|
ABSTRACT
Penelitian bertujuan untuk mengungkap kelapangdadaan survivor bencana gempa dan
tsunami Aceh. Untuk itu dilakukan wawancara mendalam dan observasi terhadap enam
responden yang tinggal di Banda Aceh (5 orang) dan Yogyakarta (1 orang).
Wawancara dan observasi berlangsung antara 15 Juli hingga 30 September 2006.
Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki tema-tema: (a) Kesadaran
Spiritual: (1) sadar bahwa Tuhan maha berkehendak, (2) memahami bahwa melalui
tsunami Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya, (3) meningkat kesadaran bisa
sewaktu-waktu dipanggil oleh Tuhan, (4) memandang tsunami adalah peringatan dari
Tuhan, (5) kesadaran bahwa Tuhan bermaksud baik dengan cobaan tsunami yang
diberikan-Nya; (b) Kesiapan psikologis: (6) memiliki pengetahuan tentang
gejala-gejala tsunami, namun ada yang berpikir bahwa tidak mungkin air laut naik
ke darat, (7) tahu dari kitab suci bahwa bencana alam yang sangat dahsyat dapat
kapan saja mengenai manusia, (8) kemampuan manusia mempersiapkan diri tidak
optimal. (C) Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban: (9) keyakinan
akan kesanggupan diri menghadapi keadaan yang tak menyenangkan walau merasa
sedih; (10) merasa tidak lemah sekalipun kehilangan keluarga, (11) perasaan
sudah tak berdaya lagi, kemudian pasrah, (12) perasaan pasrah terhadap
orang-orang yang dicintai, (13) merasa ditolong dan diberi selamat oleh Tuhan;
(D) Penyesalan dan Pertaubatan: (14) insaf atas kesalahan mengganggu orang lain,
(15) sadar akan kesalahan diri kepada orangtua, (16) sadar bahwa dulu suka
mengganggu guru tapi sekarang tidak lagi, (17) merasa menyesal kurang optimum
berbuat baik untuk orang-orang dekat yang dipanggil-Nya, (18) memohon ampun atas
kesahan yang diperbuat; (19) tidak mudah marah kepada orang lain sekalipun orang
lain marah, (20) mengkompensasi kesalahan dengan perbuatan positif; (E)
Pencarian hikmah (seeking meaning): (21) mudah mengingat Tuhan dalam kehidupan
sehari-hari, (22) kesadaran bahwa Tuhan memberi kesempatan untuk beramal lebih
banyak, (23) menjadi pribadi yang lebih sabar, tawakkal, tabah; (F) Berpikir
positif tentang masa depan (positive thinking): (24) ke depan harus bisa
berbakti kepada orangtua; (25) Keinginan memperbaiki moral masyarakat Aceh.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
kelapangdadaan adalah (a) Faktor keimanan, (b) Faktor ibadah, (c) Faktor
pengalaman, dan (d) Faktor dukungan keluarga dan yang lain.
Kata kunci: Kelapangdadaan, Aceh, gempa dan tsunami
Pengantar
Dalam upaya mempertahankan eksistensinya, umat manusia melakukan relasi dengan
Tuhan, sesamanya, dan juga dengan alam. Khusus yang berkaitan dengan sesama
manusia dan alam, relasi yang dijalani manusia itu bisa bersifat positif dan
bisa pula bersifat negatif (Nashori, 2003). Relasi positif dengan sesama
diwujudkan dalam aktivitas perhatian, kepedulian, persahabatan, pemberian
pertolongan, dan sejenisnya. Relasi yang positif dengan alam dilakukan dengan
mengelola dan melestarikan alam semesta. Sementara relasi yang bersifat negatif
dengan sesama manusia ditandai oleh adanya penipuan, pertengkaran, peperangan,
agresivitas, diskriminasi, dan sebagainya. Relasi yang negatif dengan alam
ditandai oleh eksploitasi alam oleh manusia dan oleh bencana alam seperti
tsunami, gempa, letusan gunung, longsor, dan banjir.
Ketika berhadapan dengan realitas bahwa relasi yang dijalaninya bersama alam dan
sesama manusia itu bersifat negatif, banyak penderitaan yang dialami manusia.
Ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa tanah dan keluarga yang dicintainya
digempur atau diterjang oleh tsunami dan gempa, seorang warga Aceh merasakan
penderitaan batin. Boleh dikatakan bahwa ketika berbagai situasi itu bersifat
tidak menyenangkan, orang merasakan rasa sedih dan hilangnya kegembiraan.
Sebuah pertanyaan muncul, apakah seseorang yang berhadapan dengan situasi
objektif yang tidak menyenangkan pasti merasakan penderitaan? Hidayat (2005)
yang melakukan asesmen psikologis terhadap survivor bencana Aceh menandaskan
bahwa ternyata orang-orang yang merasakan dampak bencana tsunami dan gempa yang
paling berat (yang disebut berada di ring I, yaitu mereka yang terkena gempuran
tsunami) menunjukkan penerimaan atas situasi kondisi yang dialaminya.
Keselamatan yang dimilikinya dipandangnya sebagai mukjizat dari Tuhan dan kalau
akhirnya keluarganya serta harta bendanya hilang atau musnah, ia memandangnya
sebagai realitas yang tidak bisa tidak kecuali harus diterimanya. Keadaan
seperti mengharuskan semua yang dicintai dan disayanginya tiada, hilang atau
meninggal dunia. Dalam dirinya tumbuh kemampuan untuk menerima hal yang secara
objektif tidak menyenangkan. Dia memiliki apa yang disebut sebagai
kelapangdadaan (Nashori, 2004; 2005; 2008).
