|
Ketika timbul suatu dorongan atau kebutuhan, manusia yang normal akan cenderung
untuk menghilangkan atau mengurangi tingkat ketegangan tersebut dengan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan seperlunya. Dalam beberapa hal, karena berbagai alasan
kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi, akibatnya ia harus belajar
untuk mengganti objek yang diinginkannya tersebut agar ketegangan tersebut dapat
menurun atau hilang dalam dirinya (Defense Mechanism)
Freud menyebutnya defense mechanism sebagai strategi yang tidak disadari yang
digunakan oleh orang untuk mengatasi emosi negatif. Strategi terfokus hanya pada
emosi itu tidak mengubah situasi stres, mereka semata-mata mengubah cara orang
menghayati atau memikirkan situasi. Jadi, semua mekanisme pertahanan melibatkan
suatu elemen penipuan diri (self-deception)
Kita semua menggunakan mekanisme pertahanan ini untuk membantu kita mengatasi
stres sampai kita dapat menghadapinya secara langsung. Mekanisme pertahanan
menyatakan gangguan penyesuaian kepribadian (personality maladjustment) hanya
jika menjadi cara dominan menanggapi masalah. Salah satu perbedaan antara
mekanisme pertahanan dan strategi pemecahan masalah adalah merupakan proses yang
tidak disadari, sedangkan strategi mengatasi masalah seringkali dilakukan secara
sadar. Maka bila mekanisme ini dilakukan secara ekstrim dapat menyebabkan
strategi pemecahan masalah secara sadar akan menjadi maladaptif.
Beberapa bentuk mekanisme pertahanan:
(1). Represi
Freud menganggap bahwa represi sebagai mekanisme pertahanan yang paling dasar
dan yang paling penting. Dalam represi, impuls atau memori yang terlalu
menakutkan atau menyakitkan dikeluarkan dari kesadaran. Memori yang menimbulkan
rasa malu, bersalah, atau mencela diri, seringkali direpresi. Freud yakin bahwa
represi impuls masa kanak-kanak tertentu terjadi secara universal.
Represi dijelaskan oleh Freud pada konflik oedipus, dimana anak laki-laki
mengalami ketertarikan seksual pada ibunya dan menimbulkan persaingan dan
permusuhan kepada ayahnya. seiring pertumbuhan, impuls tersebut direpresi untuk
menghindari konsekuensi menyakitkan jika mewujudkan impuls tersebut. Pada
perkembangan selanjutnya, perasaan permusuhan terhadap orang yang dicintai dan
pengalaman kegagalan perlu dihapus dari memori sadar.
Represi berbeda dari supresi, Supresi adalah proses melepaskan kendali diri,
mempertahankan impuls dan keinginan secara terkendali (menahan impuls tersebut
secara pribadi sementara menyangkalnya di hadapan publik) atau secara sementara
menyingkirkan memori yang menyakitkan. Individu menyadari pikiran yang disupresi
tetapi sebagian besar tidak menyadari impuls atau memori yang direpresi.
Freud yakin bahwa represi jarang berhasil sepenuhnya, impuls yang direpresi
mengancam masuk ke kesadaran; individu menjadi cemas (walaupun tidak menyadari
alasannya) dan menggunakan beberapa mekanisme lain untuk mempertahankan impuls
yang direpresi agar tidak masuk ke kesadaran.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahawa orang dengan gaya represif
tampaknya memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit pada umunya,
termasuk lebih sering mengalami penyakit jantung koroner dan perjalanan penyakit
kanker yang lebih cepat. (Bonnano & Singer, 1990). Riset lain membuktikan bahwa
orang yang menceritakan kepada orang lain tentang peristiwa traumatik dan emosi
yang mereka alami sebagai reaksi terhadap peristiwa tersebut cenderung
menunjukkan kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan orang tidak terbuka
kepada orang lain (Pennebaker & Beall, 1986). Sebagai contoh, istri yang
suaminya meninggal akibat bunuh diri lebih mungkin mengalami penyakit fisik
selama bertahun-tahun setelah kematian suaminya jika mereka tidak pernah
menceritakan kepada orang lain bahwa suaminya melakukan bunuh diri (Pennebaker &
O'Heeron, 1984).
(2). Rasionalisasi
Rasionalisasi bukanlah berarti "bertindak secara rasional", rasionalisasi adalah
motif yang dapat diterima secara logika atau sosial yang dilakukan sedemikian
rupa sehingga kita tampaknya berindak secara rasional. Rasionalisasi mempunyai
dua fungsi: menghilangkan kekecewaan saat kita gagal mencapai tujuan dan
memberikan motif ayng dapat diterima atas perilaku kita.
Saat mencari alasan baik ketimbang alasan sesungguhnya, orang sering membuat
sejumlah dalih. Dalih tersebut biasanya masuk akal; hanya saja mereka tidak
menceritakan keseluruhan cerita. Sebagai contoh; Seseorang yang gagal mengikuti
ujian, "Kawan sekamar saya tidak membangunkan saya." Alasan tersebut mungkin
saja benar tetapi bukan merupakan alasan sesungguhnya atas kegagalan seseorang
melakukan perilaku yang dimaksud. Individu yang benar-benar peduli akan memasang
alarm jam atau meluangkan waktunya.
(3). Pembentukan Reaksi
Sebagian individu dapat mengungkapkan suatu motif bagi dirinya sendiri dengan
memberikan ekspresi kuat pada motif yang berlawanan. Kecenderungan ini dinamakan
pembentukan reaksi. Seorang ibu yang merasa bersalah karena ketidakinginannya
mempunyai anak mungkin menjadi terlalu memperhatikan dan terlalu protektif untuk
meyakinkan anak akan cintanya dan meyakinkan dirinya bahwa ia adalah ibu yang
baik.
