|
Bila kita
menemukan kata “kenakalan remaja” maka terlintas dalam benak kita, apakah ada
yang disebut dengan “kenakalan dewasa” (?), kenapa kenakalan identik dengan
remaja? Sebenarnya apa yang disebut dengan kenakalan itu sendiri? Kenapa remaja
mudah terjerumus dalam kenakalan remaja?
| |
 |
| |
|
| |
 |
| |
|
| |
|
Kenakalan Remaja... |
|
Konsep awal pengadilan anak pertama
sekali tertera dalam draf Code Napoleon (1793) yang merupakan
draf undang-undang Pemerintahan Perancis yang terdiri dari 5 aturan
perundangan, termasuk salah satunya adalah undang-undang
kriminilitas. Peraturan tersebut kemudian menuai protes dan
terjadinya revolusi Perancis di beberapa tempat di negara itu
House of Refuge merupakan institusi
pertama sekali yang dibangun di New York pada tahun 1824 yang
bertujuan untuk menampung pelaku tindakan kriminal yang dilakukan
remaja. Tujuan awalnya adalah memisahkan pelaku kirminal anak dengan
orang dewasa, seiring perkembangan waktu pada pertengahan abad 19
institusi itu juga menerima anak-anak dependent |
|
| |
|
Kenakalan Remaja
Pelbagai permasalahan yang muncul dari kenakalan remaja sangat kompleks sifatnya,
permasalahan tersebut tidaklah berdiri sendiri, melainkan banyak faktor-faktor
yang berdiri dan saling mengikat. Oleh sebab itu, penyebab dan latar belakang
kemunculan kenakalan remaja itu melibatkan banyak elemen dan komponen didalamnya.
Timbulnya kenakalan remaja tidak dapat disalahkan hanya personal remaja saja,
melainkan keluarga, masyarakat dan bahkan negara juga mempunyai andil dalam
membentuk terjadinya kenakalan remaja.
Kenakalan remaja sering disebut dengan istilah juvenile delinquent,
dimana awalnya dipersepsikan sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang dilakukan
oleh remaja yang melanggar aturan-aturan sosial. Selanjutnya remaja tersebut
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang itu.
Perilaku menyimpang merupakan masalah sosial karena terdapat penyimpangan
perilaku dari berbagai aturan-aturan ataupun dari nilai dan norma sosial yang
berlaku di dalam masyarakat. Besarnya harapan-harapan masyarakat (social
expectation) yang tidak sesuai dengan kenyataan dapat menimbulkan keresahan,
dan dapat dianggap sebagai sumber masalah karena membahayakan tegaknya sistem
sosial.
Kenakalan remaja sering disebut juga sebagai anak cacat sosial (Kartono, 1988),
disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku
mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”.
Perilaku mereka cenderung anti sosial, anti susila dan menyalahi norma-norma
agama. Beberapa dari kenakalan itu sendiri mengarah pada tindakan kejahatan
remaja (juvenile crime).
Disebut sebagai kenalan remaja, bila bentuk perilaku kenakalan itu dilakukan
oleh remaja, sementara bila perilaku-perilaku tersebut dilakukan oleh orang
dewasa maka disebut dengan kejahatan.
Bentuk Kenakalan Remaja
Saat ini kenakalan remaja sudah cukup meresahkan, permasalahan yang timbul sudah
sangat serius, beberapa kenakalan yang dilakukan remaja lebih menjurus pada
tindakan kriminal.
Kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan
norma-norma hukum yaitu :
(1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam
undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran
hukum
(2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan
undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila
dilakukan orang dewasa. (Gumarso,1988)
Pelbagai bentuk kenakalan remaja;
1. Kenakalan pelanggaran norma,
Berbohong, pergi keluar rumah tanpa pamit, keluyuran, begadang, buang sampah
sembarangan, graffiti (mencoret-coret dinding), merokok
2. Kenakalan pelanggaran moralitas
Aborsi, pacaran, menonton, melihat atau membaca hal-hal yang mengandung
pornografi, minum-minuman keras, hubungan seks pranikah, seks bebas, pelacuran
remaja, berjudi
3. Pelanggaran aturan, dan tata tertib
Mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM, kebut-kebutan/mengebut, membolos
sekolah, berkelahi dan tawuran,
4. Kenakalan khusus yang mengarah pada kejahatan kriminal;
Pembunuhan, penganiayaan, penipuan dan penggelapan, pencurian, pemerasan,
menodong, pemerkosaan, dan kejahatan Narkotika, termasuk didalamnya memakai dan
mengedarkan narkotika
Faktor Resiko
Kenakalan remaja akan membawa resiko bagi remaja itu sendiri, kerugian-kerugian
yang akan berdampak buruk bagi perkembangan individu baik secara mental
psikologis dikemudian hari.
- Gangguan kepribadian antisosial
- Penjara karena tindakan kriminalitas
- Kematian yang diakibatkan narkotika, perkelahian,
- Cacat fisik atau bahkan kematian yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas
- Penyakit akibat hubungan seksual, kehamilan yang tidak diharapkan, atau
kematian yang disebabkan proses aborsi yang tidak aman
- Putus sekolah
- Kehilangan masa depan
- Penolakan komunitas, atau dikucilkan masyarakat
- Dan sebagainya
Faktor Penyebab
A. Faktor Eksternal
1. Faktor Keluarga
Akhlak anak dibentuk bermula di rumah. Anak sejak kecil dan sebagian besar
waktunya dihabiskan dalam lingkungan keluarga. Anak belajar dari sikap dan
perilaku kedua orangtuanya. Sebagian besar kenakalan remaja Ini dipengaruhi oleh
pendidikan di rumah. Beberapa hal dalam rumahtangga yang berpengaruh;
- Rendahnya pendidikan agama dalam rumahtangga, fungsi
kedua orangtua gagal dalam menunjukkan tabiat dan akhlak yang sesuai dengan
nilai agama. Misalnya saja; anak diharuskan shalat oleh orangtua akan tetapi
sang anak tidak pernah melihat kedua orangtuanya sholat
- Status ekonomi yang rendah mengakibatkan kedua orangtuanya mesti bekerja keras
sehingga anaknya tidak mendapatkan kebutuhan kasih-sayang yang cukup
- Perilaku kedua orangtua sendiri yang tidak bermoral
- Kedua orangtuanya lebih mementingkan kerja atau pekerjaan dibandingkan
mengontrol dan mengawasi anak-anaknya
- Keluarga broken home.
2. Faktor Sekolah
Hampir separuh waktu anak remaja dihabiskan di sekolah dalam seharinya,
pendidikan sekolah yang tidak tepat akan berdampak pada timbulnya kenakalan pada
remaja;
- Penerapan disiplin yang tidak sesuai atau terlalu longgar
- Orangtua yang tidak peduli dengan tingkat kemajuan yang diperoleh anak di
sekolah
- Guru yang tidak mau tahu masalah yang dihadapi oleh siswanya
- Orientasi sekolah yang tidak tepat terhadap perkembangan anak didik, termasuk
didalamnya tidak adanya guru konselor, tenaga profesional atau psikolog di
sekolah tersebut
- Sistem pendidikan yang rumit mengekang kebebasan siswa dalam berekspresi
sewajarnya, termasuk di dalamnya jam belajar terlalu panjang, tugas menumpuk,
pelajaran yang sulit yang kesemuanya membutuhkan konsentrasi penuh sehingga
membuat siswa semakin tegang, akibatnya siswa menyalurkan melalui agresivitas
3. Lingkungan sekitarnya
Remaja banyak belajar dari lingkungan sekitarnya, sebagai lingkungan bermain
remaja cepat beradaptasi dan belajar dari orang-orang sekitarnya.
