|
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
tidurmu di
waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian
dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan
(QS 30, al-Ruum:23).

Dalam
sejarah peradaban Islam dan peradaban Barat ada orang yang sangat brilian.
Mereka adalah Ibnu Sina dan Leonardo da Vinci. Leonardo da Vinci seperti kita
ketahui adalah seorang ahli fisika (dialah perancang pertama kapal selam),
seorang pemusik klasik, dan tentu seorang pelukis. Dia adalah salah seorang dari
sedikit ilmuwan peradaban Barat yang ahli dalam berbagai bidang. Ibnu Sina
adalah bapak kedokteran Islam, ahli-ahli di bidang: filsafat, geologi, kimia,
kosmologi, sastra, politik, psikologi, dan sebagainya. Dalam bidang psikologi
beliau menulis kitab al-Najat tentang kebahagiaan jiwa. Dia adalah salah satu di
antara puluhan bahkan ratusan ilmuwan Islam yang sangat brilian, ahli dalam
berbagai bidang.
Yang patut untuk mendapat catatan adalah dua orang ini menganggap bahwa tidur
dan mimpi merupakan jalan untuk memperoleh ide yang cemerlang. Cerita tentang
dua orang di atas menggarisbawahi satu hal bahwa kalau kita dapat mengelola
tidur dan mimpi kita, maka kita dapat memaksimalkan potensi fisik, kognitif,
afektif, dan spiritual kita sehingga akan dapat kita tunjukkan prestasi puncak!
Pertanyaan yang dapat diajukan: bagaimana tidur dan mimpi yang berkualitas bisa
menghasilkan prestasi belajar yang optimum? Bagaimana tidur dan mimpi yang
berkualitas bisa menghasilkan prestasi yang optimum dalam bidang-bidang hidup
yang digeluti?
Tidur dan Mimpi yang Berkualitas
Tidur merupakan arena bagi manusia untuk memperoleh ketentraman hidup. Dalam al-Qur’an,
Allah Azza wa jalla berfirman: “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu
tidur (al-nu’asa) sebagai penentraman dari pada-Nya (QS al-Anfaal, 8:11).
“Tidur” (al-nu’asa), menurut Adnan Syarif (2002) adalah tidur yang
terlelap. Tidur yang terlelap akan memberikan efek yang penting dalam kehidupan
manusia. Kalau manusia memperolehnya, maka manusia telah memperoleh salah satu
ciri utama tidur yang berkualitas.
Kualitas tidur dan kualitas mimpi dirumuskan penulis berdasarkan telaah pustaka
atas berbagai macam pendapat (Freud, 2001a; Freud, 2001b; Nashori, 2002; Maas,
2002; Purwanto, 2003). Kualitas tidur adalah suatu keadaan di mana tidur yang
dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran di saat terbangun.
Berdasarkan berbagai pandangan, penulis membagi aspek-aspek kualitas tidur
seperti berikut ini:
Tabel 1. Aspek-aspek Kualitas Tidur
|
Aspek-aspek Kualitas Tidur |
|
|
1. Bersuci, berdoa dan berdzikir sebelum tidur |
| 2. Memulai tidur dalam keadaan miring ke kanan dan menghadap
ke kiblat |
| 3. Merasa nyaman, tak ada beban psikologis yang berat
menjelang tidur |
| 4. Badan dalam keadaan rileks, tak ada aktivitas fisik yang
berat menjelang tidur |
| 5. Nyenyak, tidak terbangun dalam tidur |
| 6. Tidur lebih awal dan bangun dari tidur lebih awal |
| 7. Waktu tidur minimal enam jam dalam sehari |
|
|
Sementara itu yang dimaksud dengan kualitas mimpi adalah suatu keadaan di mana
mimpi yang diperoleh seseorang banyak menggambarkan hal-hal yang benar yang
berkaitan dengan masa lalu dan masa depan, menghasilkan optimisme serta
kepastian bagi individu yang mengalaminya. Tentang mimpi yang berkualitas ini
salah satu aspek pentingnya adalah mimpi yang memiliki aspek kebenaran (al-ru’ya
al-shadiqah, al-ru’ya al-shalihah, penulis menyebutnya mimpi nubuwat). Hal
ini sebagaimana disampaikan oleh hadis Nabi: Mimpi yang baik datangnya dari
