas dunia gaib. Oleh hadis Nabi,
qalbu ditempatkan sebagai center (pusat) diri manusia. Akal adalah komponen yang
ada dalam diri manusia yang memiliki kemampuan untuk menerima pengetahuan,
menyimpan pengetahuan, mengolah pengetahuan, dan juga menghasilkan pengetahuan
baru setelah memproses beragam pengetahuan itu. Nafsu adalah pendorong perilaku
manusia untuk berbuat sesuatu yang menguntungkan manusia dan mencegah sesuatu
yang merugikan manusia.
Komponen-komponen jiwa manusia sebagaimana telah dijelaskan di atas dapat berada
dalam keadaan berkembang atau tidak berkembang, yang akhirnya dalam keadaan
berfungsi atau tidak berfungsi. Qalbu manusia yang seharusnya memiliki kemampuan
sebagaimana yang telah disebut, bisa saja dalam keadaan mandul. Penjelasan atas
kemandulan qalbu sesungguhnya banyak diungkapkan dalam hadis Nabi maupun
penjelasan para ulama. Sebuah hadis Nabi menunjukkan secara tegas bahwa kalau
seseorang meninggalkan bekasan yang bersifat negatif dalam jiwanya (yang biasa
disebut dosa), maka bekasan negatif itu akan berperan sebagai noda hitam yang
bakal menutupi qalbu manusia. Akibatnya, qalbu manusia mengalami proses
penurunan fungsi. Karena itu, mengapa seseorang tidak peka terhadap kenyataan
dan kebenaran, atau tidak mudah memperoleh ide-ide kreatif, tidak lain adalah
karena qalbunya tidak dalam keadaan berfungsi secara baik.
Akal yang semestinya dapat memiliki fungsi menerima atau menyerap pengetahuan
ternyata tidak dapat menjalankan perannya. Ada sebuah ungkapan yang menggelitik
kita bahwa otak kita –manusia Indonesia—katanya paling mulus dibandingkan otak
orang lain atau bangsa lain. Kalau otak bangsa lain penuh kerutan atau
berjonjot-jonjot, bagian luar otak bangsa Indonesia dalam keadaan halus. Ini
menunjukkan bahwa otak kita tidak difungsikan. Kalau otak tidak dilatih untuk
menerima dan mengolah pengetahuan, maka kemampuannya untuk menerima pengetahuan
tidak berkembang. Sebaliknya, kalau seseorang memfungsikan akalnya, maka si akal
akan memiliki kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menjadikan sesuatu yang
baru atas berbagai informasi yang diperoleh atau dimiliki manusia.
Nafsu juga memiliki kondisi berfungsi atau sebaliknya tidak berfungsi. Nafsu
yang berfungsi akan menjadikan manusia penuh gairah dalam kehidupan. Dalam
kondisi penuh gairah, ada banyak hal yang ingin dilakukan. Gairah untuk meraih
kehidupan yang baik dan sejahtera. Gairah untuk memberikan sesuatu yang
bermanfaat bagi orang lain yang dicintai membangkitkan kekuatan dalam diri
manusia. Semangat untuk menunjukkan bahwa diri ini mampu dan dapat menjadi
the best of the best menjadikan seseorang penuh semangat. Orang-orang Eropa
(terutama Anglo-Saxon) berbondong-bondong dengan penuh gairah dan harapan ke
negeri Impian (Amerika) sekitar abad 17-18, karena keinginan untuk memperoleh
hidup yang lebih baik. Sebaliknya, nafsu atau pendorong itu bisa melemah. Orang
tidak lagi memiliki semangat hidup. Mudah putus asa. Bahkan akhirnya bisa
disetir oleh kekuatan lain (sesama manusia, jin/setan) untuk melakukan
pengrusakan. Juga bunuh diri.
Pengaruh Religiusitas terhadap Kreativitas
Orang beragama maupun tidak beragama dapat menjadi kreatif adalah pernyataan
yang benar, tapi belum lengkap. Syarat menjadi pribadi kreatif adalah mereka
menggunakan potensi jiwanya (akal-hati-nafsu) secara optimal dan positif.
