|

Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf
Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada seorang imam yang diberitahu
oleh pembantunya bahwa mereka hanya memiliki sepotong roti. Tentu saja roti
tersebut tidak cukup untuk dibagi berdua. “Jadi, roti ini enaknya diapakan,
Tuan?” tanya si pembantu. Saking laparnya, pembantu itu berharap tuannya mau
merelakan roti itu untuk dimakannya sendiri..
Ternyata tidak. Sang imam malah menyuruh si pembantu untuk memberikan roti
tersebut kepada tetangga mereka. Pikir imam, ada orang yang lebih membutuhkan.
Wajah si pembantu tampak kecewa. Imam itu lalu menghiburnya, “Sudah tenang saja.
Allah punya janji yang lain. Kalau kita berkenan membantu orang lain, Allah pun
akan membantu kita.” Kata imam lagi, “Kalau roti ini kita bagi berdua, maka kita
hanya kebagian sebelah-sebelah. Tidak kenyang. Kalau dimakan salah seorang dari
kita, maka salah satu dari kita pasti ada yang tidak makan.”
Akhirnya, si pembantu pun keluar mencari tetangga yang kelaparan. Di saat imam
sendirian di rumah, datanglah enam orang bertamu. Imam tahu bahwa dia tidak
memiliki apa pun untuk disuguhkan pada enam tamunya tersebut. Tapi, ia tahu
bahwa dirinya sudah bersedekah. Dan Allah akan membukakan pintu rezeki bagi
siapa saja yang mau bersedekah. Begitu yang imam yakini.
Tidak berapa lama kemudian, setelah si pembantu kembali ke rumah, datang pula
seorang tamu lagi. Ia tidak masuk ke dalam rumah. Ia hanya berdiri di depan
pintu. “Imam, saya membawa hadiah roti buat Anda dan pembantu Anda,” katanya.
Imam lalu melihat hadiah roti itu. Cuma dua potong. Sang imam tersenyum. Mungkin
tamu tersebut cuma tahu bahwa penghuni rumah itu hanya dua orang. “Maaf,” kata
imam, “saya tidak bisa menerimanya. Roti ini salah alamat.”
“Tidak imam, tidak salah alamat. Memang roti ini untuk Anda dan pembantu Anda,”
ujar si pembawa roti.
“Maaf, saya tidak bisa menerima. Sudah ya, saya ada tamu,” kata imam itu.
Si pembawa roti ini tentu saja bingung. Kenapa imam menolak? Rupanya, ia sempat
melihat ke dalam rumah imam. Benar memang, di dalam ruangan sedang banyak tamu.
“Oh, mungkin imam menolak sebab tamunya memang banyak. Kalau roti ini dia terima,
tidak cukup untuk dibagikan dengan tamunya,” pikirnya.
Lalu orang itu kembali pulang. Ia menambahkan jumlah hadiah roti itu hingga
genap sepuluh potong. Di depan rumah imam, orang itu berkata, “Maaf, imam. Kali
ini, pasti tidak salah alamat.”
Sang imam kembali memperhatikan isi baki tersebut. Ia melihat ada sepuluh potong
roti. “Ya, sekarang tidak salah alamat,” ujarnya.
Imam pun menyuguhkan roti itu buat keenam tamunya. Ia juga memanggil pembantunya
untuk ikut bersama-sama menikmati roti tersebut. Tidak lupa ia juga makan satu
potong. “Lihatlah,” kata imam kepada pembantunya, “Sekarang engkau saksikan,
kita malah punya sisa dua roti. Enam tamu kita kenyang, kamu kenyang, dan saya
pun kenyang.”
Begitulah cara Allah untuk mengganti sepotong roti yang telah disedekahkan sang
imam pada orang lain. Tidak tanggung-tanggung, satu potong roti berbalas sepuluh.
Itu merupakan pengganti dari Allah bagi orang yang mau berbagi. Karena berbagi
merupakan salah satu ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah kita peroleh.
Tampaknya, demi melihat kekurangan dan kesulitan kita, langkah berbagi atau
bersedekah menjadi layak untuk lebih diperhatikan.
Memahami Hakikat Berbagi
“Don’t ask what your country can do for you, ask what you can do for your
country.” Kata-kata sakti John F. Kennedy ini tentu tidak asing. Tetapi
dalam konteks ini, saya tidak sedang bicara politik. Saya cuma ingin
menganalogikan ungkapan tersebut untuk memahami hakikat berbagi. Kata-kata itu
bisa dibaca begini: “Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan orang lain kepadamu,
tapi tanyakanlah apa yang akan kau berikan kepada orang lain.”
