Selamat Datang di website www.pikirdong.org | Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif | Ayo menulis untuk kebaikan | Mari kita bangun bangsa ini dengan cara hidup dan mental yang sehat  
 

Psikologi

Artikel psikologi umum.

 
     
 

Commitment Phobia


Artikel Psikologi | 05/2008 | Pikirdong | Psikologi

 
 
   
 
 

Individu yang memiliki fobia komitmen:

   
 

• Sangat takut akan segala macam komitmen bersama pasangannya
• Takut untuk menikah
• Takut menjalin hubungan
• Takut akan perubahan hidup yang terbentuk dari hubungan dengan pasangannya
• Mempunyai hubungan cinta dengan beberapa orang sebelumnya
• Mempunyai perasaan curiga terhadap pasangannya
• Argumentatif (suka membantah)
• Menolak untuk memikirkan masa depan dan mempunyai rencana atau jadwal sendiri tanpa melibatkan pasangannya
• Tertutup, tidak suka menunjukkan muatan-muatan emosinya
• Perilaku hidup tidak teratur dan tidak siap untuk melakukan perubahan karena kebiasaan-kebiasaan sebelumnya [pd]

   
   
 

Peringatan


Website pikirdong hanya memberikan informasi semata mengenai beberapa simtom, artikel psikologi, kesehatan, termasuk kemungkinan di dalamnya tersebut nama-nama alat test psikologi atau obat-obatan. Artikel ini tidak boleh dijadikan sebagai rujukan atau acuan untuk diagnosa ke dokter. Perbedaan diagnosa dan informasi yang Anda peroleh selama perawatan tanyakanlah pada mereka yang berkompeten dibidangnya. Janganlah ragu apa yang mereka katakan bila berbeda dengan informasi yang kami sampaikan. Tanyakanlah informasi secara jelas pada mereka yang telah terjun secara profesional dibidangnya.

   

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa takut tersebut muncul ketika hubungan awal terbentuk (atau sebelumnya), atau bahkan ketika hubungan tersebut sedang berkembang. Commitment phobia lebih sering terbentuk ketika individu sedang menjalin dan berkembang ke arah yang lebih serius dalam sebuah hubungan cinta. Biasanya ia terjebak dalam hubungan tersebut dalam kebimbangan emosional untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Penderita gangguan fobia komitmen sangat takut mendengar beberapa kalimat tertentu berupa komitmen bersama yang terucapkan dari pasangan cintanya, meningkatnya rasa cemas dan rasa takut ketika menghadapi beberapa situasi yang membuatnya merasa terjebak; misalnya saja memasuki tahap pernikahan, tahap pertunangan, mempunyai bayi dan sebagainya

 

 

Simtom

Beberapa simtom yang dapat diprediksi tentang rasa takut ini adalah;
 

1) Kritik meningkat pada pasangannya
Penderita fobia komitment suka memberikan kritikan tajam pada pasangannya, lingkungan sekitar mereka atau pada bentuk hubungan mereka. Individu ini sering menyalahkan pasangan terhadap kesalahan-kesalahan yang menimpa dirinya
Simtom ini dapat dilihat;


Aku masih memikirkan karirku! Jangan mendesakku untuk menikah lebih awal, hal itu membuatku semakin tertekan dan membuatku stress!...
 

Aku tidak suka enggkau merencanakan membeli rumah kalau kita menikah nantinya, tidakkah kau bisa melihatnya rumah itu tidak bagus untuk kita berdua!



2) Mencari-cari kesalahan hubungan
Individu yang memiliki fobia komitment merasa takut bila hubungan mereka lancar tanpa ada masalah, ia akan mencari permasalahan baru untuk membawa hubungan tersebut dalam pertengkaran. Tujuannya adalah untuk meyakinkan pasangannya bahwa hubungan mereka tidak dalam keadaan baik, belum matang dan belum siap melangkah pada jenjang selanjutnya
Simtom ini dapat dilihat;
 

Aku masih memikirkan hubungan ini, aku melihat engkau begitu sibuk dengan pekerjaanmu sehingga engkau jarang sekali menghubungiku...