Orang-orang beragama (Islam) maupun yang kurang beragama bila memiliki semangat
yang kuat untuk berbuat sesuatu untuk masyarakatnya dan menggunakan akal
pikirnya membuka kemungkinan untuk menjadi pribadi yang kreatif. Thomas Alva
Edison, Isaac Newton, Albert Einstein, bahkan Nietszhe yang menganggap Tuhan
telah mati pun adalah orang-orang kreatif. Tidak lain, hal ini karena mereka,
mempergunakan modal-modal dasar manusia (terutama nafsu dan akal) untuk
menciptakan sesuatu yang baru.
Orang-orang yang mencoba peka hati pun kadang menjadi intuitif. Sekalipun banyak
seniman tidak jelas agamanya, tetapi mereka terbukti sangat kreatif. Hal ini
karena mereka mempergunakan qalbunya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Adanya
kepekaan hati menjadikan mereka peka dalam menangkap realitas. Pada orang yang
peka, sesuatu dapat dilihat secara sangat subjektif, sehingga mereka bisa
melihat atas apa yang tidak dilihat orang lain. Lalu apa yang membedakan antara
orang-orang yang beragama dan tidak beragama?
Orang yang beragama (Islam) dimungkinkan lebih optimal dalam menggunakan qalbu (hati
nuraninya). Proses pembersihan atau pembeningan hati nurani di samping dilakukan
dengan lebih peduli kepada sesama (manusia dan alam), yang lebih penting adalah
dengan banyak melakukan perbuatan yang tulus-ikhlas kepada Tuhan. Keimanan yang
kuat, ibadah yang rajin, amal-sosial yang berbasis agama, dan pengalaman
keagamaan yang kuat terbukti (R. Rachmy Diana, 1999) memungkinkan seseorang
memperoleh ide-ide yang kreatif yang memiliki tingkat kebenaran yang lebih
tinggi atau lebih abadi. Mengapa pemikiran Ali bin Abi Thalib, Imam Ghazali,
Ibnu Qayyim, tetap dapat kita nikmati setelah rentang waktu 1.000 tahun bahkan
lebih, tidak lain, adalah karena ide-ide yang ada di dalamnya memiliki tingkat
kebenaran yang lebih tinggi, sehingga dapat bertahan dalam berbagai zaman.
Mengapa tingkat kebenaran mereka itu luar biasa, tidak lain, karena ide-ide yang
mereka hasilkan seperti kebenaran yang langsung turun dari Allah masuk ke dalam
qalbunya Bahkan kebenaran ide-ide mereka mendekati kebenaran wahyu Ilahi. Oleh
karena itu, orang seperti Manna Khalil Al-Qattan (M. Hamdani Adz-Dzaky, 2001)
berpendapat bahwa wahyu dan ilham pada hakikatnya sama saja, yaitu sama-sama
kebenaran yang berasal dari Tuhan. Namun, perbedaannya adalah tingkat kebenaran
yang satu lebih tinggi dari yang lain (wahyu setingkat lebih tinggi dibanding
ilham).
Orang-orang yang beragama (islam) yang kreatif mempergunakan akal dan qalbunya
lebih optimal. Mereka memiliki wadah kognitif-spiritual yang lebih luas.
Mereka dapat menyimpan dan mengolah pengetahuan sedemikian luar biasa. Mereka
dapat belajar bermacam-macam ilmu, dapat menyerap ilmu secara cepat dan luar
biasa banyaknya. Akibatnya, kemampuan mereka untuk menerima pengetahuan begitu
luar biasa. Genius dalam berbagai bidang dapat ditemukan dalam diri ilmuwan
Islam, dan sangat sedikit ditemukan dalam diri ilmuwan non Muslim. Ilmuwan Islam
seperti Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Haytsam, dan yang lain adalah orang-orang
yang menjadi ahli dalam bermacam-macam bidang atau displin ilmu. Ilmuwan Barat
hanya mencatat nama Leonardo da Vinci sebagai orang yang sukses di beragam lini.
