|
ABSTRACT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal
antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis yang diajukan
dalam penelitian ini adalah ada perbedaan kompetensi interpersonal antara
mahasiswa laki-laki dan mahasiswa wanita. Mahasiswa laki-laki memiliki
kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibanding mahasiswa wanita.
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian
ini adalah skala kompetensi interpersonal. Subjek penelitian adalah mahasiswa
Fakultas/Program Studi Psikologi di Yogyakarta, laki-laki dan perempuan, yang
jumlahnya 302 orang.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis varians. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa
laki-laki dan mahasiswa wanita.
Kata Kunci: Kompetensi interpersonal, jenis kelamin, mahasiswa
Latar Belakang Permasalahan
Berbagai pandangan dan pengalaman hidup yang disampaikan sejumlah tokoh
menunjukkan bahwa keberhasilan hidup manusia banyak ditentukan kemampuan
mengelola diri dan kemampuan mengelola hubungan dengan orang lain. Salah satu
kualitas hidup seseorang yang banyak menentukan keberha-silan menjalin hubungan
dengan orang lain adalah kompetensi interpersonal. Kompetensi interpersonal
sendiri, menurut Spitzberg dan Cupach (De Vito, 1996), dapat diartikan sebagai
suatu kemampuan melakukan hubungan interpersonal secara efektif. Kemampuan ini
ditandai oleh adanya karakteristik-karakteristik psikologis tertentu yang sangat
mendukung dalam menciptakan dan membina hubungan antar pribadi yang baik dan
memuaskan. Oleh Buhrmester, Furman, Wittenberg, dan Reis (1988) dikatakan bahwa
kompetensi interpersonal meliputi kemampuan berinisiatif membina hubungan
interpersonal, kemampuan membuka diri, kemampuan bersikap asertif, kemampuan
untuk memberikan dukungan emosional dan kemampuan untuk mengelola dan mengatasi
konflik-konflik yang timbul dalam hubungan interpersonal.
Bila digambarkan dalam diri mahasiswa yang bernama Fahmi (nama rekaan),
kompetensi interpersonal ini tampak dari inisiatifnya untuk memperkenalkan diri
pada setiap orang yang ditemuinya, baik dalam perjalanan, pertemuan, perkuliahan,
dan berbagai momen lainnya. Pada sahabatnya, ia tampak terbuka, baik dalam
menceritakan siapa dirinya maupun dalam memberikan kesempatan pada sahabat untuk
lebih mengenalnya. Pemuda Fahmi ini juga pintar mendengarkan keluhan orang lain
dan memberikan dukungan kepada orang lain. Ia pun memiliki kemampuan bersikap
dan bertindak asertif, yang ditunjukkan oleh keberaniannya untuk berkata tidak.
Tidak kalah pentingnya, bila terlibat konflik ia tidak mau membiarkannya
berlarut-larut. Tidak peduli dirinya atau kawannya yang bersalah atau yang lebih
banyak bersalah, ia akan datang dan merampungkan konflik-konflik yang terjadi.
Mencermati keadaan di atas muncul pertanyaan, apa yang menjadikan kompetensi
interpersonal ada, bertumbuh dan berkembang dalam diri seseorang pada umumnya
dan mahasiswa pada khususnya? Mengapa kadang ia tidak tampak dalam perilaku
keseharian individu?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kompetensi interpersonal mahasiswa, subjek
penelitian ini, dipengaruhi oleh lingkungan keluarga maupun proses hidup yang
dijalani seseorang dengan masyarakatnya. Kebiasaan untuk hidup bersama dan
mengembangkan pergaulan yang intens menjadikan kompetensi interpersonal
seseorang tumbuh dan berkembang. Diungkapkan dalam penelitian Danardono (1997)
bahwa mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kepecintaalaman memiliki perbedaan
yang signifikan dengan mahasiswa yang tidak aktif dalam kepecintaalaman,
khususnya dalam hal kompetensi interpersonal. Mahasiswa yang aktif dalam
kegiatan kepecintaalaman memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi
dibanding mahasiswa bukan pecinta alam. Penelitian yang lain yang membandingkan
antara mahasiswa yang aktif dan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi,
yang dilakukan Widiastuti dan Anggraini (1998) menunjukkan hasil yang berbeda
dengan hasil penelitian Danardono (1997). Penelitian yang terakhir ini
menunjukan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa
yang aktif dalam organisasi dan tidak aktif dalam organisasi.