Individu ini kadang juga mencari pelbagai alasan tertentu yang tidak rasional untuk menghindari keterikatan dengan pasangannya, misalnya ia menggunakan alasan zodiak atau shio yang tidak cocok dan sebagainya
 

3) Menghindari kontak dengan orang lain
Fobia komitmen sangat jarang melakukan kontak dengan orang lain, ini bukanlah mereka mengalami gangguan sosial fobia; mereka tidak ingin terikat dengan orang lain begitu erat. Mereka juga menghindari situasi sosial tertentu, mengindari kontak mata, berkenalan dengan orang baru. Individu seperti ini juga menghindari berkenalan dengan ibu atau saudara dari pasangannya

4) Mencari pasangan yang mempunyai kemungkinan kecil tidak terikat
Individu dengan fobia komitmen akan mencari pasangan yang kemungkinan kecil tidak akan mengikatnya. Ia akan memilih pasangan yang lebih muda dengan asumsi bahwa bila hubungan bisa terus bertahan maka usia pernikahan akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Atau individu ini lebih suka terlibat dengan pasangan yang sudah menikah dengan tujuan pasangan tersebut tidak akan menuntutnya dalam suatu ikatan.

5) Mengulur-ulur waktu
Individu ini menyukai hubungan yang lebih lama, ia mempunyai kesempatan untuk "bermain" lebih lama dengan pasangannya. Ia menghindari keterikatan dengan mengulur waktu lebih lama untuk memasuki babak selanjutnya. Biasanya individu seperti ini akan memberi batas waktu tertentu akan tetapi kemudian mengundurkannya untuk jangka waktu tertentu.

6) Menyukai hubungan yang putus-sambung
Individu seperti ini sangat menyukai hubungan putus-sambung, ia akan berusaha mencari masalah bahwa hubungan yang sedang dibina sedang memiliki masalah besar, memutuskan hubungan sepihak merupakan salah satu langkah yang sering ditempuh untuk menghindari hubungan yang semakin kuat. Ketika individu mulai merasakan kekosongan jiwanya, ia akan kembali berusaha untuk memperbaiki hubungan tersebut
 


Faktor penyebab

Beberapa penyebab kemunculan fobia komitmen;
a) Terbentuk ketika masa kecil dari keluarga percerain (divorce). Pada masa ini anak melihat dan menilai sendiri bahwa ikatan keluarga antara ayah dan ibunya mengalami hubungan yang sulit berupa pertengkaran-pertengkaran yang membuatnya merasa takut dan bernaggapan bahwa sebuah hubungan antara lawan jenis bukanlah hal menyenangkan.

b) Pengalaman trauma di masa kecil dapat berupa pelbagai kekerasan fisik, kekerasan seksual dan pangalaman trauma lainnya yang dialami sang anak yang dilakukan oleh orang dewasa

c) Kehilangan orang-orang yang dicintai. Ketika anak kehilangan salah satu atau kedua dari orangtuanya yang sangat dicintainya, anak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk penyembuhan luka-luka emosionalnya, akibatnya ketika dewasa rasa takut kehilangan orang yang dicintainya akan terulang kembali sehingga ia akan menjaga jarak untuk tidak terlibat lebih dekat agar rasa "luka" tersebut tidak terulang kembali.

d) Penglaman trauma yang dialami sebelumnya. Misalnya saja individu yang patah hati dengan pasangan sebelumnya membentuk dalam pikirannya untuk tidak menjalani hubungan lagi dengan siapa pun.

e) Miskin "role model" ketika masa kanak-kanak. Anak-anak akan menilai dan meniru beberapa perilaku orang yang dikenalnya ketika kepribadian anak mulai terbentuk, kurangnya contoh model yang tepat ketika masa kecil membuat anak keliru secara persepsi dalam menilai sebuah bentuk hubungan.

f) Pengalaman yang tidak menyenangkan dari pasangan orangtua tiri.  [PD]

 

 

___________________


 

 
 
 
 
   

Kembali ke atas

Artikel

 

Pendidikan | Kepribadian | Keluarga | Organisasi | Cinta | Wanita | Remaja | Seks | Artikel Bebas | Opini | Celoteh

Psikologi

 

Psikologi Umum | Psikologi Islami | Konsultasi Psikologi

Website

 

Admin | Webmail | Disclaimer | Visi dan Misi | Mailbox | Info link | Kontak Kami | Web Donasi | Blog | Forum

Agenda

 

Emotional Self Managing Program | Agenda Sosial

Lembaga Psikologi

 

Lembaga Konseling dan Terapi | Daftar

     
 
     
     
 
   

© 2007 Pikirdong
www.pikirdong.org
Ide kecil perbaikan diri dan berpikir positif -
Kontak kami: info@pikirdong.org
Telp. 0813.3247.5184