Kelapangdadaan adalah suatu kondisi psiko-spiritual yang ditandai oleh kemampuan
menerima berbagai kenyataan yang tidak menyenangkan dengan tenang dan terkendali
(Nashori, 2004; 2008). Orang yang lapang dada memiliki kekuatan dalam jiwanya
untuk bertahan dan tidak berputus asa manakala menghadapi berbagai situasi yang
secara objektif tidak menyenangkan, baik secara psikis dan menyakitkan secara
fisik. Semakin tinggi kelapangdadaan seseorang semakin mampu ia menerima
realitas yang beragam, termasuk yang tidak menyenangkan (Nashori, 2004).
Situasi yang tidak menyenangkan dapat saja terjadi karena faktor alam dan bisa
pula karena faktor sosial. Contoh faktor alam adalah bencana banjir, longsor,
tsunami dan gempa bumi. Menjadi korban bencana tsunami dan gempa sebagaimana
yang dialami warga Nanggroe Aceh Darussalam secara objektif tidak disukai. Dalam
kenyataannya, sebagian besar korban bencana tsunami dan gempa Aceh merasakan
penderitaan fisik dan psikologis. Namun, sebagian dari mereka tetap menunjukkan
sikap tenang dan terkendali. Karena ketenangannya, mereka menghayati peristiwa
yang terjadi secara holistik, yaitu suatu kejadian dipersepsi memiliki
keterkaitan dengan kejadian lain, misalkan bahwa bencana terjadi pastilah
memiliki hikmah. Mereka juga menunjukkan sikap dan perilaku terkendali, di mana
sikap dan perilaku yang mereka tunjukkan dapat mereka kontrol secara baik
sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain dan
lingkungannya.
Berkenaan dengan adanya realitas bencana yang maha dahsyat pada masyarakat Aceh
pada 26 Desember 2004, banyak fenomena kelapangdadaan yang ditunjukkan oleh para
survivor (orang-orang yang survive setelah terkena bencana). Sebagaimana
diberitakan oleh Jawa Pos (6 Januari 2005), tsunami melontarkan tubuh Rizal
Sahputra ke hamparan Samudra Hindia. Pemuda tersebut terkatung-katung di laut
yang seakan tak bertepi itu selama delapan hari. Tekadnya untuk selamat hanya
ditautkan pada sebatang pohon bercabang tiga yang berhasil diraihnya. Rizal
menyebut cabang pohon itu pertolongan dari Tuhan. Dia sangat bersyukur ketika
lambaian dengan ranting pohon itu disambut awak kapal Malaysia. Akhirnya dia
tertolong.
Pertanyaan lanjutan yang dapat ditampilkan adalah adakah kelapangdadaan ini
dimiliki para survivor bencana Aceh? Kalau ya, tema-tema kelapangdadaan apa saja
yang muncul dalam diri mereka? Selanjutnya, faktor apa yang mempengaruhinya?
Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Tema kelapangdadaan yang menonjol pada survivor bencana tsunami aceh?
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan survivor bencana tsunami Aceh?
Metode Penelitian
Subjek Penelitian. Subjek penelitian ini adalah enam orang Aceh yang menjadi survivor peristiwa gempa bumi dan tsunami Aceh yang berlangsung pada 26 Desember
2004. Sebagai survivor, mereka adalah orang-orang yang berada dalam situasi
gempa dan tsunami dan berhasil selamat dari kemungkinan sebagai korban bencana
tersebut. Subjek penelitian tinggal di Banda Aceh dan Yogyakarta.
Fokus Penelitian. Fokus penelitian ini adalah tema-tema kelapangdadaan dan
faktor-faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan survivor bencana tsunami dan
gempa di Aceh.
Metode Pengambilan Data. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dalam
penelitian ini data yang berisi kelapangdadaan survivor Aceh diungkap dengan
menggunakan wawancara secara mendalam (in depth interview). Wawancara adalah
percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak,
yaitu pewawancara dan yang diwawancarai (interviewer and interviewee). Dalam
penelitian ini akan digunakan jenis wawancara baku terbuka (Moleong, 1994).
Maksudnya, wawancara dilakukan dengan menggunakan seperangkat pertanyaan baku.
Urutan pertanyaan, kata-katanya, dan cara penyajiannya pun sama untuk setiap
responden.
Diungkapkan oleh Guba dan Lincoln (Moleong, 1994) bahwa wawancara jenis di atas
mestinya dilakukan secara terstruktur. Dalam hal ini pewawancara menetapkan
sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Untuk itu
pertanyaan-pertanyaan disusun ketat. Sampel atau responden ditanyai dengan
pertanyaan yang sama dan hal ini penting sekali. Semua subjek mempunyai
kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.
Objektivitas dan keabsahan data penelitian dilakukan dengan melihat reliabilitas
dan validitas data yang diacu. Dikatakan oleh Moleong (1994), validitas
ditentukan oleh kredibilitas temuan dan interpretasinya dengan mengupayakan
temuan dan penafsiran yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang senyatanya dan
disetujui oleh subjek penelitian.
