| |
 |
| |
|
| |
Artikel berhubungan dengan autis |
| |
|
| |
Mendeteksi Secara Dini Gangguan
Autis
03/2009 | Pikirdong
Tanda utama yang paling sering dilaporkan adalah orangtua
menemukan anaknya tidak mau berbicara atau belajar mengembangkan kosa kata,
tidak mau bermain dengan teman seusia sebayanya atau respon terhadap orang
sekelilingnya kurang dan kehilangan beberapa kemampuan yang sudah ia kuasai
sebelumnya. |
| |
|
| |
Peran Orangtua dalam Memberi
Support pada Anak Gangguan Autis
03/2009 | Pikirdong
Mempunyai anak autisme sangat menyulitkan orangtua, akan
tetapi orangtua dengan anak autis tetap memberikan kasih sayang, merawat dan
menjaga anaknya itu seperti layaknya orangtua yang mempunyai anak yang normal. |
| |
|
| |
|
| |
|
| |
|
Autisme (autism) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada
gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi verbal- nonverbal dan perilaku
tertentu yang cenderung terbatas, mengulang dan tidak mempunyai ketertarikan
terhadap hal lainnya (baru).
Autisme mempunyai banyak gejala lainnya yang menyertai gangguan tersebut seperti
permasalahan penggunaan bahasa, menjalin hubungan dan memiliki interpretasi yang
berbeda dalam merespon lingkungan sekitarnya.
Autisme diartikan sebagai gangguan syaraf mental di awal perkembangan masa
kanak-kanak, meskipun kadang diagnosa autisme itu sendiri tidak terdeteksi
ketika sejak masa prasekolah atau masa sekolah. Gejala autisme kemungkinannya
telah muncul ketika usia anak mencapai 12-18 bulan. Perilaku karakteristik
autisme sendiri mudah terdeteksi pada usia 3 tahun, misalnya dengan mengetahui
keterlambatan dalam berbicara atau penguasaan kosa kata pada masa prasekolah.
Keterlambatan anak menguasai bahasa sampai usia 5 tahun menjelang sekolah
merupakan permasalahan yang sering terjadi pada anak-anak autisme, gejala-gejala
yang tampak pada autisme dapat terlihat secara jelas pada usia 4-5 tahun ketika
anak mengalami permasalahan dalam berinteraksi sosial dengan usia sebayanya.
Permasalahan tersebut akan terus berlanjut pada fase perkembangan selanjutnya,
bahkan seumur hidupnya.
American Psychiatric Association (APA) mengklasifikasikan Autisme dalam
gangguan perkembangan pervasif (pervasive development disorders; PDD) bersama
dengan beberapa gangguan lain; sindrom Asperger, gangguan disintegratif pada
anak, gangguan Rett, dan gangguan perkembangan pervasif yang tidak
terdefinisikan. Kesemua gangguan tersebut merupakan gangguan yang berhubungan
dengan permasalahan komunikasi, sosial interaksi, perilaku terbatas, mengulang.
Gangguan-gangguan tersebut kadang disebut sebagai gangguan spektrum autisme (autism
spectrum disorders; ASDs).
Disebut sebagai gangguan spektrum autisme karena beberapa gejala umum mempunyai
kemiripan, meskipun gangguan tersebut berbeda antara setiap orang, namun
gangguan tersebut pada area yang sama; sosialisasi, komunikasi dan perilaku.
Kecuali pada sindrom Asperger, anak tidak memiliki hambatan dalam berkomunikasi.
Individu dengan gangguan autisme ringan dapat belajar untuk mandiri, namun
beberapa diantara penderita autisme harus secara terus-menerus mendapatkan
perawatan selama hidupnya. Sejauh ini belum ditemukan obat yang efektif untuk
menyembuhkan gangguan autisme secara total.
Faktor penyebab
Penyebab utama gangguan ASDs ini tidak diketahui secara pasti, dugaan utama
adanya gangguan pada sistem syaraf yang kompleks, beberapa penelitian lainnya
menduga adanya faktor genetika.
1) Genetika
Diduga tidak hanya satu gen saja yang memungkinkan kemunculan gangguan autisme,
hasil riset menduga adanya beberapa jenis gen yang berbeda atau kombinasi
diantaranya yang memungkinkan resiko terkena autisme. Bila dalam satu keluarga
mempunyai 1 anak menderita autisme maka prevalensi mempunyai anak autisme
sebesar 3-8%, sementara pada kembar monozigot sebesar 30%.