Ada pula peneliti yang menduga bahwa latar belakang program studi juga
mempengaruhi kompetensi interpersonal mahasiswa. Hasil penelitian yang dilakukan
Widuri (1995) ternyata menunjukkan bahwa mahasiswa ilmu-ilmu sosial dan
mahasiswa ilmu-ilmu eksakta ternyata memiliki kemampuan yang seimbang dalam hal
berkomunikasi interpersonal. Hal ini menunjukkan bahwa adanya interaksi yang
cukup intens menjadikan kemampuan berkomunikasi secara interpersonal dapat
tumbuh dan berkembang.
Faktor-faktor lainnya yang dinilai memiliki peranan terhadap kompetensi
interpersonal adalah faktor-faktor internal individu, di antaranya adalah konsep
diri (Nashori, 2000) dan kematangan beragama (Nashori & Sugiyanto). Sejauh mana
tingkat kompetensi interpersonal seseorang juga bergantung sejauh mana persepsi
seseorang terhadap dirinya. Kalau persepsi terhadap diri positif, maka seseorang
akan cenderung melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain secara baik.
Konsep diri yang ada dalam diri seseorang diduga memiliki sumbangan terhadap
kompetensi interpersonal seseorang. Hasil penelitian Nashori (2000) menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara konsep diri dan kompetensi interpersonal
mahasiswa. Semakin tinggi konsep diri semakin tinggi kompetensi interpersonalnya.
Tidak kurang dari itu, kematangan beragama yang ada dalam diri seseorang juga
mempengaruhi kompetensi interpersonalnya. Bila individu dapat mengetahui dan
menghayati ajaran agama secara mendalam, serta memiliki konsistensi moral
terhadapnya, maka mereka memiliki sebagian dari ciri-ciri orang yang matang
dalam beragama. Orang yang memiliki kematangan beragama dinilai memiliki modal
untuk memiliki kompetensi interpersonal. Hasil penelitian yang dilakukan Nashori
& Sugiyanto (2000) menunjukkan bahwa semakin tinggi kematangan beragama semakin
tinggi kompetensi interpersonalnya.
Di samping itu, diduga jenis kelamin berkaitan dengan kompetensi inter-personal.
Hasil kajian dan penelitian menunjukkan hasil yang berbeda. Danar-dono (1997)
menemukan mahasiswa laki-laki memiliki kompetensi interpersonal yang lebih
tinggi dibandingkan mahasiswa wanita. Sementara penelitian Silawati (1991)
menunjukkan bahwa wanita lebih banyak bersama orang lain, terutama dengan sesama
wanita. Dari hasil penelitian yang tidak konsisten tersebut, dapat diajukan
permasalahan sebagai berikut: Adakah perbedaan kompetensi interpersonal antara
mahasiswa laki-laki dan wanita?
Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan kompetensi
interpersonal antara mahasiswa laki-laki dibanding mahasiswa wanita. Mahasiswa
laki-laki memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibanding
mahasiswa wanita.
Subjek
Penelitian
Subjek adalah mahasiswa Fakultas Psikologi di Yogyakarta, baik mahasiswa
Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), berjenis
kelamin laki-laki dan perempuan, serta mahasiswa junior dan senior. Pengambilan
subjek dilakukan dengan metode purposive sampling.
Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan pendataan Fakultas Psikologi di
Yogyakarta yang ternyata terdiri atas Fakultas Psikologi UGM (PTN), UII, UNWAMA,
UP ’45, USD, UAD, dan Sarjanawiyata Taman Siswa (PTS).
Langkah kedua dilakukan dengan menentukan perguruan tinggi negeri dan swasta
yang terdiri atas PTS umum dan PTS agama. PTN diwakili UGM sementara PTS
diwakili UII dan UNWAMA. UII mewakili swasta agama dan UNWAMA mewakili swasta
umum. Yang akhirnya menjadi subjek adalah mahasiswa-mahasiswa Fakultas Psikologi
UGM, UII, dan UNWAMA Yogyakarta.
Langkah ketiga adalah memilih subjek dengan melibatkan dua jenis kelamin
sekaligus. Dari segi jenis kelamin, mereka terbagi atas dua kelompok, yaitu
jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.
