|
Dialah Cesi Nurbandini. Umur tujuh tahun. Ibunya pengarit rumput, ayahnya kuli
bangunan. Mereka tinggal di Dawuran, sebuah desa subur di Pleret, Bantul, nun di
selatan Yogyakarta. Meski upah sang ayah kecil, istri dan anaknya bahagia. Cesi
pun punya boneka panda besar.
Sabtu pagi, 27 Mei, si kecil menemani sang ibu menyapu halaman. Ayahnya masih
tidur, lelah setelah sehari sebelumnya bekerja sampai sore. Tiba-tiba tanah
bergoyang. Tanah di halaman rumah mereka terbelah, pohon-pohon di samping rumah
jumpalitan. Secepat kilat ibunya menyambar tubuh Cesi, lalu berlari ke jalan
raya. Kencang.
Sang ibu tiba-tiba berhenti. Cesi hampir terlempar. Perempuan itu histeris,
berteriak sejadi-jadinya memanggil suaminya. Tak ada sahutan. Dari kejauhan
terlihat rumah mereka telah roboh. Rata tanah. Debu menukik ke langit. Tapi ayah
Cesi di mana? Perempuan itu takut kembali ke rumah sebab tanah terus bergerak.
Sembari menggendong Cesi, dia terengah-engah ke rumah Mbah Putri yang tak berapa
jauh dari rumah mereka. Ya ampun, rumah si Mbah juga sudah rata tanah.
Demikian cuplikan sketsa detik-detik kejadian gempa tiga tahun silam yang sempat
dipotret dengan baik oleh seorang wartawan foto Tempo, Arie Basuki.
Ketika orang-orang sibuk, juga cemas, siang-malam menunggu dan mewaspadai
letusan Gunung Merapi, tiba-tiba kita dikejutkan oleh musibah yang jauh lebih
dramatis: gempa bumi! Padahal, tak ada isyarat apapun dari alam ketika itu.
Guncangan hebat berkekuatan 6,2 skala Richter itu merupakan peristiwa
katastropik dan traumatis terburuk yang pernah terjadi di Yogyakarta. Syukur
tidak disertai tsunami. Namun, sekian ribu nyawa melayang dalam cekam.
Rumah-rumah dan gedung berdebam. Desa dan kota tinggallah puing reruntuhan.
Seribu satu cerita kedukaan mengalir deras dari balik tenda-tenda pengungsian.
Masihkah ada cahaya bagi asa yang nyaris tenggelam?
Pasca-gempa memang terasa menyesakkan dada. Peristiwa memilukan tersebut
menyisakan berbagai kondisi yang sungguh memprihatinkan. Selain menderita luka
fisik, para korban yang selamat juga mengalami gangguan psikologis yang
berdampak pada kondisi psikis pun spiritual mereka. Banyak analisis telah
memaparkan berbagai hal tentang realitas bencana yang terjadi hingga rencana ke
depan dalam membangun kembali daerah gempa dari keterpurukan. Untuk rehabilitasi
tersebut tentunya tak lepas dari pemahaman yang kongkrit mengenai kondisi
wilayah dan masyarakat yang meliputi kondisi pra-bencana dan pasca-bencana.
Dalam hal ini, tentunya penting pula diperhatikan bagaimana kondisi psikis dan
spiritual masyarakat Yogyakarta, terutama mereka yang secara langsung menjadi
korban bencana.
Dalam banyak kejadian, rehabilitasi fisik relatif lebih kelihatan dan jelas pola
penanganannya, walaupun juga tidak mudah karena memerlukan mobilitas dana dan
prasarana yang tidak sedikit. Namun berbeda halnya dengan rehabilitasi psikis.
Kondisi katastropik tersebut telah meninggalkan luka psikis yang mendalam dalam
bentuk gejala-gejaka psikologis yang biasa disebut sebagai
gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic
stress disorder).
Gejala-gejalanya, seperti seolah-olah mengalami lagi peristiwa traumatik
tersebut (reexpriencing) yang sering menjelma dalam mimpi-mimpi buruk.
