|

Masalah
kebermaknaan hidup senantiasa menjadi problem penting dalam kehidupan manusia,
baik dulu, kini dan di masa depan. Seribu tahun lalu, ketika berada di puncak
popularitasnya sebagai guru besar pemikiran Islam di Universitas Nizamiyah, Imam
Abu Hamid Al-Ghazali bertanya: untuk apa popularitas ini? Maka, Al-Ghazali
pun memilih hidup sebagai sufi, ia hidup zuhud dengan diawali pengasingan
diri.
Ironi
Hal-hal yang digadang-gadang orang sebagai sumber kebahagiaan dikejar dengan
mengerahkan ‘segala’ sumber daya yang ada. Di mana-mana orang mengagung-agungkan
harta, popularitas, kedudukan atau sebagai sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan.
Ketika semua itu diperolehnya, orang merasa apa yang dicari, yaitu kebahagiaan,
kehidupan yang bermakna, tak jua ia dapatkan. Ketika berhasil meraih
keberhasilan-keberhasilan material, orang bertanya: sesungguhnya untuk apa harta
benda yang bertumpuk-tumpuk, yang bahkan sebagian didapatkan dari cara yang
haram. Ketika menjadi populer, orang berkata dalam hati bahwa popularitas itu
hampa belaka, untuk apa?.
Orang-orang yang hidup di negara maju boleh jadi sejahtera secara lahir, namun
kosongnya makna hidup menjadikan mereka memilih “bunuh diri”. Hal ini
sebagaimana terjadi di negara-negara Skandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia),
juga di Jepang. Mereka merasakan kosongnya makna hidup sehingga menjadikan
mereka tidak memiliki harga diri yang kokoh, dan karenanya itu membuat mereka
tidak tahan terhadap penderitaan.
Hal ini dipertegas oleh ungkapan psikolog Erich Fromm. Fromm mengungkapkan bahwa
manusia moderen menghadapi suatu ironi. Mereka berjaya dalam menggapai
capaian-capaian material, namun kehidupan mereka dipenuhi keresahan jiwa.
Orang-orang moderen banyak yang sangat rentan terhadap stres, depresi, merasa
teralienasi (meski mereka hidup bersama orang lain), mengalami berbagai penyakit
kejiwaan, hingga memutuskan untuk bunuh diri. Hal ini sejalan dengan pandangan
filosuf Inggris, Bertrand Russell, yang mengatakan bahwa kemajuan-kemajuan
material yang dicapai itu ternyata tidak dibarengi oleh kemajuan di bidang
moral-spiritual. Russell menilai bahwa peradaban Barat moderen ditandai oleh
terputusnya rantai kemajuan material dan kemajuan moral-spiritual.
Pertanyaan tentang kebermaknaan hidup ini terjadi manakala sesuatu yang dimiliki,
yang biasanya dipandang positif, telah hilang. Berbagai pengalaman hidup yang
tragis, yang memilukan bahkan mengiris-iris hati, kadang menjadikan seseorang
berputus asa. Kenyataan hidup yang tidak searah dengan harapan hidup menjadikan
mereka menderita. Hilangnya kekasih tercinta menjadikan seseorang memilih untuk
tidak mau menikah, bahkan sebagian bunuh diri. Berada dalam tekanan atau teror
orang lain atau dalam keadaan kehilangan sanak keluarga yang sangat dicintai,
menjadikan seseorang merasa tidak berarti lagi. Ketika berada dalam teror
psikologis tentara NAZI, banyak orang Yahudi yang diselimuti keputusasaan,
sesuatu yang menjadikan NAZI tersenyum saat mengeksekusi mereka. Kenyataan yang
harus sering kita dengar adalah kehidupan terpaksa berakhir dikarenakan apa yang
dicari tak juga diperoleh dan apa yang dianggap sebagai milik kita telah
tercabut dari kehidupan kita.
