|
Seiring dengan perkembangan kota yang semakin pesat, laju pertumbuhan yang
semakin padat memicu munculnya stres. Kita akan lebih sering berhadapan dengan
gejolak emosi yang disebut dengan stres, kemacetan yang luar biasa, beban
pekerjaan yang menumpuk dan membutuhkan penyelesaian yang cepat, tindakan
kejahatan yang mengancam, kehilangan orang yang dicintai dan berbagai
permasalahan lainnya yang menimbulkan kecemasan. Stres seakan menjadi bagian
dari kehidupan sehari-hari.
Istilah stres semakin populer seiring media menyebutnya sebgai perilaku yang tak
lazim pada manusia sebagai akibat dari stres, nervous breakdown, menjadi
istilah yang sering dipakai dalam berbagai liputan tentang kehidupan artis yang
mengalami permasalahan dalam kehidupannya, bunuh diri, kekerasan dalam rumah
tangga, penyalahan narkoba dan berbagai liputan lainnya. Akibatnya orang semakin
akrab dengan istilah tersebut. Tak jarang kita mendengar ibu-ibu yang menyeletuk;
"Aku stres kalau jalan selalu macet!"
Dalam pengertian umum, stres terjadi jika orang dihadapkan dengan peristiwa yang
mereka rasakan yang dapat mengancam kesehatan fisik atau psikologisnya. Tak
terhitung banyaknya peristiwa yang dapat menimbulkan stres. Peristiwa-peristiwa
tersebut disebut dengan stressor. Sebagian besar darinya membawa pengaruh
terhadap perubahan perilaku seperti perang, kematian orang-orang terdekat atau
gempa. Hal lain sebagai bentuk karakteristik peristiwa yang dapat memicu
munculnya adalah adanya bertentangan (konflik) dalam bentuk motif atau keinginan
yang saling bertentangan.
Sumber stres yang paling jelas adalah peristiwa traumatik (lihat -
Gangguan Stres Pasca Trauma),
peritiwa tersebut antara lain; gempa bumi (bencana alam - disaster syndrome),
peperangan, penyiksaan seksual dan sebagainya. Reaksi orang berbeda-beda
terhadap stres, hal ini dipengaruhi oleh karakteristik peristiwa yaitu;
1) Controllability
Yaitu suatu kondisi pemicu stres yang dapat dikendalikan oleh individu. Artinya
individu mempunyai kemampuan untuk segera keluar dari lingkungan stres tersebut.
Keyakinan bahwa kita mampu untuk mengendalikan suatu peristiwa akan memperkecil
tingkat kecemasan
2) Predictability
Suatu kondisi atau peristiwa pemicu stres yang dapat diperkirakan akan terjadi (walaupun
individu tidak mampu untuk mengedalikannya) akan mengurangi tingkat keparahan
stres.
3) Menantang tingkat batas-batas manusia
Beberapa situasi yang dapat dikendalikan dan diprediksi (peristiwa tersebut
mengandung stressor) akan tetapi peristiwa tersebut memaksa kita pada
batas-batas kemampuan dan menantang kemampuan kita, misalnya siswa yang belajar
berjam-jam karena keesokan akan ada ujian dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Contoh lainnya pekerjaan yang harus diselesaikan karena telah sampai pada
deadline pada hari itu juga.
Gejala stres
Beberapa gejala untuk mengetahui seseorang mengalami stres:
a) Gejala fisik
Ditandai dengan muncul rasa sakit kepala, sakit lambung, hypertensi (darah
tinggi), sakit jantung atau jantung yang sering berdebar-debar tanpa sebab yang
jelas, insomnia, mudah lelah,
berkeringat, hilangnya selera makan, sring buang air kecil.
b) Gejala psikis
Ditandai dengan gelisah atau muncul kecemasan, sulit berkonsentrasi, sikap
apatis, pesimis, hilangnya rasa humor, sering melamun, kehilangan gairah
terhadap belajar atau pekerjaan, cenderung bersikap agresif baik secara verbal
maupun non-verbal (physic aggression)
Stres berat
Gambaran klinis utama adalah pengalaman ulang peristiwa yang menyakitkan,
merupakan suatu pola menghindar dan kekakuan emosi serta kesadaran secara
berlebihan yang hampir menetap yang merupakan konsekuensi langsung dari stres
yang akut atau trauma yang berkepanjangan. Karakteristik dari kategori ini tidak
hanya didasarkan pada identifikasi secara simtom (gajala-gejala yang tampak)
atau perjalanan penyakit, akan tetapi lebih pada pencetus terjadi stres berat
yaitu:
suatu stres kehidupan yang luar biasa yang menyebabkan reaksi stres akut atau
suatu perubahan penting dalam kehidupan yang menimbulkan ketidaknyamanan
berkelanjutan yang kemudian hari dapat terjadi gangguan penyesuaian
Gangguan-gangguan ini dapat dianggap sebagai respon maladaptif terhadap stres
berat atau stres berkelanjutan dimana mekanisme penyesuaian tidak berhasil
mengatasi sehingga menimbulkan masalah dalam funsi sosialnya. Holmes dan Rahe
(1967) menyebutkan peristiwa-peristiwa stres yang dapat mengakibatkan perubahan
dalam hidup individu diantaranya adalah kematian orang yang dicintai, perceraian,
hidup terpisah dalam perceraian, hukuman penjara, kematian orang-orang terdekat,
luka atau rasa sakit yang berkepanjangan, dipecat dari pekerjaan dan sebagainya.
Individu yang rentan terhadap gejala stres berat:
1) Adanya pengalaman masa trauma di masa kanak-kanak
2) Gangguan kepribadian ambang,
paranoid, dependen atau
antisosial
3) Sistem pendukung yang tidak adekuat (adequate)
4) Kerentanan genetik
5) Perubahan hidup penuh stres yang baru terjadi
6) Persepsi lokus kontrol eksternal
7) Penggunaan alkohol [PD]
Artikel berkaitan:
Faktor Pemicu Munculnya Stres ___________________
|