|
ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengasuhan orangtua dari
anak-anak yang berprestasi. Hal-hal yang ingin diketahui adalah usaha-usaha yang
dilakukan anak untuk mencapai prestasi, hal-hal yang dipandang orangtua untuk
dimiliki anak, dan cara-cara pengasuhan yang dilakukan orangtua agar anak
mencapai prestasi optimal.
Yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah orangtua dari anak-anak
berprestasi yang sedang menempuh pendidikan dasar. Jumlah informan sebanyak 10
orang. Informan diperoleh berdasarkan purposive sampling dan snowball
sampling. Informasi diperoleh dengan cara melakukan wawancara yang mendalam
dengan menggunakan kuesioner.
Hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak yang memiliki prestasi unggul, baik
akademis maupun non-akademis, melakukan hal-hal berikut ini, yaitu (a) melatih
dan meningkatkan bakat-bakat yang dimiliki, (b) mengikuti berbagai macam lomba,
(c) melakukan tugas-tugas dengan senang hati, (d) disiplin dalam belajar, dan
(e) belajar secara berkelompok.
Hasil berikutnya adalah orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki
pandangan bahwa ada beberapa prinsip yang perlu dimiliki anak untuk mengantarkan
anak menjadi individu yang berprestasi, yaitu (a) perilaku keagamaan dan moral
etik, (b) kedisiplinan, (c) kepemimpinan, (d) prestasi dan motif berprestasi,
serta (d) keprihatinan, kesabaran, dan menunda kenikmatan.
Dari penelitian lapangan juga diketahui bahwa orangtua dari anak-anak yang
berprestasi merlakukan hal-hal berikut ini, yaitu (a) menemani atau mendampingi
anak saat belajar, (b) memberi pengarahan, peringatan, dan melakukan kontrol
atas aktivitas anak, (c) memberi dukungan kepada anak, (d) memberi penghargaan
terhadap anak, (e) menjadi teladan bagi anak-anak, dan (f) memberi perlakuan
yang adil terhadap anak laki-laki dan anak perempuan.
Kata Kunci: profil pengasuhan orangtua, anak-anak berprestasi
Latar Belakang
Setiap orangtua memiliki keinginan agar anak-anaknya tumbuh kembang menjadi
anak-anak yang berprestasi. Orangtua ingin agar putra-putri mereka dapat meraih
prestasi yang optimal, baik prestasi yang bersifat akademis (nilai rapor atau
nilai akhir ujian tinggi, juara dalam lomba mata pelajaran tertentu) maupun yang
non-akademis (kepemimpinan, seni, olahraga, dan sebagainya). Saat menyaksikan
anak-anak lain berprestasi orangtua mengharapkan prestasi yang sejenis dapat
pula diraih oleh anak-anaknya. Saat melihat anak-anak berprestasi macam penyanyi
Sherina, penyanyi spesialis shalawat Sulis, atau anak tetangga yang juara
melukis, atau juara yang lain, orangtua mengharapkan anak-anaknya dapat meraih
prestasi itu. Sekalipun prestasi itu belum menampak betul pada saat sekarang,
orangtua berharap “suatu hari nanti” mereka akan menjadi pribadi yang
berprestasi dalam kehidupannya.
Agar anak berprestasi yang diharapkan itu benar-benar terwujud, maka ada upaya
dari orangtua tentang bagaimana mendidik anak. Pendidikan dan pengasuhan yang
benar terhadap anak akan menghasilkan efek lahirnya anak-anak berprestasi. Oleh
karena itu, salah satu hal yang paling penting dilakukan orangtua adalah
mengetahui prinsip-prinsip apa yang perlu dipegang teguh agar orangtua sukses
dalam mendidik anak dan juga bagaimana metode-metode untuk sukses mendidik anak.
Untuk itu, pemahaman profil orangtua yang sukses mendidik putra-putrinya sangat
patut dilakukan dengan harapan dapat menjadi pelajaran bagi semua orangtua,
termasuk orangtua yang hanya memiliki sedikit waktu mendidik putra-putrinya.
Adanya gambaran tentang profil orangtua diharapkan dapat dijadikan patokan atau
sekurang-kurangnya dapat dijadikan pertimbangan dalam mendidik putra-putirnya.
Sejauh ini, di Indonesia khususnya, belum banyak (sepengetahuan penulis belum
pernah dilakukan secara khusus) penelitian tentang profil orangtua yang sukses
dalam mendidik anak. Beberapa penelitian korelasional telah dilakukan untuk
mengungkapkan pola asuh sebagai variabel bebas (Dayakisni, 1977; Krisnawaty,
1986; Winarto, 1990; Wismantono, 1995; Wulan, 2000; Setiawan, 1997; Roswita,
2000; Dalimunthe, 2000; Cahyaningrum, 2000; Hapsari, 2000; Mustaqim, 2000;
Kurnia, 2000; Endahwati, 2001; Saptasari, 2001; Wibowo, 2002; Furqon, 2002;
Mayaningrum, 2002). Dari penelitian-penelitian itu diketahui bahwa pola asuh
demokratis/autoritatif menjadikan anak memiliki intensi prososial (1977),
kompetensi sosial (Dalimunthe, 2000), prestasi belajar (Roswita, 2000; Mustaqim,
2000; Furqon, 2002), sikap asertif (2001), penyesuaian diri (Mayaningrum, 2002),
ketaatan pada peraturan lalu lintas (wismantono, 1995), kepribadian wirasawasta
(Winarto, 1990), yang lebih tinggi dibanding anak-anak yang memperoleh pola asuh
otoriter maupun permisif dari orangtua. Di samping itu, penelitian juga
menunjukkan bahwa bola asuh demokratis menjadikan anak memiliki prokrastinasi (Wulan,
2000) dan depresi (Saptasari, 2001) yang lebih rendah dibanding anak yang diasuh
dengan pola asuh otoriter dan permisif.
Sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh Bloom (Psikologika, 1999) menunjukkan
bahwa bintang-bintang olahraga, seni, matematika, musik, yang sukses dididik
oleh orangtuanya dengan penuh perhatian, dan untuk selanjutnya didampingi oleh
pelatih-pelatih yang profesional. Sebagai contoh, bintang cilik yang sedang
meroket namanya Sherina awalnya dilatih oleh orangtuanya untuk bernyanyi. Untuk
memperbaiki dan meningkatkan kualitas cara bernyanyinya ia dididik oleh seorang
profesional yang bernama Elfa Secioria (Kedaulatan Rakyat, 12 Oktober 2001).
Penelitian-penelitian di atas perlu ditindaklanjuti dengan melihat profil
orangtua yang sukses dalam mendidik putra-putrinya. Profil itu diharapkan
meliputi keberhasilan akademik dan non-akademik anak, hal-hal yang dipandang
penting (prinsip-prinsip dan pandangan hidup) orangtua, serta cara-cara atau
metode-metode yang digunakan untuk mendidik anaknya.
Kajian Pustaka
Perhatian awal dalam studi keluarga terutama dipusatkan pada hasil karya para
antropolog dan sosiolog. Studi-studi ini dirancang pertama-tama untuk menemukan
bagaimana pola kehidupan keluarga di berbagai budaya, peran yang dimainkan
berbagai anggota keluarga, dan metode pendidikan anak yang umum digunakan dalam
budaya-budaya ini (Hurlock, 1993).
Minat awal psikologi pada keluarga terutama terfokus pada pengaruh keluarga
terhadap perkembangan anak. Minat ini berkembang berkat dorongan penelitian
ahli-ahli psikologi yang sudah lama menekankan pentingnya pengalaman keluarga
yang dini pada sikap dan perilaku anak. Diungkapkan oleh ahli-ahli psikoanalisis
bahwa orangtua yang neuropatik, yang melindungi anak secara berlebihan dan
“mencekiknya” dengan kasih sayang yang berlebihan, membangkitkan pada anak-anak
suatu kecenderungan untuk memiliki penyakit neurotik (Hurlock, 1993). Ahli-ahli
psikologi Islami menunjukkan bahwa pada awalnya manusia dilahirkan dalam keadaan
memiliki potensi-potensi positif, baik secara fisik, kognitif, afektif, dan
spiritual. Potensi-potensi akan berkembang apabila orangtua memberi perlakuan
yang positif kepada anak, sementara bila perlakuan orangtua bersifat negatif dan
bahkan destruktif, maka potensi-potensi itu bisa tidak berkembang (Nashori,
1999). Penelitian-penelitian berkembang terus, baik yang dilakukan tokoh-tokoh
humanistik, behaviorisme maupun kognitif.
Hurlock (1993) mengungkapkan bahwa studi mengenai deprivasi maternal (bayi
dipisahkan dari ibunya dan ditempatkan di tempat penitipan anak) mengungkapkan
betapa pentingnya peranan hubungan keluarga pada awal perkembangan anak.
Walaupun pengaruh buruk akibat deprivasi maternal mungkin dapat ditiadakan bila
seorang pengganti ibu yang memuaskan diberikan, pemecahan ini pun seringkali
tidak mungkin, terutama karena pengganti yang memuaskan tidak selalu tersedia.
Pertanyaan Penelitian
1. Prestasi apa saja yang dicapai oleh anak-anak berprestasi?
2. Hal-hal penting apa yang ditekankan orangtua untuk dimiliki anak-anak
berprestasi?
3. Cara-cara pengasuhan apa yang digunakan orangtua agar putra-putri mereka
mencapai prestasi?
Metode
Populasi penelitian ini adalah orangtua-orangtua yang memiliki anak yang
berprestasi yang tinggal di DIY. Orangtua adalah ayah dan ibu, ibu saja, ayah
saja, atau yang terlibat langsung dan intensif dalam mendidik anak. Mereka
secara intensif terlibat dalam mendidik anak. Merekalah orang yang berperan atau
berhasil mengantarkan anaknya mencapai prestasi-prestasi tertentu. Usia orangtua
tidak dibatasi.
Anak berprestasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mereka yang
berprestasi dengan berusia antara 7 – 15 tahun atau usia Pendidikan Dasar.
Ukuran prestasi anak dilihat dari dua hal, yaitu akademik dan non-akademik.
Keberhasilan akademik anak dapat dilihat dari nilai rapor maupun prestasi yang
luar biasa dalam bidang studi atau mata pelajaran tertentu. Prestasi non-akademik
dapat diketahui dari pencapaian prestasi-prestasi dalam kegiatan-kegiatan ekstra
kurikuler (bidang kesenian, olahraga, kepemimpinan, dsb). Dalam penelitian ini
yang dimaksud anak berprestasi non-akademik adalah anak-anak yang memiliki
prestasi tingkat kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, nasional, dan regional
(ASEAN).
Teknik pengumpulan subjek atau informan adalah purposive sampling dan
snow ball sampling. Teknik purposive sampling dipakai dengan
menggunakan kriteria sebagaimana yang telah dituliskan. Sebagai pelengkap
digunakan snow ball sampling (teknik sampling bola salju), yaitu
menggunakan informasi dari seorang subjek yang mengenal subjek lain yang
merupakan orangtua dari anak-anak yang berprestasi. Jumlah subjek 10 orang yang
tinggal di DIY. Mereka diwawancarai secara mendalam.
Dalam penelitian ini data yang berisi profil orangtua yang memiliki anak
berprestasi diungkap dengan menggunakan wawancara mendalam kepada subjek, yaitu
orangtua dari anak-anak yang berprestasi.