Ada pula gejala penghindaran (avoidance/numbing) yang mewujud dalam
bentuk perilaku ketakutan dan menghindar dari stimulus-stimulus yang mirip
dengan pengalaman traumatik. Boleh jadi dengan meningkatnya intensitas emosi (arousal)
yang dapat dilihat dari sering marah-marah, mudah tersinggung, gangguan tidur,
rasa was-was, dan kecurigaan yang tinggi.
Tim Crisis and Recovery Center (CRC), Fakultas Psikologi UGM melaporkan bahwa
2,5 % dari populasi yang mengalami beban mental pasca gempa bumi tersebut akan
mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri pada jangka menengah dan panjang.
Artinya, kurang lebih 30 ribu korban selamat akan memerlukan bantuan psikologis
mulai minggu ketiga sampai kurang lebih tiga bulan kemudian. Selanjutnya yang
perlu diantisipasi adalah 1% dari populasi, atau kurang lebih 12 ribu orang yang
mengalami masalah psikologis pada masa yang lebih lama. Kemungkinan besar mereka
berasal dari rumah-rumah yang kondisinya rusak berat atau roboh.
Lebih jauh dijelaskan bahwa prevalensi permasalahan psikologis akan lebih tinggi
pada kelompok rentan, yaitu korban yang mengalami luka-luka atau patah tulang.
Untuk seluruh wilayah bencana, korban tersebut mencapai sekitar 37 ribu jiwa.
Beban psikologis yang dirasakan akan menurunkan daya tahan tubuh yang berdampak
pada proses pemulihan yang lebih lama atau bahkan memperparah kondisi penyakit.
Kelompok rentan yang lain adalah mereka yang telah memiliki masalah-masalah
psikologis sebelum bencana terjadi. Selain itu adalah ibu-ibu hamil dan bayi,
serta anak-anak di bawah usia sekolah. Demikian halnya dengan lansia yang selalu
menjadi kelompok rentan, sehingga perlu mendapat perhatian khusus.
Pemulihan Korban Pasca-Gempa
Penanganan korban stres akibat gempa di Yogyakarta memang tidak mudah.
Pengalaman traumatis karena gempa telah menggoncangkan dan melemahkan pertahanan
individu dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup sehari-hari. Apalagi
kondisi trauma, kondisi fisik dan mental, aspek kepribadian masing-masing korban
tidak sama.
Masyarakat yang menjadi korban dari suatu bencana cenderung memiliki masalah
penyesuaian perilaku dan emosional. Perubahan mendadak sering membawa dampak
psikologis yang cukup berat. Beban yang dihadapi oleh para korban tersebut dapat
mengubah pandangan mereka tentang kehidupan dan menyebabkan tekanan pada jiwa
mereka. Kejadian gempa di Yogyakarta menjadi beban dan tekanan tersendiri bagi
para korban. Pasalnya, musibah ini baru pertama kali dialami dan merupakan
kejadian yang tidak terduga sama sekali.
Ketika melakukan pendampingan psikologis kepada beberapa korban di RSU PKU
Muhammadiyah Yogyakarta (18-20/06/2006), saya bisa melihat langsung kondisi
mereka. Tidak sedikit korban yang mengalami berbagai tekanan psikologis
sekaligus rasa sakit yang mendalam. Kehilangan anggota keluarga telah membuat
luka psikis yang dalam. Apalagi kejadiannya begitu mendadak dan mereka
menyaksikan langsung anggota keluarga yang luka maupun meninggal. Kehilangan
tempat tinggal juga merupakan pukulan telak. Mereka menyaksikan rumahnya yang
dibangun dengan berbagai usaha hancur berantakan. Tak pelak kondisi ini
menimbulkan beban psikis yang dalam.
Munculnya gejala-gejala stres, seperti rasa takut, cemas, duka cita yang
mendalam, tidak berdaya, putus asa, kehilangan kontrol, frustrasi sampai depresi
semuanya bermuara pada kemampuan individu dalam memaknai suatu musibah secara
lebih realistis. Gejala-gejala tersebut adalah reaksi wajar dari pengalaman yang
tidak wajar. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka
memerlukan cara yang tepat untuk mengatasi masalah yang dialami.
Dalam hal ini, konsep coping merupakan hal yang penting untuk dibicarakan.
Konsep coping menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku,
untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau meminimalisasikan suatu situasi
atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan kata lain, coping merupakan
suatu proses di mana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi
yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya. Beragam cara dilakukan.