Untuk keperluan di atas, dalam penelitian ini dilakukan pendalaman data dengan
cara mengambil data secara intens. Bila diperlukan akan dilakukan wawancara
secara berulang, terutama untuk mengungkap hal-hal yang konsisten dalam upaya
memenuhi kriteria reliabilitas data.
Teknik Analisis Data. Adapun teknik-teknik analisis data dilakukan sebagai
berikut. Pertama, setelah dilakukan wawancara, dilakukan analisis domain untuk
mengetahui domain yang tercakup dalam kelapangdadaan survivor tsunami dan gempa
Aceh. Kedua, wawancara terstruktur (tertulis) dari domain tertentu. Di sini
peneliti akan memfokuskan diri pada domain yang telah ditentukan berkaitan
dengan kelapangdadaan survivor. Ketiga, bila dipandang perlu akan dilakukan
wawancara lanjutan untuk mengungkap berbagai persoalan yang perlu dikaji lebih
lanjut. Keempat, mengontraskan antar elemen dalam domain yang diperoleh dari
wawancara kontras. Hal yang keempat ini dilakukan bila terdapat pernyataan yang
saling bertentangan.
Hasil Penelitian
Untuk mengungkap kelapangdadaan survivor bencana gempa dan tsunami Aceh, kami
melakukan wawancara terhadap enam responden. Agar wawancara dapat berlangsung
baik, maka kami membangun rapport terlebih dahulu. Sebelum wawancara dilakukan
pewawancara meminta izin terlebih dahulu kepada responden. Selain wawancara,
dilakukan pula observasi. Wawancara dan observasi berlangsung antara 15 Juli
hingga 30 September 2006. Nama-nama responden adalah TA, LS, DA, PL, DM, dan AD.
Semua subjek berstatus mahasiswa dengan usia bergerak antara 20-23 tahun.
Berikut ini akan diungkapkan tema-tema kelapangdadaan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi kelapangdadaan responden penelitian berdasarkan wawancara yang
dilakukan terhadap enam responden.
1. Tema-tema Kelapangdadaan
a. Kesadaran Spiritual
(spiritual awareness)
Kesadaran spiritual (spiritual awareness), yaitu kesadaran bahwa keadaan yang
tidak menyenangkan merupakan ujian dari Allah ‘Azza wa jalla. Para survivor Aceh
(1) sadar bahwa Tuhan maha berkehendak, (2) memahami bahwa melalui tsunami Tuhan
menunjukkan kebesaran-Nya, (3) meningkat kesadaran dalam dirinya bahwa diri
mereka dapat sewaktu-waktu dipanggil oleh Tuhan, (4) memandang tsunami adalah
peringatan dari Tuhan, (5) menguat kesadaran bahwa Tuhan bermaksud baik dengan
cobaan tsunami yang diberikan-Nya;
i. Tema pertama adalah sadar bahwa Tuhan maha berkehendak. Para survivor Aceh
menyadari bahwa Tuhan memiliki sifat qadha dan qadar, punya kehendak dan
ketetapan.
”Orang-orang membangun rumah dan kota selama berpuluh-puluh tahun, tapi hanya
dalam tempo lima menit semua hilang. Bagi saya, kalau Tuhan menghendaki, maka
dalam hitungan menit bahkan mungkin detik semua yang merasa kita miliki dapat
diambil-Nya. Ya, kapan saja kita bisa dipanggil-Nya.” (TA)
“Sesuatu yang terjadi tu lebih mungkin orang tua Putra memberi pemahaman kuasa
Allah memang harus begitu dah gak bisa bilang apa-apa karna yang membuat/menciptakan
tu bisa berhak siapa-siapa yang mau mati bisa, memang hak dia (Allah)…kalo
berkeluh kesah kenapa gini-gitu gak boleh tu, kita pasrah saja, semua yang
terjadi pasti ada baiknya. Semua dah ditetapkan…. Kita jalani aja….” (LS)
“Seperti yang adek alami sekarang ini mungkin ini udah ketentuan Allah” (AD)
ii. Tema kedua adalah memahami bahwa melalui tsunami Tuhan menunjukkan
kebesaran-Nya. Para survivor mempercayai bahwa bencana tsunami yang menimpa diri
mereka menunjukkan besarnya kekuasaan Allah.
“gimana ya kak…Adek gak berfikir ke arah situ…gak berfikir kekuasaan Allah tu
gimana, jujur aja adek gak terfikir ke situ, tapi kalau sekarang kejadian
tsunamilah yang menunjukkan kekuasaan Allah yang paling besar” (AD)
iii. Tema ketiga adalah meningkat kesadaran bahwa bisa saja sewaktu-waktu
manusia dipanggil oleh Tuhan.
”Dulu sebelum tsunami saya paling-paling hanya rajin shalat maghrib. Shalat yang
lain masih sering bolong-bolong. Sejak peristiwa tsunami itu saya semakin
menyadari bahwa kapan saja kita dapat dipanggil-Nya. Kini saya shalat lima waktu
penuh.”(TA)
iv. Tema keempat adalah memandang tsunami adalah peringatan dari Tuhan. Para
survivor percaya bahwa melalui tsunami Allah memperingatkan masyarakat Aceh
untuk berakhlak yang lebih mulia.