Dalam hitungan manusia, satu dikurang satu sama dengan nol atau habis. Sayangnya,
hitung-hitungan ini terbawa saat kita berbagi atau bersedekah. Bahwa kalau kita
punya satu, kemudian yang satu itu kita sedekahkan pada orang lain, maka kita
tidak akan memiliki apa-apa lagi. Logis memang. Namun, tidak demikian dengan
matematika sedekah. Allah punya hitungan lain. Dia yang Maha Pemurah akan
membalas sepuluh kali lipat harta yang disedekahkan seseorang, sebagaimana Dia
membalas kebaikan apa pun sepuluh kali lipat kebaikan dari-Nya. Tentunya harus
didasari keimanan. Maha benar Allah dalam firman-Nya:
“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat
amalnya; dan barangsiapa membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi
pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun
tidak dirugikan.” (QS. Al-An’aam [6]: 160)
Selain balasan tersebut, berbagi juga dapat membentuk kepribadian yang penuh
empati terhadap penderitaan orang lain, sehingga menumbuhkan kepekaan sosial
(social sensitivity). Seperti pada tayangan reality show ‘Toloong!!’ pada salah
satu stasiun televisi swasta yang mampu membuat saya terharu. Namun, tidak semua
pemberian itu berbuah nikmat. Hanya orang-orang yang memberi dengan hati yang
ikhlas, tanpa mengharapkan nama harum, apalagi sanjungan yang dapat memetik
kenikmatan dari perbuatannya. Rasulullah Saw bersabda:
“Allah mengkhususkan pemberian kenikmatan-Nya kepada kaum-kaum tertentu untuk
kemaslahatan umat manusia. Apabila mereka membelanjakannya (menggunakannya)
untuk kepentingan manusia maka Allah akan melestarikannya. Namun bila tidak,
maka Allah akan mencabut kenikmatan itu dan menyerahkannya kepada
orang lain.” (HR. Athabrani dan Abu Dawud)
Berbagi Tak Harap Kembali
Berbagi memang perbuatan mulia. Agama manapun memberi tempat terhormat pada
orang yang mau berbagi atau berderma. Begitu agung perilaku berderma sehingga
Islam banyak memberi tuntunan dalam soal ini. “Tangan di atas lebih baik dari
tangan di bawah,” begitu sabda Nabi Saw. Nafkahkanlah sebagian hartamu dengan
sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dermawan itu dekat kepada Allah dan
dekat dari surga, dan sebagainya. Perilaku dermawan dijadikan buah bibir. Namun,
mengapa semangat berbagi pada umumnya belum terwujud dalam perilaku kita
sehari-hari? Pertanyaan ini muncul dari kenyataan bahwa egoisme dan
individualisme masih bahkan makin berkembang di tengah masyarakat.
Selalu berbuat baik tanpa pamrih memerlukan sikap mental yang bertolak belakang
dengan kebiasaan orang zaman sekarang. Mungkin banyak di antara kita tergerak
berbuat kebajikan karena alasan-alasan tertentu yang tujuannya untuk kepentingan
diri juga. Kita mau memberikan sesuatu, asal kita juga mendapatkan sesuatu
sebagai imbalan, entah itu dalam bentuk materi atau lainnya. Padahal, nilai
tertinggi suatu amal ada pada keikhlasan. Sedikit saja ada niat meninggikan nama
pribadi atau pamrih, maka pada saat itu sudah terjadi riya. Dan, semua orang
mengerti, amal yang disertai riya menjadi berkurang bobotnya.
Secara psikologis, berbagi itu amalan yang menggembirakan. Bukan hanya
menggembirakan yang diberi, melainkan juga yang memberi. Berbagi dapat memberi
kepuasan pada diri sendiri. Ada perasaan bangga karena dapat berbuat baik pada
orang lain. Perasaan seperti itu tentu saja sangat manusiawi, meskipun konsep
ikhlas mengajarkan yang sebaliknya. Maka, kita mesti introspeksi dan mawas diri:
apakah kita sungguh-sungguh ikhlas ketika berbagi?
Rentetan musibah yang susul-menyusul menimpa saudara-saudara kita di berbagai
daerah di tanah air, seperti petaka Situ Gintung di Cirendeu, Tangerang Selatan,
beberapa hari lalu, sepantasnya dapat menggugah kesadaran kita untuk mau berbagi
dengan para korban hingga mereka mendapatkan kembali kehidupan yang normal.
Mereka mengharapkan uluran bantuan yang tidak sedikit. Tidak ada ruginya
menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu mereka. Berbahagialah, karena
memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, ibarat meminjamkannya kepada Sang
Khaliq. Suatu saat, Allah pasti mengembalikannya plus ‘bunga pinjaman’. Alangkah
indahnya firman Allah berikut ini:
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari
keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang
terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka
hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 265)
Nah, saatnya meluruskan niat semata-mata mengharap ridha-Nya. Seorang bijak
pernah berkata, “Bila kita rela berbagi dengan orang lain tanpa mengharap
apa-apa, maka segala kekurangan itu pasti akan menjadi berkah bagi kita.”
Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi setiap kesulitan kita, dan
menganugerahkan kecukupan bagi beragam kekurangan yang kita rasakan. Amiin. [AA]

___________________
|