Namun, semua bermuara pada perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh
rasa aman dalam dirinya.
Ketika seseorang tertimpa suatu musibah, biasanya ia akan mendekat kepada Tuhan
dengan meningkatkan ibadah dan perbuatan baik lainnya. Hal ini diperlihatkan
oleh sebagian besar rakyat Bantul yang mengaku tawakal dengan memasrahkan
segalanya kepada Tuhan. Ekspresi sikap pasrah itu gampang dijumpai di lokasi
bencana, “Matur nuwun, Gusti, kawula tasih dipunparingi keselametan...” (Terima
kasih, Tuhan, saya masih diberi keselamatan).
Mereka bersyukur masih diberi keselamatan. Pengalaman tersebut menjadikan mereka
semakin dekat kepada Tuhan. Idealnya, mereka harus memaknai bencana sebagai
sebuah musibah, bukan petaka atau azab. Bencana gempa ditafsirkan sebagai
peringatan keras Tuhan kepada manusia yang telah lama berkubang dalam dosa dan
dusta. Karena itu, sebagai sebuah musibah, bencana bukan akhir segala-galanya.
Bencana dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki makna, bukan kesia-siaan
apalagi keterkutukan.
Korban bencana yang tingkat spiritualitasnya tinggi akan menjadikan mereka
senantiasa hidup dalam nuansa keimanan kepada Tuhan. Mereka akan memaknai
aktivitasnya dalam kehidupan ini sebagai ibadah kepada Tuhan. Mereka pun akan
semakin tegas dan konsisten dalam sikap dan langkah hidupnya serta semakin
terikat dengan aturan Sang Pencipta dengan perasaan ridha dan tenteram. Perasaan
itu akan menjadikannya kuat dalam menghadapi segala persoalan hidup. Mereka
dapat mengambil hikmah atas musibah yang menimpanya, tidak putus asa, dan
menjadikan hambatan-hambatan yang ditemui pasca-bencana sebagai tantangan untuk
memulai kehidupan baru. Mereka menganggap bahwa bencana bukan akhir dari
segala-galanya. Bencana dapat diubah menjadi suatu pengalaman positif yang
memiliki makna.
Identitas spiritual dibutuhkan individu dalam mengkonstruksi makna atas
pengalaman hidup. Dengan adanya kepercayaan pribadi untuk memberikan makna luar
biasa kepada realitas kehidupan, agama akan mampu mengarahkan individu untuk
memberikan penerimaan tulus atas musibah yang terjadi. Kondisi tersebut
memungkinkan individu untuk memaknai kembali hidupnya dengan membuat perencanaan
atas setiap kemungkinan yang terjadi setelah mengalami musibah untuk mencapai
suatu tujuan tertentu pada masa yang akan datang.
Robert A. Emmons (2000) mengungkapkan bahwa spiritualitas bermanfaat dalam upaya
untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan. Spiritualitas dapat
memprioritas-ulangkan tujuan-tujuan (reprioritization of goals). Terlebih
lagi, pribadi yang spiritual lebih mudah menyesuaikan diri pada saat menangani
kejadian-kejadian traumatis. Mereka pun lebih bisa menemukan makna dalam krisis
traumatis dan memperoleh panduan untuk memutuskan hal-hal tepat apa saja yang
harus dilakukan.
Terapi Psiko-Spiritual
Tuhan menciptakan manusia dengan segenap keunikan. Sejak ia dilahirkan, manusia
memiliki potensi yang meliputi sisi psikologis, sosial, dan spiritual. Menurut
Hanna Djumhana Bastaman (1995), untuk dapat memahami manusia seutuhnya, baik
dalam keadaan sehat maupun sakit, pendekatan yang digunakan mestinya tidak lagi
memandang manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial (jasmani, psikologis, dan
sosial), melainkan manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual (jasmani,
psikologis, sosial, dan spiritual).
Secara eksplisit, Ralph L. Piedmont (2001) memandang spiritualitas sebagai
rangkaian karakteristik motivasional (motivational trait); kekuatan
emosional umum yang mendorong, mengarahkan, dan memilih beragam tingkah laku
individu. Sementara itu, Susan Folkman, dkk (1999) mendefinisikan spiritualitas
sebagai suatu bagian dalam diri seseorang yang menghasilkan arti dan tujuan
hidup, yang terungkap dalam pengalaman-pengalaman transendental individu dan
hubungannya dengan ajaran-ajaran ketuhanan (universal order).