”Tsunami itu peringatan. Sebelum tsunami itu masyarakat Aceh itu agak gimana
gitu. Maksudnya? Banyak yang menyimpang akhlaknya." (TA)
v. Tema kelima adalah kesadaran bahwa Tuhan bermaksud baik dengan cobaan yang
diberikan-Nya melalui tsunami. Para survivor menyadari bahwa Tuhan hendak
memberi cobaan kepada manusia melalui bencana gempa dan tsunami.
“Allah itu baik, mungkin yang tahun lalu itu cobaan untuk kita supaya kita
menyadari perilaku yang kita lakukan pada masa lalu, sekarang kita harus
memperbaikinya Allah memberi cobaan ini agar kita tetap sabar” (PL)
Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa para survivor bencana Aceh
memiliki kesadaran sipiritual yang tingggi. Mereka sadar bahwa Tuhan maha
berkehendak, sadar bisa sewaktu-waktu dipanggil oleh Tuhan, memahami bahwa
melalui tsunami Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya, memandang tsunami adalah
peringatan dariTuhan, dan sadar Tuhan bermaksud baik dengan cobaan tsunami yang
diberikan-Nya
b. Kesiapan psikologis
(psychological preparatory)
Kesiapan psikologis (psychological preparatory), yaitu kesiapan untuk menerima
stimulasi yang tidak menyenangkan. Ciri utama orang yang siap adalah tahu secara
alamiah tentang gejala-gejala tsunami, namun ada yang berpikir bahwa tidak
mungkin air laut naik ke darat. Mereka tahu bahwa sesuatu yang tidak
menyenangkan bisa saja terjadi dalam kehidupan mereka. Dengan pengetahuan itu
mereka lebih siap untuk menghadapinya. Bahkan karena kesiapannya ini, merasa
tidak lemah sekalipun kehilangan keluarga. Berikut ini akan diungkapkan kesiapan
psikologis para survivor bencana Aceh.
i. Tema keenam adalah memiliki pengetahuan tentang gejala-gejala tsunami, namun
ada yang berpikir bahwa tidak mungkin air laut naik ke darat. Para survivor mengetahui tentang gejala tsunami lengkap dengan ciri-cirinya. Sekalipun
demikian, peristiwa tsunami Aceh 26 Desember 2004 sungguh sangat mengesankan
bagi mereka. Berikut ini ungkapan mereka.
”Saya pernah mendengar informasi kalau ada gempa yang berayun tandanya ada
tsunami. Saya ketahui itu dari orang-orang sebelumnya. Lalu saya menghadap ke
arah selatan, ke arah laut. Mulai panik gitu.” (TA)
“Dari sisi airnya, datangnya air bergemuruh yang gak pernah kita lihat sama
sekali, mana mungkin air laut naek ke darat, ni yang pertama kali dan itu yang
paling berkesan, hitam lagi airnya kental..” (PL)
ii. Tema ketujuh adalah tahu tentang fenomena alam, termasuk tsunami, melalui
kitab suci. Para survivor mengetahui bahwa kitab suci al-Qur’an berisi berbagai
hal, di antaranya adalah gempa dan tsunami dapat saja setiap saat mengenai
manusia.
“Setelah tsunami tu banyak lah hikmah yang didapat…mungkin kayak bintang yang
mengelilingi bumi ini…kita kayak ditengah-tengah seperti diawasi dan dilindungi”
(LS)
“Isi al-Quran itu banyak kak ya…salah satunya terjadinya bencana alam, kan ada
juga dalam al-Quran” (PL)
iii. Tema kedelapan adalah kemampuan manusia mempersiapkan diri tidak optimal.
Para survivor menyadari bahwa sekalipun mereka tahu bahwa berbagai bencana dapat
saja mengenai manusia, termasuk diri mereka, namun mereka ternyata tidak
memiliki kesiapan diri yang optimal untuk menghadapi bencana itu.
“Kita ini hidup mati gak tau kapan…apapun yang disuruh dipersiapkan mungkin
belum siap sama kita, kapanpun bisa dipanggil…hal tsunami itulah…hal yang gak
diduga-duga, barusan kita ketawa, barusan beberapa menit lalu kita ketawa ma dia
beberapa menit kemudian kita liat mayat dia..” (LS)
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sebagian responden menyadari bahwa
peristiwa yang luar biasa seperti tsunami suatu saat bisa saja terjadi. Mereka
merasa tetap kuat sekalipun perasaan mereka berat menghadapi semua itu. Menurut
Atkinson dkk (2004), pengetahuan tentang kemungkinan hal-hal yang buruk tentang
sesuatu dapat mengurangi stres yang terjadi. Responden yang tahu bahwa tsunami
adalah kejadian yang mungkin berlangsung dalam kehidupan mereka akan lebih siap
secara psikologis.
c. Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban
Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban, yaitu keyakinan bahwa
kesulitan yang ditanggung tak akan melebihi kesanggupan dirinya untuk menerima
beban itu. Para survivor mempercayai dirinya sanggup menghadapi berbagai keadaan
yang menyedihkan. Kesanggupan itu ternyata terbukti, di antaranya mereka mereasa
tetap kuat dan tidak lemah sekalipun kehilangan orang-orang dekat yang
disayanginya.
i. Tema kesembilan adalah keyakinan akan kesanggupan diri menghadapi keadaan
yang tak menyenangkan walau merasa sedih.