Objektivitas dan keabsahan data penelitian dilakukan dengan melihat reliabilitas
dan validitas data yang diacu. Dikatakan oleh Moleong (1994), validitas
ditentukan oleh kredibilitas temuan dan interpretasinya dengan mengupayakan
temuan dan penafsiran yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang senyatanya dan
disetujui oleh subjek penelitian.
Untuk keperluan di atas, dalam penelitian ini dilakukan pendalaman data dengan
cara mengambil data secara intens. Bila diperlukan akan dilakukan wawancara dan
observasi secara berulang, terutama untuk mengungkap hal-hal yang konsisten
dalam upaya memenuhi kriteria reliabilitas data.
Adapun teknik-teknik analisis data dilakukan sebagai berikut. Pertama, setelah
dilakukan wawancara, dilakukan analisis domain untuk mengetahui domain yang
tercakup dalam profil orangtua yang berkaitan dengan pengasuhan anak. Kedua,
wawancara terstruktur dari domain tertentu. Di sini peneliti akan memfokuskan
diri pada domain yang telah ditentukan berkaitan dengan profil orangtua yang
memiliki anak-anak berprestasi. Ketiga, mengontraskan antar elemen dalam domain
yang diperoleh dari pengamatan terseleksi dan wawancara kontras. Hal yang ketiga
ini dilakukan bila terdapat pernyataan yang saling bertentangan.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bagian ini berusaha untuk mendeskripsikan prestasi yang diperoleh anak-anak
berprestasi, hal-hal yang dilakukan anak untuk memperoleh prestasi, hal-hal yang
dipandang orangtua untuk dimiliki anak, dan cara-cara pengasuhan yang dilakukan
orangtua agar anak menuju prestasi terbaik anak.
1. Prestasi yang dicapai anak
|
Tabel 1
Prestasi yang Dicapai Anak-anak Berprestasi
|
|
Anak Berprestasi |
Prestasi Akademik |
Prestasi Non Akademik |
|
Anak Berprestasi 1 |
Ranking 1-10 |
Lukis (Nas, Reg.), Hafalan Qur’an (Kab.) |
|
Anak Berprestasi 2 |
Ranking 1-3 |
Lukis (Reg.) |
|
Anak Berprestasi 3 |
Ranking 1-3 |
Qiraah (kota, prop) |
|
Anak Berprestasi 4 |
Ranking 1 |
Lomba IPA (prop) |
|
Anak Berprestasi 5 |
Ranking 1-3 |
IPA (kab) Pidato (prop), Sastra (prop), dakwah
(prop) |
|
Anak Berprestasi 6 |
Ranking 1-5 |
Qiraah (kec), Suara (prop) |
|
Anak Berprestasi 7 |
Ranking 1 |
Suara (prop), Qiraah (kec.) |
|
Anak Berprestasi 8 |
Ranking 1-3 |
Qiraah (kab, prop.) |
|
Anak Berprestasi 9 |
Ranking 1-3 |
Suara (kec. Kab), Tartil Qur’an (kec.), Marching
Band (prop) |
|
Anak Berprestasi 10 |
Ranking 1-10 |
Sastra (prop.), Pidato (prop.), Tartil Qur’an
(prop) |
|
|
|
Keterangan:
1. Reg. = Regional = Prestasi tingkat regional (ASEAN)
2. Nas. = Nasional = Prestasi tingkat nasional (Indonesia)
3. Prop. = Propinsi = Prestasi tingkat propinsi (DIY)
4. Kab. = Kabupaten = Prestasi tingkat kabupaten/kota
5. Kec. = Kecamatan = Prestasi tingkat kecamatan
Dari tabel 4 diketahui bahwa anak berprestasi umumnya memiliki prestasi akademik
berikut ini: ranking pertama (2 orang), ranking 1-3 (5), 1-5 (1), ranking 1-10
(2). Dalam hal akademik ada pula yang sukses menjadi juara lomba IPA (termasuk
matematika) tingkat propinsi. Selain itu, umumnya mereka memiliki prestasi non-akademik
sebagai berikut: qiraah (4 orang), suara (3), lukis (2), pidato (2), tartil
Qur’an (2), sastra (2), hafadz Qur’an (1), dakwah (1), dan marching band (1).
Tingkatan prestasi itu dimulai dari kecamatan hingga tingkat regional dengan
perincian: regional (2, keduanya seni lukis), nasional (1, lukis), propinsi (9,
dengan perincian pidato 2, sastra 2, suara 1, dakwah 1, qiraah 1, tartil Qur’an
1, marching band 1), kabupaten/kota (4, masing-masing 3 qiraah, 1 suara), dan
kecamatan (3, dengan perincian 1 qiraah, 1 suara, 1 tartil).
2. Hal-hal yang dilakukan anak
Berdasarkan penelitian diketahui anak-anak yang memiliki prestasi unggul, baik
akademis maupun non-akademis, melakukan hal-hal berikut ini:
a. Melatih
dan meningkatkan bakat-bakat yang dimiliki
Prestasi yang dicapai oleh anak-anak yang berprestasi berkaitan dengan usaha
yang mereka lakukan dalam meningkatkan potensi-potensi yang dimilikinya.
Motivasi yang kuat yang ada dalam diri anak memacunya untuk melakukan berbagai
usaha secara optimal. Motivasi ini biasa disebut sebagai kebutuhan atau motif
berprestasi (need for achievement). Usaha-usaha yang keras itu pada
gilirannya menghadirkan prestasi dalam diri subjek.