- Lingkungan sekitar yang permisif terhadap perjudian
- Lingkungan yang permisif terhadap prostitusi, kumpul kebo, atau seks bebas
- Lingkungan yang penuh dengan hura-hura, hiburan
- Event lainnya yang sarat dengan pendangkalan moral, misalnya hari kasih sayang,
pemilihan ratu sejagat, dan sebagainya
- Pengaruh dari teman
4. Instansi dan negara
Banyak instansi terkait pada dasarnya memberikan kontribusi negatif terhadap
perkembangan remaja, namun demikian dengan mempertimbangan hal keuntungan atau
kerugian mengesampingkan pesan-pesan moral yang salah pada remaja
- Televisi, sejak kemunculannya televisi pertama sekali
para ahli sudah menduga pengaruh buruk dari media tersebut
- Kontrol pemerintah yang rendah terhadap penyebaran pornografi melalui media
cetak, televisi ataupun internet
- Pejabat yang korup telah memakan dana yang seharusnya dapat digunakan untuk
pengembangan ketrampilan generasi muda melalui bakat, ketrampilan ataupun
hobbinya
- Kurangnya kampanye pemerintah yang sinergi terhadap kebutuhan remaja yang
sehat
- Penyediaan prasarana bagi remaja yang kurang, misalnya penyediaan sarana
olahraga, taman yang nyaman, perpustakaan dan sebagainya
- Minimnya lembaga yang menangani permasalahan remaja
- Keengganan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan
- Undang-undang pendidikan yang tidak terencana secara sistematis dan
fleksibelitas yang berguna secara positif kepada remaja.
- Instansi tertentu yang berkepentingan atau terlibat dalam
penyuguhan iklan, poster, reklame yang tidak mendidik atau memberikan pengaruh
buruk terhadap persepsi remaja.
B. Faktor Internal
1. Remaja dengan self control rendah
Pada masa remaja terjadi perkembangan dan pertumbuhan yang sejalan,
kesemuanya membutuhkan bimbingan, pengetahuan dan perilaku yang bijaksana dalam
menghadapi fase tersebut. Kontrol diri merupakan hal yang penting sebagai dalam
menghadapi perubahan pesat sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan.
Remaja dapat bersikap rasional dan tidak bersikap instinktif karenanya.
2. Self concept yang salah
Masa remaja sering disebut sebagai masa pencarian identitas, penerapan
konsep ini mengakibatkan pembenaran perilaku tertentu sebagai cara-cara
pencarian jati diri. Tepatnya adalah masa remaja merupakan masa pembinaan diri
karena masa pencarian jati diri itu sudah dilewati pada masa kanak-kanak. Pada
awalnya bayi akan ikut menangis bila melihat teman bayi itu menangis, konsep ini
berubah setelah sang anak mengerti bahwa orang lainlah yang menangis dan bukan
dirinya yang harus menangis juga. Nah, jadi dapat dimengerti bahwa masa remaja
merupakan jembatan penting dalam menghadapi masa depan yang lebih baik
3. Dasar Kepribadian
Kenakalan yang terbentuk sejak awal memasuki remaja, artinya memang sejak
awal kepribadian anak sudah memang terbentuk dalam keadaan yang rusak, serta
penyakit-penyakit hati yang
menyertainya. Hal inilah yang sangat sulit mengubah perilaku anak tersebut.
4. Malas secara emosional
Anak yang malas secara emosional hanya mau bersenang-senang saja, tidak mau
bekerja keras, bersikap semata untuk menghibur diri. Dalam kesehariannya tidak
sabar, keras kepala dan tidak mau peduli dengan orang lain. Remaja seperti ini
lebih menyukai mengisi waktu luang dengan hura-hura dibandingkan melakukan
hal-hal yang lebih bermanfaat. [SM/PD]
Acuan yang perlu disimak
Gunarsa Singgih, 1988, Psikologi Remaja, BPK Gunung Mulya, Jakarta
Kartini Kartono,1986, Psikologi Sosial 2, Kenakalan Remaja, Rajawali,
Jakarta
Franz Magnis Suseno, 1989, Etika Sosial, Gramedia, Jakarta
___________________
|
Dili, Timor Leste
+6707230193