Subjek di atas memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Jumlah
mahasiswa yang menjadi subjek adalah 302 orang.
|
Tabel I
Deskripsi Subjek Berdasarkan
Perguruan Tinggi dan Jenis Kelamin
|
|
NO |
Perguruan Tinggi |
Jenis Kelamin |
|
Lelaki |
Wanita |
|
01 |
Psikologi UII (N=100) |
38 |
62 |
|
02 |
Psikologi UGM (N=101) |
30 |
71 |
|
03 |
Psikologi UNWAMA (N=101) |
31 |
70 |
|
|
Total (N=302) |
99 |
203 |
|
|
|
Alat Ukur untuk Pengambilan Data
Skala kompetensi interpersonal dimaksudkan sebagai alat untuk mengungkap tingkat
kompetensi interpersonal subjek penelitian. Aspek-aspek yang akan diukur dalam
skala kompetensi interpersonal ini adalah: (a) Inisiatif, (b) Keterbukaan, (c)
Asertif, (d) Dukungan emosional, dan (e) Pengatasan konflik. Aspek-aspek Skala
Kompetensi Interpersonal ini dijabarkan dalam aitem-aitem yang terdiri dari
aitem-aitem favorable dan aitem-aitem unfavorable.
Skala yang digunakan dalam penelitian ini disusun peneliti. Skala ini memiliki
lima alternatif jawaban, yaitu sangat sesuai, sesuai, netral, tidak sesuai, dan
sangat tidak sesuai. Nilai aitem skala kompetensi interpersonal berkisar antara
1 sampai 5. Kriteria pemberian nilai meliputi: untuk aitem-aitem yang favorable, jawaban “sangat sesuai” (SS) mendapat nilai 5, jawaban “sesuai” (S) mendapat
nilai 4, jawaban “netral” (N) mendapat nilai 3, jawaban “tidak sesuai” (TS)
mendapat nilai 2, dan jawaban “sangat tidak sesuai” (STS) mendapat nilai 1.
Kriteria pemberian nilai untuk aitem-aitem unfavorable adalah jawaban “sangat
sesuai” (SS) mendapat nilai 1, jawaban “sesuai” (S) mendapat nilai 2, jawaban
“netral” (N) mendapat nilai 3, jawaban “tidak sesuai” (TS) mendapat nilai 4, dan
jawaban “sangat tidak sesuai” (STS) mendapat nilai 5. Makin tinggi skor yang
yang diperoleh subjek, makin tinggi tingkat kompetensi interpersonalnya.
Sebaliknya makin rendah skor yang diperoleh subjek, makin rendah pula tingkat
kompetensi interpersonalnya.
Setelah diuji coba dengan membagi-bagikan skala kepada subjek, dari 50 skala
yang disebar, terdapat 41 skala yang kembali. Uji skala kompetensi interpersonal
ini menggunakan program analisis kesahihan butir dari Modul analisis butir Seri
Program Statistik (SPS) yang disunting oleh Soetrisno Hadi dan Yuni
Pamardiningsih (1998).
Uji kesahihan (validitas) skala kompetensi interpersonal menghasilkan koefisien
yang bergerak antara -0,004 sampai 0,568. Sementara koefisien alpha menunjukkan
0,928. Dengan pengujian pada taraf signifikansi 1% sebanyak 25 butir aitem gugur
dari 60 aitem yang diujicobakan. Koefisien butir aitem yang sahih bergerak
antara 0,258 sampai 0,568. Di antara 35 butir yang sahih, hanya terdapat 30
butir yang digunakan dalam penelitian ini. Cara penentuannya adalah membuang
butir aitem pada aspek-aspek kompetensi interpersonal yang jumlahnya terlalu
banyak. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan untuk men-dapatkan keseimbangan
komposisi aitem dalam cetak biru alat ukur.
Hasil Penelitian
Kategori kompetensi interpersonal. Pengelompokan subjek dilakukan dalam tiga
kategori kompetensi interpersonal, yaitu kelompok tinggi, sedang, dan rendah.
Dengan menggunakan perhitungan yang dikemukakan Azwar (1993), dapat diketahui
bahwa subjek penelitian ini berada pada tingkat kompetensi interpersonal sedang
(81,5 %) dan tinggi (18,5 %). Perhitungan ini dilakukan dengan melibatkan rerata
teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala kompetensi interpersonal.
Rerata teoritik untuk data ini adalah 180 dengan deviasi standar sebesar 20.