Allah dan mimpi (polusi) datangnya dari setan (HR Bukhari dari Abdullah Ibnu
Qatadah). Hadis yang lain dari Nabi Muhammad mengungkapkan: Mimpi yang benar
adalah salah satu dari empat puluh enam cabang kenabian (HR Bukhari dari
Anas bin Malik)
Berdasarkan berbagai macam pandangan, penulis membagi aspek-aspek kualitas mimpi
seperti berikut ini:
Tabel 2. Aspek-aspek Kualitas Mimpi
|
Aspek-aspek Kualitas Tidur |
|
|
1. Meminta perlindungan Tuhan dari mimpi buruk |
| 2. Memperoleh mimpi yang menyenangkan |
| 3. Memperoleh mimpi yang berisi pengetahuan (ide, masa depan,
masa lalu), petunjuk, maupun peringatan |
| 4. Memandang hidup lebih positif dan optimis setelah bermimpi |
| 5. Menjaga jarak dengan mimpi buruk |
| 6. Monitoring diri berkaitan dengan mimpi |
| 7. Mengambil hikmah dari mimpi |
|
|
Pengaruh Kualitas Tidur dan Mimpi terhadap Prestasi Belajar
Prestasi Belajar. Belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan sebagai pengalaman
orang yang bersangkutan dalam interaksinya dengan lingkungan (Rumini dkk, 1995).
Sementara prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil dari suatu aktivitas
belajar yang dilakukan berdasar pengukuran dan penilaian terhadap hasil
pendidikan yang diwujudkan berupa angka atau nilai maupun indeks prestasi. Untuk
mengetahui prestasi belajar, guru atau dosen melakukan pengukuran, kemudian
penilaian berdasarkan norma yang dipergunakan. Hasilnya diwujudkan dalam suatu
simbol yang biasa menggunakan angka atau huruf yang biasa disebut sebagai indeks
prestasi. Ada yang menggunakan angka dengan rentang 1-10 atau 1-100 atau juga
dalam bentuk huruf seperti A,B,C,D,E.
Pengaruh Kualitas Tidur terhadap Prestasi Belajar. Tidur yang
berkualitas akan menjadikan kondisi fisik dan psikologis seseorang terasa segar
dan nyaman ketika mereka terbangun. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai
penentraman (QS al-Anfaal, 8:11). Hal senada dikatakan oleh James B. Maas (2002)
bahwa proses tidur, jika diberi waktu yang cukup dan lingkungan yang tepat,
menghasilkan tenaga yang luar biasa. Tidur memulihkan, meremajakan dan memberi
energi tubuh dan otak. Sepertiga (8 jam) atau seperempat (6 jam) hidup manusia,
yang seharusnya dilewati dengan tidur, berpengaruh besar terhadap dua pertiga
lainnya, dalam hal kewaspadaan, energi, suasana hati, berat badan, persepsi,
daya ingat, daya pikir, kecekatan reaksi, produktivitas, kinerja, ketrampilan
komunikasi, kreativitas, keselamatan, dan kesehatan prima.
Bagaimana tidur bisa menghasilkan efek-efek sebagaimana di atas? Secara garis
besar, bila seseorang tidur secara nyenyak dan dengan waktu yang cukup, maka ada
dua proses fisiologis yang terjadi. Pertama, proses pemulihan dan pertumbuhan.
Yang pasti, pada saat tidur pasokan darah ke otak meningkat. Meningkatnya
pasokan darah ini berkaitan dengan posisi tubuh seseorang. Saat tidur, tubuh
seseorang dalam posisi horisontal. Dalam kondisi demikian peredaran darah akan
berlangsung lebih lancar. Pasokan darah yang lancar berakibat pada pemulihan
dalam tubuh berlangsung lebih lancar. Di samping itu, pada saat tidur sekresi
hormon pertumbuhan oleh kelenjar pituitari (kelenjar yang mengatur pertumbuhan,
metabolisme, pematangan) mencapai puncak saat tidur delta (tidur delta adalah
tahapan tidur paling terlelap atau nyenyak). Hormon pertumbuhan merangsang
pertumbuhan dan perkembangan serta memperbaiki jaringan tubuh. Terutama bagi
anak dan remaja, tidur nyenyak yang tidak terganggu sangat penting untuk
membantu pertumbuhan dan pematangan mereka.
