Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 

Psikologi Islami

Artikel psikologi Islami.

 
     
 

Mengakhiri Kehampaan dengan Dzikir


Artikel Psikologi Islami | 01/2009 | H. Fuad Nashori | Psikologi Islami

 
 

Mengakhiri Kehampaan dengan Dzikir

© Januari 2009

Penulis: H. Fuad Nashori

Ahli Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta.

 
 


Masalah kebermaknaan hidup senantiasa menjadi problem penting dalam kehidupan manusia, baik dulu, kini dan di masa depan. Seribu tahun lalu, ketika berada di puncak popularitasnya sebagai guru besar pemikiran Islam di Universitas Nizamiyah, Imam Abu Hamid Al-Ghazali bertanya: untuk apa popularitas ini? Maka, Al-Ghazali pun memilih hidup sebagai sufi, ia hidup zuhud dengan diawali pengasingan diri.

 

 



 

Ironi

Hal-hal yang digadang-gadang orang sebagai sumber kebahagiaan dikejar dengan mengerahkan ‘segala’ sumber daya yang ada. Di mana-mana orang mengagung-agungkan harta, popularitas, kedudukan atau sebagai sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan. Ketika semua itu diperolehnya, orang merasa apa yang dicari, yaitu kebahagiaan, kehidupan yang bermakna, tak jua ia dapatkan. Ketika berhasil meraih keberhasilan-keberhasilan material, orang bertanya: sesungguhnya untuk apa harta benda yang bertumpuk-tumpuk, yang bahkan sebagian didapatkan dari cara yang haram. Ketika menjadi populer, orang berkata dalam hati bahwa popularitas itu hampa belaka, untuk apa?.


Orang-orang yang hidup di negara maju boleh jadi sejahtera secara lahir, namun kosongnya makna hidup menjadikan mereka memilih “bunuh diri”. Hal ini sebagaimana terjadi di negara-negara Skandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia), juga di Jepang. Mereka merasakan kosongnya makna hidup sehingga menjadikan mereka tidak memiliki harga diri yang kokoh, dan karenanya itu membuat mereka tidak tahan terhadap penderitaan.

Hal ini dipertegas oleh ungkapan psikolog Erich Fromm. Fromm mengungkapkan bahwa manusia moderen menghadapi suatu ironi. Mereka berjaya dalam menggapai capaian-capaian material, namun kehidupan mereka dipenuhi keresahan jiwa. Orang-orang moderen banyak yang sangat rentan terhadap stres, depresi, merasa teralienasi (meski mereka hidup bersama orang lain), mengalami berbagai penyakit kejiwaan, hingga memutuskan untuk bunuh diri. Hal ini sejalan dengan pandangan filosuf Inggris, Bertrand Russell, yang mengatakan bahwa kemajuan-kemajuan material yang dicapai itu ternyata tidak dibarengi oleh kemajuan di bidang moral-spiritual. Russell menilai bahwa peradaban Barat moderen ditandai oleh terputusnya rantai kemajuan material dan kemajuan moral-spiritual.

Pertanyaan tentang kebermaknaan hidup ini terjadi manakala sesuatu yang dimiliki, yang biasanya dipandang positif, telah hilang. Berbagai pengalaman hidup yang tragis, yang memilukan bahkan mengiris-iris hati, kadang menjadikan seseorang berputus asa. Kenyataan hidup yang tidak searah dengan harapan hidup menjadikan mereka menderita. Hilangnya kekasih tercinta menjadikan seseorang memilih untuk tidak mau menikah, bahkan sebagian bunuh diri. Berada dalam tekanan atau teror orang lain atau dalam keadaan kehilangan sanak keluarga yang sangat dicintai, menjadikan seseorang merasa tidak berarti lagi. Ketika berada dalam teror psikologis tentara NAZI, banyak orang Yahudi yang diselimuti keputusasaan, sesuatu yang menjadikan NAZI tersenyum saat mengeksekusi mereka. Kenyataan yang harus sering kita dengar adalah kehidupan terpaksa berakhir dikarenakan apa yang dicari tak juga diperoleh dan apa yang dianggap sebagai milik kita telah tercabut dari kehidupan kita.