Dengan demikian, pengelompokan tersebut secara lengkap adalah sebagai berikut:
|
Tabel II
Kategori Kompetensi Interpersonal (N = 302)
|
|
Kategori |
Rentang |
Skor |
Jumlah |
|
Tinggi |
121-150 |
56 |
18,5% |
|
Sedang |
61-120 |
246 |
81,5% |
|
Rendah |
1-60 |
0 |
0 % |
|
|
|
Uji Asumsi. Hasil analisis data mengenai perbedaan kompetensi interpersonal
antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan menunjukkan koefisien
korelasi F= 2,457 dengan p sebesar 0,118. Nilai rerata laki-laki 111,76 dan
wanita 113,77. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi
interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Dari analisis
di atas dapat disimpulkan tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal mahasiswa
berdasarkan jenis kelamin
Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal
antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini tidak sejalan
pandangan ahli dan hasil penelitian sebelumnya. Hadiyono dan Kahn (1987)
melaporkan bahwa mahasiswa laki-laki memiliki ciri lebih dalam stabilitas emosi,
memiliki keberanian dan kepuasan diri, sedangkan mahasiswa perempuan lebih
tinggi tingkat kecemasannya dan lebih sering menarik diri. Sementara penelitian
yang dilakukan Danardono (1997) menunjukkan bahwa mahasiswa laki-laki memiliki
kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa wanita.
Perbedaan hasil ini diduga disebabkan oleh komposisi dan karakteristik subjek
penelitian. Penelitian ini menggunakan komposisi subjek satu banding dua untuk
laki-laki dan perempuan sedangkan penelitian Danardono menggunakan subjek yang
jumlahnya relatif sama antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan yang kedua
adalah karakteristik subjek. Pada penelitian Danardono subjeknya adalah pecinta
alam yang lebih banyak mengandalkan laki-laki sebagai pengambil inisiatif,
pemegang kepemimpinan, dan ujung tombak tim. Tuntutan demikian memungkinkan
tumbuh kembangnya kompetensi interpersonal di kalangan mahasiswa laki-laki.
Sementara penelitian ini menggambarkan keadaan mahasiswa psikologi pada umumnya
di mana laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk
mengembangkan inisiatif, keterbukaan diri, asertivitas, dukungan emosional, dan
penyelesaian konflik.
Penelitian ini juga berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang
menunjukkan bahwa perempuan memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi
dibanding laki-laki. Latane dan Bidwell (Silawati, 1991) dalam penelitiannya
mengemukakan bahwa kaum wanita lebih banyak bersama orang lain,
sekurang-kurangnya di tempat-tempat umum. Berdasarkan hal di atas, Latane dan
Bidwell menyimpulkan bahwa kaum wanita memiliki motif berafiliasi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini sejalan dengan pendapat Barry dkk
(dalam Wrightsman & Deaux, 1981) bahwa wanita lebih nurturant, lebih afiliatif,
dan menunjukkan minat yang lebih besar terhadap orang lain bila dibandingkan
dengan kaum laki-laki. Pendapat di atas diperkuat oleh Bosman (Hadi, 1994) yang
menandaskan bahwa wanita lebih kohesif, lebih terbuka, dan tanpa malu-malu
berhubungan dengan sesama anggota dibanding laki-laki. Hal ini sejalan dengan
pendapat Barry dkk (dalam Wrightsman & Deaux, 1981) bahwa wanita lebih nurturant,
lebih afiliatif, dan menunjukkan minat yang lebih besar terhadap orang lain bila
dibandingkan dengan kaum laki-laki. Kecenderungannya untuk bersama orang lain
mendorong wanita untuk memupuk kemampuan berhubungan secara interpersonal yang
disebut kompetensi interpersonal.
Adanya fakta bahwa mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan memiliki
kompetensi interpersonal yang setara menunjukkan bahwa proses pendidikan dan
pengasuhan yang diberikan lembaga pendidikan dan orangtua kepada laki-laki dan
perempuan relatif sama. Pendidikan dan pengasuhan yang tidak mendiskriminasi
laki-laki dan perempuan ini menghasilkan buah berupa keseimbangan mereka dalam
berbagai hal, salah satunya adalah kompetensi interpersonal.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat diambil simpulan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi
interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Hal ini dikarenakan
mereka sama-sama memiliki kesempatan untuk mengembangkan inisiatif, keterbukaan
diri, asertivitas, dukungan emosional, dan penyelesaian konflik. [FN]
Daftar Pustaka
Abdullah, M. A. (1996). Studi Agama: Normativitas Atau Historisitas?