Untuk prestasi khusus yang dimilikinya, ia
selalu meningkatkan atau melatih bakatnya sendiri. Yang penting perasaannya atau
mood untuk melakukannya sedang baik. Keberhasilannya lebih ditentukan oleh
kemauan atau adanya motivasi internal dalam diri anak saya (RH tentang RNA)
Latihan yang terus menerus memiliki peran menguatkan bakat-bakat yang dimiliki
anak. Pengulangan atas suatu kemampuan akan menjadikan anak sampai kepada
kemampuan yang lebih optimal. Pengulangan memiliki peranan dalam hal mengasah
kemampuan anak. Berbagai penelitian lain (Psikologika, 1999) menunjukkan bahwa
orang-orang yang menjadi megabintang adalah orang-orang yang melatih
kemampuannya secara lebih dini. Sebagai contoh, bintang-bintang sepak bola dari
Prancis bersekolah sepakbola sejak mereka berusia di bawah lima tahun.
Pemain-pemain Brazil juga mendapat latihan yang terus menerus hingga mereka
menjadi pemain-pemain yang sangat trampil. Hasilnya adalah dicapainya prestasi
terbaik dalam Piala Dunia. Bintang-bintang dari Manchester United seperti David
Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes, Gary Neville, telah dilatih ketika mereka
berusia sekolah dasar.
b. Mengikuti lomba
Setelah melakukan upaya memupuk kemampuan dalam berbagai bidang prestasi, ada
sebuah langkah yang dilakukan subjek untuk mengukur prestasinya, yaitu dengan
mengikuti lomba. Perlombaan atau pertandingan adalah media yang digunakan anak
untuk mengukur apakah prestasinya terkategori baik atau belum dan apakah memang
lebih baik dari orang lain.
Berkaitan dengan prestasi non akademik, yaitu melukis, mereka selalu berlatih
dan berusaha mengikuti lomba-lomba (HS tentang ND)
Seperti terungkap dari penelitian, anak-anak yang berprestasi mengikuti lomba
dalam berbagai tingkatan. Tingkatan itu mulai dari tingkat sekolahan, tingkat
kampung, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, nasional, bahkan regional.
Keikutsertaan dalam lomba yang ada di tingkatan bawah akan menjadikan mereka
memiliki jam terbang yang semakin tinggi. Di samping itu, keikutsertaan dalam
lomba yang memiliki level yang lebih tinggi menjadikan mereka berhadapan dengan
tantangan psikologis yang lebih besar. Pada gilirannya nanti, mereka lebih
trampil dan lebih dari itu adalah memiliki mentalitas bertanding dan berlomba
yang lebih tinggi.
c. Melakukan
tugas-tugas dengan senang hati
Aktivitas memupuk dan memperkuat kemampuan membutuhkan usaha yang
berkesinambungan. Agar kesinambungan itu tercapai, salah satu yang dapat
menjaganya adalah bila ada perasaan senang saat mengerjakan tugas-tugas tersebut.
Anak-anak berprestasi dalam penelitian ini umumnya melakukan tugas-tugas dengan
perasaan senang. Berikut ini penuturan dari orangtua-orangtua mereka.
Nov lebih suka belajar sambil menonton TV atau mendengarkan
musik (RH tentang RNA).
…. (anak) menikmati bakat dan minatnya dalam olah suara (SG tentang PR).
Ahli-ahli pendidikan dan psikologi menyebutkan bahwa masa anak-anak adalah masa
bermain (Chalke, 2002). Dalam setiap permainan ada unsur kesenangan. Karena itu
aktivitas mereka dapat berjalan lancar bila di dalam aktivitas itu ada unsur
kesenangannya. Kesenangan dalam mengikuti aktivitas akan menjadikan mereka
bertahan dan tetap bersemangat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Tanpa adanya
kesenangan di hati mereka, aktivitas latihan akan mereka ikuti ogah-ogahan,
tidak disiplin, dan tidak konsiten.
d. Disiplin dalam belajar
Sekalipun anak-anak berprestrasi melakukan tugas dalam suasana yang senang dan
santai, tapi mereka memiliki kedisiplinan dalam belajar atau dalam melatih diri.
Berikut ini penuturan orangtua dari anak-anak yang berprestasi.
Kedua-duanya, alhamdulillah, rajin belajar secara tertib.
Mereka disiplin dalam menggunakan waktu belajar di rumah. Bila ada PR dari
sekolah, malam harinya mereka langsung mengerjakannya (HS tentang ND).
Dari ungkapan orangtua tentang aktivitas yang
dilakukan oleh anak-anaknya ini dapat diketahui bahwa anak-anak serius dan
memiliki kedisiplinan dalam belajar. Kedisiplinan inilah yang mengantarkan
mereka untuk terus menerus menjaga perilaku melatih diri mereka. Hal ini
mengantarkan mereka kepada penguasaan materi dan juga penguasaan ketrampilan
secara optimal.
e. Belajar kelompok
Sebagian anak-anak berprestasi memilih belajar sendiri, sebagian yang lain
melakukannya secara berkelompok. Pemilihan model belajar kelompok ini terutama
dimaksudkan untuk menjaga suasana belajar. Demikian ungkapan orangtua dari
anak-anak yang berprestasi.
Dengan semua ini, banyak teman-teman Nzr yang merasa cocok atau tenang jika
belajar dengannya (belajar kelompok di rumah). Karena selain
pandai. Nzr juga bisa menjaga suasana belajar tadi. Sejak kecil Nzr menunjukkan
sikap belajar yang cerdas (IB tentang NS)
Temuan penelitian di atas menyiratkan satu hal, yaitu belajar kelompok akan
menjaga suasana belajar dalam diri anak-anak. Secara praktis, belajar kelompok
juga menjadikan anak-anak berprestasi memperoleh dukungan dari lingkungan.
Dukungan dari lingkungan ini menguat karena mereka diuntungkan oleh kehadiran
dari anak berprestasi ini.
