|
Emosi adalah gejolak yang ada pada organisme yang disertai oleh respon terhadap
suatu rangsang, di dalamnya , mengandung suatu kebutuhan dasar . Jika kebutuhan
itu terpenuhi individu merasa gembira, bahagia, dicintai. Akan tetapi jika tidak
terpenuhi individu akan merasa marah, takut khawatir, cemburu, cemas dan sedih
(Cole, 1963)
Emosi adalah pengalaman bathin yang timbul untuk melengkapi arti pengalaman itu
bagi seseorang disertai oleh kegiatan fisik lainnya, sehingga mempengaruhi
seluruh pribadinya. Perkembangan emosi dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman
baik bersifat memupuk atau menghambat.
Lugo dan Hersey (dalam Santosa, 1995) menyatakan bahwa emosi menyertai apa saja
yang individu kerjakan, pikiran dan pelajari. Adakalanya emosi melanda seseorang
dengan hebat, sehingga membingungkannya sementara individu lainnya tidak
menyadari keberadaannya.
Pendapat berbagai para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa emosi adalah
pengalaman bathin yang menyertai apa saja yang dilakukan oleh individu,
dorongan-dorongan yang mengandung kebutuhan dasar yang mempengaruhi keseleuruhan
kepribadian individu.
Dalam otak manusia, tedapat struktur yang mengelilingi pangkal otak, yang
dikenal sebagai sistem limbik. Di dalamnya terdapat yang namanya amigdala, yang
sering disebut sebagai bank memori emosi otak, tempat menyimpan semua kenangan
baik tentang kejayaan dan kegagalan, harapan dan ketakutan, kejengkelan dan
frustrasi. Amigdala menggunakan memori-memori yang tersimpan ini dalam perannya
sebagai semacam sentinel, yang bertugas memantau semua informasi berupa segala
sesuatu yang kita lihat dan kita dengar dari waktu ke waktu, dan mengukur besar
ancaman atau peluang melalui pencocokan apa pun yang terjadi sekarang dengan
arsip-arsip pengalaman masa lampau yang terhimpun dalam otak (LeDoux dalam
Goleman, 1999)
Struktur otak lainnya adalah hippocampus dan neokorteks. Dalam ingatan, amigdala
dan hippocampus bekerja bersama-sama, masing-masing menyimpan dan memunculkan
kembali informasi khusus secara mandiri. Bila hippocampus memunculkan kembali
informasi maka amigdala menentukan apakah informasi mempunyai nilai emosi
tertentu (Goleman 1995)
Hippocampus dan amigdala merupakan dua bagian penting dalam otak manusia. Hingga
saat ini, kedua struktur limbik itu melakukan sebagian besar atau banyak ingatan
dan pembelajaran otak. Amigdala adalah spesialis masalah-masalah emosional.
Apabila amigdala ini dipisahkan dari bagian-bagian otak lainnya, maka hasilnya
adalah ketidakmampuan yang amat mencolok dalam menangkap makna emosional dalam
suatu peristiwa. Apabila amigdala ini dibuang maka diyakini orang tersebut
kehilangan semua pemahaman tentang perasaan , juga setiap kemampuan merasakan
perasaan. Amigdala berfungsi semacam gudang ingatan emosional dan dengan
demikian itu, hidup tanpa amigdala merupakan kehidupan tanpa makna pribadi sama
sekali (Ekman,1994 dalam Goleman 1995)
Amigdala, sebagai kunci dalam otak emosional pertama kali ditemukan oleh Joseph
LeDoux seorang ahli syaraf di Center Neural Science New York University, Ia
menjelaskan bagaimana Amigdala mampu mengambil alih kendali apa yang di kerjakan
manusia bahkan sewaktu otak yang berpikir, neokorteks masih menyusun keputusan,
fungsi-fungsi amigdala dan pengaruhnya pada neokorteks merupakan inti kecerdasan
emosional.