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Alcock, J. (1992). Religion and Rationality. In Schumaker, J. F. (Ed.).
Religion and Mental Health. Oxford & New York: Oxford University Press.
Allport, G. W. (1953). The Individual and His Religion: a Psychological
Interpretation. New York: The Macmillan Co.
Azwar, S. (1993). Kelompok Ini Memiliki Harga Diri yang Rendah, “Kok Tahu?”
Buletin Psikologi, I (2), 13-17.
Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baron, R. A. & Byrne, D. (1991). Social Psychology: Understanding Human
Interactions. 6th. Boston: Allyn & Bacon.
Beit-Hallahami, B. & Argyle, M. (1997). The Psychology of Religion: Behavior,
Belief, and Experience. London: Routledge.
Berzonsky, M. D. (1981). Adolescent Development. New York: MacMillan
Publishing Co., Inc.
Bierman, I. K., Miller, L. C., & Stabb, D. S. (1987). Improving the Social
Behavior and Peer Acceptance of Rejected Boys: Effect of Social Skills Training
with Instructions and Prohibitions. Journal of Consulting and Clinical
Psychology, 55, 2, 194-200.
Brigham, J.C. (1991). Social Psychology. Second Edition. New York: Harper
Collins Publishers.
Buhrmester, D., Furman, W., Wittenberg, M. T., & Reis. D. (1988). “Five Domains
of Interpersonal Competence in Peer Relationships.” Journal of Personality
and Social Psychology, 55 (6), 991-1008.
Calhoun, J. F. & Acocella, J. R. (1990). Psychology of Adjustment and Human
Relationships, 3 rd edition. New York: McGraw-Hill Publishing Company.
Crapps, R. W. (1995). Dialog Psikologi dan Agama. Terjemahan: A.M. Hardjana.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Crapps, R.W. (2000). Gaya Hidup Beragama: Autoritas yang Sedang Menjadi
Mistik. Cetakan ketujuh. Penyadur: A. M. Hardjana. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Danardono, W. (1997). Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari
Keikutsertaan pada Kegiatan Pecinta Alam. Laporan Penelitian (tidak
Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
De Vito, J. A. (1996). The Interpersonal Communication Book. 7th edition.
New York: Harper Collins College Publishers.
Fuhrmann, B. S. (1990). Adolescende, Adolescent. 2nd edition.
Springfield, Illinois: Scott/Little, Brown Higher Education and Sons.
Goldberg, A. A. & Larson, C. A. (1985). Komunikasi Kelompok: Proses-proses
Diskusi dan Penerapannya. Terjemahan: A. Parsudi. Jakarta: UI Press.
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam.
Goleman, D. (1997). Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Cetakan
Keenam. Diterjemahkan T. Hermaya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Grasha, A.F. (1987). Practical Application in Psychology. Springfield,
Illinois: The Dorsey Press Homewood.
Hadi, C. 1994. Suatu Penelitian Eksperimental Mengenai Efek Pola Komunikasi,
Bentuk Pemecahan Masalah, dan Jenis Kelamin terhadap Efisiensi Pemecahan Masalah.
Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pasca sarajana UGM.
Hadiyono, J. E. P. & Kahn, M. W. 1987. Perbedaan Kepribadian dan Persamaan Jenis
Kelamin pada Mahasiswa Indonesia dan Mahasiswa Amerika. Jurnal Psikologi,
XV, 1, 20-24.
Hall, S. & Lindzey, G. (1991). Teori Kepribadian: Teori-teori Humanistik.
Terjemahan: Yustinus. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Hurlock, E. B. (1975). Adolescent Development. New York: McGraw Hill.
Hurlock, E. B. (1979). Personality Development. New Delhi: McGraw-Hill.
Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Cetakan Ketujuh. Terjemahan: Istiwidiyanti & Soedjarwo.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Jersild, A. T. (1985). The Psychology of Adolescent. New York: Mac Millan
Publishing Co., Inc.
Kartono, K. & Gulo, D. (1987). Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya.
Kerlinger, F. N. (1996). Asas-asas Penelitian Behavioral. Cetakan Keenam.