3. Hal-hal yang Dipandang Penting Ortu untuk Dimiliki Anak-anaknya
Orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki pandangan bahwa ada beberapa
prinsip yang perlu dimiliki anak untuk mengantarkan anak menjadi individu yang
berprestasi. Berdasarkan temuan lapangan, orangtua dari anak-anak yang
berprestasi menekankan hal-hal berikut ini:
a. Perilaku Keagamaan dan
Moral Etik
Orangtua yang memiliki anak berprestasi sangat menekankan pentingnya pelaksanaan
praktik keagamaan dan penerapan aspek moral-etik. Hal-hal yang dipandang penting
orangtua untuk dimiliki anak-anaknya adalah ibadah wajib (berupa shalat lima
waktu), penghargaan terhadap orang lain (orangtua maupun orang lain pada umumnya),
dan kejujuran.
Yang kami tekankan kepada anak adalah
pentingnya shalat lima waktu dan menghormati orangtua (RH)
Ajaran pokok agama yang kami tekankan sejak dini adalah kejujuran, yaitu
terutama jujur kepada diri sendiri. Dengan anak selalu belajar untuk
mempertanggungjawabkan sikap dan perilakunya (HS)
Sebagaimana disebutkan oleh David Campbell (1997), keluarga orang-orang sukses
cenderung fanatik memegang patokan hidup tertentu. Ajaran-ajaran agama yang
dihayati oleh individu secara intrinsic yang memiliki kekuatan sebagai
driving integrating motive dan comprehensive commitment, yang
senantiasa menjadikan keluarga meletakkan segala sepak terjang kehidupannya
dalam kerangka agama dan moral-etik (Allport, 1961).
b. Kedisiplinan
Umumnya mereka sangat menekankan pentingnya masalah waktu. Pemanfaatan waktu
yang optimal akan mengantarkan setiap orang mencapai kesuksesan hidup. Olah
karena itulah orangtua dari anak yang berprestasi umumnya menyampaikan pesan
kepada anak untuk menggunakan waktu.
…Senantiasa menyadarkan anak atau memberi pengertian tentang apa yang
semestinya dilakukan. Masing-masing sikap memiliki konsekuensi untung dan rugi
(HS)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga di mana anak-anak sukses hidup
di satu pihak memiliki patokan tata kelakuan yang jelas dan di sisi lain
tertuang harapan agar anak-anak hidup dan bekerja berdasarkan keyakinan sendiri
dan tidak menaati peraturan orangtua secara buta (Campbell, 1997). Tata
kelakukan yang jelas itu dapat dilihat dari mana yang salah dan mana yang benar,
disiplin keluarga yang konsisten dan pasti (kapan pergi dan bangun tidur, kapan
bekerja, dan kapan bersantai, dst). Di sisi lain anak-anak juga diberi
keleluasaan untuk berinisiatif. Kalau terdapat konflik di antara dua hal itu
terdapat kemungkinan untuk membicarakannya.
c. Kepemimpinan
Orangtua anak berprestasi juga memberi dukungan dan dorongan kepada anak bila
kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan itu dimiliki anak. Menjadi ketua
kelas misalnya adalah suatu kesempatan baik untuk mengembangkan kepemimpinan
anak berprestasi.
Kedua anak kami (Nin dan Nis) menjadi ketua kelas di kelas masing-masing.
Sehingga di lingkungan pendidikan sekolah mereka sudah mendapatkan pengalaman
latihan menjadi pemimpin (HS)
.. Lebih tertuju kepada pembentukan kepribadian yang kuat. Nzr memiliki bakat
kepemimpinan berupa pendirian yang kuat dan ketegasan sikap.
Bagi orangtua kepemimpinan tampaknya menjadi salah satu hal penting yang perlu
dimiliki anak. Hal yang dianggap pokok adalah bagaimana anak dapat mengatur
dirinya sendiri dan memiliki mental yang kuat dalam mengelola aktivitas bersama.
Hal di atas merupakan suatu hal yang banyak mendasari adanya kemampuan riil
dalam bidang kepemimpinan.
d. Prestasi dan Motif Berprestasi
Orangtua anak-anak berprestasi berupaya menyampaikan pesan kepada anak agar
prestasi yang terbaik itu dapat diraih. Mereka mengingatkan bahwa prestasi yang
diraih adalah tanda bahwa manusia menggunakan potensi yang diberikan oleh Tuhan
dan bahwa kalau potensi itu dikembangkan, maka akan banyak pihak yang meraih
manfaat dari pengembangan potensi-potensi tersebut.
(Kami katakan) … bahwa manusia diberi anugerah oleh Allah SWT potensi-potensi
untuk berkehidupan. (dengan potensi yang tumbuh manusia dapat
melakukan apa saja dan akan bermanfaat baginya (HS).
Mengenai prestasi dan motifnya, kami memberikan dasar bahwa hidup ini harus
bermanfaat (IB)
Prestasi yang dicapai individu banyak dipengaruhi motif berprestasi yang
dimilikinya. Motif berprestasi dapat diartikan sebagai kebutuhan untuk melakukan
aktivitas dengan kualitas yang setinggi-tingginya. Berdasarkan wawancara dapat
diketahui bahwa dorongan agar anak memiliki motif berprstasi yang tinggi
dilakukan secara langsung dan mempersilakan anak memiliki pengalaman mengambil
resiko.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa apa yang disampaikan oleh ahli psikologi
Djamaludin Ancok tidak ditemukan di lapangan. Ancok (1996) mengatakan bahwa
motif berprestasi seseorang banyak berkaitan dengan cerita-cerita yang didengar
anak di masa kecilnya. Cerita yang banyak membangkitkan kesungguhan dalam
bekerja dapat mengantarkan individu mencapai prestasi-prestasi yang gemilang.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang efektif menguatkan motif berprestasi
ternyata tidak hanya cerita-cerita, tapi suatu dorongan yang disampaikan dengan
penuh kesungghan pun dapat membangkitkan motif berprestasi.
e. Keprihatinan,
kesabaran, dan menunda kenikmatan
Hal lain yang dianggap penting oleh orangtua anak-anak berprestasi adalah
kemampuan untuk menerima keadaan. Bila ada hal-hal yang kurang berkenan,
orangtua anak berprestasi berupaya agar anak-anaknya dapat menerima hal tersebut.
