| |
 |
| |
|
| |
|
Tentang Disleksia... |
|
Dyslexia (disleksia) merupakan
ketidakmampuan belajar (learning disability) yang dialami oleh
seseorang dimana individu tidak mampu untuk membaca, menulis, mengeja dan
kadang berbicara (seperti dysphasia, echolalia).
Kebanyakan disleksia dialami oleh anak-anak, tanpa
penangan yang tepat dapat berlanjut hingga remaja atau sampai seumur
hidupnya. Tingkat gangguan beragam, namun gangguan ini dapat disembuhkan
dengan treatment yang tepat.
Anak dengan permasalahan disleksia biasanya
memiliki IQ normal rata-rata. Beberapa penelitian menemukan adanya
kelainan otak yang mengakibatkan "kesalahan" dalam menterjemahkan
informasi yang diterima dari mata (visual) atau telinga (audio) sehingga
anak kesulitan dalam mengembangkan penguasaan bahasa.
Disleksia bukan disebabkan langsung dari
masalah penglihatan, pendengaran atau berhubungan dengan retardasi mental,
kerusakan otak atau IQ yang rendah. Beberapa ahli membedakan antara
permasalahan dengan kesulitan belajar. kedua ini memiliki IQ kisaran @65
dan berhubungan erat dengan anak-anak gangguan mental
Strategi
Usahakan suasana tenang ketika anak mulai belajar
membaca
Usahakanlah mendapatkan buku bacaan yang juga
mempunyai kaset (audio)
Gunakan buku dengan tulisan yang agak besar dan
spasi agak jarang
Catat beberapa kata yang sulit anak untuk
melafalkannya
Catat tingkat kemajuan yang dicapai anak dan beri
penghargaan
Bolehkan anak menggunakan komputer dalam melatih
anak mengarang
Jangan menggunakan bahan bacaan yang mirip
Gunakan banyak metode mengajar yang berbeda-beda
Ajarkan anak mengenai logika yang lebih banyak
dibanding hal-hal yang menyangkut memori
Jangan terlalu banyak siswa dalam satu kelas
Habits
Jangan biarkan anak sering menonton televisi
Biasakan anak untuk membaca dengan menyediakan
banyak buku bacaan
Latih anak dalam bermain peran
Belajar dengan musik
Temukan cara belajar membaca yang berbeda dari
biasanya.
Berikan poster gambar atau tulisan dikamar atau
dinding dimana anak dapat melihat setiap kali waktu.
|
Saat ini gangguan
disleksia dapat
disembuhkan, guru tidak boleh mengambil keputusan
gegabah untuk memutuskan seorang anak tinggal kelas karena
permasalahan disleksia. Pengetahuan guru mengenai siswa disleksis
akan membantu siswa dalam meraih cita-cita yang ingin diraihnya
dengan
tidak dengan menghukumnya untuk tinggal kelas. |
|
|
| |
|
| |
|
| |
|
Membaca dengan lancar bagi seseorang mungkin sangat mudah setelah melalui proses
belajar dari sejak kecil, namun bagi beberapa orang tertentu menemui kesulitan
dalam membaca dan memahami sesuatu yang sedang dibacanya. Kedua permasalahan
tersebut mudah diketemui pada anak-anak masa sekolah, tidak sedikit juga
permasalahan tersebut tidak terdiagnosa selama waktu dikemudian hari.
Permasalahan dalam membaca (disebut dengan istilah dyslexia; alexia)
tidak hanya dialami oleh anak-anak saja. Beberapa orang dewasa juga diketemukan
permasalahan ini.
Dyslexia (disleksia) sering diketemukan pada anak sekolah dasar, permasalahan
tersebut kadang berlanjut pada usia remaja bahkan pada orangtua.
Permasalahan-permasalahan yang menyangkut disleksia berupa; membaca secara
menyeluruh, mengeja, dan kesulitan dalam mempelajari bahasa asing.
Disleksia yang tidak terdeteksi secara dini mengakibatkan kesulitan dalam
membaca yang terus berlanjut dan anak (remaja) memiliki rasa percaya diri yang
rendah diantara teman-teman sebayanya. Jadi sangat perlu dilakukan deteksi
disleksia secara dini dengan mempelajari simtom-simtom pada anak awal sekolah
agar dapat dilakukan penanganan secara tepat.
Hambatan anak dalam mengenal huruf alphabet dan angka merupakan tanda-tanda awal
adanya disleksia, biasanya disleksia diketemukan pada anak usia 7 sampai 8 tahun.
Diperlukan serangkaian test agar disleksia dan beberapa gangguan permasalahan
belajar lainnya dapat ditentukan secara tepat.
Anak dengan permasalahan disleksia juga menunjukkan kesulitan dalam mencontoh
tulisan di papan tulis atau dalam menyalin tulisan dari dalam buku, beberapa
diantaranya juga sulit dalam mengambil peran dalam olahraga atau bermain. Mereka
kesulitan dalam menentukan perannya sesuatu hal yang mesti dilakukan dalam
bermain. Anak dengan disleksia juga kesulitan dalam mengikuti irama musik.
