| |
 |
| |
|
| |
 |
| |
Sekilas tentang:
Demensia |
| |
|
| |
Demensia merupakan suatu sindrom dengan pelbagai gangguan kognitif yang menimpa
orangtua pada usia kisaran 50-60 tahun.
Sampai saat ini belum ada obat efektif untuk menyembuhkan penyakit ini.
Prognosis penyakit ini berjalan lamban yang disertai kerusakan perlahan dan
semakin meluas seiring dengan bertambah waktu pada seluruh lapisan otak.
Beberapa pasien demensia pada penderita Alzheimer mengalami halusinasi (20-30%)
dan gejala waham yang disertai paranoid (30-40%).
Gejala-gejala yang muncul akan terus memburuk, kadang pasien akan disertai
dengan kejang, kebingungan, ataksia dan jatuh tiba-tiba, kondisi ini sering
disebut dengan sindrom sundowner [pd]
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
Demensia (dementia) merupakan sindrom yang ditandai oleh pelbagai gangguan
fungsi kognitif tanpa adanya gangguan kesadaran. Gangguan kognitif berupa
inteligensi, memori, bahasa, problem solving, orientasi, persepsi, perhatian dan
konsentrasi, adaptasi dan kemampuan bersosialisasi. Gangguan ini sifatnya
progresif, artinya kerusakan yang terjadi sifatnya lamban namun semakin lama
gangguan semakin meluas.
Kemunculan penyakit ini pada usia 50-60 tahun, sangat jarang muncul dibawah usia
60 tahun (kecuali dalam beberapa kasus kemunculan demensia yang disebabkan oleh
HIV/AIDS), beberapa gejala awal yang samar atau tidak disadari, baik oleh pasien
itu sendiri maupun orang-orang terdekat.
Pada stadium awal kemunculan demensia ditandai dengan gejala fatigue (kelelahan),
cenderung gagal bila diberi tugas baru dan kesulitan mempertahankan kinerja
mental. Perlahan-lahan kemudian individu kesulitan melaksanakan tugas-tugas
hariannya dan perlu dibantu.
Orientasi, memori, persepsi dan fungsi kognitif pasien akan terus memburuk
seiring dengan memberatnya stadium penyakitnya. Memburuknya afeksi dan tingkah
laku ditemukan pada pasien dengan pribadi introvert dan apatis terhadap tingkah
lakunya. Bila kerusakan meluas pada daerah lobus frontal dan temporal pasien
tampak iritabel dan eksplosif.
Faktor Penyebab
Faktor penyebab demensia yang paling sering disebabkan oleh penyakit Alzheimer
dan vaskular (kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh serangan stroke).
Kedua penyakit itu kadang sering timbul secara bersamaan. Beberapa penyakit
lainnya seperti; penyakit Pick, Creutzfeldt-Jacob, Huntington,
Parkinson, HIV dan trauma kepala.
Demensia dengan Lewy (DLB; Dementia with Lewy bodies) merupakan demensia
yang muncul pada orang tua, suatu kondisi penumpukan protein secara tidak normal
di otak. Gejala DLB mirip sekali dengan simtom yang ada pada Alzheimer, namun
kedua penyakit ini berbeda. Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan
kedua penyakit ini.
Beberapa kondisi lainnya yang dapat memunculkan demensia;
• Kerusakan pembuluh darah atau susunan syaraf otak
• Hydrocephalus
• Tumor otak
• Kondisi tiroid
• Kekurangan vitamin B12
• Infeksi
Demensia didiagnosis bila pasien memiliki minimal 2 atau lebih gangguan fungsi
otak seperti gangguan dalam memori, bahasa, persepsi, emosi dan kemampuan
kognitif (seperti berhitung, berpikir abstrak atau penilaian). Biasanya gejala
yang sering diketahui lebih awal dimana pasien cepat lupa atau lupa samasekali.
Beberapa gangguan lainnya hanya tampak bila melalui serangkaian test kognitif.
Semakin bertambah usia seseorang maka semakin besar kemungkinan resiko terkena
demensia.