Penelitian itu menemukan suatu berkas neuron yang lebih kecil yang menghubungkan
thalamus langsung dengan amigdala. Saluran yang lebih kecil dan lebih pendek ini
mirip jalan pintas saraf memungkinkan amigdala menerima sejumlah masukan
langsung dari indera-indera dan memulai suatu respon sebelum masukan-masukan itu
terdata sepenuhnya oleh neokorteks (LeDoux dalam Goleman, 1999). Secara anatomi,
sistem emosi mampu bertindak terlepas dari neokorteks. Amigdala dapat menyimpan
ingatan dan repertoar respon sehingga individu bertindak tanpa betul-betul
menyadari mengapa melakukannya, karena jalan pintas dari talamus menuju amigdala
sama sekali tidak melewati neokorteks.
Emosi sangat penting bagi rasionalitas. Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran,
kemampuan emosional membimbing keputusan individu dari saat ke saat saling
membahu dengan pikiran rasional mendayagunakan, atau tidak mendayagunakan
pikiran itu sendiri (Goleman, 1995)
Stress bisa menjadi sesuatu yang positif karena membuat individu selalu
berjaga-jaga menghindari bahaya. Reaksi tubuh terhadap stressor, bahaya atau
tantangan dimulai dengan reaksi awal di hipotalamus yang memulai reaksi rantai
melalui serabut saraf dan reaksi biokimiawi, selanjutnya melalui syaraf otonom
simpatik menimbulkan pelbagai perubahan di seluruh tubuh. Individu menjadi
waspada penuh, dan tersedia energi untuk menghadapi tantangan, baik untuk
menghadapi ancaman bahaya laut, berlomba, atau hanya sekedar mengejar jadual
waktu.
Ketika stres terjadi, amigdala mengirim pesan pada kelenjar endokrin untuk
mengeluarkan sejumlah bahan kimia yang dimulai dengan pelepasan CRF
(corticotrophin-releasing factor) dan diakhiri dengan membanjirnya hormon-hormon
stres terutama kartisol. Ketika hormon-hormon tersebut diproduksi, tubuh
bereaksi secara spontan, kabur atau melawan. Bahan kimia tersebut tinggal di
dalam tubuh berjam-jam lamanya, padahal setiap kali kejadian yang mengesalkan
berikutnya hormon-hormon tersebut terus diproduksi, sehingga terjadilah
penumpukan hormon stres. Penumpukan itu membuat amigdala menjadi detonator yang
sangat peka, yang siap membajak akal sehat menjadi naik pitam atau panik hanya
karena provokasi hal-hal yang gampang (Goleman, 1999)
Salah satu dampak dari horman stres terlihat pada aliran darah, ketika denyut
jantung meningkat. Darah yang seharusnya mengalir deras justru terhalang masuk
ke pusat-pusat kognitif otak. Kartisol mencuri energi dari bagian memori kerja
otak dan mengalihkannya ke perasaan. Ketika kadar kartisol sedang meninggi,
orang lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi, dan tidak mampu mengingat
dengan baik (Wolkowitz dkk dalam Goleman, 1999)
Di otak, peredam ledakan amigdala terletak di ujung lain sirkuit penting
nekorteks, yaitu lobus-lobus prefrontral tepat di balik dahi. Korteks prefrontal
bekerja saat seseorang merasa takut atau marah, tetapi berfungsi menghambat atau
mengendalikan perasaan agar dapat menangani situasi yang dihadapi dengan lebih
efektif. Wilayah prefrontral mengatur reaksi emosional sejak awal, ia berperan
sebagai neuron-neuron inhibitor (penghambat) yang dapat memveto pesan-pesan
impulsif dari pusat-pusat emosi, terutama amigdala, pada saat emosi dan godaan
nyaris tak terkendali. Sebagai sumber impuls emosi, amigdala sangat berperan
dalam pengalihan perhatian, sedangkan lobus perifrontral adalah tempat
dihimpunnya memori kerja, termasuk kemampuan memusatkan perhatian kepada sesuatu
yang sedang dipikirkan (Goleman, 1995, 1999). [PD]
Artikel berhubungan:
Kematangan Emosi
___________________
|