Oleh karena itu keprihatinan dan kesabaran dijadikan landasan dalam kehidupan
sehari-hari.
Anak dibiasakan untuk menerima menu makanan apa adanya, dan kami tidak
berkehendak untuk selalu menuruti selera makan anak (RH)
Dengan demikian, hasil penelitian searah dengan pandangan ahli psikologi
Wimbarti. Diungkapkan oleh Wimbarti (1998) bahwa orangtua-orangtua di Jawa
sangat menekankan pentingnya keprihatinan dan kesabaran sangat pokok dalam
mendidik anak. Kesabaran berarti mampu bertahan sekalipun dalam keadaan sulit
dan penuh dengan cobaan.
4.
Cara-cara yang Digunakan Orangtua dalam Mendidik Anak
Orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki ciri-ciri umum memiliki
perhatian yang serius terhadap perkembangan dan prestasi anak. Oleh karena itu,
mereka mengembangkan berbagai upaya agar anak dapat tumbuh kembang secara
optimal. Berdasarkan temuan lapangan, orangtua dari anak-anak yang berprestasi
merlakukan hal-hal berikut ini:
a. Menemani atau
mendampingi anak belajar
Setiap orangtua selalu mengharapkan putra-putrinya memperoleh sukses dalam
hidupnya. Salah satu area yang dianggap sangat penting adalah keberhasilan anak
dalam bidang akademis. Sebagian dari orangtua yang memiliki putra-putri
berprestasi adalah menemani anak ketika belajar.
Dalam masalah belajar, kami selalu mendampingi anak dan menjadi
teman diskusi (MN).
Dalam hal ini belajar kami selalu berusaha untuk mendampingi anak, memberi
arahan atau bantuan jika dia mengalami kesulitan (NH).
Perlu disampaikan bahwa aktivitas mendampingi atau menemani anak hanya terjadi
pada subjek-subjek penelitian yang anaknya bersekolah di sekolah dasar.
Aktivitas ini tampaknya memberikan pengaruh yang besar, terutama dikarenakan
anak masih suka dengan aktivitas-aktivitas bermain. Pendampingan memberi suasana
yang mendukung anak untuk benar-benar belajar.
b.
Memberi pengarahan, peringatan, dan kontrol kepada anak
Hal lain yang dilakukan orangtua adalah memberi pengarahan kepada anak untuk
melakukan sesuatu yang dapat mengantarkan mereka menjadi anak yang berprestasi.
Hal yang dilakukan orangtua biasanya adalah mendorong anaknya untuk memilih
teman bergaul yang baik, mengarahkan anak untuk mengikuti berbagai kursus, dan
sebagainya. Orangtua juga memberi peringatan-peringatan kepada anak ketika
anaknya mendekati perilaku-perilaku yang merugikan atau yang tidak bermanfaat.
Hal lain yang sangat penting dilakukan orangtua adalah melakukan melakukan
inspeksi mendadak untuk mengetahui bagaimana keadaan anak saat mengikuti
aktivitas di lapangan.
Dalam acara lomba di lapangan, kami berusaha mengontrol langsung anak (juga
pada saat latihan). Selain itu kami juga memonitor kemampuan anak
lain dalam perlombaan untuk membandingkan kemampuan anaknya sendiri sebagai
langkah perbaikan (NK)
Untuk prestasi akademik, kami dapat secara intens memantau kemampuan anak
dalam menguasai materi pelajaran (NK).
Temuan ini berbeda dengan hasil temuan yang pernah disampaikan Kusdwiratri
Setiono (Nashori, 1994b). Dalam penelitian Setiono (Nashori, 1994b). yang
dilakukan di Kabupaten dan Kota Bandung diketahui bahwa umumnya orangtua
menyerahkan pendidikan anak kepada pihak sekolah dan sangat minim memberi
pengarahan kepada anak-anaknya. Dalam penelitian ini diketahui secara pasti
bahwa orangtua umumnya terlibat secara mendalam, sehingga mereka mengarahkan
anak untuk melakukan perilaku tertentu, memberi batas-batas larangan, dan bahkan
mengecek langsung aktivitas anak saat mengikuti berbagai aktivitas di luar rumah.
Bila perlu, bahkan orangtua mencari informasi tentang kompetitor dari anaknya
saat anak mengikuti perlombaan. Pengarahan, peringatan, dan pengecekan yang
diberikan orangtua akhirnya menjadi penguat bagi anak untuk tampil terbaik,
sehingga dicapailah berbagai prestasi.
c. Memberi dukungan kepada anak
Anak seringkali berbuat atas kemauan sendiri. Setelah menyadari bahwa mereka
memiliki potensi-potensi atau bakat-bakat, mereka berusaha sendiri memperkuat
potensi-potensi yang dimiliki. Dalam situasi seperti ini orangtua melakukan
peran memberikan dukungan psikologis dan material kepada anak-anak. Dukungan
psikologis diwujudkan dalam bentuk memberi dukungan emosional saat mereka
menghadapi masa-masa sulit, memberi umpan balik atas apa yang anak-anak upayakan
(feedback), dan sejenisnya. Dukungan material diwujudkan dalam bentuk
memenuhi fasilitas yang diperlukan untuk melakukan aktivitas-aktivitas penguatan
kemampuan.
Yang terpenting, orang tua selalu memberi dorongan semangat
untuk tidak mudah putus asa atau menyerah dalam berprestasi atau mengikuti suatu
perlombaan (MN).
