| |
 |
| |
|
| |
SINGKAT MENGENAI
Kleptomania |
| |
|
| |
Penderita kleptomania sering disebut dengan istilah kleptos.
Benda yang dicuri berupa benda-benda yang tidak mempunyai nilai seperti pena,
penjepit kertas, sendok, boneka kecil atau celana dalam.
Kleptomania biasanya diawali pada usia kanak-kanak bahkan gangguan tersebut
dapat mengidap 16 tahun kemudian!
Episode kleptomania ditandai dengan kemunculan tiba-tiba, tidak ada perencanaan,
benda tersebut mudah untuk dicuri di tempat-tempat umum seperti supermarket
tanpa memerlukan keahlian khusus yang membedakan dengan perilaku kriminal
Belum ada alat test laboratorium yang dapat memastikan seseorang apakah mengidap
kleptomania atau tidak, dokter psikiater akan bertanya beberapa hal mengenai
gejala, impuls, kompulsi, obsesi dan beberapa pertanyaan psikologis untuk dapat
melakukan assessment secara tepat terhadap gangguan ini. |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
Kleptomania merupakan gangguan kebiasaan dan impuls (impulse control disorder)
yang mengakibatkan dampak-dampak negatif bagi perkembangan individu. Kleptomania
diartikan sebagai bentuk gangguan impuls yang tidak dapat dikendalikan oleh
individu untuk memiliki barang-barang yang dilihatnya dengan cara mencuri.
Gangguan ini dilakukan secara berulang (kompulsi) dengan pelbagai alasan yang
tidak rasional untuk memiliki benda-benda tersebut.
Individu yang mempunyai gangguan kleptomania ditandai oleh kegagalan menahan
dorongan untuk mencuri sesuatu yang tidak dibutuhkan atau tidak menghasilkan
uang, ketika dorongan untuk mencuri itu muncul, ia merasa tidak nyaman, gelisah
dan dorongan tersebut semakin kuat, setelah perilaku tersebut tersalurkan,
individu merasakan kepuasaan. Saat-saat tertentu individu dapat merasakan
penyesalan terhadap kebiasaan tersebut, akan tetapi penyesalan tersebut tidak
menghentikan kebiasaan buruk tersebut, justru ketika muncul dorongan itu kembali,
ia akan kembali mencuri. Oleh karena itu beberapa ahli klinis menyebut kondisi
seperti itu sebagai bagian dari spektrum gangguan afektif
obessi-kompulsif (OCD).
Kleptomania di derita paling banyak ditemukan pada wanita secara umum, rata-rata
usia berkisar 20-35 tahun dengan durasi gangguan selama 16 tahun, diperikirakan
hanya sekitar 0,6% dari populasi mengidap gangguan ini. Kemunculan kleptomania
secara pasti tidak dapat diketahui namun kleptomania mempunyai korelasi dengan
ganggaun yang dialami individu sebelumnya seperti obsessive-compulsive Disorder
(7%) dan bulimia nervosa (65%).
Beberapa penelitian psikoanalisa menyebutkan bahwa kleptomania disebabkan oleh
pelbagai permasalahan dan fase masa kanak-kanak yang tidak berjalan dengan
semestinya, akibatnya dorongan mencuri merupakan salah satu cara dorongan untuk
mengembalikan masa tersebut. Penderita kleptomania melaporkan bahwa rata-rata
awal kemunculan gangguan tersebut pada usia 5 tahun. Secara pasti sebab-sebab
kemunculan kleptomania masih dalam perdebatan, namun diperkirakan
ketidakseimbangan zat kimia serotonin di dalam otak diduga penyebab bentuk
abnormalitas ini.
Simtom
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - DSM IV-TR
(text revision) terbitan American Psychiatric Association (Edisi ke IV,
2000) menyebutkan 5 gejala utama dari kleptomania;
1- Pengulangan mencuri benda-benda yang tidak dibutuhkan oleh individu yang
bersangkutan atau kadang benda-benda itu diberikan untuk orang lain. Benda-benda
yang diambil adalah benda-benda yang tidak mempunyai nilai, tidak berharga.
