|

Seorang penggembala yatim piatu keturunan agung suku
Quraisy itu memang lebih suka menyendiri, memilih untuk lebih banyak merenung
dan berkhalwat di tengah-tengah kegiatannya menggembalakan kambing. Bertafakur,
memikirkan tentang alam semesta dan isinya, di tengah teduhnya oase sahara, di
keheningan nafas malam di bawah naungan taburan bintang-bintang langit Makkah.
Mencoba memahami hakikat penciptaan alam raya, melalui bahasa transedental
dengan dimensi sosial sebagai ukuran nya. Berangkat dari lanskap gurun pasir dan
stepa di barat daya semenanjung saudi arabia hingga sepertiga kawasan dunia,
Muhammad SAW membawa arus perubahan besar bagi peradaban manusia. Beserta para
pengikut nya (dimana Muhammad seringkali menyebut sebagai sahabatnya), Muhammad
SAW tidak saja menjadi pembawa risalah terakhir Illahi, ia juga menjelma menjadi
pemimpin politik yang bersahaja, jendral besar ahli strategi yang beretika,
hingga seorang sahabat dekat bagi pengikutnya.
Melintasi ruang dan waktu, dari Makkah hingga ke benua Eropa dan dunia,
menyusuri Granada dan Alhambra di barat, bergerak ke utara melalui
konstantinopel hingga khurasan, lalu ke wilayah selatan, menapak jalur sutra di
pusat peradaban negeri cina, mengarungi samudera hindia, hingga kepulauan rumpun
melayu di ujung barat kepulauan nusantara. Pribadi-pribadi berjiwa besar para
pemimpin perubahan yang dilandasi keimanan bermunculan. Dari Shalahudin Al-ayubi
“Malik An naser” sang penakluk Yarussalem yang berasal dari irak, sampai ke
pedalaman kepulauan Belitong, Harfan Efendy Noor, kepala sekolah SD Muhammadiyah
Gantong dalam cerita Laskar Pelangi, adalah sedikit contoh para pribadi
transformatif.
Mengapa Muhammad SAW dapat melakukan perubahan sedemikian besar nya di tengah
jahil nya sikap dan perilaku masyarakat arab pada waktu itu? Mengapa Shalahuddin
Al Ayubbi dapat menggerakkan pasukan nya dengan semangat kemanusiaan, yang
berperang demi kesucian bukan nafsu menaklukan? Mengapa Pak Harfan dapat
menggerakan dan menginspirasi bu Muslimah dan anak-anak didiknya untuk terus
berprestasi dan bertahan walau dalam kondisi serba kesulitan dan keterbatasan?
Salah satu jawabannya adalah mungkin kepribadian tangguh yang selalu
berorientasi pada masa depan, konsisten, peduli, dan dilandasi hati yang tulus.
Sebagian sifat-sifat kepribadian tersebut melekat pada salah satu paradigma
model kepemimpinan yang banyak dibahas dalam 25 tahun terakhir, yaitu gaya
kepemimpinan transformasional. Istilah pemimpin transformatif diperkenalkan
pertama kali oleh James Burns (1978) dalam ranah sosial dan politik, namun pada
perkembangannya istilah ini justru lebih banyak dibicarakan dalam
diskusi-diskusi di meja para mahasiswa manajemen dan psikologi, juga ditemukan
di lembaran-lembaran literatur cabang ilmu psikologi industri dan manajemen
sumber daya manusia.
Pada dasarnya terdapat empat dimensi yang melekat pada diri seorang pemimpin
transformasional, yaitu: Karisma, Inspirasi, Kesadaran individu, dan Stimulasi
intelektual. Karisma adalah terminologi yang menggambarkan aura kewibawaan dan
kesan menawan yang dihadirkan seseorang melalui sikap, perilaku dan penampilan
nya. Namun, aspek karisma dalam konteks kepemimpinan lebih bermuara pada
kemampuan pemimpin untuk menjadi tauladan atau role models, menghadirkan
pemahaman bersama terhadap visi yang ingin dicapai, dan mampu menanamkan
kebanggaan serta kepercayaan diri pada relung hati setiap pengikut nya terhadap
apa yang dilakukannya. Inspirasi diterjemahkan sebagai kemampuan dalam memberi
inspirasi dan menstimulus pengikut nya untuk tertantang dan antusias dalam
menghadapi tantangan dan perubahan. Konsiderasi pribadi terdiri atas sikap dan
perilaku yang berkiblat pada rasa hormat dan saling menghargai setiap pendapat
dan pribadi dengan berfokus pada potensi atau kelebihan yang dimiliki. Pada
akhirnya, seorang pemimpin yang selalu memiliki sudut pandang baru dan inovatif
dalam menghadapi masalah, serta mampu meng-artikulasikan ide-ide baru dan
inovatif tersebut kepada para pengikutnya, sehingga membuat para pengikutnya
tidak takut untuk mencoba hal-hal baru, berpikir terbuka, dan memandang
kegagalan sebagai media pembelajaran, adalah pemimpin yang dikatakan bisa
menunjukan aspek stimulasi intelektual.
