|

Dalam
Islam, suci dan kotornya hati memiliki arti yang sangat penting. Hati yang suci
dan hati yang kotor ikut menentukan tingkat keberimanan seseorang. Sebuah
ungkapan yang sangat terkenal dari Rasulullah berbunyi: “Iman seorang hamba
tidaklah lurus sebelum lurus hatinya. Dan tidaklah lurus hatinya sebelum lurus
lisannya.” Kalau hati seseorang kotor, atau bepenyakit, maka imannya menjadi
menipis. Sementara kalau hati bersih, atau sehat, maka imannya menguat.
Tulisan yang banyak merujuk pada pandangan Ibnu Qayyim al-Jauzy ini akan
mengungkap bagaimana tanda-tanda penyakit hati, sebab-sebab penyakit hati, dan
upaya penyembuhannya.
Tanda-tanda Penyakit Hati
Pada dasarnya ada dua tanda penyakit hati. Pertama, tidak merasa sakit
dan tidak merasa menyesal atas dosa-dosa yang diperbuat dan tidak mampu
membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Contonya adalah memakan uang
rakyat tanpa merasa bersalah, menculik, menjarah, mengambil hak orang lain
dengan tenang dan tanpa perasaan berdosa. Bahkan, kadang seseorang merasa bangga
atas “prestasinya” melakukan sejumlah perbuatan dosa yang sesungguhnya sangat
menjijikkan (misalkan: seorang laki-laki bangga telah menggauli sejumlah wanita
dari Eropa, Afrika, Arab, Jepang, pribumi, dan sebagainya). Ada pula yang
berbicara lantang tentang kebenaran walaupun dirinya sendiri menyimpang dari
jalan kebenaran itu tanpa perasaan berdosa.
Kedua, condong kepada santapan ruhani yang mudharat (buruk) dan
menghindari santapan ruhani yang bermanfaat (baik). Saat ada panggilan atau
anjuran untuk mengikuti cara berpikir atau cara berperilaku yang buruk, mereka
cepat dalam meresponnya. Sementara bila ada anjuran yang dapat menjadikan mereka
lebih tinggi kualitas pribadinya, mereka cenderung menolaknya.
Sebab-sebab Penyakit Hati
Tanda-tanda penyakit di atas terjadi karena ada beberapa sebab. Penyebab
penyakit hati pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu kata-kata
iseng, memandang sesuatu secara berlebihan, makan secara berlebih-lebihan, dan
bergaul secara bebas.
Pertama, kata-kata iseng yang tidak berguna. Kata-kata iseng sangat mudah
kita ucapkan dengan harapan orang menjadi tertarik dengan kata-kata kita.
Padahal kata-kata iseng dapat menyebabkan tidak lurusnya hati manusia. Sebuah
hadis yang disampaikan Anas bin Malik radhiyallahu anhu mengungkapkan bahwa
Rasulullah bersabda: “Iman seorang hamba tidaklah lurus sebelum lurus hatinya.
Dan tidaklah lurus hatinya sebelum lurus lisannya.”
Pembicaraan-pembicaraan yang tidak berguna menyebabkan hati menjadi menurun
kualitasnya. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu berkata: “Jangan kalian
memper-banyak ucapan selain dzikrullah, karena banyak omongan itu menyebabkan
kesatnya hati. Dan bahwa manusia yang paling jauh dari Allah Azza wa jalla
adalah manusia yang berhati kesat kasar.” Maka, dapat disimpulkan bahwa
kata-kata iseng dapat menyebabkan hati rentasng terhadap penyakit.
Kedua, memandang hal yang semestinya tidak dipandang. Di dunia ini ada
hal-hal yang seharusnya dipandang, ada pula yang sebaiknya dipandang, di samping
ada pula yang tidak boleh dipandang. Orang bijak mengatakan: “Antara hati dan
mata ada tali penghubung. Bila mata rusak, maka rusaklah hati dan menjadikannya
seperti keranjang sampah berisi tumpukan sampah dan macam-macam kotoran.”
Pemandangan-pemandangan yang buruk memiliki pengaruh terhadap hati manusia.
Kalau yang dipandang adalah hal-hal yang berbau pornografis, kekerasan (violence),
pengrusakan (vandalism), dan agresivitas, maka hal-hal demikian dapat
menyebabkan hati menjadi rusak kualitasnya. Sebagai contoh, kalau seseorang
banyak menonton tontonan kekerasan, maka orang ini akan kehilangan kepekaan
terhadap kekerasan. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa paparan kekerasan yang
berulang-ulang dapat menyebutnya ada penumpulan emosi yang selanjutnya
mempengaruhi kemampuan empati terhadap penderitaan korban dalam kehidupan nyata
dan menurunkan kesiapan untu menolong. Dalam hal seperti ini, ahli psikologi
menyebutnya sebagai desensitisasi (desensitization). Dalam suatu
eksperimen (Thomas dkk, 1977) ditemukan bahwa anak-anak dan mahasiswa menjadi
tidak peka lagi terhadap penderitaan akibat akibat agresi dan kekerasa setelah
menonton drama polisi yang penuh kekasaran. Karena terbiasa melihat kekejaman,
mereka tidak lagi kasihan atau terkejut ketika melihat kekerasan dan kekejian.