Beberapa anak dengan permasalahan disleksia ini kadang mengalami permasalahan
dengan pendengarannya. Diperlukan test untuk mendiagnosa adanya gangguan
pendengaran seperti Test of Auditory Perception (TAPS). Gangguan pada
pendengaran akan membuat anak kesulitan dalam mengingat atau memahami apa yang
didengarnya. Kadang anak juga tertinggal mendengar sesuatunya sehingga
kedengaran baginya sangat aneh atau lucu. Akibatnya anak meniru kata-kata itu
dengan lafal yang berbeda pula.
Faktor Penyebab
Disleksia erat kaitannya dengan trauma kepala atau luka yang disebabkan pada
bagian area otak yang mengontrol kemampuan belajar terutama membaca atau menulis.
Namun demikian, trauma kepala ini sangat jarang ditemukan sebagai penyebab utama
pada anak disleksia.
Penyebab lainnya adalah kerusakan otak bagian kiri (cerebral cortex) yang
mengakibatkan anak kesulitan membaca dengan lancar seperti orang dewasa.
Disleksia juga dapat diturunkan melalui gen (hereditas) sebagai salah satu
faktor penyebab kemunculan disleksia bawaan. Faktor hereditas ini lebih banyak
ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.
Disleksia juga ditemukan pada anak yang mengalami kelahiran primatur. Kelainan
hormonal pada masa perkembangan fetal (bayi) pada masa kandungan awal (tiga
bulan pertama) juga dapat mengakibatkan kemungkinan adanya gangguan disleksia
dikemudian hari.
Beberapa anak disleksis ditemukan kerusakan pada bagian otak tertentu yang
berhubungan dengan fungsi penglihatan dan pendengaran, gangguan ini kadang juga
berkaitan dengan gangguan disgrafia (dysgraphia), yakni gangguan dalam
menulis seperti kesulitan dalam menggenggam pensil atau menggambar sesuatu
diatas kertas.
Simtom
Disleksia merupakan gangguan yang sulit untuk diagnosa secara kasat mata, para
ahli melakukan pelbagai cara untuk mendiagnosa permasalahan ini. Mulai dilakukan
test kemampuan membaca dengan tingkat level berbeda sampai pada test IQ. Test
membaca diharapkan gangguan disleksia dapat terungkap dengan beberapa aspek yang
diuji. Test juga dimaksudkan untuk mengukur kemampuan anak mendengar atau
menangkap informasi (berupa test pendengaran), menelaah informasi (secara
visual) dan dalam mengerjakan perintah-perintah (kinestetika). Kesemua aspek
tersebut akan dilihat dari output sang anak dalam merespon test-test yang
diberikan; pengucapan (oral), melakukan sesuatu dengan tangannya dan bagaimana
fungsi sistem sensorik bekerja yang saling mempengaruhi (modalitas).
Assessment dilakukan untuk mengetahui permasalahan utama yang dialami
anak, test dilakukan mencakup lima area; kognisi (inteligensi), kemampuan
akademik, komunikasi, sensor motorik, dan perkembangan kesehatan. Test dilakukan
dengan melibatkan beberapa tenaga ahli dibidangnya dengan melibakan orangtua.
Beberapa alat test yang sering digunakan dalam mendiagnosa disleksia, misalnya
dengan menggunakan alat test khusus seperti; Beery Developmental Test of
Visual-Motor Integration, Wechsler Intelligence Scale for Children-Third
Edition (WISC-III), Kaufman Assessment Battery for Children (KABC),
Stanford-Binet Intelligence Scale, Woodcock-Johnson Psycho-Educational
Battery, Peabody Individual Achievement Tests-Revised (PIAT),
Wechsler Individual Achievement Tests (WIAT) dan sebagainya.
Beberapa simtom yang menunjukkan adanya tanda-tanda disleksia secara umum;
- Membaca agak lambat dan cenderung terhenti karena kesulitan membaca atau
mengeja atau melafalkan suatu kata
- Kesulitan dalam membedakan huruf-huruf tertentu
- Kesulitan dalam mendengar percakapan atau mendengar bacaan
- Masalah dalam mengeja
- Kemungkinan adanya kesulitan menulis juga
- Kesulitan dalam mengulang kata-kata baru atau sukar
- Kesulitan dalam mengarang
- Kesulitan dalam mengerti akan perintah-perintah
- Kemungkinan adanya kesulitan dalam memahami persoalan matematika
- Kesulitan dalam memahami fungsi kata bantu seperti yang, akan dan sebagainya
- Kesulitan dalam membedakan antara kiri dan kanan
Disleksia kadang tidak terdeteksi pada masa anak menjelang usia prasekolah,
beberapa diantaranya mulai terindikasi adanya permasalahan disleksi ketika
memasuki sekolah ketika anak mulai mempelajari cara mengeja, membaca, atau
berhitung.
Meskipun tanda-tanda adanya disleksia ditemukan pada siswa, guru kelas tidak
boleh melakukan diagnosa dan mengambil langkah-langkah sendiri dalam melakukan
treatment, adanya gangguan disleksia hanya boleh didiagnosa (assessment)
oleh tenaga psikologi atau tenaga kesehatan profesional.
|
Waspada disleksia pada anak kita; |
|
|
|
1. Apakah ada diantara anggota keluarga yang memiliki
kesulitan dalam belajar mengeja atau membaca semasa masa sekolah dulunya?