Orang mempercayai bahwa kebermaknaan hidup ini begitu penting. Psikolog pun menjadikan masalah ini sebagai bahan kajian mereka. Seorang psikolog humanistik bernama Viktor E. Frankl pun tertarik untuk meneorikannya. Maka, dari tangannya lahirlah teori tentang kebermaknaan hidup, yang biasa dikenal dengan teori logoterapi. Seorang psikolog kontemporer, Danah Zohar bersama suaminya Ian Marshall, pun menempatkan kebermaknaan hidup sebagai modal utama keberhasilan hidup manusia, sehingga ia meneorikannya menjadi kecerdasan spiritual.

Sebenarnya apa yang paling bermakna bagi manusia? Secara umum adalah seberapa seseorang yakin dirinya memiliki keberartian atau keberhargaan bagi Sang Pencipta dan atau terhadap sesama. Kalau Bunda Theresa ditanya tentang kebermaknaan hidup, maka beliau secara lugas akan menjawabnya demikian. Tuhan dan sesama. Bagi seorang ibu yang terkena penyakit yang mengancam jiwa seperti kanker, kebermaknaan hidupnya adalah kesadaran akan arti penting dirinya bagi anak-anak dan suaminya.

Keberhargaan bagi Tuhan dilakukan dengan meletakkan diri sebagai hamba. Dzikir merupakan sarana bagi manusia untuk memperoleh keberhargaan diri bagi Tuhan. Imam Al-Ghazali adalah contoh orang yang kuat berdzikirnya.


Dzikir dan Makna Hidup

Sudah menjadi pengetahuan bersama kita bahwa dzikir memiliki pengaruh terhadap keadaan kepribadian kita. Teori umum dalam pemikiran Islam yang dipercayai adalah dalam diri manusia terdiri Ruh Tuhan (the Spirit of God), yang berarti dalam diri manusia terdapat potensi-potensi positif berupa melekatnya sifat-sifat yang dimiliki Tuhan. Upaya-upaya mengembangkan potensi itu akan menghasilkan berkembangnya sifat-sifat positif sebagaimana digambarkan dalam asmaul husna (sifat-sifat baik Tuhan). Allah Azza wa jalla memiliki sifat rahman-rahim (pengasih-penyayang), ‘alim (cerdas), qahhar (perkasa), dsb., maka manusia pun memiliki sifat kasih-sayang, cerdas, perkasa, dsb. Bila seseorang melazimkan diri berdzikir kepada Allah, maka sifat-sifat Allah sebagaimana yang baca itu akan berimbas terhadap dirinya. Potensi-potensi yang ada dalam diri manusia itu menjadi berkembang.

Kebiasaan berdzikir akan memancarkan pengaruh terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia. Ia dapat membersihkan yang kotor. Pun menguatkan apa yang sudah ada dalam pribadi manusia. Bacaan dzikir yang bersifat dasar mestilah menjadi ‘konsumsi’ kita bila kita menghendaki anugerah dari Allah itu berupa berkembangnya sifat-sifat atau keadaan-keadaan baik yang real-aktual. Bacaan dzikir yang dasar adalah kalimat thayyibah, ta’awwudz, basmalah, hamdalah, tasbih, takbir, hauqalah, shalawat. Bila kita menghendaki kebaikan dalam berbagai dimensi kehidupan kita, maka membiasakan diri melakukan dzikir akan menumbuhkembangkan sifat-sifat positif yang sudah ada dalam diri kita. Membaca 99 asmaul husna berarti upaya menumbuhkan semua potensi positif.

Sekalipun demikian, bila seseorang membutuhkan agar sifat-sifat tertentu dapat berkembang lebih optimal, maka ia dapat memperbanyak bacaan-bacaan tertentu dalam asmaul husna. Sebagai misal, bila seseorang merasa bahwa dalam dirinya tidak ada cinta, maka bacaan ya rahmaan dan ya rahiim dapat ia perbanyak. Bila diri ini diliputi ketakutan, maka bacaan ya qahhar (yang perkasa) patut untuk diperbanyak. Bila diri ini penuh dengan kekasaran terhadap perilaku manusia, maka bacaan ya latiif (yang lembut) perlu diintensifkan bacaannya.