Orang mempercayai bahwa kebermaknaan hidup ini begitu penting. Psikolog pun
menjadikan masalah ini sebagai bahan kajian mereka. Seorang psikolog humanistik
bernama Viktor E. Frankl pun tertarik untuk meneorikannya. Maka, dari tangannya
lahirlah teori tentang kebermaknaan hidup, yang biasa dikenal dengan teori
logoterapi. Seorang psikolog kontemporer, Danah Zohar bersama suaminya Ian
Marshall, pun menempatkan kebermaknaan hidup sebagai modal utama keberhasilan
hidup manusia, sehingga ia meneorikannya menjadi kecerdasan spiritual.
Sebenarnya apa yang paling bermakna bagi manusia? Secara umum adalah seberapa
seseorang yakin dirinya memiliki keberartian atau keberhargaan bagi Sang
Pencipta dan atau terhadap sesama. Kalau Bunda Theresa ditanya tentang
kebermaknaan hidup, maka beliau secara lugas akan menjawabnya demikian. Tuhan
dan sesama. Bagi seorang ibu yang terkena penyakit yang mengancam jiwa seperti
kanker, kebermaknaan hidupnya adalah kesadaran akan arti penting dirinya bagi
anak-anak dan suaminya.
Keberhargaan bagi Tuhan dilakukan dengan meletakkan diri sebagai hamba. Dzikir
merupakan sarana bagi manusia untuk memperoleh keberhargaan diri bagi Tuhan.
Imam Al-Ghazali adalah contoh orang yang kuat berdzikirnya.
Dzikir dan Makna Hidup
Sudah menjadi pengetahuan bersama kita bahwa dzikir memiliki pengaruh terhadap
keadaan kepribadian kita. Teori umum dalam pemikiran Islam yang dipercayai
adalah dalam diri manusia terdiri Ruh Tuhan (the Spirit of God), yang
berarti dalam diri manusia terdapat potensi-potensi positif berupa melekatnya
sifat-sifat yang dimiliki Tuhan. Upaya-upaya mengembangkan potensi itu akan
menghasilkan berkembangnya sifat-sifat positif sebagaimana digambarkan dalam
asmaul husna (sifat-sifat baik Tuhan). Allah Azza wa jalla memiliki sifat
rahman-rahim (pengasih-penyayang), ‘alim (cerdas), qahhar (perkasa),
dsb., maka manusia pun memiliki sifat kasih-sayang, cerdas, perkasa, dsb. Bila
seseorang melazimkan diri berdzikir kepada Allah, maka sifat-sifat Allah
sebagaimana yang baca itu akan berimbas terhadap dirinya. Potensi-potensi yang
ada dalam diri manusia itu menjadi berkembang.
Kebiasaan berdzikir akan memancarkan pengaruh terhadap berbagai dimensi
kehidupan manusia. Ia dapat membersihkan yang kotor. Pun menguatkan apa yang
sudah ada dalam pribadi manusia. Bacaan dzikir yang bersifat dasar mestilah
menjadi ‘konsumsi’ kita bila kita menghendaki anugerah dari Allah itu berupa
berkembangnya sifat-sifat atau keadaan-keadaan baik yang real-aktual. Bacaan
dzikir yang dasar adalah kalimat thayyibah, ta’awwudz, basmalah, hamdalah,
tasbih, takbir, hauqalah, shalawat. Bila kita menghendaki kebaikan dalam
berbagai dimensi kehidupan kita, maka membiasakan diri melakukan dzikir akan
menumbuhkembangkan sifat-sifat positif yang sudah ada dalam diri kita. Membaca
99 asmaul husna berarti upaya menumbuhkan semua potensi positif.
Sekalipun demikian, bila seseorang membutuhkan agar sifat-sifat tertentu dapat
berkembang lebih optimal, maka ia dapat memperbanyak bacaan-bacaan tertentu
dalam asmaul husna. Sebagai misal, bila seseorang merasa bahwa dalam dirinya
tidak ada cinta, maka bacaan ya rahmaan dan ya rahiim dapat ia
perbanyak. Bila diri ini diliputi ketakutan, maka bacaan ya qahhar (yang perkasa)
patut untuk diperbanyak. Bila diri ini penuh dengan kekasaran terhadap perilaku
manusia, maka bacaan ya latiif (yang lembut) perlu diintensifkan
bacaannya.