Terjemahan: Tim GMU Press. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kramer, L. & Gottman, J.M. (1992). Becoming a Sibling: With a Little Help from
Friends. Journal of Developmental Psychology, 28, 685-699.
Kelley, J. A. (1982). Social Skill Training: A Practical Guide for
Intervention. New York: Springer Publishing Co.
Maarif, A. S. (1991. Pendidikan Islam Sebagai Paradigma Pembelajaran. Dalam M.
Usa (ed.), Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Cita dan Fakta.
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Nashori, F. (1998). Orientasi Keagamaan Mahasiswi Muslim Berjilbab dan Mahasiswi
Muslim Tidak Berjilbab. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi PSIKOLOGIKA,
5, III, 27-37.
Nurahmati. (1995). Gaya Kelekatan dengan Teman Sebaya dan Kompetensi
Interpersonal pada Remaja. Skripsi (tidak dipublikasikan). Yogyakarta:
Fakultas Psikologi UGM.
Paloutzian, R. F. (1996). Invitation to the Psychology of Religion. 2nd
edition. Boston: Allyn and Bacon.
Partosuwido, S. R. (1993). Penyesuaian Diri Mahasiswa dalam Kaitannya dengan
Konsep Diri, Pusat Kendali dan Status Perguruan Tinggi. Jurnal Psikologi,
XX, 1, 32-47.
Perlman, D. & Cosby, P. C. (1983). Social Psychology. New York: Holt,
Rinehart, & Winston.
Purnamaningsih, E. H., Pudjono, M. & Prakosa, H. (1996). Efektivitas Pelatihan
Komunikasi Efektif pada Kelompok Remaja. Jurnal Psikologi, 2, 31-39.
Rakhmat, J. (2000). Psikologi Komunikasi. Cetakan Ketiga belas. Bandung:
Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Ramdhani, N. (1996). Perubahan Perilaku dan Konsep Diri Remaja yang Sulit
Bergaul Setelah Menjalani Pelatihan Ketrampilan Sosial. Jurnal Psikologi,
XXIII, I, 1-12.
Robinson, J. P. & Shaver, P. R. (1973). Measures of Social Psychological
Attitude. Lansing, Michigan: Institute for Social Research.
Santoso, S. (2000). SPSS: Mengolah Data Statistik Secara Profesional.
Cetakan Kedua. Jakarta: PT Elex Media Computindo.
Schultz, D. (1998). Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat.
Cetakan Keenam. Terjemahan: Yustinus. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sears, D. O., Freedman, J. L., & Peplau, L. A. (1991). Psikologi Sosial.
Terjemahan: Michael Adryanto & Savitri Soekresno. Jakarta: Airlangga.
Silawati, R.D.E. (1991). Perbedaan Motivasi Berolahraga antara Pria dan Wanita
pada Anggota Fitness Centre di Kotamadya Yogyakarta. Skripsi (tidak
diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Smith, H. (1991). Agama-agama Manusia. Cetakan Kedua. Terjemahan:
Saafruddin Bahar. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Song, I. S. & Hattie, J. (1982). Home Environment, Self Concept, and Academic
Achievement: A Causal Modeling Approach. Journal of Educational Psychology,
76, 1269-1281.
Subandi. (1995). Perkembangan Kehidupan Beragama. Buletin Psikologi, I,
44-49.
Suganuma, M. (1997). Self Disclosure and Self Esteem in Old Age. Japanese
Journal of Educational Psychology. 45, (4), 12-21.
Supratiknya, A. (2000). Komunikasi Antarpribadi: Tinjauan Psikologis.
Cetakan Kelima. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Syarani, D. (1995). Perilaku Asertif dan Kecemasan Komunikasi Interpersonal.
Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Widiastuti, A. & Anggraini, Z. (1998). Perbedaan Kompetensi Interpersonal antara
Mahasiswa Aktivis dan Mahasiswa Bukan Aktivis. Laporan Penelitian (tidak
dipublikasikan). Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Widuri, N. F. (1995). Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa Fakultas Teknik
dan Mahasiswa Fisipol. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas
Psikologi UGM.
Wrigtsman, L. S. & Deaux, K. (1981). Social Psychology in 80’s. 3rd
edition. Monterey: Brooks/Cole Publisihing Company.
Wulff, D.M. (1991). Psychology of Religion: Classic and Contemporary Views.
New York: John Wiley and Sons.

___________________
|