Jika ada kesempatan perlombaan, kami berupa memperoleh informasi pengumuman
dari guru di sekolah maupun para tetangganya di kampung dan menawarkannya kepada
anak kami (SG)
Hasil temuan di atas menunjukkan bahwa orangtua dari anak-anak yang berprestasi
memberi dukungan yang besar terhadap usaha pengembangan diri anak, khususnya
dalam hal pencapaian prestasi anak. Dukungan emosional saat berusaha dan saat
kalah dalam bertanding akan mengembalikan kekuatan emosional anak untuk terus
berusaha mencapai prestasi yang lebih tinggi. Dukungan material jelas memberikan
pengaruh, karena dengan fasilitas material itulah berbagai aktivitas dapat
diikuti dengan cara dan hasil yang lebih optimal.
d. Memberi penghargaan terhadap anak dan menerima keberadaan anak
Setelah anak berusaha melatih diri, mengikuti perlombaan/pertandingan, akhirnya
sebagian anak-anak menunjukkan prestasi. Atas prestasi yang dicapai oleh anak,
sebagian orangtua memberikan penghargaan dalam bentuk hadiah (reward).
Hadiah diharapkan akan menguatkan anak untuk tetap memaksimalkan kemampuannya.
Sekalipun demikian, orangtua tetap memegang prinsip tidak menuntut anak terlalu
banyak tentang prestasi-prestasi tertentu. Bahkan, orangtua pun tetap dapat
menerima kenyataan bahwa anak tidak berprestasi dan menghargai usaha-usaha yang
dilakukan anak.
Demikian pula memberi penghargaan (hadiah) kepada anak, tanpa
menuntut terlalu banyak tentang prestasi yang harus diraih (RH).
Untuk prestasi dan kemampuan belajar anak, kami memegang prinsip bahwa
sejelek apapun prestasi anak orang tua mesti menghargai dan mengarahkannya
(SU).
Sebagaimana pernah diungkapkan ahli psikologi Mulyadi (1997), anak-anak sungguh
akan bahagia apabila orangtuanya mau menghargai mereka. Penghargaan akan
menumbuhkembangkan harga diri. Anak-anak yang memiliki harga diri tinggi akan
mengembangkan konsep diri yang positif. Anak-anak demikian mudah mengembangkan
berbagai potensinya secara optimal. Dikatakan lebih lanjut oleh Mulyadi (1997)
bahwa rasa terima kasih dan penghargaan kepada seorang anak ternyata mampu
membangkitkan suatu semangat untuk berkarya dan menumbuhkembangkan potensinya
secara luar biasa. Seperti diketahui dari hasil penelitian ini, orangtua
ternyata memberi penghargaan terhadap prestasi anak-anaknya.
e. Memberi teladan kepada anak
Penelitain ini menunjukkan bahwa orangtua menyadari pentingnya keteladanan.
Keteladanan merupakan yang disadari betul oleh orangtua dari anak-anak yang
berprestasi.
Berkaitan dengan kegemaran membaca pada anak, kami sebagai
orang tua sendiri telah memberi contoh untuk itu. Kebetulan saya sebagai ketua
RW dan penanggung jawab program JBM sehingga selalu mengontrol dan mendorong
selalu anak sendiri dan anak-anak di masyarakat untuk disiplin belajar (SU).
Tentang pentingnya keteladanan ini, para pendidik dan ahli pendidikan sangat
menyadari pentingnya masalah ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Daradjat (Nashori,
1992) bahwa perilaku yang mereka tunjukkan akan dijadikan anak sebagai rujukan.
Sebuah penelitian yang disampaikan Daradjat menunjukkan bahwa perilaku anak
dipengaruhi oleh penglihatan mereka sebanyak 83 persen, pendengaran sebesar 11
persen, dan penciuman-pencicipan-perabaan sebesar 6 persen (Nashori, 1992).
Dalam kehidupan sosial sering ada ungkapan bahwa bicara mudah tapi sangat sulit
untuk melaksanakannya. Dalam konteks pengasuhan anak, boleh jadi orangtua telah
memberi petunjuk, pengarahan, atau dukungan sedemikian rupa kepada anak. Namun,
bila perilaku yang ditampakkan berbeda bahkan bertentangan dengan apa yang
dikatakannya, maka itu akan menimbulkan efek berupa menurunnya kepercayaan anak
kepada orangtua. Bila kepercayaan telah menurun, apalagi bila sampai di titik
nol, maka ungkapan orangtua bisa sampai tidak memberi efek apapun kepada anak.
Dengan demikian, sangatlah penting masalah konsistensi antara apa yang dikatakan
dengan apa yang diperbuat. Bila orangtuamelakukan apa yang dikatakannya, maka
mereka telah menampakkan keteladanan kepada anak-anak.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di lapangan dapat diketahui bahwa
anak-anak yang memiliki prestasi unggul, baik akademis maupun non-akademis,
melakukan hal-hal berikut ini, yaitu (a) melatih dan meningkatkan bakat-bakat
yang dimiliki, (b) mengikuti berbagai macam lomba, (c) melakukan tugas-tugas
dengan senang hati, (d) disiplin dalam belajar, dan (e) belajar secara
berkelompok.
Hasil penelitian menunjukan profil orangtua berkaitan dengan hal-hal yang
dipandang penting orangtua untuk dimiliki anak-anak. Orangtua dari anak-anak
yang berprestasi memiliki pandangan bahwa ada beberapa prinsip yang perlu
dimiliki anak untuk mengantarkan anak menjadi individu yang berprestasi, yaitu
(a) perilaku keagamaan dan moral etik, (b) kedisiplinan, (c) kepemimpinan, (d)
prestasi dan motif berprestasi, serta (d) keprihatinan, kesabaran, dan menunda
kenikmatan.