Orang-orang yang mengalami persoalan makna hidup sangat direkomendasikan untuk melazimkan diri dengan berbagai macam bacaan dzikir. Persoalan-persoalan yang mengganjal kehidupan mereka dapat mereka sadari dengan berdzikir. Terutama untuk dzikir yang dilakukan secara berkelompok, maka dzikir dapat kuat pengaruhnya dalam upaya menghadirkan kesadaran diri. Dalam konteks ini, apa yang dilakukan Muhammad Arifin Ilham dengan majelis dzikirnya memberi manfaat untuk penguatan kesadaran diri. Dalam dunia sufisme, hubungan itu berlangsung antara guru dan murid (baca: guru tarekat atau mursyid dan murid). Hubungan itu agak mirip dengan hubungan antara terapis dan klien. Dalam kegiatan tarekat, pengenalan diri itu dilakukan dengan proses talqin (pengajaran), yaitu proses di mana guru (mursyid) mengajarkan bagaimana cara berdzikir yang baik kepada muridnya. Pada waktu seseorang mengikuti talqin, timbul pemahaman atau pencerahan (insight) tentang diri sendiri, dosa-dosa dan sifat-sifat jelek sehingga timbul penyesalan.

Sesudah mengikuti dzikir ternyata berbagai persoalan yang berkaitan dengan makna hidup dapat teratasi. Dalam suatu penelitian yang dilakukan Dr. Subandi, MA (UGM) terhadap pengamal dzikir Kelompok Pengajian Tawakkal –yang beraliran Qadiriyah-Naqsabandiyah— ditemukan bahwa orang-orang yang melazimkan diri melakukan dzikir memiliki berbagai pengalaman seperti penyucian diri, penemuan kebenaran, transisi, kedekatan/keakraban dengan Tuhan, hilangnya rasa keakuan, pembaharuan moralitas, perasaan diatur oleh Tuhan, mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Orang yang banyak melanggar perintah Tuhan, setelah intens melazimkan berdzikir seseorang menjadi tersucikan lahir maupun batin. (Saya malah kena penyakit kulit. Seluruh badan saya gatal… Menurut teman saya itu mungkin merupakan pembersihan diri dari syirik-syirik kecil). Mereka juga merasakan adanya keakraban/kedekatan dengan Tuhan. (Sepertinya saya dijiewer (Allah): ‘Kamu itu mengertilah!’). Rasa sombong atau keakuan juga mencari hilang. (Saya merasa tidak punya apa-apa). Berdzikir juga menghadirkan pembaharuan moralitas. (Pikiran dan hati saya tidak ada rasa macam-macam. Tadinya mungkin suka iri, dengki. Itu hilang semua. Lapang sekali dada ini).

Bila seseorang banyak berdzikir dan banyak melakukan perintah lain dari Tuhan, maka sekalipun terdapat penderitaan, sikap atas penderitaan itu akan selalu positif. Kita cermati ungkapan dari orang-orang yang mengalami peristiwa tragis di bawah ini dan respon positif mereka. “Kalau saya tinjau lagi seluruh perjalanan hidup saya, dapat dikatakan hampir tak merasakan kebahagiaan. Rasanya sebentar sekali, yaitu hanya sekitar delapan tahun saya benar-benar merasakan kebahagiaan berumah tangga bersama almarhum suami. Setelah itu dilanjutkan dengan masa-masa kerja keras mencari nafkah dengan segala suka dukanya. Tapi puji syukur kepada Tuhan, pada akhirnya saya menyaksikan ketiga anak saya mandiri dan hidup dengan baik. Dan itulah puncak kebahagiaan saya sekarang” (Ny. Imas, Jakarta, 50 tahun, Swasta, Sunda, Islam).

Bagaimana menurut Anda? [FN]

 

 

___________________


 

 

Comment Script

Comments

Name
E-mail (Will not appear online)
Homepage
Title
Comment
;-) :-) :-D :-( :-o >-( B-) :oops: :-[] :-P
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184