Kedua, meningkatkan kekebalan terhadap infeksi. Pada waktu seseorang
tidur dengan nyenyak, senyawa protein-karbohidrat pengatur sistem kekebalan
meningkat. Hal ini memiliki peran besar dalam meningkatkan kekebalan terhadap
infeksi. Dikatakan oleh Michael Irwin (Maas, 2002), bahwa kekurangan tidur,
meskipun sedikit, menurunkan respons kekebalan tubuh. Fakta juga menunjukkan
bahwa kematian sel tumor meningkat pada saat orang tidur. Sebaliknya, jika
kekurangan tidur, ketahanan terhadap infeksi menurun drastic. Orang yang sakit
membutuhkan istirahat yang cukup untuk meningkatkan kekebalan. Orang yang sehat
butuh tidur yang cukup dan nyenyak akan kekebalannya optimum.
Dalam keadaan daya ingat, daya pikir, persepsi, dan kesehatan yang prima,
mahasiswa siap berkonsentrasi saat mengikuti proses belajar mengajar.
Konsentrasi memegang peranan penting bagi seorang mahasiswa untuk merekam dan
mengingat dan selanjutnya mengembangkan pelajaran yang diperoleh di perguruan
tinggi. Kemampuan merekam, mengingat dan mengembangkan materi pelajaran akan
memungkinkan mahasiswa memperoleh prestasi yang optimal. Sebaliknya, dengan
tidur yang berkualitas jelek, yang terutama ditandai oleh tidak nyamannya fisik
dan psikologis saat tidur, akan menghasilkan daya ingat, daya pikir, persepsi
yang menurun. Dalam kondisi demikian, konsentrasi belajar biasanya tidak
optimal. Dengan daya ingat, daya pikir, dan persepsi yang jelek, maka individu
akan gagal dalam melakukan perekaman atas pengetahuan yang semestinya diserapnya
dengan baik.
Perlu untuk disampaikan bahwa tidur yang dialami seseorang melalui beberapa
tahapan. Dua tahapan yang dianggap paling penting adalah tahapan tidur delta dan
tahap tidur REM (rapid eye movement). Yang menarik pada saat tidur REM
ada dua kejadian. Pertama, terjadi penyimpanan dan retensi daya ingat.
Pada saat tidur REM, terjadi pengaktifan neuron yang intensif yang menyebar ke
atas dari batang otak. Ini dianggap sebagai penyebab meningkatnya penyimpanan
dan retensi ingatan serta pengingatan kembali, serta pengategorisasian informasi.
Kedua, organisasi dan reorganisasi ingatan. Berbagai informasi yang ada
informasi yang telah ditancapkan dalam ingatan ditata sebagaimana penataan
folder dalam komputer. Dalam keadaan tidur, otak mengganti, memodifikasi,
dan meningkatkan ingatan sesuai dengan keperluan.
Hal di atas diperkuat oleh ungkapan mahasiswa sendiri berdasarkan konseling dan
wawancara yang penulis lakukan. Mereka yang kualitas tidurnya jelek, seperti
tidur sangat larut (sesudah pukul 24), kesulitan untuk tidur atau sering bangun
tidur, mengaku memiliki prestasi belajar yang rendah. Sebaliknya, ketika
ditanyakan pada mahasiswa yang berprestasi tinggi dan kebiasaan hidup mereka,
maka diketahui bahwa mahasiswa yang memiliki prestasi yang baik mampu menjalani
tidur secara baik, seperti tidur di awal waktu dan bangun lebih awal, waktu
tidur cukup.
Di samping itu, mimpi yang berkualitas, yang ditandai oleh adanya mimpi yang
positif serta kemampuan menjaga jarak dan mengambil hikmah dengan mimpi buruk,
menjadikan seseorang dapat menyongsong kehidupan terjaga secara optimal. Dalam
kondisi psikologis yang bersifat positif ini seorang mahasiswa akan dapat
mengerahkan konsentrasinya untuk belajar. Dari sanalah akhirnya prestasi yang
optimal dapat dicapai.