2) Kondisi medis tertentu
Beberapa anak mempunyai riwayat kondisi medis yang berhubungan dengan autisme
seperti;
- gangguan metabolisme seperti phenylketonuria
(PKU)
- infeksi bawaan seperti rubella, cytomegalovirus (CMV) , toksoplasmosis
- kelainan genetika seperti X-sindrome , tuberous sclerosis
- Kelainan perkembangan otak seperti; microcephaly, macrocephaly, cerebral
dysgenesis, cerebral palsy.
- Gangguan neurologi pasca melahirkan seperti encephalopathy, meningitis
- Lain-lain seperti epilepsi.
Catatan; kondisi medis diatas bukanlah
sebagai penyebab autisme, beberapa pasien dengan kondisi medis diatas kadang
juga tidak memiliki gejala autisme.
3) Kombinasi antara faktor lingkungan dan genetika
Simtom
1) Gangguan sosial
• Kesulitan dalam mengenal pelbagai perilaku nonverbal seperti kontak mata,
ekspresi wajah, bahasa tubuh dan gerak isyarat dalam hubungan sosial.
• Gagal dalam mengembangkan hubungan sosial dan menjalin hubungan dengan orang
lain ke tingkat yang lebih mendalam (akrab)
• Tidak spontan dalam menikmati, ketertarikan atau perilaku lawan bermain, orang
lain atau objek lain.
• Kurang mampu bersosialisasi dan tidak mampu menunjukkan hubungan timbal balik
emosi
Gangguan sosial merupakan salah satu permasalahan utama pada autisme dan ASDs.
Gangguan ASDs bukanlah semata kesulitan dalam berinteraksi sosial seperti rasa
malu berlebihan. Permasalahan ini merupakan hal serius sepanjang hidupnya,
problem sosial sering menjadi kombinasi dengan beberapa gangguan lainnya seperti
kemampuan berkomunikasi dan perilaku apatis ketidaktertarikan dengan kehidupan
sekelilingnya.
Pada umumnya bayi akan tertarik dengan lingkungan sekitarnya dan merespon
positif dengan tersenyum kepada orang lain, menggigit jari (fase oral) atau
mengerti lambaian tertentu kepadanya. Pada bayi autisme kesulitan dan
membutuhkan waktu cukup lama untuk berinteraksi dengan orang lain.
Anak autis tidak melakukan interaksi seperti yang dilakukan anak lain, mereka
tidak mempunyai ketertarikan dengan orang lain, meskipun beberapa diantaranya
tetap berteman dan bermain bersama. Mereka menghindari kontak mata bahkan
cenderung untuk menyendiri. Anak autisme juga kesulitan untuk belajar
aturan-aturan permainan yang dibuat oleh kelompok bermainnya, sehingga kadang
teman-teman memilih untuk tidak mengajaknya bermain bersama.
Anak autisme juga mempunyai problem mengenai ekspresi, anak autis akan
kesulitan untuk mengerti perasaan orang lain dan kesulitan untuk memahami
perasaan yang diucapkan oleh orang lain. Mereka juga sangat sensitif untuk
disentuh atau bahkan tidak menyukai orang lain bercanda dengannya. Anak autisme
juga tidak merasa nyaman dan menjauhi orang lain yang membuatnya merasa malu.
Penderita autisme dewasa kesulitan dalam beradaptasi dengan pekerjaannya dan
permasalahan intelektual akan berkaitan dengan kemunculan kecemasan dan
depresi yang akan memperburuk
kondisinya. Sikap polos penderita autis dewasa kadang
juga dapat dimanfaatkan oleh orang lain untuk mengambil keuntungan
2) Gangguan komunikasi
• Tidak mampu sama sekali atau terlambat dalam perkembangan berbahasa (kecuali
adanya hambatan lain yang harus menggunakan bahasa isyarat atau mimik)
• Kesulitan dalam berbicara atau kesulitan untuk mengerti pembicaraan orang lain
• Suka mengulang suatu kata atau idiom tertentu
• Tidak variatif, tidak spontan dan kesulitan untuk mengerti atau bermain
pura-pura
Sangat sedikit gangguan ASDs mampu berbahasa verbal dengan baik, beberapa
diantaranya justru tidak berkemampuan untuk berbahasa atau mempunyai
keterbatasan dan sedikit ketertarikan untuk berkomunikasi. Sekitar 40% anak
dengan gangguan ASDs tidak mampu berbicara samasekali dan sekitar 25%-30% balita
autisme hanya menguasai beberapa kata saja saat berusia 12-18 bulan yang
kemudian kemampuan tersebut menghilang begitu saja. Selebihnya kemampuan
tersebut dicapai dimasa anak-anak
Dalam berbicara individu dengan ASDs kurang mampu dalam mengkombinasikan
beberapa kata dalam satu kalimat, sehingga mereka cenderung hanya menggunakan
satu kata atau beberapa kata saja. Beberapa diantaranya juga acap mengulang
kata-kata sama berulang-ulang atau mengulang kembali pertanyaan yang diajukan
sebagai jawaban. Kondisi ini disebut dengan echolalia.