“ya..merasakan kasih sayang Nya dengan diberikan kita cobaan ya..karna Allah
masih sayang sama kami maka diksih cobaan, apakah kita sanggup
menjalaninya..alhamdulillah sampe sekarang masih sanggup walaupun masih ada
sisa-sisa kesedihan karna kejadian kemaren..” (DM)
ii. Tema kesepuluh adalah merasa tidak lemah sekalipun sangat kehilangan
keluarga.
“yang pasti kalo untuk mengubah sesuatu berat kak, misalnya pada waktu tsunami
Dikki meronta-ronta mana adik Dikki, mana bapak Dikki gitu kan, Dikki gak
mungkin di depan mamak, kalo Dikki lemah pasti ya hancur semua kami, pada waktu
tu gimana membuat perasaan ini, menyembunyikannya walaupun menipu di depan mamak,
Dikki harus membohongi diri Dikki sendiri, terkadang….kadang-kadang mamak tanya
di mana bapak Dikki. Kenapa ibu masih tanya? karena mayatnya gak ketemu, kenapa
gak cari, mungkin kalo dapat pun bisa stress atau apa…ada hikmahnya juga gak
ketemu tapi dalam batin Dikki berontak juga harus ketemu…tapi kalo Dikki pikir
kalo seandainya ketemu Dikki liat juga psikologis mamak pasti dia gak nerima….”
(DA)
iii. Tema kesebelas adalah perasaan sudah tak berdaya lagi, kemudian pasrah
”Rasanya tenaga saya sudah habis. Saya merasa tidak kuat lagi. Saya berpikir
mungkin saya tidak selamat.” (TA)
”Sore hari ternyata terjadi tsunami susulan, tapi tidak sebesar yang pagi hari.
Kami tinggal di masjid. Orangtua saya bilang untuk tetap bertahan di masjid saja.
Kalau akhirnya terjadi apa-apa kami pasrah.” (TA)
iv. Tema kedua belas adalah perasaan pasrah terhadap keadaan orang-orang yang
dicintai
”Padahal saya ingin lagi turun untuk mengetahui keadaan orangtua dan adik saya.
Saya sangat stres memikirkan orangtua dan adik saya yang masih smp. Saya ingin
menemui mereka tapi tidak diperkenankan oleh orang-orang. Akhirnya saya pasrah.”
(TA)
v. Tema ketiga belas adalah merasa ditolong atau diberi selamat oleh Tuhan
”Cuma kejadian tsunami tu aja karna masih diberi kesempatan selamat” (LS)
”Tapi tiba-tiba ada mobil sampah yang mengajak saya untuk naik. Tuhan menolong
saya dengan mobil itu. Di atas sampah itu saya lihat sejumlah orangtua yang
terluka. Sambil naik mobil itu saya, orang-orang yang terbawa arus air tsunami.”
(TA).
Para survivor merasakan bahwa apapun ujian yang bakal atau dijalaninya, pasti
telah tersedia kemampuan psiko-spiritual dan atau kemampuan fisik dalam diri
seseorang untuk mampu menerima beban itu. Allah berfirman: Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS al-Baqarah, 2:286). Para
survivor menghayati bahwa Tuhan turun tangan secara langsung memberikan
keselamatan kepada mereka.
d. Penyesalan dan Pertaubatan
Penyesalan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah perasaan menyesal akibat
perbuatan-perbuatan yang dilakukan responden yang secara normatif dan psikologis
tidak menyenangkan terhadap orang lain. Pertaubatan, yaitu melakukan pertaubatan
atas dosanya kepada Tuhan. Para survivor menyadari bahwa di masa lalu mereka
memiliki berbagai kesalahan kepada orang lain, terutama kesalahan kepada
orangtua.
i. Tema keempat belas adalah insaf atas kesalahan mengganggu orang lain.
Survivor merasa sadar bahwa di masa lalu yang bersangkutan sering menyebabkan
orang terganggu oleh kehadirannya.
“Kejadian tsunami ini betul-betul emang kak, pokoknya insaflah kak, kalo mungkin
sering ganggu orang gak ada manfaatnya lagi gitu kan” (DA)
ii. Tema kelima belas adalah sadar akan kesalahan diri kepada orangtua. Survivor merasa bahwa kesalahan yang paling parah adalah kesalahan terhadap orangtua.
“sama juga, malah lebih parah dulu daripada sekarang, sama ayah juga, sekarang
sadar karna gak ada lagi….(ayah meninggal)” (PL)
“kurang baik mungkin ya..karna adek pun ada masalah sedikit dengan keluarga
bukan masalah orang tua karna pun keluarga bisa dikatakan keluarga yang kurang
utuh, ada mungkin, ada sifat atau akhlak adek yang gak baik dengan orang tua”
(AD)
iii. Tema keenam belas adalah sadar bahwa dulu suka mengganggu guru, tapi
sekarang tidak lagi. Survivor juga mengaku bahwa guru adalah kelompok orang yang
sering mereka jadikan sebagai sasaran gangguan. Mereka berhadap hal itu tidak
terjadi lagi di masa-masa yang akan datang.
