| |
 |
| |
|
| |
 |
| |
|
| |
Paraphilia
Paraphilia berasal dari bahasa Yunani, para yang berarti "lebih" dan philia
berarti "teman", atau "bersenang-senang". Paraphilia merupakan gangguan mental
merujuk pada dorongan seksual, atau respon seksual terhadap objek atau situasi
yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Istilah paraphilia pertama sekali disebutkan oleh seorang psikoterapis bernama
Wilhelm Stekel dalam bukunya yang berjudul Sexual Aberrations pada tahun
1925. Pemakaian istilah itu tidak begitu menyebar hingga tahun 1950an dan ketika
DSM (1980an) menggunakan istilah tersebut barulah istilah tersebut menjadi
sering digunakan dibeberapa media.
Jenis parafilia
302 .4 Eksibisionisme
302 .81 Fetishisme
302 .89 Frotteurism
302 .2 Pedofillia
302 .83 Masokisme seksual
302 .84 Sadisme seksualisme
302 .3 Fetishisme transvestik
302 .82 Veyourisme
302 .9 Parafilia YTT
Sebagian besar paraphilia mengidap pada pria lebih banyak dibandingkan wanita
(20:1).
Paraphilia erat kaitannya dengan perilaku agresivitas, perilaku pendiam dan
kejahatan. Beberapa jenis paraphila seperti pedophilia, eksibisionisme,
veyourisme, sadisme dan frotteurism digolongkan sebagai kejahatan seksual (kriminalitas)
[pd] |
| |
|
| |
|
| |
|
Paraphilia adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang
seksual. Paraphilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol terhadap impuls,
baik secara langsung dan intens terhadap fantasi seksual, mendesak, dan perilaku
yang melibat objek, aktivitas dan situasi tertentu yang tidak lazim. Objek,
aktivitas dan situasi merupakan suatu kebutuhan bagi individu sebagai pemenuhan
kebutuhan seksualnya.
Penyimpangan seksual berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders (DSM);
...dorongan
seksual secara berulang-ulang, dorongan seks yang mendesak, atau perilaku yang
melibatkan; 1) objek bukan manusia, 2) menimbulkan penderitaan dan nyeri pada
seseorang atau pasangannya, atau 3) anak-anak atau orang-orang yang tidak
menginginkannya. Gangguan ini setidaknya lebih atau sekurang-kurang 6 bulan.
Paraphilia merupakan penyimpang seksual, dimana individu melakukan aktivitas
seksual yang tidak biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya, melanggar
batas norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.
GEJALA UMUM
Perilaku-perilaku tersebut (berdasarkan kriteria DSM diatas) dapat berupa;
1) Objek bukan manusia seperti sepatu, baju dalam, bahan kulit atau karet,
binatang, parfum (aroma tertentu), air, cat dan sebagainya.
2) Menimbulkan penderitaan seperti perilaku mencekik, memukul, menyiksa, tetesan
lilin dan sebagainya. Perilaku tersebut bertujuan menyakiti pasangannya sehingga
individu mendapatkan kepuasan.
3) Anak-anak atau orang yang tidak menginginkan seperti anak-anak kecil, orang
yang tidak berdaya atau orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diintip
dan sebagainya.
4) Aktivitas dan situasi seperti; bertingkah atau berperilaku menyerupai profesi
tertentu, memakai kostum seragam tertentu
Beberapa jenis paraphilia dikategorikan sebagai kejahatan seksual. Beberapa
agama (terutama Islam) seks sangat dilarang, secara umumnya orang berpendapat
paraphilia juga merupakan dosa.
Seiringan perkembangan psikologi, paraphilia menjadi etiologi penting yang masih
terus dipelajari dampak-dampak paraphilia yang mempengaruhi fungsi pribadi
individu terhadap fungsi dan situasi sosial. Beberapa jenis paraphilia juga
kadang menjadi kontroversi dan perdebatan dalam suatu komunitas tertentu atau
masyarakat. Perbedaan pendapat berupa sebagai bentuk penyimpangan seksual atau
variasi seksual, atau menjadi hak-hak privasi individu dalam penyaluran seksual.