Berkaitan dengan kualitas mimpi, maka salah satu tanda mimpi seseorang
berkualitas adalah diperolehnya mimpi yang memiliki unsur pengetahuan masa depan.
Mimpi yang demikian biasa disebut mimpi nubuwat (Fuad Nashori, 2002).
Dengan mimpi nubuwat itulah dalam diri seseorang terbentang pengetahuan.
Mimpi yang berkualitas dicapai oleh Hidayat Nur Wakhid. Pada waktu beliau
nyantri di Pondok Pesantren Moderen GONTOR beliau sering memimpikan soal-soal
yang akan diujikan guru/ustadz-nya. Mimpi yang sejenis dialami oleh Abud (bukan
nama yang sebenarnya). Siswa sebuah SMU di Balikpapan ini menjelang ujian akhir
SMU memimpikan berbagai soal. Dalam mimpi soal-soal muncul secara terang
benderang. Dalam kehidupan nyata apa yang mereka mimpikan ini benar-benar mereka
saksikan dalam ujian yang nyata (bukan mimpi). Dengan demikian, mudahlah
soal-soal itu dikerjakannya.
Pengaruh Tidur dan Mimpi terhadap Prestasi Puncak
Prestasi Puncak. Prestasi puncak adalah prestasi optimum yang dicapai
seseorang setelah menekuni bidang-bidang pekerjaan tertentu. Prestasi yang dapat
kita tunjukkan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori besar, yaitu prestasi
jangka pendek (untuk waktu yang pendek, satu sampai lima tahun), jangka menengah
(sepanjang hidup kita di dunia), dan jangka panjang (dunia-akhirat).
Contoh-contoh prestasi: jangka pendek adalah prestasi belajar, jangka menengah
adalah karya yang berarti bagi banyak orang, dan jangka panjang adalah diridhai
Allah menjadi penghuni surga. Seorang manajer pemasaran disebut mencapai
prestasi puncak bila ia dapat menghasilkan berbagai terobosan yang menjadikan
produk atau jasa yang dipasarkan memperoleh respon yang optimum dari pasar.
Seorang dosen yang berprestasi puncak bila ia dapat memberikan materi pelajaran
dan cara mengajar yang membuat mahasiswa bersemangat mempelajari dan
mengembangkan pengetahuannya. Dan, seterusnya.
Pengaruh Tidur yang Berkualitas terhadap Prestasi Puncak. Tidur yang
berkualitas akan menjadikan kewaspadaan, energi, suasana hati, berat badan,
persepsi, daya ingat, daya pikir, kecekatan reaksi, produktivitas, kinerja,
ketrampilan komunikasi, kreativitas, keselamatan, dan kesehatan prima seseorang
meningkat (Maas, 2002). Setiap individu yang hidup dan bekerja dengan
mengharapkan hasil yang optimum membutuhkan kualitas-kualitas sebagaimana
disebutkan di atas. Dengan kualitas seperti suasana hati yang baik, persepsi
yang baik, daya ingat yang baik, maka pekerjaan-pekerjaan akan dilakukannya
dengan hasil yang baik. Sebagai contoh, seorang karyawan yang harus berangkat
dari rumahnya pagi hari akan dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik bila
suasana hati, persepsi, dan daya ingat baik. Dengan tidur yang berkualitas,
kualitas sebagaimana yang telah disebutkan tadi dapat dicapai secara optimum,
dan selanjutnya ia dapat melaksanakan pekerjaannya dengan hasil optimum. Sebuah
riset yang dilakukan Timothy Roehrs dan Thomas Roth (Michigan, USA) membuktikan
bahwa kewaspadaan meningkat secara signifikan jika orang yang biasanya tidur
cukup mendapatkan tambahan dua jam lagi.
Sebaliknya, ketika seorang karyawan kurang tidurnya, maka proses pemulihan dalam
tubuhnya tidak optimum. Akibatnya, ketika berangkat kerja atau saat di dalam
tempat kerja ia bisa memperoleh resiko kecelakaan. Stanley Cohen menemukan fakta
bahwa dalam waktu empat hari setelah orang-orang di negara Barat kehilangan satu
jam tidur setelah pergantian musim semi karena matahari lebih awal, ada
peningkatan tujuh persen kematian akibat kecelakaan jika dibandingkan dengan
seminggu sebelumnya dan seminggu setelahnya.