“Dulu badung sih, waktu SMA namanya juga SMA kawan rame, sering cabut, rame di
belakang, biasanya sering ganggu guru-guru BP, tapi begitu dah kuliah gak lagi
sih bahkan dikki pendiam kak jarang ikut-ikut kegiatan di kampus, kalo dulu
waktu masih SMP kalo hari sabtu dan minggu pasti gak da di rumah, pasti ada
kegiatan, contohnya apa aja…tapi sekarang lebih banyak waktu di rumah” (DA)
iv. Tema ketujuh belas adalah merasa menyesal kurang optimum berbuat baik untuk
orang-orang dekat yang dipanggil-Nya. Survivor merasa bahwa mereka belum berbuat
secara optimum terhadap orang-orang yang signifikan dalam kehidupan mereka.
”Ya saya sangat menyesal dulu saya kurang optimal berbuat baik untuk paman-paman
dan bibi saya. Mereka telah dipanggil-Nya. Nyesel saya mengapa dulu gak kunjungi
mereka. Saya menyesal juga orang sebaik mereka diambil-Nya juga. Padahal mereka
orang-orang baik.” (TA)
v. Tema ke delapan belas adalah memohon ampun atas kesalahan yang diperbuat.
Survivor mengambil posisi memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan terhadap
iapapun.
“ya dengan memohon ampun atas kesalahan yang diperbuat” (AD)
vi. Tema ke sembilan belas adalah tidak mudah marah kepada orang lain sekalipun
orang lain marah.
“alhamdulillah baik, gak pernah kami marah-marahan” (DM)
“abis tu nyesal juga ngapain marahin mamak dah sakit gitu kan….sedih juga,
akhirnya mamak yang gak enak sendiri…diam aja dikki, abis tu mamak yang ajak
bicara” (DA)
vii. Tema kedua puluh adalah mengkompensasi kesalahan dengan perbuatan positif.
Mereka percaya bahwa perbuatan buruk dapat dihapus dengan perbuatan baik.
“ya…salah satu wujudnya salah satunya putra gak mau mencemarkan nama baik orang
tua, oke lah prilaku kita emang buruk tapi gak mau orang mengkait-kaitkan sama
orang tua, kalo orang tua gak ada lagi ya dengan doa kita kasih kan…bantu sebisa
kita ajalah…baik itu kerjaan disuruh apa…sebisa kita mampu aja…” (LS)
Para survivor sadar bahwa salah satu yang menjadikan kesulitan adalah dosa-dosa
yang dilakukan manusia. Kadang kesulitan, yang sesungguhnya merupakan ujian itu,
akibat dari kesalahan manusia. Bila seseorang sadar hal itu merupakan
kesalahannya, maka mereka mengkompensasikan dengan perbuatan baik. Ini sesuai
dengan dalil agama: Hapuslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (al-Hadits).
e. Pencarian hikmah (seeking
meaning)
Pencarian hikmah (seeking meaning), yaitu keyakinan akan adanya hikmah atau
pelajaran di balik peristiwa. Para survivor memperoleh berbagai hikmah, di
antaranya adalah mudah mengingat Allah, sadar bahwa Allah memberi kesempatan
untuk beramal lebih banyak, menjadi pribadi yang lebih sabar, tawakkal, tabah,
i. Tema kedua puluh satu adalah mudah mengingat Allah dalam kehidupan
sehari-hari.
“Kalo dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kalo berbuat sesuatu yang kurang
baik ato kesalahan langsung teringat pada Allah” (AD).
ii. Tema kedua puluh dua adalah kesadaran bahwa Allah memberi kesempatan untuk
beramal lebih banyak
“Dulu badung sih, waktu SMA namanya juga SMA kawan rame, sering cabut, rame di
belakang, biasanya sering ganggu guru-guru BP, tapi begitu dah kuliah gak lagi
sih bahkan Dikki pendiam kak jarang ikut-ikut kegiatan di kampus, kalo dulu
waktu masih SMP kalo hari sabtu dan minggu pasti gak da di rumah, pasti ada
kegiatan, contohnya apa aja…tapi sekarang lebih banyak waktu di rumah” (DA)
“Allah masih memberikan kesempatan hidup untuk adek untuk perbanyak amal” (AD)
“Dengan hilangnya keluarga kita ya, kita percaya kalo umur tu gak lama jadi
selama sisa-sisa hidup kita banyakin amal lah ya, mendekatkan diri sama Allah”
(DM)
iii. Tema kedua puluh tiga adalah menjadi pribadi yang lebih sabar, tawakkal,
tabah.
“putri lebih apa ya….(bingung), lebih…lebih…bertawakkal pada Allah, lebih
berdikir pada Allah” (PL)
“adek hadapi dengan sabar ya kak” (AD)
“putri berusaha untuk sabar, tabah, pokoknya menghadapi itu, putri kembaliin
pada Allah aja lah….” (PL)
Para survivor tsunami dan gempa Aceh dapat mengambil pelajaran bahwa di balik
kesulitan ada pelajaran atau hikmah yang dapat diambil. Allah berfirman: Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali
atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak juga bertaubat dan tidak pula
mengambil pelajaran (QS at-Taubat, 9:126).
f. Berpikir positif tentang masa depan
(positive thinking)
Berpikir positif tentang masa depan (positive thinking), yaitu keyakinan akan
adanya perbaikan keadaan setelah berlangsungnya keadaan yang tidak menyenangkan.
Para survivor tetap memiliki visi ke depan tentang kehidupan pribadinya dan
masyaratnya. Mereka ingin memperbaiki kondisi masyarakat di mana mereka tinggal.
i. Tema kedua puluh empat adalah ke depan harus bisa berbakti kepada orangtua.