SIMTOM
Gejala-gejala demensia;
1) Penurunan kemampuan memori secara bertahap
2) Ketidakmampuan untuk berkonsetrasi
3) Penurunan kemampuan penyelesaian masalah dan penilaian
4) Sering bingung sendiri
5) Halusinasi dan delusi
6) Perubahan pada sensasi dan persepsi
7) Penurunan pada kemampuan untuk mengenal nama-nama (agnosia);
• Penurunan kemampuan untuk mengenal nama orang atau benda
• Penurunan kemampuan untuk mengenal perasaan
8) Perubahan pola tidur
• insomnia
• selalu ingin tidur
• perubahan jam tidur
9) Kerusakan sistem motorik
• Kerusakan skill motorik (apraxia)
• Ketidakmampuan untuk membuat bentuk-bentuk geometri
• Ketidakmampuan menggunakan tangan
• Ketidakmampuan untuk memakai baju sendiri
• Tidak mampu berjalan cepat
• Ketidakmampuan untuk berjalan atau berpindah tempat
• Kerusakan sistem motorik lainnya
10) Disorientasi
• disorientasi orang, tempat dan wakatu
• disorientasi visual-spasial (ruang)
• Ketidakmampuan untuk menginterpretasikan dari petunjuk yang ada disekitarnya
11) Permasalahan dalam belajar dan pemecahan masalah
• Gangguan umum
• Ketidakmampuan berpikir secara abstrak
• Ketidakmampuan untuk berhitung
• Ketidakmampuan untuk belajar
12) Penurunan daya ingat
• Problem memori jangka pendek (tidak mampu mengingat hal-hal baru)
• Problem memori jangka panjang (tidak mampu mengingat masa lalu)
13) Penurunan kemampuan penggunaan bahasa
• Kerancuan dalam berbicara
• Ketidakmampuan membaca
• Ketidakmampuan untuk menulis
• Kesulitan dalam berbicara
• Kesulitan dalam penggunaan kata-kata
• Kesulitan dalam nama-nama benda
• Kesulitan dalam pengucapan
• Dalam berbicara sering melakukan kesalahan atau kata-kata yang salah
• Ketidakmampuan untuk mengulangi kalimat atau perkataan orang lain
• Pengulangan kata-kata yang sama
• Penurunan kemampuan dalam penggunaan bahasa lain
14) Perubahan kepribadian
• Mudah jengkel
• Ketidakmampuan untuk mengontrol temperamen
• Kecemasan
• Depresi
• Ragu-ragu
• Fokus dalam dirinya
• Tidak fleksibel
• Menarik dirinya dari hubungan sosial
• Penurunan kemampuan terhadap fungsi sosial
• Ketidakmampuan dalam menyelesaikan pekerjaannya
• Perubahan mood dan perilaku tidak pantas
• Ketidakmampuan mengenal perasaan-perasaan
• Penurunan ketertarikan pada aktivitas sehari-hari
15) Hilangnya spontanitas
TEST
Beberapa test dan prosedur untuk mengetahui secara pasti adanya penyakit
demensia dilakukan beberapa cara dan test;
• Serum elektrolit
• Kimiawi darah (chem-20)
• Tes glukosa
• Serum kalsium
• Kadar hormon tiroid
• Tes fungsi tiroid
• Tes fungsi hati
• Kadar vitamin B12
• kadar amonia darah
• Toxicology screen (test kadar alkohol dan obat-obatan)
• Analisis urin
• Electroencephalograph (pencatat gelombang aktivitas otak; EEG)
• CT scan
• Analisis CSF (Cairan cerebrospinal)
• MRI
TREATMENT
Sampai saat ini belum ditemukan obat medikasi yang dapat menyembuhkan demensia,
treatment diberikan dengan tujuan untuk mengontrol kemunculan simtom demensia
dan memperlambat meluasnya kerusakan yang disebabkan oleh demensia.
Penghentian atau penggantian obat-obatan akan berdampak memburuknya fungsi otak,
jenis obat-obatan itu termasuk anticholinergics, analgesics, cimetidine,
lidocaine dan antidepressant untuk susunan syaraf pusat (CNS).
Beberapa kondisi medis dari simtom yang muncul kadang membingung untuk ditangani,
treatment yang diberikan hanya dapat mencegah dari efek demensia dari beberapa
simtom yang muncul, tidak secara keseluruhan. Obat-obatan diatas diberikan untuk
menghindari gagal hati, kekurangan oksigen (hypoxia), gangguan tiroid, gangguan
nutrisi, infeksi, dan depresi.
Obat-obatan untuk mengontrol perilaku;
• Anti psikotik diberikan dimalam hari
• Obat afektif-serotonin seperti trazodone, buspirone
• Penahan dopamine (haloperidol, risperdal, olanzapine, clozapine)
• Cholinesterase seperti donepezil (Aricept), rivastigmine (Exelon), atau
galantamine (Reminyl) untuk demensia yang disebabkan oleh Alzheimer
• Pengendali mood seperti fluoxetine, imipramine, atau Celexa
• Obat simultan seperti methylphenidate (untuk meningkatkan aktivitas dan
spontanitas)
Beberapa alat bantu yang mungkin perlu diberikan seperti alat bantu dengar,
kacamata atau dilakukan operasi untuk mengangkat katarak.
PENCEGAHAN
Kebanyakan penyebab kemunculan demensia tidak dapat dicegah, demensia vaskular
yang disebabkan oleh serangan stroke dapat dihindari dengan membiasakan diri
sejak dini dengan hidup sehat seperti dengan cara menghindari rokok, mengontrol
tekanan darah seimbang (menghindari hipertensi) dan menghindari resiko terkena
diabetes. [PD]
___________________
|