Pengaruh Mimpi yang Berkualitas terhadap Prestasi Puncak. Sebagaimana
telah disebutkan bahwa saat orang tidur berlangsung organisasi dan reorganisasi
ingatan. Berbagai informasi yang ada informasi yang telah ditancapkan dalam
ingatan ditata sebagaimana penataan folder dalam komputer. Dalam keadaan tidur,
otak mengganti, memodifikasi, dan meningkatkan ingatan sesuai dengan keperluan.
Para ahli psikologi Barat, termasuk di dalamnya Maas (2002) dan Deepak Chopra
(2003), mempercayai bahwa penemuan-penemuan cemerlang dari ahli-ahli ilmu
pengetahuan dan sastra adalah karena otak mereorganisasi ingatan sehingga
terbentuk ide baru. Friedrich August Kekule von Stradonitz mengaku bahwa ia
menemukan struktur molekuler benzena atau cincin benzena dalam tidurnya (Maas,
2002; Purwanto, 2003). Novel Hamlet, Macbeth, Richard III karya William
Shakespeare, diperoleh dalam mimpi (Chopra, 2003). Namun, ahli-ahli psikologi
Barat tidak percaya bahwa mempelajari (baca: mengetahui) sesuatu yang baru dalam
mimpi. Benarkah?
Jawabnya, menurut psikologi Islami (Nashori & Mucharam, 2002), salah satu cara
manusia memperoleh pengetahuan adalah melalui mimpi. Mimpi yang diperoleh
seseorang tidak hanya berkaitan berbagai pengalaman dan harapannya, tapi bisa
pula berisi pengetahuan yang berasal dari Allah SWT. Seseorang yang mendekatkan
diri kepada Allah, membersihkan jasmani, nafsani, dan ruhaninya sebelum tidur,
akan lebih dimungkinkan untuk memperoleh mimpi yang benar.
Dengan mimpi yang mampu menghasilkan ilham, seseorang akan terbantu untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan memperoleh ide melalui mimpi. Seorang pemikir
besar Islam Ibnu Sina mendapatkan banyak ide untuk penulisan bukunya melalui
mimpi. Inilah cerita Ibnu Sina: “Setiap aku menyangsikan suatu persoalan dan
tidak mendapatkan batas pengertian yang benar aku senantiasa ke masjid melakukan
shalat, memohon kepada Tuhan hingga terbuka bagiku pemecahannya dengan mudah.
Aku pulang ke rumah dan meletakkan lampu di hadapanku lalu terus membaca dan
mengarang. Bila rasa kantuk mendesak atau badanku merasa sangat letih aku lalu
minum secangkir minuman hingga timbul kembali kesegaranku, dan aku teruskan
membaca lagi. Tetapi jika kantuk tidak tertahankan aku lalu tidur. Biasanya aku
bermimpi tentang soal-soal yang belum selesai dalam pikiranku. Di dalam mimpi
itu kebanyakan persoalan-persoalan menjadi terang masalahnya.”
Pada orang Barat ada seseorang yang menghabiskan sekitar 11 jam dalam hidupnya
untuk tidur. Orang ini mengharapkan datangnya berbagai ide atau ilham melalui
mimpi. Dia adalah seorang ilmuwan yang cemerlang, pemusik yang handal, pelukis
MONALISA yang terkenal itu, Leonardo da Vinci.
Sekalipun perlu diingat bahwa ilham yang diperoleh seseorang saat tidur tidak
selalu berasal dari Allah Azza wa jalla. Ilham melalui mimpi ini sebagaimana
diungkapkan oleh hadis Nabi, bisa berasal dari Allah dan bisa pula berasal dari
setan. Mimpi yang baik datangnya dari Allah dan mimpi (polusi) datangnya dari
setan (HR Bukhari dari Abdullah Ibnu Qatadah). Berbagai pengalaman
menunjukkan bahwa seseorang dapat memperoleh petunjuk yang menyesatkan melalui
mimpi. Seorang dukun membunuh 42 wanita setelah memperoleh ide melalui mimpi.