Survivor berpandangan bahwa sudah saatnya mereka untuk berbuat terbaik dengan
sedikit bantuan dari orangtua.
”Saya kini kuliah D3 di FE-UST Yogya. Saya ingin lakukan yang terbaik. Cepat
lulus juga. Hingga tak jadi beban orangtua. Saya juga sadar orangtua hidupnya
berat. Saya tidak mau minta yang macam-macam. Walau saya ingin punya motor, tapi
sudahlah gak apa gak ada motor. Saya tidak ingin membebani orangtua.” (TA)
“Kadang kalo makan ingat, sakit hati juga, kenapa sih terpecah belah keluarga
hilang semua, emang kesannya palak, sepi itu kan… kenapa bisa terjadi ehm… kalo
menurut dikki gak juga, orang tua dikki yang satu ni lah yang harus kek mana
dikki harus bisa berbakti sama dia kan, itu yang paling penting, mungkin itu
harta yang paling penting” (DA)
ii. Tema kedua puluh lima adalah keinginan memperbaiki moral masyarakat Aceh
”Saya ingin mengubah perilaku moral orang Aceh. Saya belum tahu apa yang dapat
saya perbuat, tapi saya ingin mengubah mereka. Apa yang semestinya diubah? Saya
lihat banyak peristiwa kriminal, banyak judi, juga pencurian . Saya ingin kasih
pengarahan-pengarahan agar mereka juga mendekatkan diri kepada Allah.” (TA)
Keadaan yang tidak menyenangkan pasti akan berlalu dan akan datang keadaan yang
menyenangkan, tentu saja melalui usaha. Allah berfirman: Karena sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan (QS al-Insyirah, 94:5-6).
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelapangdadaan Survivor Bencana Aceh
Berikut ini akan diungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan survivor bencana gempa dan tsunami Aceh.
a. Faktor keimanan
Keyakinan kepada takdir Allah akan membantu survivor untuk memiliki
kelapangdadaan saat menghadapi bencana. Survivor mengungkapkan bahwa mengingat
Allah membantunya untuk memiliki kelapangdadaan.
“... mengingat Allah, butuh dukungan, motivasi supaya lebih tenang, lebih baik,
ataupun bantuan-bantuan fisik” (AD)
b. Faktor amal dan ibadah
Amal dan ibadah seseorang dipercayai survivor memiliki pengaruh terhadap
kelapangdadaan survivor.
“Mungkin terutama amal kita, ketika ajal menjemput yang harus dipersiapkan amal
kita, abistu amal dan ibadah kita, minta maaf pada keluarga, orang terdekat,
orang di sekitar, apabila berbuat salah dan semoga mereka mau memaafkan agar
lebih tenang kesana” (AD)
c. Faktor pengalaman
Salah satu pengalaman yang penting mempersiapkan masyarakat Aceh menghadapi
bencana tsunami adalah perang GAM. Walaupun skalanya berbeda, bencana perang
saudara yang berlangsung lama mempengaruhi para responden.
”Pengalaman stres menghadapi pertikaian GAM dan Tentara Nasional membuat orang
kuat menghadapi situasi yang tidak menentu.” (TA)
d. Faktor dukungan keluarga dan yang lain
Dukungan yang diberikan keluarga dan orang lain akan memperkokoh kelapangdadaan
responden.
“ya…keluarga karna masih ada keluarga yang utuh, masih ada ayah, adik-adik rame,
biarpun ada kesedihan, kesenangan, itu hal biasa dalam keluarga, tapi tu sangat
berkesan punya keluarga yang sangat kita sayangi, kita butuhkan.” (AD)
Pembahasan
Kelapangdadaan pernah digambarkan sebagai danau yang luas (Nashori, 2004). Kalau
seseorang memiliki ”danau” atau wadah psiko-spiritual yang luas dalam jiwanya,
maka mereka memiliki kesiapan untuk menghadapi berbagai situasi kehidupan yang
sebagian di antaranya tidak menyenangkan. Mereka menganggap tidak berarti adanya
kotoran atau stresor yang masuk ke “danau” tersebut. Maksudnya, bila seseorang
memiliki wadah psiko-spiritual yang luas atau memiliki kelapangdadaan, maka ia
tidak akan serta merta menjadi marah besar, putus asa, atau stres, manakala
menghadapi musibah atau peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan.
Gambaran yang kongkrit adalah sebagaimana kelapangdadaan Nabi Muhammad saat
menerima penghinaan dari orang-orang kafir. Muhammad begitu tenang dan
terkendali menghadapi mereka. Semua ini menggambarkan luasnya wadah psiko-spiritual
seseorang. Namun, kalau wadah psiko-spiritual seseorang sempit, misalnya yang
diandaikan Gymnastiar (Nashori, 2004) sesempit gelas, maka kotoran atau polusi
yang mengenai mereka akan mereka terkena pengaruh buruk atas kehadiran
benda-benda tersebut.
Dari penelitian ini terungkap secara jelas bahwa responden memiliki
kelapangdadaan yang menonjol. Mereka memiliki kesadaran spiritual yang tinggi,
kesiapan psikologis menghadapi bencana, sanggup menanggung beban derita, tetap
mengambil hikmah atas kejadian yang sudah berlangsung, dan lebih dari itu mereka
tetap berorientasi ke masa depan. Kelapangdadaan di dalam diri mereka menjadi
lebih kuat karena adanya penyesalan dan pertaubatan. Dalam agama Islam
disampaikan bahwa kalau seseorang menyesali secara sungguh-sungguh kesalahannya
di masa lalu, maka dosanya akan dikurangi. Secara psikologis, dosa yang
berkurang berarti berkurangnya beban psikologis yang ada dalam diri seseorang.