Orang-orang yang beragama (Islam) juga lebih optimal dalam kreativitas, karena
kreativitas yang mereka hasilkan dibuat dalam kerangka ibadah (Sayyid Quthb,
2001). Orang yang terbaik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain, demikian
ungkap Nabi dalam sebuah hadis. Orang yang terbaik adalah yang dapat melakukan
peran sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Orang yang terbaik adalah yang
mengaktualisasikan konsep rahmatan lil alamin. Maka, Muslim akan bekerja
keras. Semakin bagus yang dapat diberikan kepada orag lain, maka mereka akan
berupaya untuk berbuat yang terbaik bagi orang lain. Salah satu yang sangat
diharapkan oleh manusia adalah bantuan orang lain yang membuat kehidupan mereka
lebih baik, lebih enjoy, lebih bahagia, lebih sejahtera. Penjelasan mengapa Imam
Ghazali mendedikasikan kehidupannya dengan menulis ratusan buku adalah karena
buku-buku yang beliau tulis dapat membangkitkan kesadaran hidup/beragama pada
manusia. Memang pada awalnya ada pamrih, tapi setelah Al-Ghazali melewati masa
uzlah (pengasingan diri) yang menjadikannya hanya ingin memperoleh ridha Allah,
beliau membebaskan diri dari pamrih atas apa yang dilakukannya. Hidupnya
didedikasikan untuk berbuat yang terbaik dan optimal. Maka, kitabnya yang paling
ngetop, Ihya’ Ulumuddin, hingga kini tetap menjadi best seller,
atau best seller sepanjang zaman,
Pentingnya Kreativitas untuk Kejayaan Islam
Apakah umat Islam taqlid atau kreatif? Jawabnya: kenyataannya cenderung taklid
dan semestinya kreatif. Adagium bahwa Islam adalah unggul dan tak terungguli
oleh yang lain pernah menyejarah. Hal ini ditunjukkan secara meyakinkan oleh
umat Islam pada zaman Abbasiyah. Pemikiran dan temuan dalam berbagai bidang ilmu
berkembang sedemikian luar biasa, baik dalam pemikiran ilmu-ilmu keruhanian
maupun ilmu sosial-eksakta. Hingga umat Islam menjadi pemimpin bagi umat yang
lain. Kini apa yang terjadi?
Pemikir-pemikir Islam seperti Nurcholish Madjid dan Ismail Raji Al-Faruqi
memotret secara memilukan keadaan umat Islam, yaitu berada di barisan
terbelakang bangsa-bangsa atau berada di anak tangga terbawah bangsa-bangsa.
Maka, menjadi tantangan bagi kita, yaitu bagaimana meraih kembali kejayaan/keunggulan
itu.
Jawaban umum atas pertanyaan di atas adalah gunakan akal dan hati serta
manage nafsu untuk meraih kesuksesan. Semangat untuk membentuk masyarakat
maju nan sejahtera semestinya terus dipelihara. Dalam Islam ada semangat yang
patut digelorakan yaitu semangat sebagai khalifah di muka bumi dan semangat
kenabian menjadi rahmat bagi sekalian alam. Mari kita berikan yang terbaik
kepada orang lain dengan cara meningkatkan diri secara terus-menerus.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memelihara semangat adalah memiliki visi
atas pilihan hidup kita. Adanya visi yang jelas tentang masa depan menjadikan
kita berupaya lurus dengan niat yang sudah ditancapkan sejak awal. Secara
individual, visi bisa berupa “aku akan menjadi seorang manajer yang humanis dan
adil”, “aku akan menjadi dosen yang dapat memberikan penjelasan yang cerdas dan
penuh semangat”, dan seterusnya. Visi tersebut akan menjadi dasar bagi kita
untuk memberikan yang terbaik. Dalam situasi seperti ini akan muncul dorongan
untuk berbuat yang terbaik, termasuk melakukan kreasi-kreasi baru yang
memungkinkan visi dapat diwujudkan.