Yang perlu diperhatikan oleh manusia adalah bahwa iblis dapat menjadikan sesuatu
yang sesunguhnya buruk tampak seperti sesuatu yang baik dan indah. Hal ini
difirmankan Allah Azza wa jalla dalam al-Qur’an. Sebagai misal,
pornografi adalah hal yang buruk, tapi ibadah menjadikan pemandangan ini sebagai
sesuatu yang tampak indah.
Oleh karena Allah Azza wa jalla menganjurkan kepada manusia agar
menunduk-kan pandangannya. Dalam al-Qur’an Surat an-Nur ayat 30, Allah Azza
wa jalla berfirman: “Katakanlah kepada orang yang beriman supaya mereka
menundukkan pandangannya (dari melihat yang terlarang) dan menjaga kehormatannya.
Itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mengetahui apa-apa yang mereka
lakukan.”
Ketiga, makan secara berlebih-lebihan. Segala sesuatu yang berlebihan
adalah tidak baik. Kalau seseorang makan secara cukup, maka itu akan
menjadikannya tetap sehat. Sementara kalau seseorang makan secara berlebihan,
maka secara fisik ia akan dirugikan, yaitu hadirnya kegemukan (obesity).
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang mengisi wadah yang lebih buruk
dari perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan saja untuk menegakkan
punggungnya. Jika tidak mungkin demikian, maka hendaklah sepertiga dari perutnya
diisi dengan makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernapasan.”
Keempat, adalah bergaul atau berkawan secara bebas. Sudah sangat disadari
bahwa lingkungan yang baik akan menjadikan kita baik. Sebaliknya, kawan atau
sahabat yang berkarakter buruk akan menjadikan kita buruk. Pesan yang
disampaikan Rasulullah “bergaullah dengan orang yang saleh”
mengisyaratkan bahwa orang yang baik akan memberi pengaruh baik pada kita.
Sebaliknya, kalau kawan buruk, maka kita bisa terpengaruh dengannya, yaitu kita
menjadi mudah berpikir dan berperilaku buruk. Mengapa demikian? Salah satu
kemungkinannya adalah adanya kecenderungan dalam diri manusia untuk bersikap
konformis atau bersikap seragam dengan orang-orang yang ada di sekitarnnya. Hal
ini didasari oleh pertimbangan bahwa setiap orang ingin diterima oleh
orang-orang yang ada di sekitarnya. Maka, cara yang ditempuh orang dalam
berbagai situasi adalah mengikuti pola yang dikembangkan oleh kelompok atau pola
yang dikembangkan orang lain, bahkan biarpun hal itu tidak kita setujui. Contoh
esktrim yang dapat kita angkat adalah kesediaan orang Indonesia selama 32 tahun
mengikuti sistem politik otoriter yang digariskan Soeharto. Kita menyesuaikan
diri untuk menjadi orang Indonesia yang taat kepada pemerintah, tetapi hal itu
menjadikan kita sulit untuk memilih yang sungguh-sungguh benar menurut keyakinan
kita.
Cara Menyembuhkan Penyakit Hati
Ada beberapa cara penyembuhan penyakit hati. Pertama, dzikrullah. Yaitu
memperbanyak dzikir kepada Allah. Dalam ayat suci al-Qur’an, Allah menandaskan
bahwa kalau seseorang banyak berdzikir, maka akan tenanglah hati seseorang.
Dzikir itu sendiri dapat dibaca dalam segala situasi, yaitu ketika berdiri,
duduk, dan terlentang. Adapun dzikir-dzikir yang bisa dijadikan contoh adalah
Subhanallah, wa Alhamdulillah. La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, La haula wa la
quwwata illah billah.
Kedua, tilawatil qur’an. Dengan memperbanyak al-Qur’an, kita memperbanyak
pahala. Pahala bagaikan air yang dapat menghapus kotoran atau penyakit yang ada
dalam diri seseorang.
Ketiga, istighfar. Istighfar adalah salah satu bentuk pertaubatan. Pada
dasarnya, kalau seseorang beristighfar, seseorang menilai dirinya dalam keadaan
bermasalah atau dalam keadaan salah.
Keempat, doa. Doa melambangkan adanya harapan (hope) dalam diri seseorang.
Dalam Islam diterangkan bahwa kalau seseorang berdoa, dia menyadari bahwa ada
sesuatu yang sangat diharapkan. Kelima, shalawat nabi. Keenam, qiyamul lail.
Yaitu, terbangun di waktu malam untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa
jalla.
Demikian. Bagaimana menurut Anda? [FN]

___________________
|