2- Peningkatan dorongan secara terus-menerus sebelum mencuri
3- Timbul rasa senang ketika mencuri berhasil dilakukan
4- Proses mencuri tersebut tidak dimotivasi oleh rasa marah atau keinginan untuk
balas dendam dan tidak disebabkan oleh delusi dan halusinasi
5- Perilaku tersebut tidak disebabkan oleh conduct disorder, manic episode pada
gangguan bipolar, atau gangguan kepribadian antisosial.
Penderita kleptomania menyadari bahwa mengutil merupakan kebiasaan yang buruk,
disertai rasa penyesalan setelah melakukan aksinya, akan tetapi kebiasaan
tersebut sulit diatasi ketika dorongan-dorongan itu kembali muncul. Penderita
kleptomania kadang menyusun strategi self-control untuk merepresikan
dorongan tersebut dengan menghindari aktivitas untuk berbelanja di supermarket,
berbelanja bila perlu saja bahkan berhenti samasekali untuk belanja. Mereka
secara sengaja melakukan isolasi sosial untuk menghindari kemunculan dorongan
tersebut.
Treatment
Efek jera dengan mempermalukan penderita kleptomania di depan umum bila ia
tertangkap basah melakukan pengutilan (pencurian) tidak akan mengubah kebiasaan
tersebut. Tidak ada treatment yang paling efektif dalam penyembuhan gangguan ini,
walaupun demikian beberapa treatment dapat diberikan disesuaikan dengan kondisi
pada pasien.
(1) Medikasi
Antidepressant
Jenis obat yang digunakan termasuk selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs).
Termasuk didalamnya; fluoxetine (Prozac), paroxetine (Paxil, Paxil CR),
fluvoxamine, dan sebagainya. Bila terjadi efek samping segeralah beritahu kepada
dokter.
Benzodiazepines.
Jenis obat yang bekerja langsung pada sistem susunan syaraf pusat (CNS; central
nervous system), sering juga disebut sebagai tranquilizers. Termasuk di dalamnya;
clonazepam (Klonopin) dan alprazolam (Xanax). Pemberian obat ini haruslah
melalui kontrol ketat dari dokter, penggunaan obat ini terlalu panjang dan dalam
dosis tinggi dapat mengakibatkan ketergantungan secara fisik maupun mental
Mood stabilizers.
Obat ini memberikan ketenangan bila terjadi perubahan mood berupa
dorongan-dorongan kuat untuk mengutil/mencuri timbul secara mendadak. Jenis obat
ini adalah; lithium (Eskalith, Lithobid)
Anti-seizure medications.
Adalah jenis obat untuk mengatasi gangguan mental yang muncul kembali, jenis
obat topiramate (Topamax) dan asam valproic (Depakene) dilaporkan memberi
pengaruh yang positif bagi penderita gangguan kleptomania.
Jenis obat lainnya.
Naltrexone (Revia), adalah jenis opioid yang tidak berbahaya yang dapat
berfungsi memblok bagian-bagian otak untuk merasakan kesenangan berupa
perilaku-perilaku yang teradiktif
(2) Psikoterapi
Terapi yang digunakan dalam penyembuhan kleptomania adalah cognitive-behavioral
therapy (CBT), terapi keluarga, terapi psikodinamika, self-group therapy dan
rational emotive therapy. Pada CBT individu diharapkan dapat mengindentifikasi
perilaku yang salah, pikiran negatif dan mengubah pikiran dan perilaku tersebut
secara lebih sehat.
Pada cognitive-behavioral therapy dan rational emotive therapy diberikan
beberapa perlakuan seperti covert sensitization, dimana individu direkam secara
diam-diam ketika melakukan pengutilan, hasil rekaman tersebut akan diperlihatkan
kepada individu dengan pengarahan konsekuensi sosial terhadap perilakunya itu.
Aversion therapy merupakan sesi dimana individu berusaha mengatur pernafasan
secara tepat, menahan nafas untuk beberapa saat ketika rasa tidaknyaman muncul
yang diakibatkan oleh dorongan-dorongan tersebut kemabli muncul [PD]
___________________
|