Pertanyaan nya kemudian adalah, apakah mungkin dimensi-dimensi tersebut juga
dapat muncul pada setiap diri kita? Apakah dimensi-dimensi tersebut hanya
berlaku pada diri seorang pemimpin yang memiliki anak buah atau pengikut di
dalam setting institusi atau organisasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut
sebenarnya akan bermuara pada satu pertanyaan, yaitu, apakah setiap diri kita
adalah pemimipin? Jawabannya adalah tentu saja iya, bukankah Allah katakan
dengan jelas di dalam kitab-Nya, bahwa manusia diberikan amanah dan tanggung
jawab sebagai duta Tuhan pemegang kekuasaan di atas bumi, manusia diserahi tugas
memimpin dirinya untuk memakmurkan bumi dan segala isinya (Khalifah). Bumi
beserta isinya diserahkan sebagai amanah bagi manusia untuk beribadah dan
mengabdi pada kebesaran Allah SWT.
Setiap pemimpin adalah pribadi yang melekat pada dirinya tanggung jawab dan
kekuasaan untuk mengarahkan dan mengambil keputusan. Tanggung jawab seorang ayah
untuk memimpin keluarganya, tanggung jawab seorang ibu terhadap anak-anaknya,
tanggung jawab seorang guru terhadap anak-anak didiknya, dan tanggung jawab
setiap diri kita terhadap semua sikap dan perilaku kita. Manusia adalah entitas
unik yang terangkai di dalamnya miliyaran sel yang saling berkorelasi dan
bekerja secara multi tasking, yang didalamnya ter-install
sekaligus masalah dan solusinya, persoalan dan jawabannya, kesulitan dan
kekuatan untuk melaluinya, kekurangan dan potensinya, serta kelemahan dan
kekuatannya.
Dimensi kepemimpinan transformasional tidak hanya dapat dianalisa dan
diidentifikasi dalam sudut penglihatan ilmu kepemimpinan secara holistik, namun
ia juga mampu ditelaah secara mikro pada diri setiap pribadi, yang ter
manifestasi dalam setiap sikap dan perilaku nya. Dimensi-dimensi
transformasional mampu muncul pada setiap individu, dimana dan bagiamana pun ia
hidup dan berperan. Nilai-nilai karismatik, Inspiratif, Kesadaran pada setiap
kelebihan individu, dan Stimulus intelektual dapat merekah pada diri setiap
individu yang yakin dan percaya bahwa setiap pribadi adalah Khalifah Tuhan di
muka bumi, pemimpin besar bagi kerajaan hati nya, yang bertanggung jawab pada
setiap sikap dan perilakunya terhadap kemakmuran sekitarnya.
Karisma yaitu derajat dimana sikap dan perilaku seseorang dapat dijadikan
teladan, manusia dapat menjadi contoh ideal bagi dirinya dalam waktu tertentu
tentang bagaimana harusnya ia bersikap, yang membuatnya berwibawa dan dihormati.
Seseorang dengan karisma akan memiliki keyakinan dan prinsip nilai yang jelas
dan mampu meng aplikasikannya dalam setiap perbuatnnya, dan hal tersebutlah yang
membuatnya dikenali, dihormati, dan diikuti.
Inspiratif, yaitu derajat dimana seseorang dapat meng-artikulasikan visi yang
dimilikinya dalam bentuk perilaku konkrit dan mampu menjadi inspirasi buat orang
sekitar nya. Seseorang yang memiliki dorongan untuk selalu memberi insipirasi
untuk orang disekitarnya akan selalu merasa tertantang untuk dapat melakukan
amanah nya sebaik mungkin, optimis, dan selalu dapat menemukan makna di balik
setiap tugas yang diberikan padanya.
Stimulasi intelektual adalah derajat dimana seseorang berani untuk berpikir
kritis, berani mengambil resiko dan tidak anti terhadap perubahan, bahkan
mendambakan nya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses menjadi
manusia yang lebih baik.
Perhatian terhadap setiap individu yaitu derajat dimana seseorang peka terhadap
kebutuhan orang lain dan perubahan kondisi di sekitarnya. Ia mampu menjadi
mentor bagi dirinya dan orang lain, sekaligus ia juga mampu menjadi murid dan
pendengar yang baik. Berfokus pada sisi positif, menghormati dan tidak memandang
remeh orang lain.
Pada akhirnya, pribadi transformatif tidak dilahirkan begitu saja dari keturunan
secara genetis, ia dicari dan ditemukan, dilatih dan dikembangkan. Nilai-nilai
itu bersemayam dalam setiap pribadi manusia, yang sadar akan hakikat dirinya
diciptakan untuk memakmurkan bumi, sebagai khalifah dunia, representasi
nama-nama Agung milikNya. Semoga
Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan
apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu
sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang
lain)?. Sedikit sekali (Nikmat Allah) yang kamu ingat. (An-Naml:62). [HM]

___________________
|