| |
 |
| |
|
| |
 |
| |
|
| |
Photo diperankan oleh model: Sadat |
| |
|
| |
Informasi Autisme di Indonesia
Perkumpulan Orangtua Pembina Anak Autistik (POPAA)
Jl. Erlangga Tengah III/34, Semarang
Telp. (024) 313083
Yayasan Autisma Indonesia
Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat
Telp. (021) 7971945 - 7991355 |
| |
|
| |
|
| |
|
Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami
gangguan autisme, angka ini meningkat
dari tahun-tahun sebelumnya tanpa diketahui penyebab dengan jelas. Masalah ini
menjadi hal serius untuk diperhatikan, pelbagai riset dilakukan untuk mengetahui
penyebab kemunculan autisme ini ―seiring itu juga terus dilakukan perbaikan dan
perawatan anak autism dengan cara-cara yang lebih baik.
Mempunyai anak autisme sangat menyulitkan bagi orangtua, akan tetapi orangtua
dengan anak autis tetap memberikan kasih sayang, merawat dan menjaga anaknya itu
seperti layaknya orangtua yang mempunyai anak yang normal lainnya.
Anak autis memiliki permasalahan dalam kemampuan belajar, berbicara dan
kerancuan dalam berbahasa. Permasalahan yang kompleks ini membuat sebagian
orangtua kewalahan dalam menghadapi anak autis. Disamping itu, perawatan anak
autis juga membutuhkan biaya yang besar, sehingga banyak anak autis tidak
mendapatkan pendidikan ataupun pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan skill
sosialnya.
Di beberapa negara yang konsen terhadap anak autis, pemerintah memberikan
pelayanan dan pendidikan gratis sampai usia tertentu, Amerika Serikat misalnya
yang menanggung biaya pendidikan sampai usia 21 tahun. Anak autis mulai
mendapatkan perlakukan khusus sejak usia 3 tahun bila ia terdeteksi autisme
sejak awalnya. Lembaga seperti Individuals with Disabilities Education Act
(IDEA) akan menyusun proram-program yang diperlukan untuk anak-anak autis
seperti IFSP (Individualized Family Service Plan) untuk anak dibawah 3 tahun,
dan IEP (Individualized Education Program).
Program tersebut berupa menyediakan guru khusus untuk pendidikan, menyediakan
konsultan dan guru dengan keahlian khusus dibidang terapi bahasa atau berbicara,
terapi fisik atau perilaku, dan konsultasi gratis.
Sewajarnya orangtua dan pasangan yang baru menikah mendapatkan informasi
mengenai autisme sejak awal, autisme dapat muncul pada siapa saja tidak
memandang sosioekonomi, budaya, ras atau bangsa. Bila pasangan (orangtua) yang
mendapatkan informasi yang secukupnya mengenai autisme diharapkan adanya
kesiapan orangtua secara mental dalam menerima kehadiran anak tersebut di dalam
keluarga, disamping itu informasi tersebut dapat dimanfaatkan orangtua dalam
merawat atau mendukung anaknya dalam melawan autis.
Dalam hal ini orangtua haruslah;
- Mengetahui masa perkembangan anak secara fisik dan mental (developmental
milestones)
- Mengetahui secara persis lembaga-lembaga yang menangani anak-anak autis dan
lembaga konsultasi khusus untuk anak ASDs
- Mengetahui pelbagai bentuk penyimpangan dalam perkembangan
- Mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan dan deteksi secara dini kelainan atau
gangguan pada anak
- Mengetahui apa yang menjadi kebutuhan anak
Bila orangtua menemukan beberapa gejala yang tampak pada bayinya yang mengarah
pada gangguan autisme segeralah menentukan perencanaan penanganan, konsultasikan
pada dokter anak hal-hal yang perlu dilakukan selanjutnya. Penanganan secara
dini akan mencegah terjadinya potensi-potensi memburuknya simtom dikemudian hari.
Mempunyai anak yang didiagnosa mengalami gangguan autis akan membuat orangtua
merasa frustrasi, bingung, takut, bahkan merasa iri dengan melihat perkembangan
anak lain yang normal. Keluarga yang memiliki anak autis akan menghadapi
pelbagai permasalahan yang jarang terjadi pada anak normal lainnya, oleh karena
itu diperlukan dukungan dari setiap anggota keluarga, saudara keluarga, dan
teman sekelilingnya.
Beberapa kekhawatiran orangtua;
• Khawatir anaknya tidak dihargai oleh orang lain, tidak mampu mandiri dan
tergantung pada orang lain seumur hidupnya, tidak akan bahagia sepanjang
hidupnya.
• Khawatir anaknya tidak mampu berlaku seperti orang normal lainnya, berkeluarga,
mempunyai teman, mempunyai pekerjaan dan melakukan hal-hal yang menyenangkan
baginya sendiri
• Banyak diantara orangtua lainnya yang memiliki anak autis kebingungan, dan
bahkan merasa tertekan, pasrah dan kalah. Hal ini membuat orangtua autis lainnya
terpengaruh dan kehilangan support antar sesama orangtua dengan anak autis
Anggota keluarga dapat mendukung mengurangi gejala autis dengan cara memberi
contoh hal-hal yang dapat dilakukan oleh sang anak, bila dilakukan secara terus
menerus anak akan meniru (coping).
Beberapa langkah yang dapat diambil orangtua bila anaknya didiagnosa mengalami
gangguan autis;
1) Melakukan konsultasi dengan tenaga medis, tenaga profesional, ahli terapis,
pekerja sosial, konselor yang menangani anak-anak autis
2) Menyusun perencanaan penanganan yang terbaik dan sesuai dengan karakteristik
anak secara bersama; orangtua dan tenaga medis
3) Mencari treatmen alternatif dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan
tenaga profesional untuk mengurangi dampak gejala-gejala dari gangguan tersebut
4) Menyusun jadwal pelatihan dan intervensi yang telah disusun oleh tenaga
profesional secara bersama-sama
5) Konsultasi secara rutin
6) Sharing bersama dengan orangtua lain yang memiliki anak dengan autis, tukar
pengalaman dalam menghadapi simtom autisme.
7) Mencari informasi dan lembaga yang menangani anak-anak autis
8) Carilah dukungan dari lembaga sosial, organisasi, LSM dalam merawat dan
menangani anak-anak autis
9) Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa televisi akan memberikan pengaruh
memburuknya simtom dan kegagalan dalam intervensi pada anak-anak autis.
Beberapa intervensi yang dilakukan pada
anak autis;
• Penggunaan analisis perilaku
- Pelatihan percobaan
- Intervensi perilaku secara dini
- Pengajaran langsung
- Pelatihan respon-respon penting
- Intervensi perilaku verbal
• Perkembangan, perbedaan individu dan
dasar-dasar pendekatan relasi
• Intervensi dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain
• Treatmen dan pendidikan untuk anak autisme dan cara berkomunikasi.
Intervensi yang dilakukan diikuti dengan pemberian beberapa terapi;
Occupational therapy, Sensory integration therapy, Speech therapy, The Picture
Exchange Communication System (PECS)
. [PD]
___________________
|