Inayat Khan dalam bukunya Dimensi Spiritual Psikologi menyebutkan bahwa
kekuatan psikis yang dimiliki oleh seseorang dapat dikembangkan melalui olah
spiritual yang dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, berlatih
melakukan konsentrasi. Dengan konsentrasi, seseorang dapat memiliki kekuatan dan
inspirasi karena berada dalam kondisi terpusat serta tercerahkan. Melalui
konsentrasi pula, seseorang belajar dan berlatih untuk menguasai dirinya.
Kedua, berlatih mengungkapkan hasil konsentrasi melalui pikiran. Artinya,
setelah seseorang mendapatkan hasil dalam konsentrasi, maka ia harus berani
mengungkapkan hasil konsentrasi tersebut dalam ungkapan-ungkapan yang sederhana
melalui kekuatan pikiran. Kekuatan pikiran ini nantinya akan mempengaruhi
kekuatan perasaan yang dimiliki. Ketahuilah, sesungguhnya perasaan adalah ruh
pemikiran, sebagaimana ucapan adalah ruh suatu tindakan. Karena itu, konsentrasi
merupakan hal penting untuk mengembangkan kekuatan psikis seseorang.
Ketiga, agar dapat mengekspresikan kekuatan psikis, seseorang harus
memiliki kekuatan tubuh (kesehatan fisik). Artinya, orang yang sehat umumnya
memiliki pernafasan dan sirkulasi darah yang teratur dan lancar, sehingga
memberikan efek bagi kemampuan mengekspresikan dirinya.
Keempat, berlatih menjaga kestabilan dan ketenangan dalam berpikir.
Artinya, seseorang yang terbiasa mengembangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dalam
berpikir, seperti khawatir, cemas, takut, atau ragu tentang sesuatu, akan
mengurangi daya kekuatan dalam mengekspresikan diri. Tentang hal ini, saya
teringat pada kata-kata yang diungkapkan oleh seorang pegiat pelatihan manajemen
diri di sebuah seminar yang pernah saya ikuti. Kata beliau, “Pikiranmu adalah
awal dari perkataanmu. Perkataanmu adalah awal dari perbuatanmu. Perbuatanmu
adalah awal dari kebiasaanmu. Kebiasaanmu adalah awal dari karaktermu.
Karaktermu adalah takdirmu.”
Kelima, berlatih mengumpulkan kekuatan psikis yang selanjutnya digunakan
untuk bertindak. Artinya, hasrat dan daya tarik kekuatan psikis yang dimiliki
seseorang harus ditunda sebelum betul-betul terkumpul dan berkembang melimpah.
Saat itulah kekuatan psikis mampu dimanfaatkan untuk menolong diri sendiri
maupun orang lain. Kekuatan psikis yang timbul dari energi spiritual bagaikan
mata air yang tercurah, melimpah secara konstan dan stabil. Karna itu, tinggal
pemanfaatannya tergantung pada kesediaan dan kemauan seseorang untuk
mengumpulkan dan mengembangkannya menjadi energi yang bersifat menyembuhkan (terapeutik).
Sebuah penelitian bertajuk “Religion and Spirituality in Coping with Stress”
yang dipublikasikan oleh Journal of Counseling and Values beberapa tahun
lalu, menunjukkan bahwa semakin penting spiritualitas bagi seseorang, maka
semakin besar kemampuannya dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Penelitian ini
menyarankan bahwa spiritualitas bisa memiliki peran yang penting dalam mengatasi
stres. Spiritualitas bisa melibatkan sesuatu di luar sumber-sumber yang nyata
atau mencari terapi untuk mengatasi situasi-situasi yang penuh tekanan di dalam
hidup.