Keadaan ini memampukan seseorang g menghadapi tekanan atau stresor yang datang
dari lingkungannya.
Adanya danau yang luas atau kelapangdadaan ternyata dipengaruhi oleh keimanan,
aktivitas ibadah dan perilaku sehari-hari seseorang. Hal ini didukung hasil
penelitian bahwa keimanan dan ibadah merupakan faktor yang mempengaruhi
kelapangdadaan. Ini mendukung hasil penelitian Nashori (2005) di mana seseorang
yang banyak berdzikir akan terkena imbasnya yang bersifat positif, yaitu
kelapangdadaan.
Orang-orang yang dalam jiwanya terdapat keimanan dan ibadah yang kuat akan
memiliki kepribadian yang lapang. Setiap ada penderitaan, tak penting lagi untuk
berkeluh kesah kepada orang lain. Dalam diri individu menancap kesadaran bahwa
segala hal, termasuk keadaan yang buruk adalah ciptaan Allah ‘Azza wa jalla.
Kalau Allah tidak berkenan, keburukan tidak terjadi pada kita. Kalau ia akhirnya
hadir dalam kehidupannya, maka itu adalah cara Allah untuk mengetahui sejauh
mana seseorang akan mengalami peningkatan kualitas pribadi kita.
Sekalipun demikian, pengalaman menderita di waktu-waktu sebelumnya dan hubungan
dengan sesama manusia juga membantu survivor untuk menguat kelapangdadaannya.
Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh seorang responden ysng mengungkapkan bahwa
salah satu pengalaman penting yang mempersiapkan masyarakat Aceh menghadapi
bencana tsunami adalah perang GAM.
”Pengalaman stres menghadapi pertikaian GAM dan Tentara Nasional membuat orang
kuat menghadapi situasi yang tidak menentu.” (TA)
Demikianlah hasil penelitian. Adanya keimanan yang kuat, ibadah dan amal yang
baik, pengalaman menderita, serta dukungan dari orang sekitar yang saling
berjalin berkelindan menghasilkan kekuatan dalam diri seseorang yang disebut
sebagai kelapangdadaan.
Demikian. Bagaimana menurut Anda? [FN]
Daftar Pustaka
Al-Mundziri, Zaki Al-Din ‘Abd Al-Azhim (peny.). (2002). Ringkasan Shahih Muslim. Terjemahan: S. Djamaluddin & Mochtar Zoerni. Bandung: Penerbit Mizan.
Atkinson, Richard L., Atkinson, R.S.., & Bem, D. 2004. Pengantar Psikologi.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Az-Zabidi, Imam Zainuddin Ahmad bin Abdul-Lathif (ed.). (2002). Ringkasan Shahih
Al-Bukhari. Terjemahan: Cecep Syamsul Hari & Tholib Anis. Bandung: Penerbit
Mizan.
Bastaman, Hanna Djumhana. (2005). Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju
Psikologi Islami. Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil dan Pustaka Pelajar.
Hamid, Abdul Fattah Rashid. (1996). Pengenalan Diri dan Dambaan Spiritual.
Jakarta: Pustaka Firdaus.
Hidayat, Rahmat. (2005). Peta Problem Psikologis Para Survivor Bencana Gempa dan
Tsunami Aceh. Makalah. Dipresentasikan dalam Diskusi Memahami Lebih Mendalam
Bencana Aceh. Hasil Kerjasama PP Asosiasi Psikologi Islami dan Panitia Psikologi
UII Peduli Aceh, Yogyakarta, 18 Januari 2004.
Ilham, Muhammad Arifin & Debby Nasution. (2004). Hikmah Dzikir Berjamaah.
Jakarta: Penerbit Republika.
Nashori, H. Fuad. (2003). Potensi-potensi Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nashori, H. Fuad. (2003). Kitab Suci Sebagai Sumber Pengembangan Psikologi
Islami. Makalah ini disampaikan dalam Kegiatan Ilmiah, Kongres Asosiasi
Psikologi Islami (API) I, Surakarta, 10-12 Oktober 2003.
Nashori, H. Fuad. (2004). Menjadi Pribadi yang Lapang Dada. Buletin
Al-Islamiyyah, Nomor 18, Th. XII, Februari 2004.
Nashori, H. Fuad. (2005). Kelapangdadaan Mahasiswa Ditinjau dari Kualitas dan
Intensitas Dzikir. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UII
Nashori, H. Fuad. (2006). Kelapangdadaan Mahasiswa Reguler dan Mahasiswa Santri.
Jurnal Psikologi Islami. Yogyakarta: PP Asosiasi Psikologi Islami.
Nashori, H. Fuad. (2008). Psikologi Sosial Islami. Bandung: Penerbit Refika.
Pennebaker, James W. (2002). Ketika Diam Bukan Emas. Bandung: Mizan.
Poerwadarminto, W.J.S. (1989). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta; Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Subandi. (1997). Tema-tema Pengalaman Spiritual Pengamal Dzikir. Jurnal
Psikologika, II, (3), 7-18.

___________________
|