Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 

Psikologi Islami

Artikel psikologi Islami.

 
     
 

Berbagi Berbuah Nikmat


Artikel Psikologi Islami | 06/2009 | Ardiman Adami | Psikologi Islami

 
 

Berbagi Berbuah Nikmat

© Juni 2009

Penulis: Ardiman Adami

Ardiman Adami adalah lulusan Magister Profesi Psikologi Universitas Islam Indonesia, Mantan Ketua Umum Imamupsi Komisariat Universitas Islam Indonesia.

 
 


Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada seorang imam yang diberitahu oleh pembantunya bahwa mereka hanya memiliki sepotong roti. Tentu saja roti tersebut tidak cukup untuk dibagi berdua. “Jadi, roti ini enaknya diapakan, Tuan?” tanya si pembantu. Saking laparnya, pembantu itu berharap tuannya mau merelakan roti itu untuk dimakannya sendiri..

 

 



 

 

Ternyata tidak. Sang imam malah menyuruh si pembantu untuk memberikan roti tersebut kepada tetangga mereka. Pikir imam, ada orang yang lebih membutuhkan. Wajah si pembantu tampak kecewa. Imam itu lalu menghiburnya, “Sudah tenang saja. Allah punya janji yang lain. Kalau kita berkenan membantu orang lain, Allah pun akan membantu kita.” Kata imam lagi, “Kalau roti ini kita bagi berdua, maka kita hanya kebagian sebelah-sebelah. Tidak kenyang. Kalau dimakan salah seorang dari kita, maka salah satu dari kita pasti ada yang tidak makan.”

Akhirnya, si pembantu pun keluar mencari tetangga yang kelaparan. Di saat imam sendirian di rumah, datanglah enam orang bertamu. Imam tahu bahwa dia tidak memiliki apa pun untuk disuguhkan pada enam tamunya tersebut. Tapi, ia tahu bahwa dirinya sudah bersedekah. Dan Allah akan membukakan pintu rezeki bagi siapa saja yang mau bersedekah. Begitu yang imam yakini.

Tidak berapa lama kemudian, setelah si pembantu kembali ke rumah, datang pula seorang tamu lagi. Ia tidak masuk ke dalam rumah. Ia hanya berdiri di depan pintu. “Imam, saya membawa hadiah roti buat Anda dan pembantu Anda,” katanya.

Imam lalu melihat hadiah roti itu. Cuma dua potong. Sang imam tersenyum. Mungkin tamu tersebut cuma tahu bahwa penghuni rumah itu hanya dua orang. “Maaf,” kata imam, “saya tidak bisa menerimanya. Roti ini salah alamat.”

“Tidak imam, tidak salah alamat. Memang roti ini untuk Anda dan pembantu Anda,” ujar si pembawa roti.

“Maaf, saya tidak bisa menerima. Sudah ya, saya ada tamu,” kata imam itu.

Si pembawa roti ini tentu saja bingung. Kenapa imam menolak? Rupanya, ia sempat melihat ke dalam rumah imam. Benar memang, di dalam ruangan sedang banyak tamu. “Oh, mungkin imam menolak sebab tamunya memang banyak. Kalau roti ini dia terima, tidak cukup untuk dibagikan dengan tamunya,” pikirnya.

Lalu orang itu kembali pulang. Ia menambahkan jumlah hadiah roti itu hingga genap sepuluh potong. Di depan rumah imam, orang itu berkata, “Maaf, imam. Kali ini, pasti tidak salah alamat.”

Sang imam kembali memperhatikan isi baki tersebut. Ia melihat ada sepuluh potong roti. “Ya, sekarang tidak salah alamat,” ujarnya.

Imam pun menyuguhkan roti itu buat keenam tamunya. Ia juga memanggil pembantunya untuk ikut bersama-sama menikmati roti tersebut. Tidak lupa ia juga makan satu potong. “Lihatlah,” kata imam kepada pembantunya, “Sekarang engkau saksikan, kita malah punya sisa dua roti. Enam tamu kita kenyang, kamu kenyang, dan saya pun kenyang.”

Begitulah cara Allah untuk mengganti sepotong roti yang telah disedekahkan sang imam pada orang lain. Tidak tanggung-tanggung, satu potong roti berbalas sepuluh. Itu merupakan pengganti dari Allah bagi orang yang mau berbagi. Karena berbagi merupakan salah satu ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah kita peroleh. Tampaknya, demi melihat kekurangan dan kesulitan kita, langkah berbagi atau bersedekah menjadi layak untuk lebih diperhatikan.

Memahami Hakikat Berbagi

“Don’t ask what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Kata-kata sakti John F. Kennedy ini tentu tidak asing. Tetapi dalam konteks ini, saya tidak sedang bicara politik. Saya cuma ingin menganalogikan ungkapan tersebut untuk memahami hakikat berbagi. Kata-kata itu bisa dibaca begini: “Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan orang lain kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang akan kau berikan kepada orang lain.”