Maka, sekalipun dalam mimpi terdapat ide atau ilham, tapi ilham itu bisa
menginspirasi untuk berbuat hal yang salah dan destruktif. Berkaitan dengan
pengaruh mimpi yang berkualitas, maka mimpi yang berkualitas ditandai oleh
minimnya mimpi yang bersifat negatif-konstruktif. Kalaupun dalam diri seseorang
terjadi mimpi yang bersifat demikian, seseorang memiliki kemampuan untuk
mengambil hikmah dan menjaga jarak dengan mimpi. Mampu menjaga jarak artinya
individu menyadari bahwa apa yang dialaminya bukanlah hal realitas. Kesan buruk
yang diperoleh dari mimpi adalah sesuatu yang tidak nyata. Sebagaimana
diungkapkan oleh sebuah hadis Nabi Muhammad, seseorang yang menjaga jarak dengan
mimpi (yang ditandai oleh tidak diceritakannya mimpi kepada orang lain) tidak
akan terpengaruh oleh mimpi yang dialaminya. Bila individu bersikap demikian,
mimpi buruk tidak akan mengganggu aktivitasnya, sehingga ia dapat tetap
berkonsentrasi terhadap usahanya untuk berkarya. Sementara itu yang dimaksud
dengan mengambil hikmah adalah mengambil pelajaran dari mimpi yang dialaminya.
Mimpi yang buruk berkaitan dengan pelanggan bisa menjadi pelajaran bahwa ada
relasi yang lebih baik yang perlu dikembangkan oleh oleh si pemimpi. Mimpi buruk
berkaitan dengan teman kerja memberi pelajaran bahwa ada sesuatu yang semestinya
diperbaiki.
Sebuah hadis Nabi Muhammad pernah menandaskan bahwa seseorang yang banyak
berdzikir akan dapat mencapai keunggulan (baca: prestasi puncak). Kalau
dikontekskan dengan bahasan di atas, maka dapat disebutkan bahwa untuk
memperoleh prestasi puncak, seseorang bisa memperoleh mimpi yang berkualitas.
Mimpi yang berkualitas dapat diperoleh melalui aktivitas yang melibatkan dzikir
kepada Allah. Urutannya adalah demikian: dzikir – membuat hati tenang – mimpi
yang berkualitas – kinerja puncak!
Kiranya demikian tulisan singkat ini. Semoga dapat memotivasi Anda untuk
memperdalam kajian tentang tidur dan mimpi. [FN]
DAFTAR PUSTAKA
Chaplin, James P. 1997. Kamus Lengkap Psikologi. Cetakan Keempat.
Jakarta: Rajawali Press.
Chopra, Deepak. 2003. Tidur Nyenyak, Mengapa Tidak? Yogyakarta: Ikon
Teralitera.
Dee, Nerys. 2001. Memahami Mimpi. Yogyakarta: LkiS.
Freud, Sigmund. 2002. Tafsir Mimpi. Yogyakarta: Ikon Teralitera.
Freud, Sigmund. 2002. Tafsir Mimpi. Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Khan, Inayat. 2000. Dimensi Spiritual Psikologi. Bandung: Penerbit
Pustaka Hidayah.
Maas, James B. 2002. Power Sleep. Bandung: Penerbit Kaifa.
Nashori, H. Fuad. 2001. Tema-tema Mimpi Psiko-Spiritual. Laporan Penelitian
(tidak diterbitkan). Yogyakarta: Lembaga Penelitian UII.
Nashori, H.Fuad. 2002. Mimpi Nubuwat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Purwanto, Yadi. 2003. Analisis Mimpi. Yogyakarta: Menara Kudus.
Quthb, Muhammad Ali. 1999. Tafsir Mimpi dalam Pandangan Islam. Surabaya:
Penerbit Risalah Gusti.
Shadiq, Imam Ja’far. 1996. Mengungkap Rahasia Mimpi. Jakarta: Penerbit
Lentera.
Syarif, Adnan. 2002. Psikologi Qur’ani. Bandung: Pustaka Hidayah.

___________________
|
-------------
Anda dapat mengontak email Pak Fuad Nashori secara langsung: nashori@pikirdong.org
Admin