Orang-orang yang mengalami persoalan makna hidup sangat direkomendasikan untuk
melazimkan diri dengan berbagai macam bacaan dzikir. Persoalan-persoalan yang
mengganjal kehidupan mereka dapat mereka sadari dengan berdzikir. Terutama untuk
dzikir yang dilakukan secara berkelompok, maka dzikir dapat kuat pengaruhnya
dalam upaya menghadirkan kesadaran diri. Dalam konteks ini, apa yang dilakukan
Muhammad Arifin Ilham dengan majelis dzikirnya memberi manfaat untuk penguatan
kesadaran diri. Dalam dunia sufisme, hubungan itu berlangsung antara guru dan
murid (baca: guru tarekat atau mursyid dan murid). Hubungan itu agak
mirip dengan hubungan antara terapis dan klien. Dalam kegiatan tarekat,
pengenalan diri itu dilakukan dengan proses talqin (pengajaran), yaitu
proses di mana guru (mursyid) mengajarkan bagaimana cara berdzikir yang
baik kepada muridnya. Pada waktu seseorang mengikuti talqin, timbul
pemahaman atau pencerahan (insight) tentang diri sendiri, dosa-dosa dan
sifat-sifat jelek sehingga timbul penyesalan.
Sesudah mengikuti dzikir ternyata berbagai persoalan yang berkaitan dengan makna
hidup dapat teratasi. Dalam suatu penelitian yang dilakukan Dr. Subandi, MA (UGM)
terhadap pengamal dzikir Kelompok Pengajian Tawakkal –yang beraliran
Qadiriyah-Naqsabandiyah— ditemukan bahwa orang-orang yang melazimkan diri
melakukan dzikir memiliki berbagai pengalaman seperti penyucian diri, penemuan
kebenaran, transisi, kedekatan/keakraban dengan Tuhan, hilangnya rasa keakuan,
pembaharuan moralitas, perasaan diatur oleh Tuhan, mendapatkan petunjuk dari
Tuhan. Orang yang banyak melanggar perintah Tuhan, setelah intens melazimkan
berdzikir seseorang menjadi tersucikan lahir maupun batin. (Saya malah kena
penyakit kulit. Seluruh badan saya gatal… Menurut teman saya itu mungkin
merupakan pembersihan diri dari syirik-syirik kecil). Mereka juga merasakan
adanya keakraban/kedekatan dengan Tuhan. (Sepertinya saya dijiewer (Allah):
‘Kamu itu mengertilah!’). Rasa sombong atau keakuan juga mencari hilang. (Saya
merasa tidak punya apa-apa). Berdzikir juga menghadirkan pembaharuan moralitas.
(Pikiran dan hati saya tidak ada rasa macam-macam. Tadinya mungkin suka iri,
dengki. Itu hilang semua. Lapang sekali dada ini).
Bila seseorang banyak berdzikir dan banyak melakukan perintah lain dari Tuhan,
maka sekalipun terdapat penderitaan, sikap atas penderitaan itu akan selalu
positif. Kita cermati ungkapan dari orang-orang yang mengalami peristiwa tragis
di bawah ini dan respon positif mereka. “Kalau saya tinjau lagi seluruh
perjalanan hidup saya, dapat dikatakan hampir tak merasakan kebahagiaan. Rasanya
sebentar sekali, yaitu hanya sekitar delapan tahun saya benar-benar merasakan
kebahagiaan berumah tangga bersama almarhum suami. Setelah itu dilanjutkan
dengan masa-masa kerja keras mencari nafkah dengan segala suka dukanya. Tapi
puji syukur kepada Tuhan, pada akhirnya saya menyaksikan ketiga anak saya
mandiri dan hidup dengan baik. Dan itulah puncak kebahagiaan saya sekarang”
(Ny. Imas, Jakarta, 50 tahun, Swasta, Sunda, Islam).
Bagaimana menurut Anda? [FN]

___________________
|