Anak dengan ASDs sulit mengerti perintah isyarat, bahasa tubuh, atau suara
tertentu. Misalnya saja, sulit mengerti arti lambaian tangan atau ekspresi wajah.
Beberapa kasus anak autisme kadang tidak cocok dalam mengekspresikan emosi
dengan perkataan, misalnya saja ia mengatakan bahwa dirinya dalam kesedihan akan
tetapi ia tersenyum.
Anak autsme sulit diajak bercanda atau berpura-pura, kadang ia tidak merespon
samasekali dengan permainan, misalnya balita autis tidak merespon permainan
“ciluk ba“. Anak normal berbalik arah memeluk ibunya ketika diajak bermain
“ciluk ba”.
3. Kecenderungan untuk mengulang perilaku tertentu, tidak tertarik, atau
perilaku terbatas pada aktivitas.
• Mencakup satu atau beberapa perilaku tertentu berupa ketertarikan luar biasa
(abnormal) pada sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.
• Tidak fleksibel, tidak mampu melakukan hal-hal rutinitas
• Mempunyai perilaku stereotip tertentu, atau tingkah laku (gaya) tertentu dan
mengulang
• Tidak bosan dan secara tetap terikat atau larut dengan objek tertentu.
Anak dengan gangguan ASDs akan menghabiskan waktu begitu lama bila sedang
bermain atau larut dengan mainannya. Bila mainan itu dapat bergerak dengan
sendirinya maka ia tidak akan melepaskan pandangannya dengan tidak berkedip dan
bila mainan itu berhenti tatapannya tidak berubah barulah agak lama kemudian ia
akan mencobanya lagi.
Individu dengan gangguan ASDs mampu melakukan hal-hal yang rutin ia lakukan
sehari-harinya. Perubahan pola keteraturan dapat membuatnya bingung dan
frustrasi, misalnya saja ia akan melalui jalan yang sama setiap harinya, bila
jalan tersebut ditutup, hal itu akan membuatnya frustrasi.
Beberapa ASDs kadang sering melakukan hal yang sama secara terus-menerus
meskipun sebenarnya perbuatan tidak perlu dan tidak berguna baginya. Misalnya
saja ia melihat semua jendela rumah yang terbuka ketika melewati jalan, menonton
film yang pernah ia tonton sebelumnyalebih dari dua kali.
Test
Saat ini belum ada alat secara medis untuk mendeteksi ASDs. Tenaga profesional
menggunakan gejala-gajala yang ada dari perilaku yang tampak. Secara umum
gejala-gejala tersebut mulai terdeteksi sejak usia bayi beberapa bulan yang
berlanjut pada kemunculan pada usia 3 tahun
Langkah diagnosis untuk gangguan ASDs dilakukan dengan melihat masa perkembangan
awal dan survei dokter selama dilakukan kunjungan. Langkah tersebut biasanya
dilakukan dokter dengan cara men-check list pelbagai pertanyaan untuk
mengindentifikasi beberapa gangguan perkembangan pada usia 9 bulan, 18 bulan dan
24-30 bulan (dapat diisi oleh orangtua) bila ditangani terlebih awal maka dokter
akan memberikan beberapa test kemampuan yang disesuaikan dengan usia
perkembangan diatas.
ASDs merupakan gangguan yang kompleks, untuk melakukan screening secara
tepat biasanya dilakukan evaluasi yang komperehensif, seperti test secara fisik,
neurobiology, atau bahkan test genetik.
Beberapa test diagnostik yang dapat digunakan untuk mendiagnosa gangguan autisme;
1) Autism Diagnosis Interview–Revised (ADI–R)
2) Autism Diagnostic Observation Schedule-Generic (ADOS–G)
3) Childhood Autism Rating Scale (CARS)
4) The Gilliam Autism Rating Scale (GARS)
5) Autism Spectrum Screening Questionnaire (ASSQ)
Treatment
Tidak ada standar khusus untuk treatmen pada anak autis, tenaga professional
menggunakan beberapa standar yang berbeda-beda dalam menangani pasien gangguan
autisme. Karenanya orangtua yang memiliki anak autisme dapat memilih tenaga
profesional berpengalaman dari pelbagai informasi yang ada dan dianggap dapat
membantu anak-anak autisme secara lebih baik. Lakukanlah diskusi dengan tenaga
profesional dalam mengambil beberapa tindakan yang diperlukan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua;
a. Lihatlah reputasi tenaga profesional
tersebut yang berpengalaman
b. Keputusan yang diambil haruslah berdasarkan pada petujuk-petunjuk yang
tersusun secara rinci yang merupakan hasil diskusi antara orangtua dan tenaga
professional yang terlibat didalamnya.
