|

Ada
sejumlah langkah untuk melejitkan moral-spiritual anak, yaitu dengan
meningkatkan stimulasi pendengaran, penglihatan dan perabaan serta permainan.
Stimulasi Pendengaran
Stimulasi pendengaran dicontohkan oleh Ibunda Imam Syafii. Kita tahu Imam Syafii
adalah orang besar dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya pemikiran fikih.
Sudah pasti kapasitas otaknya luar biasa. Ia memiliki kemampuan mengingat
informasi hadits yang teramat banyak. Lebih dari itu, kemampuannya yang sangat
menonjol adalah menganalisis dan mensintesis serta mengaplikasikan ajaran Islam
sehingga akhirnya banyak ijtihad fiqihnya yang bertahan lebih dari seribu tahun.
Sedemikian kuatnya argumentasi yang dibangunnya, sehingga sebagaian besar umat
Islam mendasarkan ibadah dan muammalahnya berdasarkan kitab fikih yang disusun
Imam Syafii.
Syafii yang hebat ini –di masa kecilnya-- ternyata distimulasi pendengaran
secara optimum oleh ibundanya. Stimulasi yang bersifat terus menerus adalah
mendengar bacaan ayat suci Al Qur’an dari ibundanya yang hafidhah. Kita
tahu seorang hafidhah yang aktif biasanya menghabiskan 3-4 hari untuk
mengkhatamkan Al Qur’an. Rata-rata Ibunda Imam Syafii membacakan untuk Syafii
8-10 juz sehari. Kita bisa bayangkan banyaknya stimulasi kognitif oleh ibundanya:
5-8 jam sehari memperoleh stimulasi yang bersifat aktif. Dalam situasi demikian,
neuron-neuron dalam otak Syafii kecil bekerja secara aktif. Terjadi sambung
menyambung antara neuron satu dengan yang lain sehingga menghasilkan wadah
kognitif dan spiritualitas yang luar biasa.
Memang demikianlah keadaannya. Beberapa tahun setelah banyak duduk di pangkuan
ibundanya, Imam Syafii mulai belajar membaca dan menghafal Al Qur’an. Hari demi
hari ia pelajari satu per satu ayat-ayat suci Al Qur’an. Orang melihat betapa
cerdas Imam Syafii. Karena wadah kognitifnya yang demikian besar, ia mampu
memasukkan asupan informasi secara optimum. Pada usia 7 tahun, ia telah
menghafal seluruh isi Al Qur’an. Sekali lagi: Luar Biasa!
Dalam konteks kehidupan kita saat ini, kita juga semestinya memperkaya stimulasi
pada anak dengan berbagai aktivitas. Memberinya nama yang baik, mengajaknya
bicara, menyanyikan lagu indah dan optimistik, memperdengarkan cerita-cerita
yang baik, ceramah-ceramah dan murottal, mengajak dan mendorongnya ikut
acara keagamaan, dan sebagainya adalah upaya untuk mengaktifkan otak dan hati
anak. Kita dipersilakan untuk mencari sendiri secara kreatif apa yang bisa
diberikan pada anak, baik dalam bentuk mengarahkan, memberi feedback,
melarang, dan sebagainya. Catatan yang terpenting adalah informasi yang
diberikan bersifat positif dan tidak menjadikan anak takut untuk berkembang,
seperti cerita yang mengerikan, cerita dengan tokoh jahat, dan sebagainya.
Stimulasi Penglihatan
Dalam konteks kehidupan saat ini, anak-anak kita pun layak untuk mendapatkan
stimulasi ini secara optimum. Kita dipersilakan melakukan cara kreatif untuk
memberikan stimualasi penglihatan ini pada anak. Kita tahu bahwa anak yang sehat
selalu menginginkan ini. Mereka ingin melihat dunia ini dengan bermilyar
warna-warninya. Kalau kita penuhi kebutuhan mereka, kita berarti memberinya
kesempatan untuk memperbesar wadah kognitifnya.
Ada cerita menarik dari seorang kenalan saya yang kebetulan seorang hakim. Suatu
ketika ia mendapati anaknya mengambil uang di lemari tanpa bilang ke orangtuanya.
Ini diulanginya berkali-kali. Wah, ini perilaku tidak baik dan tak boleh
berlanjut, kata sang ibu dalam hati. Maka, ia ajak naik sang anak ke mobil dan
berhenti di pintu masuk sebuah penjara. Ia berkata kepada anaknya: apa kau ingin
masuk ke sana? Kalau kau suka mengambil uang tanpa diizinkan pemiliknya, kau
bisa dipenjara seperti mereka. Apa yang dilihat anak ini berkesan sepanjang
kehidupannya. Berdasar cerita kenalan saya tadi, si anak tidak lagi mengambil
uang tanpa izin.
Cerita berikutnya adalah seorang ayah yang mendapati anaknya yang suka membantah.