Dari penelitian lapangan juga diketahui profil pengasuhan orangtua berkaitan
dengan cara-cara yang digunakan orangtua dalam mengasuh anak-anaknya. Dari
penelitian diketahui bahwa orangtua dari anak-anak yang berprestasi merlakukan
hal-hal berikut ini, yaitu (a) menemani atau mendampingi anak saat belajar, (b)
memberi pengarahan, peringatan, dan melakukan kontrol atas aktivitas anak, (c)
memberi dukungan kepada anak, (d) memberi penghargaan terhadap anak, (e) menjadi
teladan bagi anak-anak, dan (f) memberi perlakuan yang adil terhadap anak
laki-laki dan anak perempuan. [FN]
Daftar Pustaka
Allport, G.W. 1961. The Individual and His Religion: A Psychological
Interpretation. New York: The MacMillan and Co.
Ancok, D. (1996). Nuansa Psikologi Pembangunan. Yogyakarta: Yayasan Insan
Kamil dan Pustaka Pelajar.
Cahyaningrum, A.M. 2000. Hubungan antara Kecenderungan Pola Asuh ke Arah
permisif Orangtua Berdasarkan Persepsi Anak dengan aktualisasi diri pada
Mahasiswa. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.
Chalke, S. 2002. Kegiatan Mengasyikkan di Luar Rumah untuk Anak-anak.
Terjemahan. Bandung: Penerbit Kaifa.
Campbell, D. (1997). Mengembangkan Kreativitas. Terjemahan: A.M.
Mangunhardjana. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Dayakisni, T. 1977. Perbedaan Intensi Prososial Ditinjau dari Pola Asuh Orangtua
pada Siswa SMA Muhammadiyah II Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas
Psikologi UGM.
Dalimunthe, D. 2000. Hubungan antara Kedemokratisan Pola Asuh Orangtua dengan
Kompetensi Sosial pada Remaja. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi
UGM.
Endahwati, W. 2001. Sikap Asertif Ditinjau dari Pola Asuh Demokratis Orangtua
dan Jenis Kelamin. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.
Furqon. 2002. Prestasi Belajar Ditinjau dari Kelekatan Anak-Ibu dan Pola Asuh
Autoritatif. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.
Hardy, M. & Heyes, S. (1988). Pengantar Psikologi: Edisi Kedua.
Terjemahan: Soenardji. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Hetherington, E. M. & Parke, R. D. (1986). Child Psychology: Contemporary
View Point, 3rd edition. New York: Mc Graw Hill Book Company.
Hurlock, E. B. (1980). Developmental Psychology: Life Span Approach. 5th
edition. New York: Mc Graw Hill Book Company.
Hurlock, E. H. (1993). Perkembangan Anak: Jilid II. Terjemahan: Meitasari
Tjandrasa. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Kramer, L. & Gottman, J. M. (1992). Becoming a Sibling: With a Little Help from
Friends. Journal of Developmental Psychology, 28, 685-699.
Krisnawaty, T. 1986. Studi tentang Pengaruh Asuhan Orangtua terhadap
Perkembangan Penalaran Moral Remaja Awal Murid SMP II IKIP Negeri Yogyakarta.
Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Kurnia, F. 2000. Prestasi Belajar Ditinjau dari Pola Asuh Demokratis Orangtua
dan Jenis Kelamin. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.
Mayaningrum, Y. 2002. Hubungan antara Persepsi terhadap Pola Asuh Orangtua
dengan Penyesuaian Diri Remaja. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi
UII.
Moleong, L. J. (1994). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Penerbit Rosdakarya Remaja.
Muhadjir, N. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Ketiga.
Yogyakarta: Penerbit Rake Sarasin.
Mulyadi, S. (1997). Anakku, Sahabat dan Guruku: Catatan Kecil Keluarga Muda.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Mulyadi, S. (1999). Sosialisasi pada Anak. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
Munandar, U. (1997). Mengembangkan Inisiatif dan Kreativitas Anak. Dalam
Jurnal Psikologika, 2, (II), 31-42.
Mustaqim, A. Perbedaan kenakalan Remaja ditinjau dari Pola Asuh Anak. Skripsi.
Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.
Nashori, F. (1994). Tempat Penitipan Anak dan Tanggung Jawab Pengasuhan Orangtua.
Harian Berita Yudha, 4 Oktober 1994.
Nashori, F. (1994). Membina Hubungan Baik dengan Anak. Mingguan Swadhesi,
7-13 Oktober 1994.
Nashori, F. (1999). Hubungan antara Religiusitas dan Kemandirian pada Siswa SMU.
Jurnal Psikologika, 8, (IV), 26-37
Psikologika. (1999). Editorial: Psikologi Olahraga dan Mengoptimalkan Prestasi
Olahragawan. Jurnal Psikologika, 8, (IV), 3-4.
Roswita, M.Y. 2000. Prestasi Belajar Anak Ditinjau dari Pengaturan Internal dan
Pola Asuh Autoritatif. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM.
Saptasari, D.R. 2001. Pola Asuh Orangtua, Konsep Diri, dan Agresi pada Remaja.
Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.
Setiawan, N. 1997. Persepsi Anak terhadap Pola Asuh Demokratis Orangtua
Berdasasarkan Status Kerja Ibu. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi
UGM.
Wibowo, H.S. 2002. Prestasi Belajar Ditinjau dari Pola Asuh Orangtua di SLP
Muhammadiyah Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.
Wimbarti, S. (1998). Seminar Psikologi Kontemporer: Diktat. Yogyakarta:
Program Studi Psikologi Program Pascasarjana UGM.
Wismantono. 1995. Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan Ketaatan pada
Peraturan Lalu Lintas. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Winarto. 1990. Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan Kepribadian
Wiraswasta pada Remaja Akhir. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Wulan, R. 2000. Hubungan antara Gaya Pengasuhan Anak dengan Prokrastinasi pada
Anak. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

___________________
|