2. Apakah anak merasa takut atau cemas ketika akan berangkat sekolah
3. Apakah anak mengalami kesulitan dalam mengeja?
4. Apakah anak mengalami kesulitan dalam membaca atau melewati kata-kata
tertentu ketika sedang membaca?
5. Apakah anak kesulitan membaca dengan suara lantang?
6. Apakah anak kesulitan dalam menyalin?
7. Apakah anak kesulitan dalam mengikuti perintah atau instruksi yang
tertulis?
8. Apakah anak mengalami kesulitan dalam menghitung mundur seperti 100, 99,
98, 97 dst.
9. Apakah ada anggota keluarga yang kidal?
Bila jawaban Anda YA untuk 4 atau lebih dari beberapa pertanyaan diatas maka
perlu dilakukan konsultasi secara mendalam mengenai disleksi pada psikolog
atau tenaga kesehatan professional.
|
|
| |
Dampak
disleksia pada anak;
Disleksia berdampak buruk pada anak;
- Frustrasi ketika belajar membaca
- Kegagalan belajar sekolah
- Enggan atau rasa malas ke sekolah
- Depresi
- Rendah motivasi
- Rendah self-esteem
- Menarik diri dari teman sepermainan
- Kecemasan
Treatment
Penanganan anak-anak dileksis memerlukan treatment khusus,
idealnya dalam sebuah sekolah memiliki tenaga psikologi atau tenaga kesehatan
professional, sehingga anak-anak dileksis dapat ditangani secara khusus.
Orangtua perlu dilibatkan dalam setiap penanganan yang dilakukan.
Test-test yang diberikan perlu persetujuan orangtua dengan demikian orangtua di
rumah juga ikut berperan selama proses penyembuhan. Test yang diberikan pada
anak kadang dapat membuat anak menjadi stress oleh karena itu diperlukan suasana
yang dapat menciptakan anak merasa senang dengan test-test yang diajukan. Tenaga
ahli akan memperhatikan suasana mood anak dengan evaluasi ketat agar anak tidak
menjadi tertekan karena test-test yang melelahkan.
Langkah yang diambil oleh pihak sekolah adalah membuat kelas khusus untuk anak
dileksis, strategi ini diluar kelas regular merupakan langkah terbaik
dibandingkan mereka harus belajar normal bersama siswa yang lain. Biasanya
anak-anak dileksis ditangani selama 1 tahun secara efektif.
Anak dileksis membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya, termasuk anggota
keluarga. Dukungan ini sangat berarti bagi anak untuk melawan disleksia. Peran
orangtua dengan menyediakan buku bacaan dirumah akan membantu anak dalam
membangun rasa percaya dirinya. Dukungan (supportive) juga dapat membantu anak
berhasil dalam bidang lainnya seperti olahraga, hobi, dan kesenian.
Sebelum memulai treatment diperlukan evaluasi secara mendalam untuk mengetahui
permasalah spesifik pada anak. Meskipun banyak teori yang menjelaskan mengenai
disleksi, namun tidak dapat digunakan satu cara saja untuk treatmen. Tenaga
kesehatan dan psikolog juga harus melibatkan pihak sekolah dan orangtua selama
proses penanganan. Para ahli akan menyusun rancangan treatment untuk dengan
melibatkan beberapa aspek membaca dengan melibatkan pendengaran, penglihatan,
berbicara dan melakukan sesuatu (multisensory). Beberapa project penanganan
untuk anak-anak disleksia; Metode Slingerland, metode Orton-Gillingham, atau
Project READ
[PD]
___________________
Acuan yang perlu ditinjau:
Website
http://www.dyslexia-test.com/ida.html
http://www.dyslexia-adults.com/journal.html
http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=348&page=1#1whatis
Buku
Anastasi, A. (1968). Psychological Testing. 3rd ed.. The
Macmillan Company, New York.
Miles, T. R. (1983). Dyslexia: The Pattern of Difficulties
. Granada Publishing Co., St Albans
Snowling, M., (1987). Dyslexia. A Cognitive Developmental
Perspective, Oxford.
|
Peringatan
Website pikirdong hanya memberikan informasi semata mengenai beberapa simtom,
artikel psikologi, kesehatan, termasuk kemungkinan di dalamnya tersebut
nama-nama alat test psikologi atau obat-obatan. Artikel ini tidak boleh
dijadikan sebagai rujukan atau acuan untuk diagnosa ke dokter. Perbedaan
diagnosa dan informasi yang Anda peroleh selama perawatan tanyakanlah pada
mereka yang berkompeten dibidangnya. Janganlah ragu apa yang mereka katakan
bila berbeda dengan informasi yang kami sampaikan. Tanyakanlah informasi
secara jelas pada mereka yang telah terjun secara profesional dibidangnya |
Comment Script
Comments
This comment form is powered by GentleSource Comment Script. It can be included in PHP or HTML files and allows visitors to leave comments on the website.
|