Contoh; perilaku homoseksual dan masturbasi
Pada awalnya perilaku homoseksual tertera sebagai bagian dari paraphilia dalam
DSM I dan II, namun pada DSM III dan IV homoseksual sudah tidak ada dalam
terdaftar dan sudah tidak dianggap lagi sebagai bentuk penyimpangan seksual.
Masturbasi merupakan hal yang paling sering menjadi pembicaraan, beberapa
penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pria dan wanita pernah melakukan
masturbasi. Secara psikologis masturbasi memberi pengaruhi yang tidak baik terhadap beberapa orang,
masturbasi memberi pengaruh adiktif yang berakibatkan pada gangguan seperti
kesulitan berkonsentrasi, kompulsi, dan perasaan bersalah (dosa).
Hanya sembilan
kategori paraphilia yang disebutkan oleh DSM yakni; eksibisionisme,
fetishisme, frotteurism,
pedofillia, masokisme seksual,
sadisme seksualisme, fetishisme transvestik,
veyourisme dan yang terakhir digolongkan
paraphilia yang tidak
digolongkan, tidak terdefinisi, lainnya. Jenis-jenis
paraphilia lainnya kadang disebutkan oleh beberapa media
dengan pengertian yang berbeda-beda, bahkan beberapa
diantaranya sengaja diciptakan sebagai bentuk pengungkapan
media yang positif.
Mengenai jumlah jenis paraphilia yang ada masih dalam perdebatan para ahli,
beberapa jenis paraphilia diantaranya disebutkan dan disebarkan oleh pecandu
pornografi yang menyebutkan tingkah-lakunya sebagai bentuk lain dari paraphilia.
FAKTOR PENYEBAB
Faktor penyebab langsung terbentuknya penyimpangan seksual paraphilia tidak
diketahui secara pasti, beberapa dugaan kemunculan gangguan ini;
1) Pengalaman pelecehan dan kekerasan seksual dimasa kanak-kanak
2) Keterdekatan dengan situasi atau objek tertentu secara berulang kali dengan
aktivitas seksual
3) Hambatan perkembangan dan kesulitan dalam menjalin hubungan dengan beda jenis
4) Kecanduan pornografi, beberapa tayangan nyeleneh (aneh) akan memberikan daya
tarik seperti magnet yang dapat mempengaruhi psikologis ketergantungan
5) Pengaruh dari pasangan seksual
6) Pelampiasan stress yang tidak tepat sehingga menimbulkan kebiasaan dan
pengulangan secara terus-menerus.
7) Rasa ingin mencoba yang diakibat penyampaian informasi atau persepsi yang
salah
TREATMENT
Langkah-langkah yang dapat ditempuh;
• Psikoterapi
Teknik yang dapat dipakai adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terapi
dapat dilakukan secara individual dan terapi kelompok, latihan yang diberikan
adalah meningkatkan ketrampilan sosial, latihan fisik, latihan konsentrasi,
mengatasi depresi, dan treatmen hormon
• Medikasi
Pemberian obat antiandrogen yang bertujuan untuk menormalkan level hormon
testeron. Obat-obat yang digunakan seperti medroxyprogesterone dan cyproterone
Bila individu juga disertai gangguan kecemasan dan depresi jenis SSRIs
(selective serotonin reuptake inhibitors) menjadi obat pilihan dokter;
fluoxetine atau fluvoxamine
PENCEGAHAN SENDIRI
• Stress reduction secara tepat. Tidak melakukan aktivitas seksual yang
aneh-aneh sebagai pelampiasan stres. Lakukan hal-hal positif agar penyaluran
stres tidak merusak perilaku dan kebiasaan lainnya, perilaku menyimpang dapat
teradiktif bila penyaluran stres dengan aktivitas seksual setiap kali dilakukan
bila stress menimpa.
• Perkuatkan iman, bagaimanapun iman merupakan benteng terbaik sebagai
pencegahan penyimpangan perilaku.
• Self control. Mengontrol dorongan rasa ingin tahu, mencoba atau pengaruh teman
―dengan penuh kesadaran dan pengetahuan akan dampak-dampak buruk dari perilaku
tersebut
• Tidak surfing atau melihat pornografi yang bebas bisa di dapat dari internet
atau media lainnya.
• Membiasakan hidup sehat untuk mengurang stres, termasuk olahraga teratur,
nutrisi yang seimbang dan pengalaman spiritual dan religius.
[PD]
___________________
|