Di samping semangat atau gairah hidup yang kuat, yang banyak memberi sumbangan
untuk tercapainya kejayaan kita adalah penggunaan akal secara optimal. Kemajuan
yang diperoleh masyarakat Barat didasari oleh keyakinan bahwa akal adalah hal
yang menjadi kelebihan manusia atas makhluk yang lain. Maka, mereka melakukan
upaya agar akal manusia dapat secara optimal. Mereka mendorong penduduknya untuk
menjadi kreatif. Berbagai penghargaan mereka berikan kepada insan-insan kreatif.
Sejak lama orang Inggris memiliki Guiness Book of the World Records.
Orang Amerika pasti sangat menghargai para kreator. Umat Islam pun semestinya
mempergunakan akalnya secara optimal agar kreativitas itu dapat diraih. Proses
pendidikan di Indonesia perlu didorong untuk mengoptimalkan penggunaan akal,
namun tidak hanya dalam pengertian menghafal (atau istilah Benjamin Bloom
sebatas knowledge). Harus dilakukan upaya agar orang memiliki kemampuan
menghafal yang baik. Salah satu cara untuk menjadi penghafal adalah dengan
melatih menghafal al-Qur’an. Hafalan memang penting, tapi ia dilengkapi
kemampuan berpikir yang lebih tinggi, yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan
untuk memahami realitas. Kebiasaan berpikir analisis-sintesis akan memungkinkan
seseorang mengaktifkan akalnya. Tidak kurang dari itu, akal pun perlu dilatih
untuk menemukan jalan baru atas berbagai masalah kehidupan.
Pengaktifan hati sudah semestinya dilakukan untuk meraih keungulan. Sebuah hadis
Nabi mengisyaratkan bahwa mufarridun (orang-orang yang unggul) adalah
orang-orang yang banyak melakukan dzikir. Keimanan juga mengaktifkan qalbu.
Begitu pula dengan ibadah. Demikian juga amal sosial yang berbasis rasa
keagamaan dan juga pengalaman keagamaan (H. Fuad Nashori & Rachmi Diana Mucharam,
2002). Mengapa dzikir membuat orang jadi unggul, tidak lain adalah dzikir
memungkinkan hati berperan lebih aktif. Salah satu fungsi hati nurani adalah
menerima pengetahuan atau ilham dari Allah. Kalau seorang kreator Muslim
menghadapi masalah maka ia akan memperoleh jalan keluar, suatu ide yang berasal
dari Allah. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluar (QS ath-Thalaq, 65:2)
Penutup
Demikian sekilas tulisan yang dapat penulis buat. Memang masih sederhana dan
mungkin kurang mendalam dan aplikatif, tapi semoga dapat menjadi stimulasi untuk
kita. [FN]
Daftar Pustaka
Diana, R.R. (1999). Hubungan Religiusitas dan Kreativitas Siswa SMU. Jurnal
Pemikiran dan Penelitian Psikologi PSIKOLOGIKA, No. 6, (IV), 5-25.
adz-Dzaky, M. H. (2001). Psikoterapi dan Konseling Islam. Jogjakarta:
Fajar Pustaka Baru.
Munandar, S.C.U. (ed.). (2001). Mengembangkan Kreativitas: Pengalaman Hidup
Sepuluh Tokoh Kreativitas Indonesia. Jakarta: Pustaka Populer OBOR.
Nashori, H.F. (2002). Mengembangkan Kreativitas dalam Perspektif Psikologi
Islami. Jogjakarta: Menara Kudus.
Tim Revisi Terjamah Al-Qur’an Depag RI. (1989). Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Jakarta: Depag RI & Penerbit CV Jaya Sakti.
Quthb, Sayyid. (2000). Tafsir Fi Zhilalil Qur’an: Di Bawah Naungan Al-Qur’an.
Jakarta: Gema Insani Press.

___________________
|