c. Hal-hal yang dilakukan dalam pemberian treatment haruslah mempunyai alasan
yang jelas, maksud dan manfaat dari tindakan yang diperlukan
d. Tidak ada standar obat medis yang direkomendasikan secara khusus dalam
treatmen yang diberikan, bahkan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan gangguan
autisme, oleh karenanya treatmen yang diberikan dapat berbeda-beda tiap individu
dengan gangguan autisme atau ASDs lainnya.
e. Orangtua haruslah berperan dalam pemberian treatmen dengan pengetahuan yang
cukup mengenai gangguan ini dan dapat melihat perubaha-perubahan yang terjadi
pada anak selama pemberian treatmen apakah sesuai dengan karakter anak atau
tidak.
f. Lihat perubahan perkembangan anak selama pemberian treatmen, biasanya anak
autisme mengalami perubahan-perubahan yang berarti selama treatmen yang
dilakukan
Treatmen pada anak dengan gangguan autisme dapat berupa memberikan pelatihan
khusus dan manajemen perilaku, treatmen dilakukan dalam jangka yang panjang dan
dialkukan secara intensif. Dokter juga akan memberikan obat-obatan yang dapat
mendukug treatmen tersebut.
Treatmen pada anak dengan gangguan autisme dapat berupa memberikan pelatihan
khusus dan manajemen perilaku, treatmen dilakukan dalam jangka yang panjang dan
dialkukan secara intensif. Dokter juga akan memberikan obat-obatan yang dapat
mendukug treatmen tersebut.
Obat-obatan
Medikasi sebenarnya tidak diperlukan bagi penderita autisme, kecuali bila
disertai dengan adanya gangguan syaraf lainnya. Medikasi diberikan untuk
membantu autis mengontrol beberapa perilaku seperti hiperaktif, impulsif,
konsentrasi atau kecemasan. Hal yang perlu diingat bahwa pemberian obat-obatan
tersebut kadang tidak cocok dengan tiap individu dan pemberian obat dalam waktu
yang relatif lama juga memberikan pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak autis.
Obat antipsikotik; pemberian jenis obat-obatan ini untuk mengurangi dari
beberapa perilaku seperti hiperaktif, perilaku menyendiri, pengulang perilaku
atau perilaku agresif. Jenis obat ini dapat berupa risperidone (Risperdal),
olanzapine (Zyprexa), dan quetiapine (Seroquel)
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs); adalah jenis obat
antidepressants yang sering digunakan untuk penderita depresi,
obsessive-compulsive disorder, atau
gangguan kecemasan. Jenis obat ini dapat
mengurang perilaku seperti agresif, pengulangan perilaku, marah, dsb. Jenis obat
ini berupa fluoxetine (Prozac), fluvoxamine (Luvox), sertraline
(Zoloft), dan paroxetine (Paxil). Antidepressant lainnya; Clomipramine
(Anafranil), Mirtazapine (Remeron), amitriptyline (Elavil) dan
bupropion (Wellbutrin).
Obat stimulant; Jenis obat ini dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi
dan mengurangi perilaku impulsif dan hiperaktif. Jenis obat ini berupa
methylphenidate (Ritalin) dan amphetamines (Adderall, Dexedrine).
Jenis obat lainnya; Alpha-2 adrenergic agonists (clonidine) diberikan
untuk mengurangi perilaku hiperaktif.
Pemberian obat-obatan tersebut haruslah melalui pengawasan dokter secara ketat,
pemberian jangka panjang akan memberikan efek yang tidak baik bagi anak autis.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat-obatan;
- Menimbulkan rasa mengantuk (sedasi)
- Ketergantungan pada obat
- Beberapa jenis obat dapat bereaksi dengan makanan, perlu kontrol dan
konsultasi dokter mengenai penggunaan obat-obatan tersebut
- Obat-obatan tersebut harus diberikan oleh tenaga medis profesional yang
berpengalaman dalam menangani anak-anak autis.
Beberapa jenis suplemen, vitamin, mineral; vitamin B, magnesium, minyak ikan,
dan vitamin C dilaporkan dapat memberikan pengaruh positif bagi anak autis dan
ASDs lainnya. [PD]
___________________
|