Setiap kali orangtua bicara ada saja alasan untuk menolak perintah sang ayah. Si
ayah ingin memberi pelajaran kepada sang anak bahwa orangtua itu penting.
Nasihat orangtua adalah sesuatu yang patut menjadi perhatian. Maka, sang
orangtua mengajak anak naik motor dan berhentilah mereka di depan pemakaman. Si
ayah berkata: Nak, kamu tahu tempat apa ini? Si anak menjawab: makam. Si ayah
meneruskan: Apa yang akan kamu rasakan kalau ayah tiba-tiba meninggal dunia dan
dikubur di sini? Si anak tidak segera menjawab. Ia diam. Tetapi sejak saat itu,
si anak tidak lagi membantah kepada nasihat dan perintah orangtuanya.
Tentang pentingnya stimulasi penglihatan ini, para pendidik dan ahli pendidikan
sangat menyadari pentingnya masalah ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Zakiah
Daradjat, perilaku yang mereka tunjukkan akan dijadikan anak sebagai rujukan.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh penglihatan
mereka (83 persen), pendengaran (11 persen), dan penciuman-pencicipan-perabaan
(6 persen). Apa yang dilakukan orangtua membekas ”seribu kali” lebih besar
dibandingkan dengan kata-kata yang bertentangan dengan perilaku orangtua. Maka,
dapat dikatakan di sini, keteladanan orangtua sangat penting.
Masalah moralitas dan spiritualitas ini sangat penting didekati dengan stimulasi
penglihatan atau keteladanan. Si anak akan mudah menjadi hamba yang suka beramal
bila si orangtua mudah memberikan sebagian rezeki kepada pengemis jalanan,
tetangga yang membutuhkan, masjid yang sedang dibangun, dan seterusnya. Si anak
juga akan mudah melakukan perilaku bermoral bila orangtua juga: tidak
sembarangan meletakkan kaki di meja, membuang sampah dengan cara melempar,
membicarakan orang lain, dan seterusnya. Kata orang, kalau anak melihat yang
baik belum tentu ia meniruanya. Tapi kalau jelek, ia jauh lebih mudah menirunya.
Stimulasi Perabaan
Yang tak kalah pentingnya ketika berkomunikasi dengan anak adalah menyentuh
mereka. Saya sendiri sering menyentuh dan bahkan memeluk anak saya yang menangis
meraung-raung. Kalau sudah dipeluk, biasanya ia mulai tenang.
Nabi Muhammad SAW., sebagaimana diungkapkan oleh seorang sahabat yang waktu
kecil disentuh Nabi, juga suka menyentuh anak-anak. ”Pada suatu hari aku tengah
shalat dhuhur bersama Nabi SAW. Seusasi shalat beliau keluar menuju rumah
keluarganya, aku pun mengikuti Nabi SAW ke rumahnya. Aku melihat anak-anak
menyambut beliau, maka beliau pun mengusap kedua pipi mereka satu per satu.
Ketika mengetahui bahwa aku mengikutinya, Nabi SAW. pun mengusap pipiku, dan aku
merasakan tangannya yang dingin dan tersebar harumnya tangan Nabi SAW.
seolah-olah tangan beliau baru saja dikeluarkan dari tempat minyak wangi.”
Stimulasi Bermain
Dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi orangtua untuk bermain dan bercanda
dengan anak-anak. Hal-hal sejenis ini sangat berguna untuk membentuk lingkungan
yang menyenangkan bagi anak. Nabi Muhammad SAW. adalah contoh orang dewasa yang
suka bermain-main dengan anak-anak, terutama dengan kedua cucunya yang bernama
Hasan dan Husain. Nabi merendahkan tangan dan badannya serta berlari ke sana
kemari seolah-olah bertingkah seperti kuda. Ini menjadikan anak-anak tertawa
gembira. Nabi pun pernah memanjangkan sujud dalam shalatnya karena Husain naik
ke punggung beliau. Umar bin Khattab ra. pernah berkata: ”Diupayakan agar setiap
orang berlaku seperti anak ketika bercanda dengan anak-anaknya. Hal ini akan
membaut mereka senang dan bergembira dalam bermain bersamanya.”
Dalam buku Doktor Cilik Hafal dan Paham al-Qur’an, diceritakan bagaimana
orangtua sang hafidh Muhammad Husein Tabataba’i mendidik dirinya. Sayid Muhammad
Mahdi Tabataba’i adalah guru dari anak-anaknya dan sejumlah anak lain yang
belajar menghafal al-Qur’an darinya. Ketika mengajarkan hafalan al-Qur’an, Mahdi
banyak menggunakan metode permainan. Salah satunya adalah mengulang-ulang ayat
bergantian dengan berlomba mencari kursi. Siapa yang tidak dapat kursi giliran
mengulang bacaan.
Demikian. Bagaimana menurut Anda? [FN]

___________________
|