Dalam konteks ini, penting untuk diperhatikan bagaimana kondisi spiritualitas
para korban pasca-bencana gempa bumi di Bantul. Penelitian yang saya lakukan
beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat
signifikan antara spiritualitas dengan proactive coping pada korban
bencana gempa bumi di Bantul. Semakin tinggi tingkat spiritualitas, semakin baik
pula proactive coping yang dilakukan oleh korban, di mana spiritualitas
memiliki peranan sebesar 54,9 % terhadap proactive coping pada korban
gempa di Bantul. Konsep proactive coping diarahkan oleh sikap yang
proaktif. Sikap tersebut merupakan kepercayaan yang relatif terus menerus ada
pada setiap individu. Di mana apabila terjadi perubahan-perubahan yang
berpotensi mengganggu keseimbangan emosional individu, maka sikap tersebut mampu
memperbaiki diri dan lingkungannya.
Ketika melakukan proactive coping, individu telah memiliki visi yang
ingin dicapai. Adanya sikap optimis dan kepercayaan atas kemampuan sendiri (self
efficacy) serta adanya dukungan sosial (social support) dari orang
lain akan membuat para korban gempa tersebut semakin mampu untuk mengatasi
masalah yang dihadapi. Kepercayaan diri serta sikap optimis yang tinggi pada
individu serta adanya dukungan sosial dari lingkungannya akan memungkinkan
individu lebih efektif dalam menyelesaikan masalah.
Dari penelitian ini, saya ingin menawarkan suatu konsep terapi psiko-spiritual
untuk membantu para korban gempa keluar dari tekanan psikologis yang dialami
pasca-bencana. Terapi serupa pernah dilakukan oleh seorang psikolog, Sus
Budiharto, bekerjasama dengan Center for Bioethics and Humanities Fakultas
Kedokteran UGM terhadap beberapa mahasiswa yang berasal dari Nanggroe Aceh
Darussalam. Berbeda dengan terapi sebelumnya yang bersumber dari nilai-nilai
keislaman (Alquran dan Sunnah Nabi), terapi yang saya kembangkan ini
memungkinkan individu non-muslim untuk ikut serta.
Terapi psiko-spiritual ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahapan penyadaran
diri (self awareness), tahapan pengenalan jati diri dan citra diri (self
identification), dan tahapan pengembangan diri (self development).
Pada fase penyadaran diri, para korban akan melalui proses pensucian diri dari
bekasan atau hal-hal yang menutupi keadaan jiwa melalui cara penyadaran diri,
penginsyafan diri, dan pertaubatan diri. Fase ini akan menguak hakikat persoalan,
peristiwa, dan kejadian yang dialami oleh para korban. Pun menjelaskan hikmah
atau rahasia dari setiap peristiwa tersebut.
Selanjutnya, pada fase pengenalan diri, para korban akan dibimbing kepada
pengenalan hakikat diri secara praktis dan holistik dengan menanamkan
nilai-nilai ketuhanan dan moral. Melalui fase ini, individu diajak untuk
menyadari potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Setelah diidentifikasi,
pelbagai potensi itu perlu segera dimunculkan. Kemudian mengelola potensi diri
yang menonjol tersebut agar terus berkembang dan dicoba untuk diaktualisasikan.
Adalah sebuah riwayat yang menyebutkan, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia
pun akan mengenal Tuhannya.”
Terakhir, pada fase pengembangan diri, para korban akan didampingi dan
difasilitasi untuk tidak hanya sehat fisikal, namun juga sehat mental dan
spiritual. Kesehatan mental terwujud dalam bentuk keharmonisan yang
sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk
menghadapi masalah yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan
kemampuan dirinya. Adapun kesehatan spiritual mencakup penemuan makna dan tujuan
dalam hidup seseorang, mengandalkan Tuhan (The Higher Power), merasakan
kedamaian, dan merasakan hubungan dengan alam semesta.
Harapannya, terapi psiko-spiritual akan memberikan penerimaan yang tulus atas
musibah yang menimpa para korban gempa. Selain itu, terapi ini dapat pula
mengurangi kesedihan dan tekanan psikologis, serta membantu para korban dalam
menemukan makna yang positif dari pengalaman dan kehidupannya. Yang lebih
penting, terapi ini membantu korban dalam usaha penerimaan diri dan mengenal
Tuhannya, sehingga spiritualitasnya semakin meningkat. Mahabenar Allah dalam
firman-Nya: “Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar)
apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah
kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 7). [AA]
___________________
|