Sebagian orang yang berperang dengan semangat fanatik untuk melawan kekenduran
moral, alkohol dan perjudian mungkin manifestasi pembentukan reaksi.
Sebagianindividu tersebut mungkin memiliki latar belakang sulit dengan masalah
tersebut dan mungkin merupakan cara untuk melindungi diri mereka sendiri
terhadap kemungkinan kembali pada kebiasaan lama.
(4). Proyeksi
Semua orang memiliki sifat yang tidak diinginkan yang tidak kita akui, bahkan
oleh diri sendiri. Salah satu mekanisme bawah sadar, proyeksi, melindungi kita
dari mengetahui kualitas diri kita yang tidak layak dengan menampakan sifat itu
secara berlebihan pada diri orang lain.
Contoh; misalkan Anda adalah seorang yang cenderung suka mengkritik atau tidak
ramah pada orang lain tetapi Anda tidak mau mengakui kecenderungan itu. Jika
Anda memperlakukan orang lain secara kasar, bukan berdasarkan kualitas buruk
diri, Anda mengatakannya sebgai, "memberi mereka perlakuan yang pantas".
Proyeksi merupakan suatu bentuk rasionalisasi yang meresap dalam kultur kita,
mekanisme ini terjadi secara begitu saja menempatkan sifat-sifat batin sendiri
pada obyek di luar diri, sehingga sifat-sifat batin itu dihayati sebagai
sifat-sfat orang lain diluar dirinya. Misalkan, seseorang yang membenci orang
lain, tetapi ia menghayati orang lain itulah yang membenci kepadanya. Kultur
melarang orang membenci orang lain.
(5). Intelektualisasi
Intelektualisasi adalah upaya melepaskan diri dari situasi stres dengan
menghadapinya menggunakan istilah-istilah yang abstrak dan intelektual. Jenis
pertahanan ini seringkali diperlukan oleh orang yang harus menghadapi masalah
hidup dan mati dalam pekerjaannya. Dokter yang terus menerus berhadapan dengan
penderitaan manusia tidak dapat berusaha untuk terlibat secara emosional dengan
tiap pasiennya. Faktanya, suatu pembebasan (detachment) mungkin penting bagi
dokter agar dapat berfungsi secara kompeten. Jenis intelektualisasi ini baru
menjadi masalah jika ia menjadi gaya hidup yang meresap sehingga individu
memutuskan dirinya dari semua pengalaman emosional.
(6). Penyangkalan
Jika realita eksternal terlalu tidak menyenangkan untuk dihadapi, orang dapat
menyangkal terjadinya realita tersebut. Orangtua dari anak yang menderita
penyakit mematikan mungkin menolak mengakui anaknya menderita penyakit serius,
walaupun mereka telah mendapatkan informasi lengkap tentang diagnosa dan
kemungkinan penyakitnya. Mereka tidak dapat mentoleransi kepedihan karena
mengetahui realita, mereka menggunakan mekanisme pertahanan penyangkalan
(denial). Bentuk penyakalan yang kurang ekstrim dapat ditemukan pada individu
yang secara terus menerus mengabaikan kritik, tidak merasa orang lain marah
kepada dirinya, atau membuang semua tanda yang menyatakan bahwa pasangannya
berselingkuh.
Kadang menyangkal fakta mungkin lebih baik dibandingkan dengan menghadapinya.
Pada krisis yang parah, penyangkalan memberikan waktu kepada orang untuk
menghadapi fakta buruk dengan kecepatan yang lebih bertahap. Sebagai contoh,
penderita stroke dan medula spinalis mungkin akan menyerah sama sekali jika
mereka mengetahui sepenuhnya keseriusan kondisi mereka. Harapan memberikan
mereka insentif untuk terus mencoba. Contoh lain adalah tentara yang menghadapi
peperangan, penyangkalan kemungkinan mati membantu mereka untuk terus bekerja.
Pada situasi tersebut, penyangkalan jelas memiliki nilai adaptif. Di lain pihak,
aspek negatif dari penyakalan menjadi jelas jika orang menunda-nunda mencari
bantuan medis, seorang wanita meungkin menyangkal bila suatu ketika ia menemukan
sebuah benjolan pada payudaranya sebagai suatu kemungkinan kanker dan dengan
demikian terlambat menghubungi dokter.
(7). Pengalihan
Melalui mekanisme pengalihan (displacement), suatu motif yang tidak dapat
dipuaskan dalam suatu bentuk diarahkan ke saluran lain. Contoh dari pengalihan
adalah kemarahan yang tidak dapat diekspresikan kepada sumber frustrasi dan
diarahkan ke pada obyek yang kurang mengancam.
Freud merasa bahwa pengalihan merupakan cara yang paling memuasakn untuk
menangangani impuls agresif atau seksual. Dorongan dasar tidak dapat diubah,
tetapi kita dapat mengubah obyek yang menjadi tujuan dorongan itu.
Impuls erotik yang tidak dapat langsung di ekspresikan dapat diekspresikan
secara tidak langsung dalam aktivitas kreatif seperti seni, puisi dan musik.
Impuls permusuhan mungkin menemukan ekspresi yang diterima secara sosial dengan
peran serta dalam olahraga kontak.
Kecil kemungkinan pengalihan dapat menghilangkan impuls yang mengalami frustrasi
akan tetapi aktiitas pengganti dapat membantu menurunkan ketegangan saat
dorongan dasar terancam. Sebagai contohnya, aktivitas merawat orang lain atau
mencari persahabatan dapat membantu menurunkan ketegangan yang berhubungan
sosial yang tidak terpuaskan. [PD]
___________________
|