Dalam hitungan manusia, satu dikurang satu sama dengan nol atau habis. Sayangnya, hitung-hitungan ini terbawa saat kita berbagi atau bersedekah. Bahwa kalau kita punya satu, kemudian yang satu itu kita sedekahkan pada orang lain, maka kita tidak akan memiliki apa-apa lagi. Logis memang. Namun, tidak demikian dengan matematika sedekah. Allah punya hitungan lain. Dia yang Maha Pemurah akan membalas sepuluh kali lipat harta yang disedekahkan seseorang, sebagaimana Dia membalas kebaikan apa pun sepuluh kali lipat kebaikan dari-Nya. Tentunya harus didasari keimanan. Maha benar Allah dalam firman-Nya:


“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dirugikan.” (QS. Al-An’aam [6]: 160)


Selain balasan tersebut, berbagi juga dapat membentuk kepribadian yang penuh empati terhadap penderitaan orang lain, sehingga menumbuhkan kepekaan sosial (social sensitivity). Seperti pada tayangan reality show ‘Toloong!!’ pada salah satu stasiun televisi swasta yang mampu membuat saya terharu. Namun, tidak semua pemberian itu berbuah nikmat. Hanya orang-orang yang memberi dengan hati yang ikhlas, tanpa mengharapkan nama harum, apalagi sanjungan yang dapat memetik kenikmatan dari perbuatannya. Rasulullah Saw bersabda:


“Allah mengkhususkan pemberian kenikmatan-Nya kepada kaum-kaum tertentu untuk kemaslahatan umat manusia. Apabila mereka membelanjakannya (menggunakannya) untuk kepentingan manusia maka Allah akan melestarikannya. Namun bila tidak, maka Allah akan mencabut kenikmatan itu dan menyerahkannya kepada orang lain.” (HR. Athabrani dan Abu Dawud)



Berbagi Tak Harap Kembali

Berbagi memang perbuatan mulia. Agama manapun memberi tempat terhormat pada orang yang mau berbagi atau berderma. Begitu agung perilaku berderma sehingga Islam banyak memberi tuntunan dalam soal ini. “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,” begitu sabda Nabi Saw. Nafkahkanlah sebagian hartamu dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dermawan itu dekat kepada Allah dan dekat dari surga, dan sebagainya. Perilaku dermawan dijadikan buah bibir. Namun, mengapa semangat berbagi pada umumnya belum terwujud dalam perilaku kita sehari-hari? Pertanyaan ini muncul dari kenyataan bahwa egoisme dan individualisme masih bahkan makin berkembang di tengah masyarakat.

Selalu berbuat baik tanpa pamrih memerlukan sikap mental yang bertolak belakang dengan kebiasaan orang zaman sekarang. Mungkin banyak di antara kita tergerak berbuat kebajikan karena alasan-alasan tertentu yang tujuannya untuk kepentingan diri juga. Kita mau memberikan sesuatu, asal kita juga mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, entah itu dalam bentuk materi atau lainnya. Padahal, nilai tertinggi suatu amal ada pada keikhlasan. Sedikit saja ada niat meninggikan nama pribadi atau pamrih, maka pada saat itu sudah terjadi riya. Dan, semua orang mengerti, amal yang disertai riya menjadi berkurang bobotnya.

Secara psikologis, berbagi itu amalan yang menggembirakan. Bukan hanya menggembirakan yang diberi, melainkan juga yang memberi. Berbagi dapat memberi kepuasan pada diri sendiri. Ada perasaan bangga karena dapat berbuat baik pada orang lain. Perasaan seperti itu tentu saja sangat manusiawi, meskipun konsep ikhlas mengajarkan yang sebaliknya. Maka, kita mesti introspeksi dan mawas diri: apakah kita sungguh-sungguh ikhlas ketika berbagi?

Rentetan musibah yang susul-menyusul menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah di tanah air, seperti petaka Situ Gintung di Cirendeu, Tangerang Selatan, beberapa hari lalu, sepantasnya dapat menggugah kesadaran kita untuk mau berbagi dengan para korban hingga mereka mendapatkan kembali kehidupan yang normal. Mereka mengharapkan uluran bantuan yang tidak sedikit. Tidak ada ruginya menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu mereka. Berbahagialah, karena memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, ibarat meminjamkannya kepada Sang Khaliq. Suatu saat, Allah pasti mengembalikannya plus ‘bunga pinjaman’. Alangkah indahnya firman Allah berikut ini:


“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 265)


Nah, saatnya meluruskan niat semata-mata mengharap ridha-Nya. Seorang bijak pernah berkata, “Bila kita rela berbagi dengan orang lain tanpa mengharap apa-apa, maka segala kekurangan itu pasti akan menjadi berkah bagi kita.” Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi setiap kesulitan kita, dan menganugerahkan kecukupan bagi beragam kekurangan yang kita rasakan. Amiin. [AA]

 

 

 

___________________


 

 

Comment Script

Comments

thanx 4 artikel nya... alhamdulillah ilmu ane jd nambah lg hehehe
#1 - muffie - 12/26/2009 - 15:06
Name
E-mail (Will not appear online)
Homepage
Title
Comment
;-) :-) :-D :-( :-o >-( B-) :oops: :-[] :-P
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184